Arkan Alesandro Knight adalah seorang King Mafia dari organisasi Black Eclipse yang memiliki reputasi mematikan, namun ia menyimpan satu rahasia konyol: ia menderita Mysophobia akut. Baginya, kuman lebih berbahaya daripada peluru. Hidupnya yang steril dan kaku berubah total ketika ia terjebak dalam sebuah perjodohan dengan gadis pilihan ayahnya, Evelyn Valentina Grant.
Evelyn tampil sebagai sosok "My Nerdy Wife"—gadis culun dengan kacamata tebal, daster bunga-bunga yang aneh, dan sifat ceroboh yang luar biasa. Namun, di balik penyamaran konyolnya, Evelyn sebenarnya adalah Queen EVG, seorang peretas kelas dunia dan pemimpin organisasi spionase yang sangat tangguh. Ia sengaja berakting bodoh untuk melindungi identitasnya sekaligus memata-matai Arkan.
penasaran dengan cerita mereka jangan lupa mampir yapp🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAYAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Matahari pagi di Zurich bersinar pucat, menembus kaca antipeluru di fasilitas pelatihan bawah tanah Knight Company. Ruangan itu adalah definisi dari obsesi Arkan: dinding beton yang dilapisi cat antibakteri, sirkulasi udara yang melewati tiga tahap filtrasi, dan lantai yang begitu bersih hingga pantulan lampu neon di atasnya tampak seperti garis tajam.
Arkan Alesandro Knight berdiri di tengah ruangan, mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung rapi hingga siku. Di hadapannya, sebuah meja baja tahan karat menyajikan deretan senjata api yang sudah dibongkar, dibersihkan dengan cairan ultrasonik, dan disusun berdasarkan kaliber.
"Tuan Arkan... kenapa kita ke sini? Eve lebih suka ke perpustakaan atau ke toko sabun," cicit Evelyn. Ia berdiri dengan bahu merosot, mengenakan hoodie kebesaran yang membuatnya tampak seperti remaja yang tersesat. Kacamata tebalnya (versi baru yang dikirim Arkan pagi ini) bertengger miring di hidungnya.
Arkan tidak menoleh. Ia sedang memasang magasin ke dalam sebuah Glock 17 perak. "Dunia ini tidak seaman perpustakaanmu, Evelyn. Kejadian semalam membuktikan bahwa kuman-kuman seperti Dmitri bisa datang kapan saja. Aku tidak bisa menjagamu 24 jam dalam radius satu meter."
Arkan berbalik, menatap mata Evelyn di balik lensa tebal. "Kau harus belajar cara menyingkirkan kotoran sebelum kotoran itu menyentuhmu."
Evelyn menelan ludah. Sial. Dia sedang mengujiku. Dia tahu aku bisa menembak, tapi dia ingin melihat bagaimana aku berpura-pura tidak bisa melakukannya di bawah tekanan.
"Sini," perintah Arkan.
Evelyn melangkah maju dengan ragu. Arkan mengambil sebuah pistol kecil, Walther PPK yang ringan dan elegan. Ia menyemprotkan sedikit antiseptik ke gagang senjata itu sebelum menyerahkannya pada Evelyn.
"Pegang ini. Gunakan kedua tanganmu," ucap Arkan.
Evelyn menerima senjata itu dengan tangan yang sengaja dibuat sedikit gemetar. Ia memegangnya seolah-olah sedang memegang tikus mati—jijik dan takut. "T-tuan, ini berat banget! Nanti kalau meledak gimana? Eve takut kena telinga Eve!"
Arkan tidak membalas keluhan itu. Ia justru melangkah ke belakang Evelyn. Ia merapatkan tubuhnya ke punggung Evelyn, membuat gadis itu tersentak. Tinggi badan Arkan yang menjulang menciptakan bayangan protektif yang mengurung Evelyn.
Tangan Arkan yang besar dan hangat menutupi tangan Evelyn yang memegang pistol. Ia memperbaiki posisi jari Evelyn. "Jari telunjuk di luar pelindung pelatuk sampai kau siap menembak. Kaki buka selebar bahu. Jangan menahan napas terlalu kencang."
Evelyn bisa merasakan dada Arkan yang bidang bersandar pada punggungnya. Bau mint dan alkohol medis yang maskulin dari tubuh Arkan mengacaukan konsentrasinya. Namun, yang paling berbahaya adalah bisikan Arkan di telinganya.
"Kenapa tanganmu dingin, Evelyn? Tapi detak jantungmu... stabil sekali," bisik Arkan. Bibirnya hampir menyentuh daun telinga Evelyn.
Evelyn segera mempercepat napasnya, berpura-pura panik. "E-eve takut, Tuan! Jantung Eve mau copot! Ini gara-gara pistolnya serem!"
"Tembak target itu," perintah Arkan, menunjuk ke sebuah papan sasaran berjarak 15 meter.
Evelyn membidik. Secara naluriah, matanya yang tajam sudah mengunci titik tengah sasaran. Namun, dia harus meleset. Dia harus terlihat seperti amatir.
DOR!
Peluru menghantam bagian pojok atas papan sasaran, jauh dari titik tengah. Evelyn membiarkan hentakan senjata (recoil) membuatnya seolah terdorong ke belakang, jatuh ke pelukan Arkan.
"Hwaaaa! Tuan! Tanganku kesemutan! Telingaku mendengung!" Evelyn merengek sambil menyembunyikan wajahnya di dada Arkan.
Arkan tidak segera melepaskannya. Ia menatap papan sasaran, lalu menatap Evelyn yang sedang "ketakutan" di pelukannya. Arkan memperhatikan posisi kaki Evelyn saat menembak tadi. Meskipun Evelyn berpura-pura jatuh, tumpuan kakinya sangat kokoh. Tidak ada goyangan yang menunjukkan bahwa dia benar-benar kehilangan keseimbangan.
"Lagi," ucap Arkan singkat.
"Tuan, Eve mau pulang..."
"Lagi, Evelyn Valentina Knight."
Arkan kembali memposisikan tangan Evelyn. Kali ini, ia menggenggamnya lebih erat. "Fokus. Bayangkan target itu adalah kuman yang paling kau benci. Bayangkan itu adalah Dmitri Volkov yang mencoba menarikmu pergi."
Mendengar nama Dmitri, mata Evelyn berkilat dingin sesaat. Ia tidak bisa menahannya. Dendam masa lalu dan rasa posesif Arkan yang aneh memicu instingnya.
Evelyn menarik pelatuk tiga kali dengan cepat.
DOR! DOR! DOR!
Dua peluru meleset ke samping, tapi satu peluru... tepat mengenai jantung pada gambar sasaran.
Evelyn segera melepaskan pistol itu ke meja seolah benda itu baru saja membakarnya. "A-apa itu tadi? Eve merem, Tuan! Eve nggak lihat apa-apa!"
Arkan berjalan menuju papan sasaran. Ia mengamati lubang peluru di titik vital tersebut. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum misterius yang jarang terlihat. Senyum seorang pemburu yang baru saja melihat ekor mangsanya di balik semak-semak.
"Satu peluru yang beruntung," gumam Arkan. Ia kembali ke arah Evelyn, mengambil selembar tisu basah, dan mulai membersihkan noda tipis bubuk mesiu di jari telunjuk Evelyn. "Atau mungkin... kau memang ditakdirkan untuk menjadi bagian dari dunia yang kotor ini."
"Tuan Arkan ngomong apa sih? Eve cuma mau jadi perawat anestesi, biar bisa bikin orang tidur kalau mereka berisik," sahut Evelyn sambil membetulkan kacamatanya yang miring.
"Bagus," balas Arkan. Ia mendekatkan wajahnya, menatap langsung ke mata Evelyn. "Karena aku juga butuh seseorang yang bisa membuat musuh-musuhku tidur selamanya tanpa meninggalkan jejak kuman sedikit pun."
Tiba-tiba, suara Kenan terdengar lewat interkom ruangan. "Bos, ada kiriman paket di gerbang depan. Tidak ada nama pengirim, tapi kotaknya terbuat dari kayu jati Rusia. Dan... alat pendeteksi kita menangkap aroma tembakau yang sangat kuat."
Wajah Arkan langsung mengeras. Ia melepaskan tangan Evelyn. "Kenan, jangan sentuh. Bakar paket itu di ruang insinerator."
"Tunggu, Bos! Ada pesan tertulis di atasnya: 'Untuk Evelyn, sisa kenangan di Moskow.'"
Evelyn membeku. Moskow? Sialan kau, Dmitri!
Arkan menoleh ke arah Evelyn. Aura protektifnya berubah menjadi dingin dan penuh selidik. "Kenangan apa yang kau tinggalkan di Moskow, Evelyn? Seingatku, profilmu bilang kau tidak pernah meninggalkan Swiss sejak usia sepuluh tahun."
Evelyn memutar otaknya secepat mesin superkomputer. "I-itu... mungkin salah kirim, Tuan! Moskow itu kan nama jenis kucing? Mungkin itu makanan kucing!"
Arkan tidak tertawa. Ia melangkah menuju pintu. "Kita lihat seberapa higienis kenanganmu itu. Evelyn, ikut aku. Dan jangan berani-berani melepaskan kacamata itu sebelum aku menyuruhmu."
Saat mereka berjalan menuju ruang pemeriksaan barang, Evelyn mengirim pesan cepat lewat jam tangannya ke **Edward**. *"Ed, sabotase paket jati itu. Buat isinya terlihat seperti sampah atau mainan anak-anak. SEKARANG!"*
Di dalam hatinya, Evelyn bersumpah. Jika dia berhasil melewati hari ini tanpa terbongkar, dia akan memastikan Dmitri Volkov tidak hanya masuk karantina, tapi dicuci bersih di dalam mesin pemutar beton.
Arkan berjalan di depannya, punggungnya terlihat tegang. Ia tidak lagi peduli pada kuman di koridor itu. Fokusnya hanya satu: mengungkap siapa sebenarnya wanita yang ia nikahi, sebelum "kuman" masa lalu wanita itu menghancurkan kesterilan hidup yang ia bangun dengan susah payah.