NovelToon NovelToon
GODDESS AGAINST FATE

GODDESS AGAINST FATE

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi Timur / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:271
Nilai: 5
Nama Author: XING YI

​Tiga puluh ribu tahun peperangan berakhir dengan kehancuran Alam Dewa. Lin XingYu, sang Dewa Primordial terakhir, harus mengorbankan 99% basis kultivasinya demi memukul mundur sembilan Iblis Agung. Di ambang kematian, ia melintasi dimensi untuk mencari penerus dan menemukan Ling Xinyue—seorang gadis bumi berusia 16 tahun yang tengah menghitung detik terakhir hidupnya akibat kanker otak.

​Kini, dengan jiwa manusia yang rapuh dalam raga dewi tercantik di jagat raya, Xinyue harus memulai perjalanan mustahil sejauh 50.000 mil menuju Pulau Warisan. Bersama Lian Yue, sang Merak Bulan Es, ia harus belajar menguasai kekuatan yang sanggup mengguncang semesta sebelum para Iblis Agung bangkit kembali. Ini bukan lagi tentang bertahan hidup dari penyakit, ini tentang menaklukkan takdir para dewa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon XING YI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 14:Ujian 6 Sekte

​Kota Kristal Langit menyambut mereka dengan kemegahan yang dingin. Dinding-dinding kota yang terbuat dari es abadi memantulkan cahaya matahari pucat, menciptakan aura mistis yang menyelimuti setiap sudut jalanan. Chen Lin, bersama Yan Bo, Lu Han, Mei Ling, Xiao Yu, dan Ruo Lan, melangkah melewati gerbang utama dengan napas yang membentuk kabut tebal.

Kota ini adalah titik kumpul bagi ribuan talenta dari seluruh penjuru Utara, semua memiliki tujuan yang sama, yaitu bergabung dengan enam sekte utama.

​Setelah menyusuri jalanan yang ramai oleh para praktisi bersenjata, mereka berhenti di depan sebuah bangunan megah berlantai tiga dengan papan nama 'Paviliun Embun Beku'.

Yan Bo, yang paling berpengalaman dalam urusan logistik, segera menuju meja resepsionis yang dijaga oleh seorang pria tua bermata tajam. Setelah negosiasi singkat dan pembayaran yang cukup menguras kantong, Yan Bo kembali dengan tiga kunci kayu di tangannya.

​"Baiklah, karena pendaftaran baru dibuka satu bulan lagi, kita butuh tempat tinggal yang stabil untuk berlatih. Aku sudah memesan tiga kamar terbaik yang tersisa," ujar Yan Bo sambil membagi kunci tersebut.

"Kamar pertama untuk Mei Ling, Xiao Yu, dan Ruo Lan. Kamar kedua untukku dan Lu Han. Dan kamar terakhir untukmu, Saudara Chen."

​Lu Han, yang sedang menghitung sisa keping peraknya, mengerutkan kening. "Tunggu sejenak, Yan Bo. Harga kamar di Ibukota ini hampir tiga kali lipat dari Qingchu. Mengapa kita tidak menyewa dua kamar saja? Kau, aku, dan Saudara Chen bisa berbagi satu kamar. Ruangannya cukup luas, dan sebagai sesama pria, rasanya tidak masalah jika kita harus berbagi tempat tidur atau kolam mandi. Itu akan menghemat banyak biaya untuk membeli pil pemulihan nanti."

​"Benar juga," sahut Yan Bo sambil menatap Chen Lin dengan . "Saudara Chen, apakah kau merasa keberatan? Kita sudah melewati maut bersama di pegunungan, berbagi kamar seharusnya bukan masalah besar, bukan?"

​Chen Lin terdiam, menatap kunci kayu di telapak tangan Yan Bo seolah benda itu adalah kutukan. Di balik jubah tebal dan penyamaran maskulinnya, hatinya bergejolak oleh alasan yang tidak mungkin ia ungkapkan.

"​Kalian belum tahu saja bahwa di balik raga pria ini, ada jiwa seorang wanita yang mendiami kesadaran ini, gumam Chen Lin dalam hatinya. Setiap kamar di penginapan kelas atas ini hanya memiliki satu kolam mandi terbuka dengan air hangat yang dialiri energi spiritual. Walaupun aku menggunakan penyamaran pria dengan sangat sempurna, kesadaranku tetaplah seorang wanita. Aku tidak akan pernah terbiasa membersihkan diri atau melakukan aktivitas telanjang busana di hadapan pria lain.

​"Aku memiliki metode kultivasi yang sangat sensitif terhadap sirkulasi energi spiritual orang lain," jawab Chen Lin dengan nada sedingin es, seraya menggelengkan kepalanya perlahan dan menutup matanya, mengisyaratkan bahwa keputusan itu tidak dapat diganggu gugat.

"Hawa murni dari Esensi Tulang Rembulan milikku membutuhkan keheningan mutlak. Kehadiran orang lain dalam satu ruangan akan mengacaukan frekuensi energiku."

​Melihat ketegasan di wajah Chen Lin, Yan Bo dan Lu Han hanya bisa saling pandang dan menghela napas. Mereka menyadari bahwa praktisi berbakat seperti Chen Lin seringkali memiliki pantangan atau gaya kultivasi yang eksentrik.

"Baiklah, jika itu memang kebutuhan teknikmu, kami tidak akan memaksa. Keberhasilanmu dalam ujian adalah prioritas kami," ucap Yan Bo akhirnya.

​Satu bulan berlalu dalam keheningan yang disiplin. Di dalam kamarnya yang terisolasi, Chen Lin tidak pernah benar-benar beristirahat. Ia menghabiskan hari-harinya dalam meditasi mendalam, membiarkan jiwa Lin XingYu membimbing sirkulasi energinya. Fokus utamanya adalah menyempurnakan Jurus 7 Pedang Bayangan.

​Di bawah cahaya bulan yang masuk melalui jendela kamar, Chen Lin berlatih tanpa suara. Pedang kayunya bergerak secepat kilat, menciptakan uap dingin yang membeku di udara. Pada minggu ketiga, ia berhasil menembus hambatan lapisan kedua.

Kini, setiap kali ia mengayunkan pedangnya, tidak hanya satu, tetapi tujuh bayangan pedang yang mengandung esensi es nyata muncul secara bersamaan.

Bayangan-bayangan ini bukan sekadar tipuan optik, masing-masing membawa 30% dari kekuatan serangan aslinya, cukup untuk membuat lawan bingung dalam menentukan mana serangan yang nyata.

​Sementara itu, di halaman belakang penginapan, Yan Bo dan yang lainnya juga bekerja keras. Terinspirasi oleh kekuatan Chen Lin saat menyelamatkan mereka, kelima orang itu berlatih hingga titik darah penghabisan, menggunakan setiap keping perak mereka untuk membeli pil penguat meridian.

Dan akhirnya ​hari yang dinantikan tiba. Lapangan besar di pusat kota, yang dikenal sebagai Alun-Alun Es Abadi, telah disulap menjadi arena ujian raksasa. Di atas panggung utama yang melayang tinggi di udara, duduk enam orang utusan dari enam sekte utama.

Aura yang terpancar dari mereka begitu luar biasa, menciptakan tekanan gravitasi spiritual yang membuat para praktisi di bawahnya merasa sesak. Semuanya berada di ranah True Essence Tingkat 8 hingga 9. sedikit di bawah ranah Birth Soul.

​Ujian tahap pertama adalah Verifikasi Basis Kultivasi. Minimal peserta harus berada di Tingkat 7 Blood Purification. Ribuan peserta mengantre untuk menyentuh "Batu Pengukur Jiwa", sebuah kristal hitam setinggi tiga meter.

​"Gagal! Pergi!" teriak seorang penguji saat seorang pemuda hanya mampu membuat batu itu berkedip lemah.

​Pemandangan penuh keputusasaan terjadi di mana-mana. Namun, ketika kelompok Chen Lin maju, suasana berubah. Yan Bo dan Lu Han menyentuh batu, yang seketika meledakkan cahaya biru yang kuat, menandakan fondasi Marrow Purification Tingkat 1 yang stabil. Penonton berbisik kagum.

Saat Chen Lin maju, ia menekan energinya melalui bantuan Lin XingYu agar tidak terlalu mencolok. Cahaya biru jernih muncul dengan stabil di level Marrow Purification Tingkat 1. Penguji mencatat namanya dengan anggukan hormat. Semua anggota kelompok mereka lulus tahap pertama tanpa hambatan.

​Tahap Kedua, Sepuluh Hari di Lembah Tulang Beku.

​Tahap kedua adalah ujian yang sebenarnya adalah alam Rahasia Perburuan. Sebanyak dua ribu praktisi yang lolos tahap pertama dipindahkan melalui gerbang teleportasi raksasa menuju dimensi kantong yang dikenal sebagai "Lembah Tulang Beku".

Aturannya brutal, dalam 10 hari, setiap individu harus membunuh minimal 20 monster sebagai standar kelulusan.

Hari ke-1. Saat pertama kali menginjakkan kaki di alam rahasia, Chen Lin terpisah dari kelompoknya akibat distorsi acak gerbang teleportasi. Ia mendarat di tengah hutan konifer yang tertutup salju setebal lutut. Udara di sini jauh lebih dingin dari Ibukota, dan aroma kematian tercium di setiap hembusan angin.

Chen Lin tidak terburu-buru. Ia bergerak dengan tenang, memburu monster-monster penyendiri.

Dalam dua belas jam pertama, ia sudah mengumpulkan 5 inti monster.

​Hari ke-2 hingga ke-5. Pertemuan dan Aliansi

Di hari kedua, saat fajar pucat menyingsing, Chen Lin mendengar suara dentingan senjata di balik tebing es. Ia melompat dengan ringan dan melihat Yan Bo, Lu Han, dan ketiga gadis itu sedang dikepung oleh kawanan Serigala Es bermata perak. Jumlahnya lebih dari tiga puluh ekor.

​"Tahan formasi! Jangan biarkan mereka memisahkan kita!" teriak Yan Bo dengan napas tersengal.

​Tepat saat seekor serigala melompat ke arah punggung Mei Ling, sebuah kilatan biru membelah udara. Kepala serigala itu terpisah dari tubuhnya sebelum sempat menggigit. Chen Lin berdiri di sana, memegang pedangnya dengan santai.

​"Saudara Chen!" seru Xiao Yu dengan nada lega yang luar biasa.

​"Berkumpul denganku. Kita akan membersihkan lembah ini bersama," ucap Chen Lin singkat. Sejak saat itu, kekuatan mereka berlipat ganda. Chen Lin memimpin di depan sebagai ujung tombak, sementara Yan Bo dan Lu Han menjaga sayap, dan ketiga gadis itu memberikan dukungan serangan jarak jauh.

​Hari ke-6 hingga ke-8: Terobosan di Tengah Maut

Badai salju yang hebat melanda pada hari ketujuh. Suhu turun drastis hingga mencapai titik di mana praktisi Blood Purification mulai merasa kaku. Saat itulah, mereka bertemu dengan monster tingkat tinggi.

Beruang Es Kristal ranah Marrow Purification Tingkat 2.

​Pertarungan itu sangat melelahkan. Mei Ling, Xiao Yu, dan Ruolan terdesak hingga ke titik nadir.

Namun, di bawah tekanan maut dan arahan taktis dari Chen Lin yang terus memancing perhatian monster tersebut, potensi tersembunyi ketiga gadis itu meledak.

Di tengah hujan salju dan darah, cahaya putih murni memancar dari tubuh mereka. Satu per satu, mereka menembus kemacetan kultivasi dan melangkah ke Marrow Purification Tingkat 1.

Dengan kekuatan baru, mereka berhasil menghabisi beruang itu dan mengumpulkan inti kristalnya.

​Hari ke-9 hingga ke-10: Dominasi Total

Dengan semua anggota kelompok kini berada di ranah Marrow Purification, perburuan menjadi jauh lebih efisien. Mereka tidak lagi hanya mengincar 20 monster; mereka membantai kawanan monster yang lebih besar.

Chen Lin melatih koordinasi mereka, mengajarkan cara efisiensi energi. Di hari terakhir, mereka keluar dari alam rahasia dengan tubuh yang penuh luka dan darah monster, namun mata mereka memancarkan aura kemenangan.

Masing-masing membawa lebih dari 40 inti monster, jauh melampaui standar kelulusan.

​Tahap Ketiga. Kualifikasi Tiga Puluh Dua Besar

​Dari ribuan peserta, hanya 32 orang terbaik yang dinyatakan lulus berdasarkan jumlah inti monster dan kondisi fisik mereka. Ujian terakhir adalah turnamen eliminasi satu lawan satu di hadapan ribuan penonton untuk menentukan peringkat 1 hingga 32.

​Aturannya sangat jelas:

​Peringkat 1-8: Hak pilih mutlak untuk masuk ke sekte mana pun dari 6 sekte utama.

​Peringkat 9-16: Harus setuju dimasukkan ke sekte pilihan pengawas atau mundur sepenuhnya.

​Peringkat 17-32: Hanya akan menjadi murid luar di sekte-sekte kelas dua atau kembali tahun depan.

​Chen Lin melangkah ke arena dengan tenang. Lawan pertamanya adalah seorang jenius dari klan lokal yang sombong. Tanpa membuang kata, Chen Lin mengaktifkan lapisan kedua 7 Pedang Bayangan.

Dalam sekejap, lawannya terkepung oleh tujuh bayangan es yang menyerang dari sudut yang mustahil. Hanya dalam sepuluh detik, lawan itu jatuh dengan tubuh yang membeku di beberapa bagian.

​Chen Lin terus menang, namun ia dengan sengaja mengatur ritmenya. Ia tidak ingin menjadi pusat perhatian sebagai peringkat pertama. Baginya, tujuan utamanya adalah memasuki Sekte Bing Si yang memiliki metode kultivasi es terbaik.

Menjadi juara pertama hanya akan membawa beban politik dan perhatian berlebih dari sekte-sekte lain yang tidak ia inginkan.

​Di babak semifinal, Chen Lin berhadapan dengan Han Feng, seorang praktisi pedang yang sangat ganas dari wilayah Barat. Pertarungan berlangsung sengit di mata penonton, namun Chen Lin sebenarnya sedang melakukan perhitungan.

Ia membiarkan Han Feng menang tipis melalui sebuah celah yang sengaja ia buat, memastikan dirinya berada di posisi yang aman.

​Pada akhirnya, Chen Lin menempati Peringkat 3. Peringkat 1 ditempati oleh Han Feng dan Peringkat 2 oleh Zhao Mo. Keduanya adalah praktisi pedang yang haus darah, yang sejak awal sudah mengincar Sekte Qian Jian.

​Kejutan terbesar datang dari rekan-rekan Chen Lin. Yan Bo menempati peringkat 5, Lu Han peringkat 6, sementara ketiga gadis itu setelah mencapai Marrow Purification menunjukkan bakat luar biasa dan menempati peringkat 4, 7, dan 8. Seluruh kelompok enam orang itu berhasil masuk ke jajaran elit 8 Besar.

​Penentuan Takdir di Bawah Langit Bai Xue

​Suasana Alun-Alun Es Abadi menjadi sangat khidmat. Enam utusan sekte berdiri tegak.

Kehadiran mereka seolah-olah menghentikan aliran angin. Utusan dari Sekte Bing Si, seorang wanita paruh baya dengan jubah biru es yang anggun namun memancarkan aura yang sanggup membekukan jiwa, melangkah maju.

​"Peringkat 3, Chen Lin. Teknik bayangan pedangmu memiliki esensi es yang paling murni yang pernah kulihat dalam sepuluh tahun terakhir ujian ini. Katakan padaku, di mana kau akan melabuhkan masa depanmu?" tanya utusan itu dengan nada yang mengandung harapan tersirat.

​Chen Lin membungkuk dengan hormat yang sempurna. "Junior ini hanya memiliki satu tujuan sejak awal. Saya memilih Sekte Bing Si."

​Wanita itu tersenyum tipis, sebuah pengakuan yang membuat banyak praktisi lain merasa iri.

"Selamat bergabung. Es di sekte kami akan menempa tulangmu menjadi abadi."

​Selanjutnya, giliran rekan-rekannya. Yan Bo dan Lu Han maju dengan dada membusung. "Kami memilih Sekte An Yu," ujar Yan Bo. Mereka merasa sekte yang misterius dengan jumlah murid sedikit itu adalah tempat terbaik untuk mengembangkan gaya bertarung mereka yang liar.

​Mei Ling, Xiao Yu, dan Ruo Lan maju bersamaan. Kecantikan mereka yang kini terpancar lebih kuat setelah terobosan kultivasi menarik perhatian utusan Sekte Xiannu Gu. "Kami ingin bergabung dengan Xiannu Gu," ucap mereka serentak. Utusan wanita dari Xiannu Gu tertawa kecil, menyambut tiga murid berbakat yang cantik tersebut dengan tangan terbuka.

​Sementara itu, Han Feng dan Zhao Mo yang berada di peringkat 1 dan 2 melangkah dengan sombong menuju utusan Sekte Qian Jian. Mereka menatap Chen Lin dengan pandangan meremehkan saat mereka melewati posisinya.

​"Peringkat 3 hanyalah pecundang yang takut pada ketajaman pedang yang sesungguhnya. Menikmati es yang membeku di Bing Si hanyalah untuk mereka yang berjiwa lemah," bisik Han Feng dengan suara yang cukup keras untuk didengar Chen Lin.

​Chen Lin hanya memejamkan mata, membiarkan angin dingin menyapu wajahnya. Ia tidak merasa perlu membalas provokasi itu. Ia tahu bahwa Han Feng dan Zhao Mo, dengan kekuatan yang mereka tunjukkan, kemungkinan besar akan menjadi rival yang merepotkan atau bahkan musuh di masa depan. Namun, tujuannya jauh melampaui sekadar peringkat di atas kertas.

​Malam itu, di Paviliun Embun Beku, mereka mengadakan perjamuan terakhir. Suasana haru menyelimuti. Mereka yang tadinya hanya pengembara asing kini telah resmi menjadi bagian dari kekuatan besar Negara Bai Xue. Besok, mereka akan berpisah menuju gerbang sekte masing-masing.

​"Walaupun kita tidak lagi berada di bawah atap yang sama, ingatlah bahwa kita adalah kawan seperjuangan," ujar Yan Bo sambil mengangkat cangkir tehnya.

​Chen Lin menatap mereka satu per satu. Meskipun ia harus terus menjaga rahasia jati dirinya dan tujuan aslinya, rasa hormatnya pada rekan-rekan ini adalah nyata. Ia tahu, babak baru dalam hidupnya sebagai murid Sekte Bing Si akan segera dimulai, dan di sanalah, di tengah badai es yang sesungguhnya, ia akan membuktikan siapa dirinya yang sebenarnya.

1
Milk Lk
udh nabung 2 minggu lebih gas momentum walau cuman 20 chapter, semangat terus thor up nya
Milk Lk
Wah bagus sih ini, gas next chpter tor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!