Bagi Elvano Diwantara, hidup adalah tentang Return on Investment (ROI).
Mewarisi ketampanan Kairo dan otak jenius Elena, Elvano tumbuh menjadi "Hiu Muda" yang lebih kejam dari ayahnya. Di usia 27 tahun, dia sudah melipatgandakan aset Diwantara Group. Motonya sederhana: "Kalau tidak menghasilkan uang, buang."
Satu-satunya makhluk di bumi yang bisa membuat Elvano rugi bandar hanyalah Elora, adik perempuannya yang manja dan boros. Elvano rela membakar satu kota demi melindungi sang adik, tapi dia juga akan menagih utang jajan adiknya dengan bunga majemuk.
Namun, kalkulasi Elvano mendadak error ketika dia bertemu wanita itu. Seorang wanita yang berani menawar harga dirinya, mengacaukan neraca keuangannya, dan membuat detak jantungnya berfluktuasi seperti saham gorengan.
"Menikahimu adalah investasi risiko tinggi dengan probabilitas kerugian 90%," kata Elvano dingin.
Wanita itu tersenyum miring, "Kalau begitu, kenapa Tuan Muda tidak berani cut loss dan melepaskan saya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Pulang Bawa Untung
"Laporan pengeluaran bensin operasional bulan ini turun dua persen, Pak Bos. Sesuai target kita." Aluna meletakkan map tebal berwarna biru gelap itu di atas meja kaca ruang kerja CEO Diwantara Group. "Kalau begini terus, kita bisa menabung buat buka cabang baru di planet Mars nanti."
Elvano mengambil map itu tanpa melepaskan pandangannya dari wajah Aluna. Pria sangat kaku itu tidak memarahi lelucon absurd asistennya. Ujung bibirnya justru berkedut naik, membentuk lengkungan sangat tipis.
"Dua persen belum cukup untuk modal membuat roket mewah ke planet Mars. Tapi kerja kerasmu menjaga arus kas sangat patut diapresiasi tinggi," balas Elvano tenang. Suaranya terdengar jauh lebih hangat dari biasanya. Tidak ada lagi nada memerintah yang sedingin es batu.
Aluna tersenyum sangat lebar. Jantungnya kembali berdebar halus, persis saat mereka di bandara kemarin. Entah kenapa, aura bosnya terasa berbeda semenjak pulang membawa kontrak harga murah. Mereka berdua jadi sering berbalas candaan seputar uang, walau wajah Elvano tetap terlihat seperti kanebo kering.
"Bagus! Kalau begitu Bapak jangan lupa cairkan komisi penghematan Nona Elora bulan ini. Dompetku sudah teriak-teriak minta diisi uang tunai," tagih Aluna tanpa basa-basi.
Elvano menggeleng pelan sambil membuka lembaran dokumen. "Uangmu aman. Surat pencairannya sudah aku tanda tangani secara resmi pagi ini."
Pintu ruangan mendadak terbuka lebar dengan dorongan sangat kasar. Elora masuk dengan langkah menghentak. Gadis berambut pirang abu-abu itu memakai kacamata hitam besar dan menenteng tas keluaran terbaru.
"Bang! Kartu debitku mana? Masa aku disuruh puasa jajan berminggu-minggu? Teman-temanku sudah curiga aku bangkrut total!" rengek Elora sambil berjalan cepat mendekati meja kakaknya.
Elvano sama sekali tidak mendongak dari dokumennya. "Tanya asistenku. Dia yang pegang kendali mutlak keuanganmu."
Elora langsung menoleh tajam ke arah Aluna yang sibuk menyusun pulpen di meja sudut. "Heh, Aluna! Siniin kartuku! Aku mau pergi ke salon perawatan kuku sekarang juga! Kuku mahalku sudah retak gara-gara stres!"
Aluna mengambil kalkulator dari laci meja. Jarinya mengetuk-ngetuk tombol menyebalkan. "Perawatan kuku salon langganan Nona harganya dua juta rupiah. Merugikan aset. Kalau mau, aku belikan potong kuku di swalayan seharga lima belas ribu perak. Sisanya disumbangkan ke panti asuhan terdekat biar dapat pahala."
"Kamu gila?! Aku ini putri keluarga Diwantara! Masa aku potong kuku sendiri pakai gunting murahan dari pasar?!" jerit Elora histeris, kakinya menghentak lantai marmer dengan keras.
Elvano yang sedang membaca dokumen tiba-tiba mengeluarkan suara tawa pendek. Sangat pelan, hampir tidak terdengar, tapi sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman geli yang sangat jelas.
Elora seketika mematung bingung. Mulutnya terbuka lebar di balik kacamata hitamnya. Dia mengerjap-ngerjapkan mata, memastikan penglihatannya tidak salah. Kakaknya yang berdarah dingin dan anti tertawa, baru saja tertawa mendengar omelan asistennya?
Elora menurunkan kacamata hitamnya sampai ke ujung hidung mancungnya. Matanya menyipit curiga menatap wajah Elvano, lalu beralih menatap Aluna yang sedang asyik memutar-mutar pulpen tanpa dosa.
Ada aliran listrik aneh yang terasa menyengat di udara antara dua orang itu. Sebuah respek profesional tinggi, tapi bercampur dengan percikan halus yang membuat Elora mendadak mual sekaligus penasaran.
Otak licik Elora langsung bekerja cepat. Dia punya ide iseng untuk membuktikan kecurigaannya hari ini juga.
Elora berjalan perlahan mendekati meja Aluna. Wajahnya yang tadi cemberut penuh amarah berubah menjadi sangat manis dan ramah.
"Kak Aluna," panggil Elora dengan nada mendayu-dayu yang dibuat-buat.
Aluna mendongak curiga. "Kenapa panggil kakak? Mau minta uang jajan tambahan? Tetap tidak bisa cair."
"Bukan soal uang," Elora mengibaskan tangannya santai. Dia mencondongkan tubuhnya ke meja Aluna. "Kak Aluna ini jomblo, kan? Pasti kesepian malam minggu cuma rebahan di kos."
"Lalu kenapa kalau aku jomblo?" sahut Aluna waspada.
Elora melirik sekilas ke arah Elvano yang mendadak berhenti membaca dokumen. Telinga sang bos kulkas tampaknya menajam ke arah mereka berdua.
"Malam minggu ini aku jodohin Kakak sama sepupu temanku," ucap Elora lantang. "Orangnya ganteng, baik, dan akuntan pajak. Cocok kan?"
Aluna mengerutkan kening tebalnya, merasa sangat curiga. "Dijodohkan? Malas kalau harus keluar uang."
Elora tersenyum. "Siapa bilang Kakak harus keluar uang sepeserpun? Ini blind date (kencan buta). Dibayarin penuh! Gratis makan all you can eat (makan sepuasnya) di restoran daging panggangmahal!"
Mendengar kata gratis dan daging panggang, mata Aluna langsung berbinar terang. Otak hematnya langsung mengambil alih seluruh kesadaran. Tanpa memedulikan tatapan tajam menusuk yang tiba-tiba ditembakkan Elvano dari meja seberang, Aluna mengangguk sangat cepat. "Setuju! Kirim alamat lokasi restoran mewahnya ke ponselku sekarang juga!"