"Aku berhak bahagia dan aku bisa hidup tanpamu!"
Mila Rahma akhirnya memilih jalan hidupnya sendiri meskipun orang-orang disekitarnya menolak keputusan yang diambilnya. Mereka sangat kecewa dengan Mila karena berani menggugat cerai. Mila melakukan itu bukan tanpa sebab, selama menikah dirinya selalu mendapatkan penyiksaan dan penghinaan.
Mampukah Mila bertahan hidup dengan menjauh dari orang-orang yang sangat dicintai dan disayanginya?
Apakah Mila menemukan pria yang sangat mencintai dan menghormatinya?
Ikuti ceritanya dan mohon dibaca perlahan setiap episodenya. Terima kasih banyak karena sudah membaca tanpa meloncat episode🙏🏼
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mami Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Berhak Bahagia - episode 10
Selesai salat subuh, Mila melakukan olahraga ringan di dalam kamar. Kebiasaan yang dilakukannya sejak merantau ke kota orang. Biasanya dia akan pergi dapur menyiapkan sarapan dan beberes rumah. Namun, karena kamarnya berukuran kecil dan dia juga bekerja di rumah makan maka tak ada kegiatan memasak. Dari mulai makan siang dan makan malam, Mila nikmati ditempat kerjanya.
Sebelum berangkat kerja, Mila membeli beberapa butir telur dari warung sembako yang buka jam 6 pagi dan tutup jam 10 malam, kebetulan warung tersebut berada disebelah kos-kosannya.
Begitu kembali, Mila lalu merebus 5 butir telur yang dibelinya di pemasak nasi listrik berukuran kecil. Ia membeli barang itu bersama Indah saat membantunya beberes.
Mila mengisi perutnya dengan 2 butir telur dan segelas air putih. Tak ada kompor atau alat masak lainnya karena ia belum mempunyai uang membelinya.
Tepat pukul 8 lewat 30 menit, Mila pun berangkat kerja. Ketika keluar dari kamarnya, ia kembali berpas-pasan dengan pria yang tadi malam sempat menyapanya.
Pria itu melemparkan senyum singkat tanpa mengeluarkan sepatah katapun, lalu melangkah cepat menuju halaman kos-kosan menaiki motornya dan melaju.
Sedangkan Mila harus berjalan kaki 200 meter menuju jalanan yang besar karena angkutan umum kota tak melewati jalanan depan kos-kosannya. Butuh waktu 10 menit menunggu kendaraan umum itu.
Tepat jam 9 pagi, Mila akhirnya tiba ditempatnya bekerja. Ia mulai menjalani kegiatannya seperti biasa.
Sejam kemudian, ponselnya berdering. Tertera nama mantan adik iparnya. Mila tak ingin rekan kerjanya mendengar pembicaraannya lantas menjauh. Mila memilih menjawab panggilan teleponnya tepat di parkiran kedai nasi, "Assalamualaikum, Dhea."
"Waalaikumussalam, Kak Mila....!" Dhea berteriak diiringi dengan tangisan.
"Halo, Dhea. Kenapa?" Mila tampak khawatir karena mendengar gadis itu menangis.
"Kenapa tidak memberitahu kami kalau kalian sudah bercerai??" Dhea tersedu-sedu.
"Maaf, Dhea. Aku tidak mau membuat kalian kepikiran dan menggagalkan rencanaku!" Mila berterus terang sebab dia tak mau dipengaruhi atau dibujuk.
"Kenapa kalian sampai harus berpisah, sih??" protes Dhea kesal.
"Ada banyak hal yang tidak bisa kami satukan lagi," ujar Mila, dia tak menjelaskan secara rinci. Biarlah disimpannya sendiri, mungkin di lain waktu apabila bertemu dia akan menceritakannya semua.
"Asal Kak Mila tahu, Ibu jadi sakit saat mendengar kabar perceraian kalian!" kata Dhea.
"Maaf, Mila. Aku pikir kakakmu sudah memberitahunya!"
"Dia gak mau memberitahunya kalau kami tak menanyakan kabar Kakak," ucap Dhea berterus terang karena ia dan ibunya terus mendesak Hardi.
"Sekali lagi aku minta maaf, tolong sampaikan kepada Ibu. Aku juga sempat gak mengadu dan langsung mengambil keputusan. Aku sudah lelah. Maafkan aku, Dhea." Mila jadi merasa bersalah sebab tak mengabarkannya.
"Sekarang Kak Mila di mana? Kami mau bertemu!" paksa Dhea.
"Aku sudah pindah dari kota itu!"
"Kakak balik ke kampung?" Dhea menebak.
"Gak, Dhea. Kakak ada di kota orang, sangat jauh dari sana," Mila tak mau berkata jujur tempat tinggalnya yang baru.
"Sebutkan nama kotanya, Kak!" desak Dhea.
"Maaf, aku gak bisa memberitahumu. Dhea, aku terpaksa harus menutup teleponnya. Aku lagi bekerja, titip salam buat ibu!" Mila menutup teleponnya bahkan dia segera menonaktifkan ponselnya biar pekerjaannya tak terganggu.
Mila kembali masuk ke warung dan melanjutkan pekerjaannya.
"Siapa yang menelepon?" Bu Bagas duduk di sebelah Mila yang sedang mengiris cabe hijau, sedari tadi ia memperhatikan Mila dari kejauhan.
"Saudara, Bu." Mila terpaksa berbohong karena tak mau mendengar banyak pertanyaan.
"Oh, Ibu pikir pacar kamu," kata Bu Bagas.
"Bukan... Bukan pacar saya, Bu!" Mila menyangkal tudingan.
"Saya gak masalah kamu punya pacar, asal gak mengganggu pekerjaan aja," Bu Bagas mengingatkan. "Dulu ada karyawan kami, perempuan seusia kamu. Dia janda anak satu, kerja baru sebulan tapi selalu main hape. Diselidiki eh ternyata dia lagi kasmaran. Terpaksa kami pecat karena pekerjaannya jadi gak beres!"
Mila menelan salivanya mendengar kata 'janda', mirip statusnya sekarang. Buat saat ini dirinya belum memikirkan kembali berumah tangga. Masih ada rasa trauma, takutnya dia mendapatkan yang lebih parah dari sebelumnya.
"Kamu dengarkan apa yang saya katakan?"
"Iya, Bu. Saya dengar," kata Mila sembari tersenyum kaku.
-
Sore harinya, Mila bersiap-siap pulang. Namun, Bu Bagas memintanya buat menghadapnya. Mila pun menghampiri wanita itu di sudut kedai nasi. Keduanya duduk berhadapan, Mila yang takut dipecat menundukkan wajahnya.
"Mila, Ibu minta maaf."
Mila mendongakkan wajahnya menatap wanita berusia 50 tahun itu.
"Ibu gak tau kalau kamu sudah bercerai, kalau bukan Wina yang memberitahunya," Bu Bagas tampak menyesal dengan kata-katanya tadi pagi.
"Gak apa-apa, Bu. Maaf, saya gak memberitahunya!" Mila tersenyum getir.
"Ibu cuma ingin mengingatkan karyawan untuk bekerja serius, bukan menyinggung perasaanmu," kata Bu Bagas.
"Saya paham kalau Bu Bagas sebenarnya sangat baik dan pengertian," Lagi-lagi Mila kembali tersenyum menghilangkan rasa canggung.
"Ibu belum banyak tau mengenai kehidupanmu, lain kali kamu bisa cerita kepada kami. Anggap saja kami pengganti orang tuamu selama di kota ini."
"Terima kasih banyak, Bu."
"Ya sudah, kamu boleh pulang," Bu Bagas mempersilakan Mila meninggalkan tempat.
"Kalau begitu, saya permisi, Bu!" Mila membalikkan badannya dan melangkah pergi.
Mila sampai di kos-kosan terlambat 10 menit karena harus menemui Bu Bagas dan angkutan umum yang dinaikinya berjalan sangat lambat.
Mila tak ingin meninggalkan salat Maghrib di masjid bergegas mandi. Ketika dia selesai berpakaian, adzan pun berkumandang. Mila meraih mukena dan memakainya lalu berangkat ke masjid. Meskipun, salat di rumah lebih baik bagi perempuan tetapi Mila memilih melakukannya di masjid biar dia mengenal para tetangganya.
Selesai salat Maghrib, Mila kembali bertemu dengan pria yang menjadi tetangganya diparkiran kos-kosan. Pria itu baru saja pulang bekerja. Ia cuma melemparkan senyuman saja dan Mila cuma membalas dengan tersenyum singkat.
Mila segera masuk ke kamarnya dan melaksanakan rutinitas seperti hari kemarin. Ponselnya sengaja belum dinyalakan lagi sebab berpikir tak ada yang menghubunginya kecuali Della dan Indah. Kedua wanita itu hampir sering berkomunikasi kepadanya walaupun hanya lewat pesan singkat berwarna hijau.
Selepas salat Isya, Mila lagi-lagi kembali berpapasan dengan tetangga itu. Bahkan, membuka pintu pagar buatnya.
"Terima kasih," lirih Mila.
"Hmmm..kita belum berkenalan. Nama saya Hasbi!" pria itu mengulurkan tangannya ketika mereka berdiri dengan posisi saling berhadapan.
Mila menyebutkan namanya tanpa menyambut uluran tangan pria dihadapannya.
Hasbi menarik tangannya sambil tersenyum. "Dari kota mana?"
Mila lalu kembali menyebutkan nama kota asalnya.
"Oh, cukup jauh juga dari sini!" Hasbi mengenal kota itu dan pernah mengunjunginya.
"Ya," ucap Mila singkat dengan nada pelan.
"Kerja di mana?" Hasbi ingin juga mengetahuinya.
"Apa aku harus memberitahunya? Ingat Mila, ini kota orang lain. Jaga diri dan jangan terlalu sering berkomunikasi dengan orang yang baru dikenal!" Mila membatin.
"Mbak Mila!" Hasbi melambaikan tangannya dihadapan wajah wanita dihadapannya.
"Akhh... iya!" Mila membuyarkan lamunannya, ia tampak grogi.
"Ya sudah kalau gak mau memberitahunya," Hasbi tak marah sama sekali.
"Kalau begitu, saya duluan. Permisi, assalamualaikum!" Mila dengan cepat melangkah ke kamarnya dan masuk.
seperti saya sm suami... d selingkuh in sm pasangan. 😄😍
jd teringat saat bertemu sm suami dl. 🤗
atw sang mantan. 🤔🤔🤔