Aira dan Airin adalah kembar yang tak pernah serupa. Airin adalah "Permata Maheswari"—cantik, cerdas, dan dicintai. Sementara Aira hanyalah "Cacat Produksi"—kusam, bodoh, dan terbuang di gudang belakang karena tak mampu bersaing dengan standar keluarga yang gila gelar.
Satu-satunya cahaya dalam hidup Aira adalah ingatan tentang Alvaro, bocah laki-laki kumal yang dulu ia selamatkan dan ia beri seluruh hatinya. Namun, ketika Alvaro kembali sebagai pewaris tunggal konglomerat yang tampan dan berkuasa, takdir mempermainkan Aira dengan kejam.
Alvaro salah mengenali "Ai" sahabat kecilnya. Berkat kelicikan dan nama mereka yang hampir mirip, Airin dengan mudah mencuri identitas Aira. Kini, pria yang paling dicintai Aira justru menjadi orang yang paling rajin menghina dan merundungnya demi membela sang kembaran palsu.
Di tengah luka yang menganga, muncul Bara—sang bad boy penguasa sekolah yang menolak tunduk pada siapa pun. Bara berjanji akan memberikan dunia pada Aira.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widia ayu Amelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20
"Oups! Tanganku licin! Aduh, Aira... aku beneran nggak sengaja, sumpah!"
Suara Airin melengking, terdengar begitu panik dan penuh penyesalan di telinga orang lain, tapi bagiku, itu adalah suara iblis yang sedang tertawa. Aku terpaku. Napasku mendadak berhenti di tenggorokan saat melihat cairan hitam pekat itu merambat cepat, melahap serat-serat kertas mahal yang selama berbulan-bulan menjadi tempatku menumpahkan seluruh harapan.
Tinta itu seperti laba-laba hitam yang rakus. Ia merayap, menelan detail jahitan Hidden Rose Stitch yang kugambar dengan pensil runcing hingga jariku kapalan. Ia menghapus lekukan gaun "The Awakening" yang kupersiapkan untuk mengubah nasibku di lomba internasional itu. Hanya dalam hitungan detik, mahakarya yang kubangun dengan air mata dan kurang tidur itu berubah menjadi noda menjijikkan yang tak berbentuk.
"Enggak... enggak..." bisikku parau. Jemariku yang bergetar mencoba menyentuh pinggiran kertas yang belum terkena tinta, tapi cairan itu terlalu cepat. Ia meresap, menghitamkan segalanya. "Rin... apa yang kamu lakukan? Ini buat lomba minggu depan, Rin! Ini satu-satunya harapanku!"
"Ya ampun, Ra, aku kan sudah minta maaf! Kenapa kamu jadi teriak-teriak begitu?" Airin mundur selangkah, menangkupkan tangan di depan mulutnya, matanya berkedip-kedip seolah dia adalah korban yang sedang terpojok oleh kemarahanku. "Nanti aku belikan kertas baru, deh. Jangan lebay gitu, dong."
Lebay.
Kata itu seperti bensin yang dilemparkan ke dalam api yang sudah menyulut dadaku. Rasa perih di telapak kakiku karena kejadian tanpa sepatu kemarin, rasa lapar karena dikunci di perpustakaan, dan rasa sakit karena pengkhianatan Alvaro... semuanya meledak jadi satu. Kepalaku berdengung hebat.
Aku berdiri dengan sentakan kuat hingga kursiku terlempar ke belakang. "Kertas baru nggak akan bisa balikin jiwaku yang kamu tumpahin di sini, Airin! Kamu sengaja! Kamu selalu sengaja ngerusak apa pun yang aku punya!"
"Aira, jaga bicaramu! Aku nggak sengaja—"
PLAK!
Suara tamparan itu menggema di seluruh penjuru kelas yang tadinya sunyi. Tanganku terasa panas dan berdenyut, tapi itu tidak sebanding dengan hancurnya hatiku. Airin terjerembap ke samping, memegangi pipinya yang mulai memerah. Seluruh kelas menahan napas. Teman-teman Airin berteriak histeris.
"AIRIN!"
Sebuah bayangan besar menerjang masuk ke dalam kelas. Aku bahkan belum sempat menarik napas saat sebuah dorongan keras menghantam bahuku.
Brak!
Tubuhku menghantam sudut meja sebelum akhirnya terjatuh ke lantai yang dingin. Rasa sakit menusuk pinggangku, tapi penglihatanku lebih fokus pada sosok yang kini sedang berlutut, memeluk Airin dengan begitu protektif.
Alvaro.
Dia menatapku dengan mata yang menyala penuh amarah. Aku belum pernah melihatnya menatapku sekejam ini. Seolah-olah aku adalah monster paling menjijikkan yang pernah ia temui dalam hidupnya.
"Kamu sudah gila, Aira!" bentak Alvaro, suaranya menggelegar hingga membuat nyaliku menciut ke titik paling nadir. Ia melirik sekilas ke arah buku sketsaku yang tergeletak di lantai, sudah basah kuyup oleh tinta hitam. "Cuma karena kertas kotor ini kamu mukul kembaranmu sendiri?! Cuma karena coretan nggak berguna ini kamu berani main tangan?!"
Aku tertawa hambar di sela isak tangisku yang pecah. "Kertas kotor? Kamu bilang itu kertas kotor, Al? Itu mimpiku! Itu satu-satunya cara supaya aku bisa dianggap manusia di rumah itu!"
"Mimpi?" Alvaro berdiri, wajahnya merah padam. Ia melangkah mendekat, jarinya menunjuk tepat di depan wajahku yang masih terduduk di lantai. "Mimpi yang dibangun di atas kebencian itu bukan mimpi, tapi penyakit! Kamu selalu iri pada Airin! Kamu selalu ingin menghancurkan kebahagiaannya hanya karena kamu nggak punya bakat apa-apa!"
"Aku nggak punya bakat?" suaraku hampir hilang, tertelan oleh rasa sesak yang luar biasa. "Kamu yang buta, Alvaro! Kamu yang—"
"Jangan pernah kamu sebut namaku dengan mulut itu lagi!" Alvaro hendak menarik kerah seragamku, tapi gerakannya terhenti.
Sebuah tangan besar dengan urat-urat yang menonjol tiba-tiba mencengkeram pergelangan tangan Alvaro. Cengkeramannya begitu kuat hingga aku bisa mendengar bunyi tulang yang beradu pelan. Aroma tembakau dan parfum maskulin yang tajam langsung menyeruak di antara kami.
Bara.
Dia berdiri di sana dengan aura yang begitu gelap, lebih gelap dari tinta yang merusak sketsaku. Seragamnya yang berantakan dan tatapan matanya yang liar membuat seluruh kelas mundur selangkah.
"Lepasin," desis Bara. Suaranya rendah, tapi mengandung ancaman yang bisa membuat bulu kuduk berdiri.
"Bara, jangan ikut campur! Ini urusan keluarga gue!" Alvaro mencoba melepaskan tangannya, tapi Bara justru semakin mempererat cengkeramannya.
"Gue nggak peduli ini urusan keluarga loe atau urusan negara," ucap Bara tenang, namun mematikan. Ia menarik tangan Alvaro menjauh dariku, lalu berdiri tepat di depanku, menjadi tameng yang kokoh antara aku dan kemarahan Alvaro.
Bara menatap Alvaro dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan meremehkan. "Jangan pernah loe dorong dia lagi. Sedetik pun tangan loe nyentuh dia dengan kasar, gue pastiin loe nggak akan bisa pake tangan itu lagi buat nyuapin ular di samping loe itu."
"Lo belain dia?! Lo tahu dia baru aja nampar Airin?!" teriak Alvaro, frustrasi karena tenaganya kalah jauh dari Bara.
Bara melirik ke bawah, ke arah buku sketsa yang sudah hancur. Ia membungkuk sebentar, memungut buku itu dengan gerakan yang jauh lebih lembut daripada saat Alvaro memeluk Airin tadi. Bara melihat noda hitam itu, lalu beralih menatap Alvaro dengan senyum miring yang penuh ejekan.
"Kertas itu bagi loe kotor, tapi bagi dia itu mimpi," Bara berucap pelan, namun setiap katanya terasa seperti tamparan balik bagi Alvaro. "Dan loe baru saja injak-injak mimpi sahabat kecil loe sendiri, bego."
Suasana kelas mendadak menjadi sangat dingin.
Alvaro tertegun. Kata-kata "sahabat kecil" itu seolah menghantam bagian terdalam memorinya. Ia menatapku yang masih tersedu di lantai, lalu menatap Bara dengan kening berkerut dalam. "Apa maksud loe? Sahabat kecil gue itu Airin! Dia yang punya sapu tangan itu! Dia yang—"
"Banyak-banyakin minum air putih, Varo. Otak loe kayaknya udah mulai karatan gara-gara kebanyakan dikasih racun manis sama sebelah loe," sela Bara tajam.
Bara tidak menunggu jawaban Alvaro. Ia berbalik, lalu berjongkok di depanku. Tanpa mempedulikan bisik-bisik teman sekelas, ia melepas jaket kulitnya dan menyampirkannya ke bahuku, membungkus tubuhku yang gemetar hebat.
"Bisa berdiri?" tanya Bara lembut. Sangat lembut, sampai-sampai aku merasa ini bukan Bara yang sama dengan yang menghajar orang di kantin kemarin.
Aku hanya bisa mengangguk lemah, menerima uluran tangannya. Saat aku berdiri, aku bisa merasakan tatapan Alvaro yang masih terpaku padaku. Ada keraguan yang mulai merayap di matanya, sebuah kebingungan yang sangat besar saat ia menatap buku sketsa yang masih dipegang Bara.
Bara menarikku keluar dari kelas, meninggalkan Alvaro yang berdiri kaku dan Airin yang mulai panik karena perhatian Alvaro teralih.
Di koridor yang sunyi, Bara berhenti melangkah. Ia menyerahkan buku sketsa yang hancur itu padaku. "Loe punya salinannya di otak loe, kan?"
Aku menatapnya bingung sambil terisak. "Maksudnya?"
"Tinta cuma bisa ngerusak kertas, Ra. Dia nggak bisa ngerusak isi kepala loe," Bara menatapku lurus, matanya yang liar kini tampak begitu jujur. "Besok, gue beliin buku yang paling mahal. Loe gambar lagi. Gue bakal jagain meja loe 24 jam supaya nggak ada kecoa atau ular yang berani deket-deket."
Aku menunduk, memeluk buku sketsa yang hancur itu. Rasa perihnya masih ada, sangat dalam. Tapi entah kenapa, beban di bahuku terasa sedikit berkurang karena jaket kulit yang kebesaran ini. Di kejauhan, aku mendengar suara Alvaro memanggil namaku, tapi suaranya terdengar sangat jauh dan asing.
Mimpi itu mungkin sobek, tapi di samping Sang Serigala, aku menyadari satu hal: selama aku masih bernapas, aku masih punya waktu untuk menjahit kembali sobekan itu menjadi sesuatu yang jauh lebih kuat.