NovelToon NovelToon
Life After Marriage With Zidan

Life After Marriage With Zidan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda / Persahabatan
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Shakira Naomi hanya ingin lulus kuliah tataboga dengan tenang. Namun, mimpinya terusik saat ia dipaksa menikah dengan Zidan Ardiansyah, sahabat masa kecilnya yang paling tengil dan tidak bisa diam.
Bagi Shakira, pernikahan ini adalah bencana. Bagi Zidan, ini adalah kesempatan emas untuk memenangkan hati gadis yang selama ini ia puja secara ugal-ugalan. Di antara sekat guling dan aturan "aku-kamu" yang dipaksakan, mampukah Zidan meruntuhkan tembok dingin Shakira? Atau justru status "sahabat jadi suami" ini malah merusak segalanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Deeptalk

Sisa aroma rendang yang gurih masih tertinggal tipis di udara, namun di dalam kamar utama, wangi aromaterapi sandalwood mulai mendominasi. Lampu utama sudah dimatikan, menyisakan cahaya remang dari lampu tidur di sudut ruangan dan pendar biru keputihan dari layar televisi besar yang terpasang di dinding.

Zidan bersandar di headboard ranjang dengan posisi setengah duduk, kakinya selonjoran santai. Di pelukannya, Shakira meringkuk nyaman, kepalanya bersandar di dada bidang Zidan yang hanya terbalut kaos dalam tipis. Sebuah film drama di Netflix sedang terputar, namun perhatian keduanya sama sekali tidak tertuju pada layar.

Zidan mengusap-usap bahu Shakira dengan ibu jarinya, gerakan kecil yang konsisten dan menenangkan.

"Mas..." bisik Shakira, memecah keheningan yang hanya diisi suara dialog film yang volumenya sengaja dikecilkan.

"Hm? Kenapa, Sayang? Rendangnya masih kurang? Atau perut kamu begah lagi?" tanya Zidan lembut, ia menunduk dan mengecup puncak kepala istrinya.

Shakira menggeleng pelan, ia memainkan jemari Zidan yang besar dan kasar khas pekerja bengkel. "Enggak. Cuma lagi mikir aja. Nggak kerasa ya, kita udah jalan dua bulan lebih nikah. Perasaan baru kemaren aku galak banget sama kamu pas kamu jemput aku pake motor butut itu."

Zidan tertawa rendah, getaran di dadanya terasa sampai ke pipi Shakira. "Motor butut itu bersejarah, Ra. Tanpa motor itu, aku nggak bakal punya alasan buat bonceng kamu pelan-pelan biar durasi kita barengan lebih lama."

"Oh, jadi itu trik kamu?" Shakira mendongak, menatap dagu tegas suaminya.

"Iya dong. Mekanik itu harus pinter strategi, nggak cuma pinter bongkar mesin," Zidan merunduk, mengecup dahi Shakira singkat. "Ra... jujur, kamu nyesel nggak? Nikah sama aku yang cuma tukang bengkel begini? Padahal temen-temen kampus kamu banyak yang dapet anak pengusaha atau kantoran."

Shakira terdiam sejenak. Ia membetulkan posisinya hingga kini mereka saling berhadapan di bawah selimut tebal. Ia menangkup wajah Zidan dengan kedua tangannya, ibu jarinya mengelus pipi Zidan yang mulai ditumbuhi stubble halus.

"Mas, denger ya. Aku nggak butuh anak pengusaha yang pulang malem terus karena sibuk meeting. Aku butuhnya kamu," ujar Shakira tulus. "Aku butuh pria yang tangan olinya bisa pijetin pinggang aku kalau lagi pegel. Aku butuh pria yang rela bangun subuh cuma buat jagain aku masak. Jabatan kamu di bengkel itu justru bikin aku bangga, karena kamu ngebangun semuanya dari nol pake keringat sendiri."

Mata Zidan tampak berkaca-kaca sesaat, namun ia segera menutupinya dengan senyum tipis. "Makasih ya, Ra. Aku sempet takut kamu malu pas acara kumpul alumni nanti kalau ditanya suami kerjanya apa."

"Siapa yang malu? Bakal aku pamerin kalau suami aku ini mekanik paling handal yang bisa naklukin 'mesin' paling galak di dunia, yaitu aku sendiri," canda Shakira, membuat Zidan tertawa lepas dan menariknya ke dalam pelukan erat.

"Dulu aku kira kamu bakal benci aku selamanya," gumam Zidan di sela-sela rambut Shakira. "Inget nggak pas aku sengaja bikin ban sepeda kamu kempes biar bisa aku antar pulang? Kamu marahnya sampe seminggu."

"Inget banget! Itu jahat tahu, Mas! Aku sampe telat les gara-gara kamu," Shakira mencubit perut Zidan gemas. "Tapi ya... mungkin kalau kamu nggak senekat itu, kita nggak bakal sedeket ini. Kamu itu... gigih banget ya?"

"Harus. Karena aku tau, cewek kayak kamu itu nggak bisa dideketin pake cara biasa. Kamu itu kayak motor langka, Ra. Harus penuh perasaan, harus sabar, dan nggak boleh dipaksa. Sekalinya 'mesinnya' nyala, performanya luar biasa," Zidan memberikan kerlingan nakal yang membuat wajah Shakira merona.

"Mulai deh, pikirannya balik ke mesin lagi," gerutu Shakira, namun ia tidak melepaskan pelukannya. "Mas, janji ya? Apapun yang terjadi nanti, kalau kita ada masalah, jangan ada yang diem-dieman kayak dulu lagi. Aku capek kalau harus nebak-nebak pikiran kamu."

Zidan melepaskan pelukannya sebentar, ia memegang kedua bahu Shakira dan menatap matanya dengan serius. "Janji, Sayang. Mulai sekarang, nggak ada lagi rahasia. Kalau aku capek, aku bakal bilang. Kalau aku kesel, aku bakal ngomong. Dan kalau aku makin cinta... aku bakal kasih tau lewat 'syukuran' tiap malem."

"Mas Zidan!" pekik Shakira sambil menyembunyikan wajahnya di dada Zidan karena malu.

Zidan terkekeh, ia mematikan televisi dengan remote, membuat kamar kini benar-benar gelap hanya menyisakan cahaya bulan yang menerobos masuk. Suasana menjadi lebih intim. Keheningan malam seolah memberi ruang bagi detak jantung mereka untuk saling berkomunikasi.

Zidan menarik selimut hingga menutupi bahu mereka. Ia mulai mencium kening Shakira, lalu turun ke hidung, dan berakhir di bibir dengan lumatan yang sangat lembut namun penuh perasaan. Bukan gairah yang meledak-ledak seperti biasanya, melainkan ciuman yang sarat akan rasa syukur dan komitmen.

"Makasih buat pempeknya tadi siang ya, Ra. Itu boster paling ampuh buat aku," bisik Zidan di sela-sela ciuman mereka.

"Sama-sama, Mas. Besok mau dibawain apa lagi?" tanya Shakira parau.

"Nggak usah bawa apa-apa. Kamu cukup ada di rumah pas aku pulang, itu udah lebih dari cukup," Zidan mulai memberikan kecupan-kecupan hangat di leher Shakira, membuat gadis itu mendesah pelan. "Tapi kalau malem ini mau lanjut 'diskusi' soal masa depan kita... aku nggak nolak."

Shakira melingkarkan tangannya di leher Zidan, menarik suaminya itu lebih dekat. "Diskusi yang mana dulu nih? Yang pake teori atau yang langsung praktik?"

"Kayaknya praktik lebih efektif buat pemahaman materi, Nyonya Zidan," goda Zidan dengan suara seraknya yang khas.

Malam itu, di bawah temaram cahaya bulan, mereka berdua kembali tenggelam dalam dunia mereka sendiri. Bukan sekadar pemenuhan hasrat, melainkan cara mereka memperkuat ikatan yang sudah terjalin. Setiap sentuhan menjadi kalimat, dan setiap desahan menjadi tanda titik bahwa mereka telah benar-benar menyatu.

Deep talk malam itu tidak hanya membuka pikiran mereka, tapi juga membuka hati mereka lebih lebar. Bahwa pernikahan bukan hanya soal status, tapi soal bagaimana dua orang yang berbeda—seorang mekanik tengil dan mahasiswi galak—bisa saling melengkapi dalam harmoni yang paling indah.

"I love you, Mas Karatan..." bisik Shakira tepat sebelum kesadaran mereka benar-benar hilang terbawa arus perasaan yang membara.

"I love you more, Sayang. Lebih dari oli paling murni di dunia," sahut Zidan dengan tawa kecilnya, sebelum kembali membungkam bibir istrinya dengan penuh cinta.

***

Suasana dapur pagi itu mendadak riuh, jauh lebih ramai daripada biasanya. Asap tipis mulai membumbung, membawa aroma gurih dari bumbu rendaman kunyit dan ketumbar. Zidan, yang biasanya gagah memegang kunci pas di bengkel, kini tampak kikuk memegang sudip kayu dengan jarak satu meter dari wajan.

"Mas... bukan gitu cara gorengnya, ih! Itu ikannya belum kering banget jangan dibalik dulu, nanti hancur!" seru Shakira sambil berkacak pinggang di samping suaminya.

"Loh, katanya kalau udah bunyi pretek-pretek harus dibalik, Ra? Ini suaranya udah kayak petasan tahun baru," sahut Zidan panik. Ia menggunakan tutup panci sebagai tameng, melindungi wajahnya dari cipratan minyak panas yang sesekali meloncat dari wajan.

Shakira tertawa lepas melihat pemandangan langka itu. Suaminya yang sering berurusan dengan mesin panas dan oli mendidih, ternyata bisa sepayah ini di depan seekor ikan gurame.

"Mas, haha! Kamu ngapain sih? Masa sama ikan aja takut! Sini, biar aku aja yang pegang kendali. Kamu minggir dulu, komandan dapur mau lewat," ujar Shakira sambil mencoba mengambil alih sudip.

"Bentar, Ra. Ini masalah harga diri mekanik. Masa naklukin Ninja 250 bisa, naklukin gurame nggak bisa?" Zidan mencoba memberanikan diri mendekat. Namun, tepat saat itu, seekor gurame yang sedang digoreng seolah "melawan" dengan letupan minyak yang cukup besar. Pletak!

"Aduh! Sialan ini ikannya!" Zidan berjengit mundur, tangannya reflek mengusap punggung tangan kanannya.

Shakira langsung mematikan api kompor sementara. Wajahnya yang tadi penuh tawa berubah menjadi sangat khawatir. "Duh, tuh kan! Kena minyak tangan kamu! Udah dibilangin juga. Duduk dulu sana di meja makan, biar aku selesain goreng ikannya dulu. Kamu jangan aneh-aneh deh."

"Cuma dikit kok, Ra. Nggak apa-apa, serius," keluh Zidan, meski ia meringis pelan merasakan panas yang mulai menjalar di kulitnya.

"Nggak apa-apa gimana? Merah gitu! Udah, duduk!" titah Shakira dengan nada final yang tidak bisa dibantah.

Zidan akhirnya menyerah dan duduk di kursi meja makan dengan lesu, sementara Shakira dengan cekatan melanjutkan menggoreng ikan gurame dan menyiapkan sambal terasi yang aromanya mulai menusuk hidung—pedas dan menggoda.

Tak lama kemudian, Mama dan Papa Ardi turun dari lantai atas, nampaknya terganggu sekaligus penasaran dengan keributan di dapur.

"Ada apa ini? Pagi-pagi kok udah kayak ada tawuran di dapur?" tanya Papa Ardi sambil merapikan sarungnya, lalu duduk di seberang Zidan.

"Itu loh, Pa. Anak Papa sok jagoan mau goreng ikan, eh malah berantem sama minyak," lapor Shakira sambil mengulek sambal dengan semangat.

Mama mendekat ke arah Zidan, melihat tangan putranya yang merah. "Lalah, Zidan... Zidan. Biasanya megang mesin panas aja anteng, kena minyak dikit aja mukanya udah kayak habis kalah balapan."

"Ini ikannya agresif banget, Ma. Kayaknya dia dendam karena saya yang pilih di pasar tadi," kilah Zidan yang disambut tawa renyah Papa Ardi.

Shakira segera mencuci tangannya, lalu mengambil kotak P3K dari laci ruang tengah. Ia duduk di samping Zidan, menarik tangan suaminya dengan lembut ke arahnya. "Mana tadi yang kena minyak, Mas? Sini aku obatin dulu."

Zidan menyodorkan tangannya. Matanya menatap lekat wajah Shakira yang tampak sangat fokus mengoleskan salep dingin ke punggung tangannya. Jarak yang dekat membuat Zidan bisa mencium aroma sambal terasi dan wangi vanila dari rambut istrinya yang dicepol asal.

"Pelan-pelan ya, Sayang. Sakit nih," rengek Zidan sengaja, mode manjanya keluar di depan mertua.

"Halah, manja kamu, Dan! Dulu waktu kecil jatuh dari pohon mangga sampe berdarah aja nggak nangis," celetuk Mama sambil membantu Shakira menyiapkan piring di meja.

"Itu kan dulu, Ma. Sekarang kan ada yang merhatiin, jadi boleh dong manja dikit," jawab Zidan sambil mengedipkan sebelah mata ke arah Shakira.

Shakira mencubit pelan lengan Zidan yang tidak terluka. "Udah, nggak usah banyak gaya. Ini udah aku kasih salep, jangan kena air dulu ya."

"Makasih ya, Dokter cantik. Upahnya apa nih?" bisik Zidan tepat di telinga Shakira saat Papa dan Mama sibuk menata nasi di piring.

Shakira melirik suaminya dengan tatapan 'awas ya'. "Upahnya... kamu makan guramenya yang banyak, terus cuci piring semuanya nanti setelah makan. Gimana?"

"Yah... itu mah kerja rodi namanya," keluh Zidan pelan, namun ia tidak bisa menyembunyikan senyum bahagianya.

Mereka berempat akhirnya duduk melingkar di meja makan. Gurame goreng yang garing keemasan bersanding sempurna dengan sambal terasi yang pedas nampol dan lalapan segar. Suasana hangat sangat terasa, diiringi obrolan ringan tentang bengkel Zidan dan progres skripsi Shakira.

"Enak banget ini guramenya, Ra. Sambal terasinya juara," puji Papa Ardi sambil menambah nasi untuk ketiga kalinya.

"Iya, Pa. Shakira emang paling pinter kalau soal bikin sambal," puji Mama.

Zidan menyenggol bahu Shakira. "Tuh denger, Ra. Dipuji Papa sama Mama. Beruntung kan aku dapet kamu?"

"Iya deh, si paling beruntung. Makanya tangannya dijaga, jangan sampe kena minyak lagi. Kasihan mesin motor orang kalau mekaniknya tangannya melepuh semua," sahut Shakira sambil menyuapkan sepotong daging ikan ke mulut Zidan.

Zidan menerima suapan itu dengan senang hati. "Kalau melepuh karena masakan kamu, aku ikhlas kok."

"Gombal terus pagi-pagi!" sorak Papa Ardi yang membuat tawa pecah di meja makan itu.

Pagi yang dimulai dengan drama minyak panas itu berakhir dengan perut yang kenyang dan hati yang penuh. Bagi Shakira, melihat Zidan yang kaku di dapur adalah hiburan tersendiri, sementara bagi Zidan, rasa perih di tangannya sama sekali tidak berarti dibandingkan perhatian tulus dan masakan lezat dari istrinya. Di balik kepulan asap dapur, ada kebahagiaan sederhana yang terus tumbuh di antara mereka, membuktikan bahwa cinta memang bisa datang dari hal-hal kecil—bahkan dari seekor gurame goreng.

1
apiii
novel yg selalu bikin senyum" sendiri🤭
Nurminah
jarang2 makan favorit di novel pempek Palembang kapal selam pulok asli ini bibik ni wong palembang
tinggal daerah mano nyo Thor
di palembang jugo soalnyo
Nurminah: si ajudan kan sdh baca
total 8 replies
apiii
suka bngt sama dua bucin mas karat ini❤️
Rita Rita
bener bener si mas suami kejar setoran 🤭🤣🤣🤣
apiii
eps yg bikin senyum" sendiri 🤭
Rita Rita
apakah mas karatan dan istri sedang bikin adonan debay 🤔🤭🤣
apiii
aduh mas karatan🤣
Rita Rita
semangat boss,,, terus dapet asupan wkwkwk 🤭🤣🤣
apiii
wkwkwk
apiii
wah bisa bisa besok pagi di bengkel gimna ya
Rita Rita
akhirnya si mas karatan go' unboxing kalo go public udah 🤭🤣 asyik, guling udah kadaluarsa,,,
apiii
Lucu bngt pasangan baut karatan ini wkwk btw bisa kali thor triple up🤭
Nadhira Ramadhani: menyala otakku nanti kalo triple haha
total 1 replies
Rita Rita
si mas suami udah ada visual nya,, kasih visual kuntilanak cantik dong Thor,,,
Nadhira Ramadhani: ada saran?
total 1 replies
apiii
kiw kiww ada yg mulai bucin nih🤣
Rita Rita
cieee yg mau kencan 🤭🤣🤣 mas karatan dengan mbak Kunti cantik,, semoga lancar ya,,
apiii
doain ya aku lolos bab 1 bimbingan skripsi
Rita Rita
sangat contrast pasutri muda dengan panggilan sayang,,, mas karatan dan kuntilanak cantik 🤭🤣😍
Nadhira Ramadhani: POV: genz kalo nikah kak🤣
total 1 replies
apiii
semangat up nya thor aki tunggu tiap hari thor semangattt❤️
apiii
lucu bangt pasangan ini asli❤️
Rita Rita
sabar si mas suami jadi membawa bahagia,,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!