Satu komentar mengubah hidup Dr. Briella Zamora dalam semalam.
Berniat menghancurkan reputasi mantan kekasihnya, Lexington Valerio—Briella justru terjebak dalam skandal yang mengancam Dirinya Sendiri.
"Kau tahu apa yang paling lucu, Lex? Aku menghabiskan waktu untuk memperbaiki wajah orang lain agar terlihat sempurna, hanya agar aku bisa melupakan betapa hancurnya aku karena pria sepertimu."
"Rupanya waktu belum juga merubah kecerobohanmu, Briella Zamora."—Lexington Valerio.
Happy reading 🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#11
Sore itu, cahaya matahari yang kemerahan menyelinap masuk melalui jendela besar ruang VIP Rumah Sakit Kota, memberikan nuansa dramatis pada sebuah pemandangan yang jauh dari kata normal.
Suara tit-tit-tit dari monitor jantung yang tadi sengaja dinyalakan untuk efek suara kini hanya menjadi musik latar bagi drama baru yang lebih absurd.
Di atas ranjang pasien yang seharusnya ditempati oleh orang sakit, Dr. Briella Zamora berbaring dengan sangat santai.
Bantal-bantal ditumpuk tinggi di belakang punggungnya agar ia bisa bermain game di ponsel dengan posisi paling nyaman. Mulutnya tidak berhenti mengunyah keripik kentang impor yang aromanya memenuhi ruangan.
"Ambilkan aku cemilan yang itu," perintah Briella tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun dari layar ponselnya.
Jarinya bergerak lincah menghancurkan monster di game, sementara kakinya bergoyang-goyang di balik selimut putih rumah sakit.
Belle duduk di sofa sudut ruangan, menyilangkan kaki sambil menopang dagu. Ia merasa seolah sedang menonton pertunjukan teater komedi kelas atas yang tiketnya sangat mahal.
Di sampingnya, Hadiyan berdiri dengan raut wajah yang sulit dijelaskan—antara pusing, lelah, dan keinginan kuat untuk mengundurkan diri sebagai asisten pribadi keluarga Valerio.
"Ini," suara berat Lexington terdengar pelan, hampir seperti bisikan pasrah.
Pemandangan itu sungguh ironis. Lexington Valerio—sang jenius otomotif yang tadi mengaku kritis—kini duduk di kursi di samping ranjang.
Tangan kirinya masih tertancap jarum infus yang terhubung ke botol cairan vitamin yang hampir habis. Dengan gerakan tangan yang terbatas karena selang tersebut, Lexington harus melayani "pasien" gadungan yang sebenarnya jauh lebih sehat darinya.
"Suapi aku, Lex. Tanganku sibuk membunuh Raja terakhir," gumam Briella dengan nada memerintah yang sangat alami.
Lexington menghela napas panjang, menatap sebungkus keripik di tangannya dengan tatapan nanar. "Ini benar-benar tidak baik, Briella. Makan sambil tiduran dan bermain ponsel bisa membuatmu tersedak. Ayo duduk dengan benar. Presisi tubuhmu saat menelan akan terganggu."
Briella melirik tajam dari balik ponselnya. "Kau lupa? Aku sedang hamil! Kau sendiri yang bilang pada Flavia kalau aku mengandung anakmu. Jadi, sebagai calon ayah yang bertanggung jawab atas kebohongan publik ini, kau harus melayani ibu hamil."
Lexington memijat pangkal hidungnya. "Itu adalah pilihan terbaik untuk memutuskan hubungan dengan Flavia dengan cepat, Bri. Dia tidak punya kekurangan yang bisa kujadikan alasan, kau tahu itu sendiri. Dia sempurna dalam hal etika sosial, jadi aku harus menciptakan alasan yang... tak terbantahkan."
"Menyingkir dariku, Brengsek," sahut Briella ketus. "Jadi kau ingin bilang aku adalah 'kekurangan' yang pantas dijadikan alasan?"
"Bukan begitu!" Lexington meralat dengan cepat, takut Briella benar-benar melempar ponselnya. "Maksudku... dia penuh kekurangan jika dibandingkan denganmu. Makanya aku memutuskan dia. Kau tahu itu, kan?"
Briella mendengus, kembali fokus pada game-nya. "Suapi aku lagi. Cepat."
Lexington terpaksa mengambil selembar keripik lagi. Gerakannya yang kaku karena selang infus membuatnya terlihat seperti robot yang sedang mengalami glitch.
"Hadiyan, panggilkan suster. Cairan ini sudah hampir habis. Aku benar-benar tersiksa dengan gerakan tangan yang terbatas ini. Selang ini menghambat produktivitasku."
Tawa Belle meledak seketika. "Pffftttt... Hahahaha!" Ia tertawa sampai memegangi perutnya, membuat Hadiyan ikut tersenyum getir.
"Aku tidak tahu, seorang Valerio yang sangat diagungkan karena kecerdasannya bisa menjadi segila ini demi mengejar wanita yang tadinya ia tuntut 600 juta."
Lexington melirik Belle dengan tatapan dingin yang tidak lagi mempan. "Ini semua terjadi karena aku tertular kegilaan calon istriku. Bakteri kecerobohannya sepertinya sudah bermutasi menjadi virus gila yang menyerang logikaku."
"Jangan menyalahkanku, Lex!" seru Briella, akhirnya meletakkan ponselnya karena ia kalah dalam permainan. "Itu adalah dirimu yang sebenarnya. Kau itu memang aneh sejak lahir, hanya saja kau bungkus dengan setelan jas mahal dan istilah-istilah teknik yang membosankan."
Briella kemudian duduk tegak, menatap selang infus di tangan Lexington dengan tatapan seorang dokter profesional. Ia meraih tangan Lexington, memeriksa aliran cairannya. "Cairannya memang hampir habis. Dan lihat, tanganmu sedikit bengkak karena kau terlalu banyak bergerak saat menyuapiku tadi. Dasar ceroboh."
"Kau memanggilku ceroboh?" Lexington menaikkan sebelah alisnya.
"Ya. Siapa yang pura-pura pingsan tapi lupa menyembunyikan selera makan steak-nya?" Briella mencubit lengan Lexington dengan gemas. "Dengar, Lex. Kalau dalam dua minggu ini kau melakukan drama bodoh lagi, aku akan benar-benar hamil... tapi bukan anakmu. Aku akan hamil anak kucing saja!"
"Bri, jangan mulai dengan imajinasi anehmu," Lexington menarik tangan Briella, menggenggamnya erat meski ada jarum infus di antara mereka.
"Dua minggu. Setelah itu, tidak ada lagi drama rumah sakit. Kita akan menikah, dan kau akan menjadi satu-satunya orang yang berhak mengacaukan hidupku setiap hari."
Hadiyan berdehem pelan, mencoba memecah suasana yang tiba-tiba menjadi manis. "Maaf mengganggu momen 'pasien dan perawat' ini, tapi Nyonya Kimberly baru saja mengirim pesan. Beliau bertanya apakah kalian ingin menu makan malam di Mansion diganti menjadi menu 'ngidam' atau tetap menu biasa?"
Briella dan Lexington menjawab serempak: "NGIDAM!"
Belle dan Hadiyan hanya bisa saling pandang. "Mereka benar-benar pasangan paling stres di Amerika," gumam Belle sambil mulai merapikan tasnya, bersiap meninggalkan ruangan yang penuh dengan kebohongan manis tersebut.
mana aku bacanya pake nada...
ditambah berada ikut kedalam alurnya