Benedict Franklin, pemilik Equinox Ventures dan pemimpin organisasi Veto, adalah pria yang hanya percaya pada angka dan kekuasaan. Baginya, emosi adalah kelemahan, dan tatapan matanya mampu meruntuhkan siapapun dalam hitungan detik. Namun, hidupnya yang penuh kendali berubah saat ia bertemu dengan Zara Clarance Harrison. Bagi Zara, hidupnya sudah cukup indah hanya dengan aroma tepung dan manisnya gula di toko kue kecil miliknya. Namun, dunianya yang tenang, hancur dalam semalam ketika ayahnya, David Harrison, menggunakan dirinya sebagai jaminan hutang kepada Benedict Franklin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Callalily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 5
Zara melangkah masuk ke dalam kabin yang lebih mirip hotel bintang lima daripada sebuah pesawat. Interiornya dihiasi kayu gelap dan kulit. Ia tidak melihat penumpang lain selain dirinya dan Benedict.
Begitu ia duduk, seorang pramugari datang mendekat. Pramugari itu mengabaikan keberadaan Zara, matanya hanya tertuju pada Benedict.
Sambil sedikit membungkuk hingga garis leher seragamnya lebih rendah, si pramugari menawarkan minuman kepada Benedict.
“Senang melihat anda kembali, Tuan. Menu favorit anda sudah saya siapkan, atau anda ingin sesuatu yang lain?…..yang lebih spesial?” Ucap wanita itu dengan nada menggoda yang sangat kentara.
Jemarinya bahkan sengaja berlama-lama saat meletakkan gelas kristal di samping tangan Benedict. Namun pria itu sama sekali tidak mendongak.
“Air putih saja. Dan jangan menggangguku, atau kau siap terjun dari atas sini.”
Pramugari itu mengulas senyum kecewa, ia mengangguk kecil lalu mundur perlahan.
“Poor girl,” ucap Zara dalam benaknya.
Zara menyaksikan seluruh adegan itu dari kursinya. Ia mewajari ketertarikan wanita itu pada Benedict karena pria itu punya segalanya, kecuali hati.
Beberapa jam kemudian, roda pesawat menyentuh landasan pacu di Roma. Benedict berdiri, merapikan jas nya yang sama sekaki tidak kusut, lalu menoleh pada Zara.
“Kita sudah sampai,” ucap Benedict.
Begitu pintu kabin terbuka, udara italia yang hangat langsung merangsek masuk. Mereka turun, lalu masuk ke dalam mobil yang sudah menunggu.
“Sekarang katakan padaku, untuk apa aku disini?” tanya Zara.
“Malam ini ada perjamuan, dan kau akan menemaniku.” jawab Benedict.
“Hanya karena perjamuan?” tanya Zara lagi.
“Ya,”
Zara mengangguk. Sungguh ia tidak tahu apa yang ada di kepala pria itu. Ia kira akan ada hak yang lebih penting dari sekedar perjamuan.
Mobil terus melaju, hingga mamasuki daerah perbukitan. Hingga sebuah gerbang terbuka otomatis mempersilahkan mereka masuk.
Mereka berhenti di depan sebuah Villa bergaya klasik, langit-langitnya dipenuhi lukisan fresco kuno dan lantai marmernya memantulkan cahaya dari lampu gantung kristal yang berkilau.
Seorang pria paruh baya membungkuk menyambut mereka.
“Selamat datang kembali, Mr. Franklin. Kamar untuk anda dan Mrs. Franklin sudah disiapkan.”
Benedict mengangguk singkat, lalu melangkah manaiki tangga.
“Masuklah,” perintah Benedict saat mereka sampai di depan sebuah kamar.
Begitu pintu terbuka, pandangan Zara langsung tertuju pada gaun malam berwarna emerald.
“Mandilah. Seseorang akan datang untuk membantumu bersiap,” ucap Benedict, ia berdiri di ambang pintu.
“Aku akan menjemputmu satu jam lagi,”
Setelah itu pintu tertutu rapat. Zara bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Dan benar, seorang Make Up Artist datang untuk merias wajah dan menata rambutnya.
Satu jam kemudian pintu terbuka, dan Benedict berdiri disana. Matanya menyapu penampilan Zara dari ujung rambut hingga ujung kaki. Gaun emerald itu melekat sempurna di tubuh gadis itu.
“Sempurna,” gumam Benedict.
Pria itu mendekat, tangannya merogoh saku jas dan mengeluarkan sebuah kalung berlian. Zara mematung saat Benedict bergerak ke belakangnya. Napasnya tertahan saat Benedict mengaitkan kalung itu di lehernya.
“Perjamuan ini sangat penting bagiku. Keberhasilan urusanku bergantung pada apa yang terjadi malam ini.” ucap Benedict.
Zara meremas jarinya. “Lalu apa hubungannya denganku?.”
“Don Jericho meminta sesuatu untuk dipertaruhkan,” jawab Benedict dingin.
Benedict memperkecil jarak, menatap mata Zara lekat-lekat.
“Kau…..taruhannya.”
Tanpa menunggu respon Zara, benedict langsung menggandeng tangan gadis itu. Membawa Zara masuk ke tengah perjamuan.
Puluhan pasang mata langsung tertuju pada mereka. Benedict tetap melangkah dengan tenang.
Don Jericho, sang pemilik Villa, duduk di ujung meja panjang yang di penuhi hidangan. Pria tua itu tertawa kecil, suaranya parau.
“Benedict Franklin,” suara Jericho menggema.
Jericho berdiri dengan bantuan tongkat kayu berujung perak. Benendict membimbing Zara mendekat.
“Don Jericho. Terima kasih atas undangannya.” balas Benedict.
Jericho tidak langsung menjawab Benendict. Matanya yang tajam dan sedikit keruh menatap Zara intens. Ia merasa tidak asing dengan wajah gadis di depannya.
“Siapa nama bunga yang kau bawa ini, Benendict?” Tanya Jericho, ia meraih tangan Zara.
“Zara,” jawab Benedict.
Jericho mengecup punggung tangan Zara, tatapannya masih terkunci pada wajahnya.
“Bel nome,” gumamnya dalam bahasa Italia.
Benedict tersenyum samar. “Rupanya kau tidak mengenalinya” ucap Benedict dalam benaknya.
Mereka dipersilahkan duduk, tepat di sebelah kanan sang Don. Selama makan malam berlangsung, percakapan mengalir.
Seorang tamu di seberang meja, pria dengan bekas luka kecil di pelipisnya, menyesap wine nya sambil menatap Zara dengan senyum meremehkan.
“Jadi, Nona Zara, apa yang membuatmu begitu istimewa bagi Mr. Franklin?” tanya pria itu.
Zara baru saja akan membuka mulut, namun Benedict lebih dulu meletakkan gelasnya ke meja. Bunyi denting itu membuat suasana menjadi sunyi.
Benedict tidak menoleh pada si penanya, melainkan menatap langsung ke arah Don Jericho.
“Di ruangan ini penuh dengan orang yang bisa di beli,” Benedict menjeda kalimatnya.
“Sedangkan, dia adalah satu-satunya yang tidak punya harga” lanjutnya.
Don Jericho tertegun sejenak, lalu menyandarkan punggungnya sambil mengangguk-angguk pelan. Senyum tipis muncul di wajah sang Don.
Perjamuan berakhir saat larut malam. Mereka kembali ke kamar. Zara berdiri mematung di sisi tempat tidur, matanya terus melirik ke arah pintu kamar yang sudah terkunci rapat, lalu beralih pada Benedict yang sedang meletakkan ponsel diatas nakas. Pria itu mulai melonggarkan dasinya.
“Kau…… kau tidak keluar?” tanya Zara akhirnya.
Benedict berhenti sejenak, melirik Zara melalui pantulan cermin. “Keluar ke mana?”
“Maksudku ke kamarmu? Atau ke hotel?” Zara meremas jemarinya sendiri.
“Tidak,” sahut Benedict pendek.
“Tapi hanya ada satu tempat tidur,” protes Zara, suaranya naik satu nada karena panik.
Bendict memutar tubuhnya perlahan, menatap Zara yang tampak gelisah. Sudut bibirnya terangkat sedikit, menyeringai tipis.
“Kenapa? Kau takut tidak bisa menahan diri jika tidur di sampingku?” tanya Benedict.
Wajah Zara memanas seketika. “Bukan itu maksudku! Aku hanya……”
“Atau kau takut aku akan melakukan sesuatu?” Benendict melangkah mendekat, mengikis jarak hingga Zara terdesak ke pinggiran ranjang.
Benedict menunduk sedikit, membisikkan kata-katanya tepat di telinga Zara. “Tenanglah, Zara. Aku terlalu lelah untuk melakukan apa pun selain tidur.”
Pria itu menarik diri. “Naik ke tempat tidur. Sekarang. Dan jangan coba tidur di lantai jika kau tidak ingin aku menyeretmu kembali ke atas kasur.”
Zara terpaksa menurut dengan jantung yang berdetak kencang. Ia meringkuk di sisi paling ujung, memunggungi Benedict yang tak lama kemudian ikut merebahkan diri di sisi lain.
Tengah malam, Zara terbangun. Secara naluriah, ia menggerakkan tangannya ke sisi ranjang. Kosong. Benendict tidak ada disampingnya.
Zara terdiam sesaat, ia pikir mungkin Benedict sedang ada urusan. Rasa kantuk kembali menyerangnya. Tanpa ambil pusing, Zara menarik selimutnya lalu kembali terlelap.
Mata hari pagi mengganggu mata Zara, ia terbangun. Ia mendapati Benedict berdiri di depan cermin. Pria itu sudah mengenakan setelah jas hitam.
“Bangun,” perintah Benedict. “Ganti pakaianmu. Pakai baju hitam.”
Zara duduk sambil mengucek matanya, rambutnya masih sedikit berantakan.
“Hitam? Kita mau kemana sepagi ini?” tanya Zara.
“Pemakaman,” jawab Benendict.
“Pemakaman?” Zara mengerutkan kening, rasa mantunya hilang seketika. “Siapa yang meninggal?.”
“Don Jericho.”