NovelToon NovelToon
SENTUHAN PAPA MERTUA

SENTUHAN PAPA MERTUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Rumah Tangga / Balas Dendam
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

"Pa, Papa mau apa??" Adelia terkejut saat papa mertuanya tiba-tiba mendekat dan memeluknya dari belakang. la tak pernah membayangkan, kalau setelah menikah papa mertuanya itu justru berubah dan bersikap seolah ia adalah istrinya.

Apakah Adelia mampu mengendalikan diri dari papa mertuanya?

Atau ia justru ikut terjerumus juga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TUJUH

Di lantai bawah, suasana dapur masih gelap kecuali lampu kecil di atas kompor. Bik Vivi baru saja masuk dari pintu samping, mengenakan celemek dan menyalakan lampu utama dapur.

Namun, ia terkejut melihat sosok Bastian Erlangga sudah berdiri di sana, tangan terlipat di dada, seolah sudah menunggu seseorang.

"Lho, Pak Bastian? Waduh, kok bangun pagi benar?"

Bik Vivi mengelus dadanya yang sempat kaget.

Bastian tersenyum ramah. "Pagi, Bu Vivi! Maaf kalau saya bikin kaget."

"Nggak papa, Pak. Mau saya buatin teh? Atau kopi?"

tanya Bik Vivi sambil mulai membuka kulkas.

Namun, Bastian mengangkat tangan pelan. "Nggak usah, Bu Vivi. Pagi ini, saya cuma mau masak buat sarapan."

Bik Vivi berhenti. "Lho, nggih? Kenapa, Pak? Saya biasa masakin buat Mas Lukas sama Mbak Adel tiap pagi kok."

"Justru itu," Bastian tersenyum hangat. "Saya mau sekalian berterima kasih karena sudah diterima tinggal di rumah ini. Saya ingin masak buat Lukas dan Adel. Anggap saja ucapan terima kasih kecil."

Bik Vivi tampak ragu. "Lho, Pak... saya ini pembantu di sini. Masa saya diem aja dan Bapak yang masak?"

"Tenang saja," jawab Bastian dengan nada lembut tapi tegas. "Bukan berarti saya rebut pekerjaan Ibu. Ini cuma... satu pagi ini saja. Biar saya siapkan kejutan buat mereka."

Nada suaranya sopan, tetapi ada aura otoritatif yang membuat Bik Vivi tidak bisa menolak.

"Yasudah, kalau gitu saya bantu nyiapin bahan-bahannya ya, Pak?" ucap bik Vivi.

"Nggak usah," jawab Bastian sambil mengambil celemek hitam yang tergantung. "Ibu santai saja dulu. Saya pernah masak untuk istri saya dulu, jadi saya bisa."

Bik Vivi tersenyum kecil, meski masih bingung.

"Kalau gitu saya siap-siap beresin meja makan aja, Pak."

Bastian mengangguk sambil mulai menyalakan kompor. Wajahnya fokus, tetapi ada sesuatu di dalam ekspresinya semacam kegembiraan yang tak dijelaskan kata-kata.

Seolah memasak untuk Adelia bukan sekadar formalitas... melainkan ritual yang ia nikmati.

Adelia turun dari lantai atas dengan langkah pelan, berharap bisa menyiapkan sarapan sebelum Lukas selesai mandi. Namun begitu masuk ke dapur, ia langsung terhenti.

Bastian berdiri di meja dapur, memotong sayuran dengan cekatan. Aroma tumisan dan wangi kaldu sudah tercium. Bik Vivi berdiri di sudut, tampak serba salah.

"Pa...?" suara Adelia pelan, hampir berbisik. "Papa ngapain?"

Bastian menoleh dengan senyum lebar seolah ia baru saja menemukan alasan untuk bahagia sejak dini hari.

"Masak untuk kamu dan Lukas, Del."

Adelia tercekat. Dia memaksa tersenyum. "Pa... Papa nggak perlu repot. Kan ada Bik Vivi..."

"Papa yang mau," jawab Bastian lembut. "Papa tinggal di sini sekarang. Papa ingin melakukan sesuatu untuk

keluarga ini."

Kata "keluarga" itu diucapkan dengan nada terlalu dalam, terlalu personal. Adelia menelan ludah.

Bik Vivi melangkah mendekat ke Adelia, berbisik lirih, "Ibu tadi malam teriak katanya ada kecoa, ya? Pak Bastian bilang wajah Ibu pucat. Ibu nggak apa-apa?"

Adelia hanya tersenyum kaku. "I-iya, saya cuma kaget."

Bastian menatap Adelia lagi. "Kemarin kamu bilang kamu capek, Del. Jadi, biar pagi ini kamu santai. Papa masak khusus buat kalian."

Adelia hendak menjawab, tetapi tiba-tiba-

Langkah kaki Lukas terdengar dari tangga.

"Wah, harum banget ini!" suara Lukas ceria.

Adelia merasakan dadanya mencelos. Sementara Bastian menoleh dengan senyum hangat, seperti pria yang sama sekali tidak punya sisi gelap.

"Pagi, Luk!" sapa Bastian. "Papa udah masak nih buat kalian."

Lukas tampak senang. "Wah, asik! Papa masak? Jarang banget ini."

Ia mendekati Bastian dan menepuk bahunya, tanpa tahu apa yang Adel rasakan.

Di sudut dapur, Adelia berdiri diam. Sementara Bastian-sambil memasak sesekali menatap Adelia dari ekor matanya.

Tatapan yang hanya Adelia yang bisa rasakan.

Dan tatapan itu bukan tatapan seorang ayah kepada menantu.

÷÷÷

Aroma masakan memenuhi ruang makan pagi itu.

Meja sudah tertata rapi oleh Bik Vivi, namun hidangan utamanya-sop bening lengkap dengan potongan daging dan sayur segar-adalah hasil tangan Bastian Erlangga sendiri.

Lukas duduk di kursi sambil menyeruput kuah sopnya. Wajahnya tampak puas. "Pa... ini enak banget! Serius, saya nggak ingat kapan terakhir Papa masak buat saya."

Bastian tertawa kecil, nada suaranya terdengar penuh kebanggaan. "Dulu waktu kamu kecil, Luk. Kamu itu paling doyan sop buatan Papa."

Lukas menyengir seperti anak kecil yang sedang dipuji. "Nggak heran rasanya enak. Nostalgia, Pa."

Di sampingnya, Adelia duduk dengan tangan terlipat rapi di pangkuan. Ia mencoba mengikuti suasana hangat pagi itu, tapi perutnya terasa tidak stabil sejak ia turun dari kamar. Ia mengaduk sopnya perlahan, jarang mengangkat sendok.

Setiap beberapa detik, ia bisa merasakan tatapan Bastian mengarah padanya. Tatapan itu bukan tatapan biasa. Ada semacam perhatian yang bersembunyi di dalamnya, terlalu dalam, terlalu intens... terlalu salah.

Dan Adelia benar-benar berusaha untuk tidak terlihat tegang.

"Del," panggil Bastian lembut. "Kamu nggak makan banyak? Papa masak ini buat kalian lho."

Adelia tersenyum samar. "Enak, Pa. Saya suka kok. Cuma... perut saya masih agak penuh."

"Hm," balas Bastian, masih menatapnya seperti sedang menilai sesuatu. "Papa harap kamu makan yang cukup... nanti kan kamu butuh energi."

Kalimat itu membuat Adelia menegang. Ia menunduk cepat, pura-pura mengambil roti agar terlihat sibuk.

Lukas sama sekali tidak menyadari perubahan atmosfer antara istrinya dan ayah tirinya. Ia mengambil roti, menambah sambal, lalu mengobrol santai tentang meeting yang akan ia hadiri.

"Del, nanti siang aku pulang agak telat, ya? Ada dua meeting tambahan, Sean tadi udah kabarin. Ya moga aja gak terlalu lama," ucap Lukas.

"Iya, Mas. Hati-hati ya!" jawab Adelia dengan suara pelan.

Percakapan pun berjalan normal hingga Bastian tiba-tiba membuka topik baru.

"Luk," ucapnya sambil menaruh sendok, "Papa cuma mau bilang... Papa senang lihat kalian berdua rukun terus.

Papa cuma berharap... semoga sebentar lagi Papa bisa gendong cucu."

Sendok Adelia langsung berhenti di udara.

Lukas tertawa kecil. "Amin, Pa. Doakan saja. Kita nggak buru-buru kok, tapi nggak nunda juga."

Adelia menunduk, merasa wajahnya panas.

Bastian menatapnya lagi, senyumnya hangat tapi nadanya pelan. "Kamu tahu, Del... perempuan itu paling bersinar kalau sudah jadi ibu."

Adelia tersenyum tipis, tapi tangan di bawah meja mengepal kuat.

"Papa yakin kalian bakal punya anak yang bagus," lanjut Bastian sambil memandang Adelia dengan lamanya yang tidak wajar. "Papa nggak sabar lihat itu."

Adelia ingin menyahut, tapi Lukas lebih dulu menyela. "Ya sudah, Pa... nanti kalau dikasih rezeki, pasti kami kabari."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!