NovelToon NovelToon
Perisai Sang Mafia

Perisai Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:14.7k
Nilai: 5
Nama Author: Lisa

Reigan Douglas hanya bisa patuh saat Kakek memaksanya menikahi Hana—gadis "kampung" bermata bulat. Pernikahan itu terasa datar dan mati. Bagi Reigan, kehadiran wanita itu hanya akan membatasi geraknya sebagai penguasa Odelgard.

Namun, segalanya berubah ketika sebuah peluru melesat dan nyaris menembus pelipisnya. Reigan pun menyadari satu fakta yang menghantam egonya: peluru penyelamat itu berasal dari senjata milik Vesper—sniper legendaris yang ternyata adalah Hana, istrinya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 28 Arahan Hana

Reigan melangkah lebar memimpin jalan. Sementara Hana mengikuti di belakangnya.

Sebuah van komando hitam antipeluru sudah terparkir dengan mesin yang menderu rendah di luar gedung, siap untuk membawa mereka ke pelabuhan.

Nico bergerak cepat membukakan pintu geser van untuk Hana. Perilaku yang sering membuat Reigan geram.

"Lain kali biar aku yang membuka pintu untuk Hana," ujar Reigan.

Nico dan Hana menoleh cepat. Wajah mereka terheran-heran.

Menyadari kedua orang itu menatapnya dengan pandangan aneh, Regan langsung menimpali. "Situasi gawat tidak membutuhkan perilaku seperti itu."

"Maafkan Saya, Tuan." Nico mengaku salah.

Hana melirik Reigan tidak mengerti.

Reigan tidak langsung naik. Dia menyambar rompi tebal ditangan Nico, lalu melemparkannya kasar ke samping kursi Hana.

"Pakai," perintah Reigan pendek.

Hana mengambil rompi berat itu tanpa mengedipkan mata. "Ini terlalu besar."

"Aku tidak menyuruhmu mengomentari ukurannya, Hana. Pakai, atau aku sendiri yang akan memasangkannya padamu dengan paksa," desis Reigan. Suaranya terdengar geram—bukan lagi karena curiga, tapi karena dia mendadak kesal melihat betapa santainya Hana mengabaikan keselamatan nyawanya sendiri.

"Karena aku sengaja dibawa ke dalam pertempuran ini, aku harus membuat diriku nyaman," kata Hana. Perempuan ini mulai membantah. Bahkan terdengar santai.

Reigan menoleh. "Kau menikmati pertempuran ini?"

"Harus. Bukankah ini keinginanmu?"

Memang ini keinginan Reigan. tapi melihat wanita ini terlihat menyesuaikan diri, Reigan tidak suka. Dia tidak nyaman.

Reigan tidak menyahut. Rahangnya mengeras rapat hingga guratan otot di lehernya tercetak jelas. Dia membenci fakta bahwa wanita di hadapannya ini tidak bisa digertak.

Alih-alih gemetar ketakutan seperti wanita normal pada umumnya, Hana justru memakai rompi dengan berat yang kuat itu dengan gerakan yang terlampau tenang.

Sialan. Reigan menggeram.

Jawaban datar Hana barusan terasa seperti tamparan tidak kasatmata yang meruntuhkan dominasinya.

Tanpa berkata-kata lagi, Reigan merangsek masuk. Tangan kekarnya terjulur kasar, menyambar tali pengikat di samping pinggang Hana yang longgar.

Hana sempat menahan napas saat tubuh tegap Reigan mendadak mengikis jarak, membuat dadanya yang terbalut rompi tebal hampir menempel pada kemeja hitam pria itu. Aroma maskulin bercampur tembakau mahal langsung menyeruak masuk ke indra penciuman Hana.

Sret! Cklek!

Dengan satu sentakan kuat, Reigan menarik tali pengaman rompi itu hingga mencengkeram pas di tubuh kurus Hana. Sentakan yang cukup keras hingga membuat tubuh Hana sedikit terdorong ke depan.

"Terima kasih," ucap Hana.

"Jika kau ingin mati di pelabuhan nanti, lakukan di luar jangkauan pandanganku. Tapi selama kau berada di dalam radarku ... Kau harus patuh," ujar Reigan.

"Sayangnya aku tidak mudah mati, Reigan. Jadi jangan repot-repot mengawasiku."

"Kamu pandai bicara tajam, Hana." Reigan duduk dan bersandar pada badan mobil dengan kasar. Dia kesal.

Nico yang ada di kursi depan menahan napas sebentar. Dia paham Tuan Reigan memang keras dan kaku. Menurutnya jika ada seseorang yang menjadi pasangan pria itu, dia harus cukuplah kuat. Dia paham itu. Namun ketika melihat sendiri Tuan Reigan memperlakukan wanita dengan status istri itu, barusan ... Dia terkejut. Itu sangat tidak biasa.

Suasana dalam mobil sungguh membuat tegang.

Hana melirik ke kaca spion atas, menemukan Nico tengah mengawasinya. Matanya tajam, tapi kemudian tersenyum.

Nico langsung melihat ke depan lagi. Aku tertangkap!

Namun Hana tidak mengatakan apa-apa setelah itu. Hanya Reigan yang melihat ke depan, ke arah Nico. Ingin tahu apa ada yang terlewat barusan.

Untung saja Tuan Reigan tidak melihat Nyonya tersenyum padaku. Itu menakutkan, batin Nico lega. Menurutku, wanita itu juga menakutkan. Menghadapi Tuan Reigan yang seperti itu dia masih tampak tenang. Pasti dia sosok yang lebih kuat daripada cangkangnya yang terlihat rapuh. Siapa sebenarnya dia? Andai aku bisa temukan data sekecil apapun tentangnya.

...----------------...

Van melaju menuju pelabuhan lama.

Nico mencengkeram setir. Sepasang matanya sesekali melirik layar navigasi taktis di samping kemudi yang menampilkan titik merah pasukan Marco yang sudah mengepung pelabuhan.

Reigan melirik melihat Hana yang tenang disampingnya. Dia tampak terbiasa. Apakah dia adalah petarung?

"Kau terlihat tenang," pancing Reigan.

"Tidak terlalu."

"Nico," suara berat Reigan memecah kesunyian, rendah dan dingin. "Bagaimana pergerakan di pelabuhan? Apakah Leon terdeteksi mengerahkan pasukan tambahan?"

Nico yang sejak tadi fokus pada tablet taktisnya langsung menegakkan punggung.

"Belum ada pergerakan, Tuan. Jalur pelarian laut sudah diblokir oleh kapal patroli kita yang menyamar sebagai nelayan. Jika Leon mencoba kabur lewat air, dia akan langsung masuk ke perangkap kita." Nico memberi laporan.

"Berarti Marco sudah siap menyerang gudang mereka." Reigan yakin.

Akhirnya mobil tiba di pelabuhan lama dengan banyak kontainer usang. Tempat yang tepat untuk menyembunyikan senjata.

Pintu geser van di samping Hana dibuka paksa dari luar oleh Marco yang datang menyergap sambil merunduk. "Bos, situasi di depan susah agak tenang."

Di depan mereka, labirin kontainer besi berkarat yang panas menyengat langsung menyambut. Aroma pekat garam laut bercampur karat dan bensin menyeruak.

"Kau sudah membereskan mereka?" tanya Reigan merasa aneh.

"Aku yakin sudah, Bos. Tapi aku merasa ini terlalu mudah. Aku rasa mereka ..."

Belum sempat Marco menyelesaikan laporannya, Hana bergerak lebih cepat.

Dor!

"Mereka masih berkeliaran," kata Hana berhasil melumpuhkan satu orang dibalik kontainer.

"Brengsek! Sembunyi dimana mereka tadi?" umpat Marco sambil berlindung pada mobil Van.

Melihat Hana sudah berhasil melumpuhkan satu orang, Reigan mendadak teringat sesuatu. Dia menoleh ke rak van. Kosong.

"Sialan, dia mencuri Glock-19 milikku?" Reigan mengumpat, takjub sekaligus kesal. Ternyata Hana bukan wanita yang suka menunggu perintah.

"Sepertinya gudang senjata memang ada disana. Kalau tidak, mereka tidak akan menempatkan banyak orang." Marco bicara.

"Kita harus maju!" ujar Reigan.

"Baik, Bos!"

Hana melompat ke arah kontainer pendek di depannya.

"Apa yang dia lakukan?" tanya Marco terkejut.

Reigan juga ikut heran dengan gerakan Hana barusan. Matanya menyipit.

Tubuh Hana merayap berpindah ke kontainer lainnya. Derap langkahnya halus hampir tidak terdengar. Ia mencoba melihat ke sekeliling. Memindai situasi.

Mata elangnya mengawasi dari tempat paling tepat. Reigan paham. Kepalanya mendongak mengawasi wanita itu dengan seksama.

"Majulah. Aku bisa lihat hanya beberapa orang disana. Mungkin 6 orang. Jalan lewat kontainer sisi kiri. Aku akan melindungi kalian dari sini."

Semua mendongak dan membeku sejenak. Instruksi itu begitu tenang, begitu yakin.

Reigan menarik napas tajam, lalu dia bergerak mengikuti rute kiri tanpa mendebat sedikit pun. Dia maju lebih dulu.

Nico sendiri di bagian belakang tidak yakin. Apa benar yang dikatakan nyonya Reigan itu. Namun dalam hatinya yang terus mengagumi sisi kuat Hana, mengikuti arahan Hana adalah absolut.

Dia hebat. Aku yakin dia bukan hanya pandai memegang senjata, batin Nico sambil melangkah maju meninggalkan Marco.

Marco sempat ragu, namun saat melihat Reigan mengangguk tegas dan mulai bergerak sesuai instruksi Hana, dia tidak punya pilihan selain patuh. Siapa pun wanita di atas sana, dia baru saja memberikan rute yang paling logis.

1
Normawati
😘
Inah Ilham
terhura....eh terharu nya aku 😭😭😭
E F
tq thor🙏😍
lanjutttt💪😄
Inah Ilham
kita yg baca berasa ikut diterperangkap dikegelapan
E F
lanjutt thor💪😍😄
Inah Ilham
sepertinya kok ada bau" gosong ya 🤣🤣🤣
Latifa Latifa
selalu suka karya othor...bahasa simple..alur jelas ..sukaa pokoknya
Inah Ilham
sabar Mas Bro
Inah Ilham
aku tau apa yang ada dikepalamu Reigan 🤣🤣🤣
Inah Ilham
mereka pikir Hana adalah mangsa padahal dialah predatornya
Inah Ilham
kaget ngga tuh si Abang Reigan
Dik Yude
karya2mu sll luar viasa thor..😍
Latifah Latifah
lanjut up thor💪💪😍
Riri
cemburu bang...😄
Idah Faridah
dtunggu thor up nya
Idah Faridah
ternyata hana bukan perempuan biasa👍
Lady Ve: Terima kasih Sudah mampir untuk baca🙏
total 1 replies
Riri
reigan ketagihan dialog sama Hana...
Riri
aura gadis desa itu...
Riri
POV Marco: dikira jaman purba
Riri
😂😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!