Aku adalah Raka. Seorang Pebisnis yang telah mapan sebelum usia kepala tiga. Aku mempunyai kekasih seorang janda beranak satu, hubunganku di tentang oleh mama dengan alasan perbedaan pandangan adat dan statusnya.
Aku dijodohkan dengan seorang wanita yang sama sekali tidak aku kenal. Akankah mama berhasil menjdohkanku atau mama akan luluh dengan pilihanku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ica Marliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Jebakan Ningsih
'Aku pasti akan balas semua penghinaan Mamamu hari ini Raka.'
Sebuah pesan singkat masuk ke ponselku. Pesan WhatsApp dari Ningsih. Wanita ini pasti tak akan tinggal diam setelah ia dipermalukan mama.
"Pak, proyek strategis kita tiba-tiba dibatalkan secara mendadak!" aku terbelalak, proyek itu sudah matang jauh-jauh hari. Kalau sampai proyek itu batal, bakal banyak kerugian yang aku tanggung.
"Apa maksudmu Dimas?" aku masih berharap apa yang sedang aku dengar adalah sebuah kesalahan.
"Iya proyek strategis yang sudah kita persiapkan dari setahun yang lalu di batalkan. Group Handoyo sudah memenangkannya." Aku memukul meja cukup keras.
"Brengsek!" rahangku mengeras.
"Siapa penanggungjawabnya kemaren?"
Dunia ku rasa berhenti seketika. Ini pertama kalinya aku gagal dalam proyek strategis yang kupegang.
"Sepertinya ada campur tangan Ningsih, Pak."
Aku menoleh Dimas, wajahnya tegang dan cemas.
"Seminggu yang lalu proyek pemasan itu sengaja diambil alih oleh Ningsih. Tapi tim tak menyangka jika Ningsih akan berkhianat."
"Aku mau kamu cari tahu secepatnya Dimas!"
suaraku menggelegar. Ini bukan lagi masalah pribadi, tapi sudah menjalar ke ranah pekerjaan.
"Kalau Ningsih terbukti, aku tak akan kasih dia toleransi lagi!" Dimas tersentak. Ia tak berani menatapku.
"Antarkan Aku menemui Ningsih!" Dimas hanya menggangguk.
Aku sudah kehilangan muka di kantor oleh ucapan Ningsih. sekarang aku malah kehilangan Proyekku juga karena campur tangannya.
"Kamu dimana?"
"Aku sudah yakin, kamu akan mencariku Raka," suara dari seberang terdengar manja. Dadaku bergemuruh, bukan karena aku bahagia, tapi aku sangat membencinya.
"Kamu dimana!" ucapku sedkit membentak.
"Raka, aku suka kamu yang begini. Kamu membenciku tapi masih mencariku." Wanita tertawa mengejek. Aku mencarinya bukan karena mencintainya lagi, tapi aku ingin membuat perhitungan.
"Aku tunggu di cafe Melati, tempat biasa kita selalu menghabiskan waktu berdua, Raka."
Aku langsung mematikan panggilan itu, melempar ponsel ke kursi mobil sedikit keras.
"Kita kemana Pak?
" Cafe Melati, wanita jalang itu menunggu di sana."
"Baik, Pak."
Setelah itu hanya keheningan yang kami lewati. Aku sedang berperang dengan kepalaku, Dimas hanya konsentrasi menyipit tanpa bertanya-tanya.
'Jangan lupa Raka, kamu sendirian saja ke sini. Aku ingin mengulang kenangan manis kita.'
Sebuah pesan singkat yang semakin menambah kemuakanku kepada Ningsih.
"Pak kita sudah sampai," aku memberikan anggukan kecil.
"Kamu tunggu di sini saja, biar saya sendirian yang menemui Ningsih."
"Tapi Ningsih cukup licik Pak Raka.. "
"Kamu tenang saja, kalau lebih dari satu jam aku tak kembali, kabari Kania segera."
"Baik, Pak."
Aku bergegas ke dalam kafe, meninggalkan Dimas di dalam mobil sendirian. Aku hanya ingin memastikan apa yang ingin dilakukan Ningsih.
Ketika membuka pintu utama kafe, suara musik dan aroma terapi yang membuat hati adem menyambutku.
Tempat dimana pertama kali aku mengajak Ningsih kencan buta. Wanita brengsek itu memang sengaja, memancing aku untuk mengingat kenangan bersamanya. Aku menoleh sekeliling, mataku menyapu seluruh ruangan kafe, dan akhirnya terhenti di tengah ruangan. Tepat di tempat Ningsih sedang menikmati Capucinno panas. Ku hampiri meja tempat ia duduk, senyum sumringahnya menyambut kedatanganku.
"Aku sangat yakin, kamu pasti datang Raka," ia menggeser kopi hitam ke arahku.
"Aku sudah memesan kopi kesukaanmu, cicipilah dulu."
"Nggak usah basa basi Ningsih, apa maumu?"
Ia tertawa, lalu menatapku cukup lama. Aku membuang muka menghindari tatapannya.
"Di hatiku tidak ada yang berubah Raka. Masih sama seperti dulu kamu mengenalku. Tapi takdir terlalu jahat padaku,"
"Nggak usah bertele-tele Ningsih, apa maumu?"
hardik ku cukup keras. Ia menyunggingkan bibirnya.
"Kamu yang berubah, tak seperti Raka yang dulu aku kenal. Yang selalu lembut padaku," ku tepuk meja dengan ke dua tanganku. Urat-urat leherku menegang, namun Ningsih masih terlihat sangat tenang.
"Aku tahu kamu butuh proyek itu, tapi aku juga butuh kamu," ia menarik kerah leherku. Spontan aku mendorong tangannya.
"Aku sudah beristri Ningsih, kamu bisa minta apapun padaku."
Ia tertawa mengejekku.
"Aku tidak menginginkan apapun selain kamu, Raka,"
"Ningsih, jangan keterlaluan!" pekikku kehilangan akal.
"Sstt! jangan teriak-teriak Raka."
"Proyek itu sangat penting bagimu kan? Sudah lama kamu persiapkan. Kamu bisa saja melaporkanku Raka, tapi kamu nggak punya cukup bukti," ia menatapku dengan senyum kemenangannya.
"Sekali lagi aku tanya Ningsih, apa maumu?" tiba-tiba saja kepalaku berat. Wajah Ningsih mulai berbayang dan aku tidak tahu lagi apa yang terjadi.
(POV Ningsih)
Aku tersenyum tipis melihat kepala Raka terkulai lemas di atas meja kayu kafe ini. Kopi hitam itu bekerja lebih cepat dari yang aku perkirakan. Kasihan sekali kamu, Raka. Kamu terlalu sombong hingga mengira amarahmu bisa mengalahkanku.
"Aku sudah bilang kan, aku hanya menginginkanmu," bisikku sambil mengusap rambutnya yang kaku.
Tanganku meraih ponsel di atas meja. Satu jam? Dimas tidak akan punya kesempatan untuk melapor pada siapa pun. Aku melirik ke arah pintu keluar, memberi kode pada seorang pria yang sudah menungguku sejak tadi di sudut ruangan.
"Bawa dia ke mobil. Pastikan tidak ada yang melihat," perintahku dingin.
Dunia Raka baru saja berakhir, dan duniaku baru saja dimulai.