Raisa Maureen ditinggal mati suaminya di dalam kondisi masih prawan, lalu ia melakukan hubungan satu malam dengan kakak iparnya karena pria itu mabuk berat dan kehilangan keperawanannya. setelah menikah dengan Evan ia baru mengetahui kenapa selama ini Aditya almarhum suaminya tidak pernah menyentuhnya. Apa yang sebenarnya terjadi? ikuti kelanjutan kisah nya hanya disini!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prettyies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam pertama
Raisa menggenggam ponselnya erat, lalu menekan nomor Evan.
"Ayo angkat…" gumamnya gelisah.
Beberapa detik kemudian.
"Hallo, Sa," suara Evan terdengar santai di seberang. "Kenapa? Baru juga pisah, udah kangen? Atau… kamu berubah pikiran?"
Raisa langsung mendesah kesal.
"Mas, jangan narsis deh," balasnya cepat. "Aku mau tanya… password HP-nya mas Aditya."
Hening sejenak di ujung sana.
Lalu Evan tertawa kecil.
"Raisa, Raisa…" ucapnya. "Kamu ini istrinya, kenapa malah nanya aku password HP suami kamu?"
Raisa menggigit bibirnya, kesal sekaligus gugup.
"Mas, ini serius…" suaranya mulai melemah. "Aku nggak tahu password-nya."
Evan terdiam sejenak, nada suaranya berubah lebih dalam.
"Kamu… beneran nggak tahu?"
"Nggak tahu… makanya aku nanya kamu," ucap Raisa kesal, suaranya ditekan.
Evan di seberang justru menjawab santai.
"Aku juga nggak tahu."
Raisa langsung mendesah kesal.
"Gak guna nanya kamu… mending aku matiin teleponnya."
Evan terkekeh pelan.
"Lagian, Sa… setelah dua minggu dia meninggal, kenapa baru kepikiran buka HP-nya?" tanyanya. "Selama lima bulan nikah, emang nggak pernah kepikiran?"
Raisa terdiam sejenak, lalu menjawab pelan,
"Aku sama mas Aditya… saling jaga privasi masing-masing."
Evan langsung menimpali dengan nada sedikit menyindir.
"Saking jaganya privasi… kamu malah ngerasain malam pertama sama aku, setelah lima bulan menikah sama Aditya."
Raisa langsung memejamkan mata, emosinya naik.
"Mas, cukup!" tegasnya. "Jangan dibahas lagi. Kamu nggak tahu malu, ya?"
Evan justru tertawa kecil, tanpa beban.
"Aku memang nggak malu. Kita kan udah saling tahu… satu sama lain."
"Mas!" Raisa hampir berteriak.
Namun Evan melanjutkan dengan nada lebih rendah, sedikit menggoda.
"Aku malah… jadi kepikiran terus, Sa."
Raisa langsung kesal.
"Jangan bercanda bisa nggak sih?"
"Aku nggak bercanda," jawab Evan tenang. "Serius."
Raisa terdiam, menggigit bibirnya.
"Lalu… maunya mas apa?" suaranya melemah, antara kesal dan bingung.
Evan terdiam sejenak di ujung telepon, lalu suaranya berubah lebih rendah.
"Aku maunya… kamu."
Raisa langsung membeku, jantungnya berdetak lebih cepat.
"Mas… jangan ngomong sembarangan," balasnya pelan, berusaha tetap tegas.
"Aku nggak sembarangan," jawab Evan tanpa ragu. "Aku serius, Sa."
Raisa menutup matanya, mencoba menenangkan diri.
"Mas, ini salah…" ucapnya lirih. "Dari awal juga sudah salah."
Evan menghela napas.
"Kalau memang salah… kenapa kamu masih telepon aku?" tanyanya pelan.
Raisa terdiam.
"Itu karena…" ia menggantung, tak mampu melanjutkan.
Evan tersenyum tipis di balik telepon.
"Kamu juga butuh aku, kan?" lanjutnya.
Raisa langsung menggeleng, meski Evan tak bisa melihatnya.
"Nggak… aku cuma mau tanya soal HP mas Aditya."
Evan terkekeh pelan.
"Alasan aja itu, Sa."
"Mas!" Raisa kesal. "Aku serius!"
Evan akhirnya menurunkan nada suaranya.
"Iya, aku tahu…" ucapnya lebih lembut. "Tapi aku juga serius sama apa yang aku bilang tadi."
Raisa menggenggam ponselnya lebih erat.
"Jangan buat semuanya makin rumit, mas…" bisiknya pelan.
Evan terdiam sejenak di ujung telepon, lalu berkata dengan nada lebih santai.
"Aku bisa bantu kamu buka password HP Aditya."
Raisa langsung merespons cepat, ada sedikit harapan di suaranya.
"Kamu serius, kan?"
Evan tersenyum tipis.
"Serius… tapi ada syaratnya!"
Raisa mengernyit.
"Syarat apa?"
Evan sengaja menggantung sejenak, lalu berkata dengan nada menggoda,
"Satu huruf… satu ciuman."
Raisa langsung terdiam, wajahnya memanas.
"Mas Evan!" protesnya kesal.
Namun Evan belum selesai.
"Kalau mau semuanya cepat kebuka…" lanjutnya santai, "mungkin kita bisa… mengulang malam yang indah kemarin."
Raisa langsung menghela napas kesal.
"Mas ini nggak serius banget sih!" balasnya. "Aku lagi butuh bantuan, bukan digodain!"
Evan terkekeh pelan.
"Aku serius, Sa… tinggal kamu aja yang mau atau nggak."
udah tau juga belang Aditya..
udah dengerin aja,jangan jadi orang yang sok tau gimana Aditya
udah di obok obok tiap hari msak gak mau dinikahi..
ada2 aja,kemana harga diri Mu Sa
pak David tukang kibul malah dikibulin...
anak sendiri pula pelakunya 🤣🤣🤣🤣
Cuma Raisa yang disini gak tau kelakuan Aditya