Dalam gelap kematian, Nayla menemukan cahaya—bukan menuju surga, tapi kembali ke awal. Terlahir sebagai bayi dengan ingatan utuh akan pengkhianatan yang merenggut nyawanya, Nayla bersumpah: sejarah tidak akan terulang.
Andre, suami yang menusuk dari belakang. Vania, sahabat yang racun manis di bibir. Rio, dalang di balik semua fitnah. Mereka semua juga kembali—dan mereka sudah memulai lebih dulu.
Tapi takdir mempertemukan Nayla dengan Rasya. Cowok misterius dengan mata yang terlalu tua untuk usianya. Dia pengagum diam-diam yang tidak pernah berani bicara.
Sekarang, di kehidupan kedua ini, Rasya tidak akan membiarkan apapun menghalangi. Bukan kematian. Bukan takut. Bukan perbedaan kelas.
Kali ini, dia akan menjadi pahlawan dalam cerita Nayla—bukan lagi bayangan di kaca spion.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ashbabyblue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Mulai Percaya pada Takdir — dan pada Cowok Mencurigakan itu
Dua minggu telah berlalu sejak aku menerima pesan peringatan misterius dari Rasya malam itu.
Selama dua minggu itu, aku hidup dalam keadaan waspada yang luar biasa—seolah aku sedang menjaga benteng dari serangan musuh yang tidak terlihat. Setiap kali Vania menawarkan sebotol air minum, aku selalu menjawab dengan senyum ramah, “Terima kasih ya, nanti aku minum saja kalau sudah haus”, lalu diam-diam membuangnya saat ia tidak sedang memperhatikan. Setiap kali ia membagikan camilan atau makanan ringan, aku menerimanya dengan wajah ceria dan ucapan terima kasih yang sopan, namun kemudian diam-diam kuselipkan ke dalam tas milik Sasha—kasihan juga sebenarnya, ia menjadi kelinci percobaan tanpa menyadarinya sedikit pun.
Dan yang paling teratur dari semuanya: setiap malam, tepat pukul sembilan, ponselku pasti bergetar.
Itu selalu pesan dari Rasya.
Isinya tidak panjang, tidak bertele-tele, dan tidak banyak mengungkapkan perasaan. Namun, setiap kata yang dikirimkannya selalu berhasil membuat detak jantungku berpacu lebih cepat dari biasanya, seolah ada sesuatu yang tersembunyi di balik setiap kalimat singkatnya.
Hari ke-1: “Tetaplah waspada terhadap Vania.”
Hari ke-2: “Ia mulai bertanya-tanya tentang dirimu kepada teman-teman dari kelas lain.”
Hari ke-3: “Jangan ceritakan apa pun mengenai masa lalumu kepada siapa pun. Bahkan kepada Sasha sekalipun.”
Hari ke-4: “Kamu terlihat cantik saat sedang marah. Tapi jangan terlalu sering melakukannya, nanti cepat muncul kerutan.”
Hari ke-5: “Itu hanya candaan. Maaf. Aku memang tidak terbiasa bercanda dengan orang lain.”
Aku tidak bisa menahan tawa kecil saat membaca pesan hari kelima. Kalau dia sadar dirinya tidak pandai bercanda, kenapa dia tetap memaksakan diri untuk melakukannya? Pikiranku dipenuhi pertanyaan sekaligus rasa penasaran yang semakin tumbuh.
Sasha, yang duduk di sebelahku, melirik ke arah layar ponselku lalu menatap wajahku yang tersenyum sendiri. “Kok kamu tersenyum-senyum sendirian begitu, Nay? Sedang mengobrol dengan siapa ya?”
“Ayah,” jawabku secepat kilat, berusaha menyembunyikan kegelisahanku.
“Ayah? Serius? Wajahmu itu malah terlihat seperti orang yang sedang mengobrol dengan kekasihnya saja,” godanya sambil menyeringai.
Aku menepuk pelan pipinya dengan lembut. “Apa-apaan sih kamu, malah membayangkan aku pacaran dengan ayahku sendiri? Pikiranmu aneh sekali.”
Sasha mendengus kesal dan membalas dengan wajah cemberut. “Ya kan aku hanya mengomentari saja, tidak usah marah.”
---
Sore Itu, di Perpustakaan Sekolah
Sengaja aku memutuskan untuk pulang lebih lambat dari biasanya. Aku sudah memberi tahu Ayah bahwa aku harus mengerjakan tugas kelompok—padahal, kelompokku hanya berisi aku dan Sasha, dan Sasha sudah pulang ke rumahnya sejak pukul dua siang tadi.
Suasana di perpustakaan sekolah terasa sangat sepi dan hening. Hanya ada Bu Lastri, pustakawan senior yang sudah bertugas selama puluhan tahun. Ia memiliki sifat yang unik: terlihat keras dan tegas di mata orang yang baru mengenalnya, namun begitu kita sudah akrab, ia akan menjadi sangat cerewet dan suka bercerita layaknya seorang nenek yang penuh kasih sayang.
“Nayla, kenapa belum pulang? Hari sudah mulai sore,” tanya Bu Lastri sambil tersenyum tipis dari balik meja kerjanya. “Datang untuk mencari ilmu, atau sebenarnya sedang mencari seseorang di sini?”
“Jangan menuduh sembarangan begitu, Bu,” sahutku sambil berpura-pura sibuk meraih sebuah buku secara acak dari rak. Aku bahkan tidak sempat melihat judul atau isi bukunya. Mataku justru sibuk mengamati setiap sudut ruangan, mencoba mencari sosok yang aku tunggu.
Aku yakin dia pasti ada di sini.
Selama dua minggu terakhir, aku mulai memperhatikan kebiasaan Rasya. Ia memiliki rutinitas yang sangat teratur: setiap hari Selasa dan Kamis, ia pasti menghabiskan waktunya di perpustakaan mulai pukul tiga sore hingga pukul empat. Tidak pernah absen, seolah itu adalah bagian dari ritual yang harus ia jalani.
Dan tepat saat jarum jam di dinding menunjukkan pukul tiga lewat seperempat, pintu perpustakaan terbuka perlahan.
Dia masuk.
Ujung rambutnya terlihat sedikit basah—mungkin ia baru saja selesai mengikuti pelajaran olahraga. Seragam putih-birunya tetap rapi dan terawat, meskipun bagian kerah bajunya sedikit terbuka longgar. Di tangannya, ia membawa buku catatan bersampul biru yang selalu ia bawa ke mana-mana, ditambah dua buku tebal lain yang bersampul merah dan hijau tua.
Pandanganku mengikuti setiap langkah kakinya. Ia berjalan menuju rak buku yang berada di bagian paling belakang ruangan—tepatnya di bagian rak buku sastra. Namun, begitu ia berhenti berdiri di sana, ia hanya menatap deretan buku yang tersusun rapi tanpa berusaha mengambil satu pun untuk dibaca.
“Sedang menguntit, ya?” tanyanya tiba-tiba tanpa menoleh ke arahku, suaranya terdengar jelas meski tidak terlalu keras.
Aku terkejut dan hampir melompat. “Apa? Tidak! Tentu saja tidak!”
“Kamu sudah berdiri di pojok sana selama lima belas menit sambil memegang buku berjudul Cara Merawat Ayam Petelur. Dan selama itu, kamu bahkan tidak pernah membuka halamannya sedikit pun,” ucapnya sambil perlahan menoleh ke arahku, salah satu alisnya terangkat sedikit. “Jadi menurutku, itu disebut sedang menguntit.”
Aku menunduk melihat buku yang ada di tanganku. Benar juga, ternyata buku yang aku pegang benar-benar berjudul demikian. Wajahku terasa sedikit memanas.
“Bisa saja kamu berbicara,” gerutuku pelan sambil berjalan kembali dan mengembalikan buku itu ke tempatnya semula. “Ini bukti kalau aku sedang serius ingin belajar ilmu peternakan, tahu.”
“Belajar beternak ayam di perpustakaan sekolah menengah?” tanyanya dengan nada yang terdengar sedikit menyindir.
“Memangnya kenapa? Tidak boleh begitu?” balasku berusaha mempertahankan diri.
Ia mulai melangkah mendekat ke arahku. Setiap langkahnya diambil dengan perlahan dan tenang, seolah memberi aku kesempatan untuk mundur jika aku mau. Namun, aku tidak berniat mundur sedikit pun. Aku justru mengangkat sedikit daguku, seolah menantang pandangannya.
Ia berhenti tepat satu langkah di hadapanku.
Angin sejuk yang masuk lewat celah jendela membawa serta wangi sabun mandi yang melekat di tubuhnya—aroma yang segar, sedikit berbau mint, dan terasa menenangkan seperti udara pagi di kaki gunung.
“Nayla,” panggilnya dengan suara yang rendah dan lembut. “Kamu sengaja datang ke sini untuk mencariku lagi, bukan?”
“Iya,” jawabku terus terang tanpa berusaha menyangkal. “Soalnya kamu suka sekali mengirim pesan yang penuh teka-teki dan peringatan, tapi begitu bertemu di sekolah, kamu malah menghindar seolah aku adalah hantu. Rasanya tidak nyaman, tahu tidak.”
“Hantu?” Ia tersenyum tipis, senyum yang samar namun terasa bermakna. “Perbandingan yang cukup menarik.”
“Jangan menghindar dari pertanyaan. Jelaskan semuanya padaku,” desakku.
Ia menghela napas panjang, lalu memalingkan wajah menatap keluar jendela, memandangi langit sore yang mulai berubah warna menjadi jingga kemerahan. “Aku tidak bisa menceritakan semuanya di tempat ini. Terlalu banyak orang yang bisa mendengar, dan dinding pun punya telinga.”
“Kalau begitu, di mana tempat yang aman?”
“Di rumahmu.”
Aku tertawa mendengar usulannya. “Kamu pasti sudah gila. Kalau aku mengajakmu ke rumah, lalu kamu berkata kepada Ayahku, ‘Pak, saya ingin bercerita tentang kehidupan lampau saya dan anak Bapak’, dijamin Ayah akan segera memanggil orang pintar untuk mengusir roh halus darimu.”
“Bukan sekarang,” jawabnya sambil menggeleng pelan. “Nanti. Saat waktunya tepat dan saat kamu benar-benar siap mendengar kebenaran.”
“Aku sudah merasa siap sejak aku terlahir kembali,” kataku tegas.
“Tidak. Kamu belum siap untuk mengetahui siapa diriku sebenarnya.”
Kalimat itu tergantung di udara, terasa berat dan penuh tekanan, seolah ada rahasia besar yang sedang disembunyikan dengan rapat.
Aku menelan ludahku dengan susah payah. “Kedengarannya menakutkan sekali, ya?”
“Memang begitu,” jawabnya singkat. Lalu ia menatap mataku kembali. Kali ini, sorot matanya terlihat lebih lembut—terlalu lembut—seolah sedang memandang sesuatu yang sangat berharga dan bisa hilang begitu saja kapan saja. “Karena kalau kamu tahu kebenarannya, ada kemungkinan besar kamu akan membenciku. Dan aku… aku belum siap menghadapi kenyataan itu.”
Jantungku berdebar kencang di dalam dada.
Astaga. Kenapa cowok ini selalu berbicara dengan nada yang terdengar seperti sedang membacakan puisi yang menyentuh hati?
“Rasya, dengarkan aku,” kataku sambil tanpa sadar meraih pergelangan tangannya. Tangannya terasa dingin, namun genggamannya tetap terasa kokoh. “Aku tidak peduli siapa dirimu di kehidupan sebelumnya. Yang terpenting saat ini adalah kamu ada di sini, di masa ini. Dan kamu adalah satu-satunya orang yang memahami persis apa yang aku rasakan dan alami. Jadi tolong… jangan menjauh dariku, mengerti?”
Ia terdiam sejenak, menatap tangan yang masih menggenggam pergelangan tangannya.
Lalu, perlahan namun pasti, sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah senyum.
Bukan senyum tipis yang biasa ia tunjukkan. Bukan pula senyum yang terdengar menyindir. Melainkan senyum yang terlihat tulus—senyum yang membuat matanya menyipit seperti bulan sabit, dan memunculkan sebuah lesung pipit yang sangat kecil namun jelas terlihat di sisi pipi kirinya.
“Astaga,” gumamku tanpa sadar, terpesona sejenak.
“Ada apa?” tanyanya.
“Kamu terlihat… lebih aneh lagi saat tersenyum seperti itu,” jawabku cepat, berusaha menutupi rasa canggungku.
“Terima kasih,” balasnya sambil melebarkan sedikit senyumnya. “Itu adalah pujian paling aneh yang pernah aku terima seumur hidupku.”
---
Malam Harinya — Catatan Percakapan
Rasya (21.03): “Apakah kamu sudah tidur?”
Nayla (21.04): “Belum. Pikiranku sedang sibuk memikirkan seseorang yang berperilaku aneh.”
Rasya (21.04): “Siapa orangnya?”
Nayla (21.05): “Kamu.”
Rasya (21.05): “Oh.”
Rasya (21.06): “Terima kasih.”
Nayla (21.06): “TERIMA KASIH? ITU BUKAN SEBUAH PUJIAN, TAHU!”
Rasya (21.07): “Aku tahu. Tapi setidaknya kamu sedang memikirkanku, jadi aku tetap mengucapkan terima kasih.”
Aku memukul bantal di sampingku dengan pelan, merasa kesal sekaligus geli.
Cowok ini memang terkadang bertindak konyol dan sulit dimengerti. Namun, mengapa bibirku tetap terangkat membentuk senyum yang bodoh seolah aku sedang kesurupan?