Setelah diputuskan tiga tahun yang lalu oleh mantan kekasihnya dan menutup diri dari pria manapun, Anata Yulia gadis 24 tahun itu, tiba-tiba saja dijodohkan dengan seorang pria yang tidak dikenal oleh kedua orang tuanya.
"Kamu harus mau Nat, sebentar lagi kamu 25 tahun, usia yang rawan dan sudah pantas untuk menikah. Maka, kamu harus mau, ya, kami jodohkan dengan pria tampan dan mapan." Sang Ibu membujuk dengan memohon.
Namun, siapa sangka pria yang akan dijodohkan dengannya ternyata adalah....
"Nata nggak mau, Bu?"
"Kenapa?"
"Karena...."
Yuk, pengen tahu kelanjutan kisahnya? Tentu bakal bikin penasaran. Ikuti kisahnya di "Dijodohkan Dengan Mantan Kekasih"
Ikuti Auhto di
FB " Tupar Nasir
WA 089520229628
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 Nostalgia
Sore itu, Anata dikejutkan oleh sebuah mobil berwarna ungu tua, menghadang langkahnya menuju parkiran PT. Lokomoro.
Mata Anata tajam melihat ke arah si pengemudi. Untuk beberapa saat Anata terpaku, seketika amarahnya tiba-tiba tersulut, karena merasa perjalanan pulangnya sudah terhambat.
Pemilik mobil ungu tua itu adalah Kafeela. Seorang aparat berbaju loreng TNI-AD dengan pangkat letnan satu di pundak. Dia menuruni mobil perlahan, lalu menghampiri Anata yang masih berdiri terpaku dengan wajah yang kesal.
"Adik, mau pulang, kan? Kakak yang antar," seru pria tampan itu dengan senyum manis di wajahnya.
Anata tidak menggubris, ia melengos dan menghindari Kafeela yang sudah percaya diri dengan sambutannya.
Tangan Kafeela yang tadi terayun menyambut Anata, perlahan turun dan kembali ke posisi semula. Tapi, Kafeela tidak menyerah. Ia segera bergegas menyusul Anata dan mensejajari langkah gadis yang semakin cantik dan menarik itu.
Sambil melangkah, Kafeela menatap punggung Anata Tubuhnya semampai dan berisi, membuat jantungnya bergoyang tidak karuan. Lalu rambutnya yang bervolume dan sedikit gelombang, berayun seolah memanggilnya untuk segera naik pelaminan.
Naik pelaminan memang satu hal yang didambanya sejak dua tahun lalu setelah masa ia selesai sekolah Secapa. Terlebih saat itu, diantara teman-temannya satu leting, Kafeela merupakan perwira yang masih single.
Bahkan tidak jarang teman satu leting mengejeknya dengan panggilan jomblo akut.
"Adik, sebaiknya kamu ikut Kakak. Kakak sengaja kesini untuk menjemput kamu. Ayo, kita menuju mobil." Kafeela sudah menjulurkan tangannya untuk menuntun tangan Anata, namun Anata segera menjauh.
"Adik, adik, memangnya aku adikmu, hah? Dan ingat ya, jangan sebut diri kamu sendiri ketiks ngomong sama aku dengan sebutan Kakak, sebab terdengarnya di telinga aku janggal dan sangat tidak enak. Dan yang jelas, kamu itu bukan kakak aku. Jadi, stop menyebut diri kamu Kakak," protesnya keras.
Kafeela tidak tersinggung atau marah, ia justru tersenyum dan meminta maaf. "Ok, Sayang, Abang minta maaf, ya."
Anata mendilak tajam ketika Kafeela memanggilnya Sayang dengan rasa percaya diri. Ia tidak suka dengan apa-apa yang Kafeela lakukan saat ini, sebagai usaha mencari perhatian terhadapnya.
"Jangan ikuti aku, aku mau pulang dengan motorku," usir Anata, ia tidak suka diikuti.
"Abang tidak mengikuti kamu dengan tanpa tujuan, kamu justru harus ikut Abang pulang. Abang akan antar," keukeuhnya lagi tanpa bisa dicegah.
"Lho, motorku mana?" herannya, seraya mencari kuda besi yang selalu mengantarnya kemana saja.
"Untuk itu, kenapa kamu harus ikut Abang." Wajah Kafeela berseri penuh kemenangan. Dengan caranya, Kafeela berhasil mengamankan motor Anata ke tempat yang aman.
Terpaksa Anata ikut Kafeela. Dan kini, ia sudah duduk di samping pria yang semakin tampan, gagah, harum dan penuh kharisma. Pesonanya seakan bertambah dua kali lipat, sampai pertahanan Anata hampir saja runtuh.
"Kita mau ke mana? Ini...ini ke kafe itu, kan....?" Pertanyaan menggantung penuh rasa heran itu terlontar setelan mobil Kafeela memasuki sebuah kafe yang dulu sering mereka sambangi.
"Tentu saja. Abang ingin nostalgia." Kafeela menjawab dengan santai.
Anata tidak berkutik, ia terpaksa mengikuti apa yang diucapkan Kafeela.
"Menu makan sore kita sudah tersaji, kamu masih ingat, kan Sayang, menu favorit kita?"
Tidak perlu menunggu jawaban, Kafeela sigap menuangkan makanan itu ke dalam piring Anata.
Tidak ada percakapan dalam makan sore itu. Yang ada, Kafeela saat ini sedang melakukan perannya, menjadi calon suami yang baik untuk Anata.
Pendek dulu ya biar kalian tidak bosan.
Ibu..... anaknya nanti tolong di kasih tau ya... Feeling ibu tepat banget, kalau Si Jin itu suka sama Kafee. Jadi nasehati Bu jangan jadi pelakor ya anaknya.... Jangan bikin malu. Ini udah bikin kasus kayak gini. Padahal itu video bapaknya sendiri lo.... diedit lagi pelukan sama istri anak buahnya ckckck....
Memang harus tegas Kafee. Kasih tau papa si jin Jeny. Biar di ganti aja. Jangan karena masalah kayak gini malah menghancurkan rumah tangga mu