NovelToon NovelToon
GUS DINGIN DAN GADIS BAR BAR

GUS DINGIN DAN GADIS BAR BAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: RISMA AYINI SAFITRI

seorang gadis bernama hazia ayini que'en namyesa yang merupakan seorang gadis bar bar, nakal, jahil, dan juga bermulut pedas yang susah di atur oleh orang tua nya sehingga iya dan juga kakak sepupu laki laki nya yang bernama kevin di kirim ke sebuah pondok pesantren yang merupakan milik sahabat keluarga hazian.

apakah ayini si gadis bar bar bisa berbuat baik dan memperbaiki akhlak serta adab nya di pondok pesantren itu?
atau apakah ayini akan berbuat jahil dan mengacaukan pondok itu?
apa yang akan ayini lakukan ketika iya bertemu dengan anak kyai yang bernama Alvaro!
atau kerap di panggil gus alvaro? seorang Gus yang memiliki sifat dingin dengan wajah datar yang ternyata akan menjadi CALON SUAMI nya karena masalah yang iya lakukan sendiri...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RISMA AYINI SAFITRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13. CLAIM YANG MENGGUNCANG.

Siang itu, matahari di atas Kabupaten Barito Utara seolah berhenti berputar.

 Halaman utama Pondok Pesantren Al-Hidayah yang biasanya tertib, mendadak berubah menjadi panggung drama yang akan diingat selama puluhan tahun oleh para santri.

Kejadian di taman belakang saat lomba MTQ ternyata berbuntut panjang. Raffi, mantan kekasih Ayini, rupanya tidak terima diputuskan begitu saja.

 Dengan sisa-sisa keberaniannya yang salah tempat, ia mencegat Ayini di jalan utama menuju aula, tepat di depan kerumunan santri, ustadz, ustadzah, bahkan beberapa "Ning" (putri kyai) yang sedang berjalan santai.

"Ayini! Kamu nggak bisa gitu aja mutusin aku demi cowok kaku itu!" teriak Raffi, suaranya menggelegar mengalahkan suara kicau burung di pohon pule.

Ayini yang sedang berjalan bersama Layila dan Adinda langsung naik pitam. Sifat bar-bar dan mulut pedasnya yang sempat ia tekan selama beberapa hari, kini meledak keluar seperti lava.

"Raffi! Lu budek apa gimana? Gue bilang putus ya putus! Lagian lu liat dong bedanya," Ayini menoleh ke arah Gus Alvaro yang kebetulan lewat bersama Abi Vero dan Umi Ayisah di kejauhan, sedang mengantar tamu tamu penting.

Tanpa pikir panjang dan didorong rasa kesal yang luar biasa, Ayini sengaja berteriak lantang agar didengar semua orang.

"Woi semua! Dengerin ya! Gue sama Raffi udah tamat! Dan buat lu Raffi, jangan berani-berani ganggu gue lagi, karena gue udah punya calon yang seribu kali lebih baik. Kenalin..."

Ayini menunjuk tepat ke arah Gus Alvaro yang sedang berjalan tenang.

"...itu Gus Alvaro, calon suami masa depan gue! Dia calon imam gue, dan dia anak pemilik pondok ini! Jadi lu mending pergi sebelum gue panggil keamanan!"

Seketika, suasana menjadi sepi senyap.

Sangat senyap sampai-sampai suara jatuhnya daun pun mungkin terdengar.

Abi Vero dan Umi Ayisah menghentikan langkahnya dengan wajah syok.

Para ustadz dan ustadzah yang lewat menutup mulut dengan tangan, bergumam "Astagfirullah alazim" berkali-kali.

Para Ning yang biasanya anggun pun membelalakkan mata tidak percaya.

Dan Gus Alvaro? Pemuda itu berdiri mematung.

Wajah datarnya yang biasanya seperti "jalan tol" kini berubah menjadi pemandangan yang langka.

Telinganya merah padam, matanya yang biasanya menatap lantai sempat terangkat sesaat karena terkejut yang luar biasa.

 Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia merasa bisa pingsan saat itu juga.

Raffi, melihat reaksi orang-orang di sekitar dan tatapan dingin yang tak sengaja terpancar dari wibawa Alvaro, akhirnya merasa nyalinya ciut.

 Malu yang luar biasa menyelimutinya. Dengan wajah merah menahan amarah dan hinaan, ia berbalik dan lari meninggalkan area pondok tanpa menoleh lagi.

Namun, drama tidak berakhir di sana.

Abi Vero berdehem keras, memecah keheningan yang mencekam itu.

"Ayini... Alvaro... ikut Abi ke Ndalem sekarang. Dan tolong, panggilkan keluarga Hazian Alqin dan Hazian Alpin," perintah Abi Vero dengan nada yang sangat serius namun tenang.

Ayini yang tadi begitu menggebu-gebu, mendadak lemas. Ia baru sadar apa yang baru saja ia teriakkan di depan seluruh jajaran penting pesantren.

 "Mampus gue... mulut gue emang minta dicabein," batinnya sambil menunduk dalam-dalam.

Di dalam ruang tamu Ndalem, suasana jauh lebih tegang daripada ujian kitab kuning paling sulit sekalipun.

Hazian Alqin dan Namyesa sudah duduk dengan wajah pucat, begitu juga Hazian Alpin dan Delia yang baru saja tiba.

 Kevin berdiri di pojok ruangan, tidak berani bersuara melihat situasi darurat ini.

Abi Vero duduk di kursi utamanya, sementara Umi Ayisah di sampingnya mencoba menenangkan suasana dengan menuangkan teh.

Gus Alvaro duduk di kursi seberang Ayini. Pemuda itu terus menunduk, bibirnya tak henti-henti bergetar mengucapkan istighfar secara sirri (dalam hati).

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!