WARNING ⚠️
(untuk umur 17 keatas)
...
Arkeas InjitAsmo hidup dalam keteraturan yang mewah. Baginya, hidup adalah tentang estetika dan wangi yang presisi. Namun, dunianya runtuh saat istrinya pergi dan ia harus mengurus Alisya sendirian di tengah kesibukan peluncuran parfum terbaru. Sepuluh pengasuh profesional sudah ia pecat dalam sebulan karena "bau badan mereka tidak estetik."
Masuklah Zollana, melamar pekerjaan. Karena sebuah insiden di mana Zollana tidak sengaja memecahkan Vas bunga kristal itu hingga hancur berkeping-keping, Arkeas justru menyadari satu hal: Alisya anaknya berhenti menangis saat berada di dekat Zollana.
Arkeas terpaksa mempekerjakan Zollana sebagai nanny sekaligus asisten rumah tangga dengan kontrak "Dilarang Ceroboh". Namun, nyatanya? Zollana justru membawa kekacauan yang berwarna di rumah minimalis Arkeas yang dingin.
...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7 CEO Anti-Baper vs Asisten yang Makin "Mainstream" di Hati.
...🌹🌹🌹...
Jakarta siang itu lagi panas-panasnya, selevel dengan suhu hati Arkeas InjitAsmo yang sejak kejadian di ruang ganti kemarin mendadak sering error. Pria itu sedang duduk di kursi kebesarannya di kantor "Injit Fragrance", tapi bukannya fokus meninjau laporan penjualan kuartal pertama, matanya justru terpaku pada layar CCTV penthouse-nya yang terhubung ke ponsel.
Di layar itu, terlihat Zolla sedang asyik "konser" di ruang tengah. Gadis itu menggendong Alisya sambil berjoget tipis-tipis mengikuti lagu yang lagi viral di TikTok.
"Gila... dia beneran nggak punya beban hidup ya?" gumam Arkeas. Sudut bibirnya hampir saja terangkat membentuk senyum, tapi ia segera berdehem keras saat asisten kantornya masuk.
"Tuan Arkeas, jadwal sore ini dibatalkan karena klien dari Singapura reschedule," lapor asistennya.
"Bagus. Saya mau pulang cepat. Ada... urusan mendesak," jawab Arkeas datar.
Urusan mendesak? Tentu saja urusan mendesak itu adalah memastikan Zolla tidak merusak estetika rumahnya (atau memastikan jantungnya masih aman saat melihat wajah gadis itu).
...
Begitu sampai di rumah, Arkeas disambut oleh pemandangan yang sangat tidak "Arkeas banget". Ruang tamunya yang biasanya steril dari segala jenis kekacauan, kini penuh dengan mainan bayi yang berserakan, dan... bau masakan yang sangat menyengat.
"Zollana! Bau apa ini? Kamu masak sampah di dapur saya?!" teriak Arkeas sambil menutup hidungnya dengan sapu tangan sutra.
Zolla muncul dari dapur, wajahnya sedikit cemong karena tepung, dan tangannya memegang spatula. "Ih, Tuan! Ini namanya Seblak! Makanan legendaris yang bisa ningkatin hormon kebahagiaan. Tuan mau coba? Pedas level lima, biar Tuan nggak kaku-kaku amat kayak kanebo kering."
Arkeas melotot. "Seblak? Kamu tahu saya selebriti parfum? Kalau bau kerupuk rebus ini nempel di baju saya, reputasi saya sebagai Scent King hancur, Zol!"
"Lebay deh, Tuan. Tinggal mandi pakai sabun sejuta umat juga hilang baunya," sahut Zolla santai. "Lagian Alisya aja suka baunya, dia anteng banget tadi pas saya lagi numis kencur."
Arkeas menghela napas panjang, mencoba meredam emosinya yang campur aduk antara lapar dan kesal. Ia berjalan menuju kamarnya untuk berganti pakaian, tapi langkahnya terhenti saat melihat Zolla kesusahan meraih rak piring yang tinggi.
"Sini," Arkeas mendekat. Ia berdiri tepat di belakang Zolla, meraih piring yang dimaksud dengan mudah.
Lagi-lagi, jarak mereka hanya hitungan sentimeter. Zolla bisa mencium wangi parfum signature Arkeas yang maskulin, sementara Arkeas harus menahan napas karena aroma seblak yang bercampur dengan bau tubuh Zolla yang... entah kenapa selalu terasa menenangkan baginya.
"Makasih, Tuan Tinggi," cicit Zolla, suaranya mendadak pelan.
"Jangan manjat-manjat lagi. Kamu itu mungil, sadar diri. Kalau jatuh, siapa yang mau urus Alisya?" ucap Arkeas dengan nada sok dingin, padahal tangannya sempat ragu-ragu ingin menyentuh bahu Zolla.
...🌹🌹🌹...
Malam harinya, setelah Alisya tidur pulas, suasana penthouse menjadi sangat sunyi. Arkeas sedang duduk di area balkon, menyesap wine merahnya sambil menatap lampu kota. Zolla lewat dengan membawa segelas susu hangat—kebiasaannya sebelum tidur.
"Zol, duduk sini," perintah Arkeas tanpa menoleh.
Zolla ragu sejenak, lalu duduk di kursi seberang Arkeas. "Kenapa, Tuan? Mau nagih hutang lagi?"
Arkeas menoleh, menatap Zolla dengan tatapan yang sulit diartikan. "Kamu... kenapa masih betah di sini? Padahal saya galak, saya nuntut kamu macam-macam, dan saya sering bikin kamu nangis."
Zolla terdiam sebentar, menyesap susunya. "Awalnya sih demi uang, Tuan. Tapi lama-lama... saya kasihan sama Tuan."
"Kasihan?" Arkeas tertawa sinis. "Saya punya segalanya, Zolla. Uang, ketenaran, wajah yang bikin cewek-cewek antre. Kenapa harus kasihan?"
"Tuan punya segalanya, tapi Tuan sendirian," jawab Zolla jujur, menatap langsung ke mata tajam Arkeas. "Tuan bangun benteng yang terlalu tinggi sampai nggak ada yang bisa masuk. Tuan takut dikhianati lagi, kan? Tuan takut kalau Tuan jadi 'manusia biasa', orang-orang bakal pergi."
Arkeas tertegun. Kata-kata Zolla menusuk tepat di pusat lukanya yang paling dalam. Selama ini tidak ada yang berani bicara sefrontal itu padanya.
"Tahu apa kamu soal hidup saya?" suara Arkeas memberat.
"Saya tahu kalau Tuan itu sebenarnya childish," Zolla tertawa kecil. "Tuan suka diperhatiin, Tuan suka kopi yang suhunya pas bukan karena Tuan perfeksionis, tapi karena Tuan pengen ada yang peduli sama hal-hal kecil di hidup Tuan. Tuan butuh 'rumah', bukan cuma 'penthouse' mewah ini."
Arkeas meletakkan gelasnya dengan denting yang cukup keras. Ia berdiri, menghampiri Zolla, lalu berjongkok di depan kursi gadis itu agar posisi mata mereka sejajar.
"Kalau memang saya butuh 'rumah', apa kamu sanggup jadi rumah itu, Zolla?" tanya Arkeas dengan suara rendah yang sangat intim. "Apa kamu sanggup ngadepin sisi buruk saya yang lebih parah dari sekadar sok dingin?"
Jantung Zolla serasa berhenti berdetak. Atmosfer di balkon itu berubah jadi sangat heavy dan dewasa. Arkeas meraih tangan mungil Zolla, mengusap punggung tangannya dengan ibu jari secara perlahan.
"Tuan... saya cuma pembantu," bisik Zolla, suaranya bergetar.
"Saya nggak butuh pembantu malam ini, Zolla," Arkeas menarik tangan Zolla, mencium punggung tangannya lama. "Saya cuma butuh seseorang yang nggak takut sama bau seblak di rumah saya."
Zolla tertawa di tengah rasa deg-degannya. "Tuan aneh banget."
"Kamu yang bikin saya aneh," Arkeas tersenyum—senyum tulus yang sangat langka. Ia berdiri dan mengusap puncak kepala Zolla sebentar. "Sana tidur. Besok jangan telat bangun, saya mau sarapan nasi goreng buatan kamu. Jangan sampai ada nasi yang nempel di langit-langit."
Arkeas pergi menuju kamarnya, meninggalkan Zolla yang masih mematung sambil memegang tangan yang tadi dicium Arkeas.
"Gila... ini adaptasi macam apa? Kok malah jadi baper parah gini?" gumam Zolla, wajahnya sudah semerah tomat matang.
Di dalam kamarnya, Arkeas menyandarkan punggung di pintu yang tertutup. Ia memejamkan mata, merutuki dirinya yang makin lama makin sulit untuk bersikap dingin di depan si mungil yang ceroboh itu.
"Arkeas, lo beneran sudah glitch," bisiknya pada diri sendiri.
...🌹🌹🌹...
(Bersambung ke Episode 8...)