“Nek,” protes Ryuhan. “Aku ini CEO muda. Masa harus nikah sama seorang dukun?”
Seroja adalah gadis muda yang berprofesi sebagai dukun beranak dan terapis saraf. Hidupnya berubah saat suami dari masa kecilnya, Ryuhan Kai Zander, CEO muda dari keluarga konglomerat datang menjemput.
Seroja harus menerima kenyataan, bahwa Ryu sudah memiliki pujaan hati. Clara.
Sebuah kecelakaan membuat Ryu lumpuh dan impoten. Kenyataan itu menghancurkan harga diri Ryu. Apalagi saat Clara memutus hubungan setelah kecelakaan itu.
Saat Ryu mulai menerima Seroja, muncul seorang pria yang diam-diam menyukai dan menghargai Seroja.
Akankah Seroja tetap bertahan di sisi suaminya… atau memilih pergi bersama pria yang benar-benar menginginkannya?
Dan apakah Ryu akan melepaskannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20.Harga Diri Seorang Istri
Ryu menarik napas dalam sebelum akhirnya melanjutkan kata-katanya.
"Sekarang kita sudah sama-sama dewasa. Dan kita terpisah selama puluhan tahun. Aku gak tahu apa kamu masih ingin melanjutkan pernikahan ini atau tidak."
Nyonya Hanifah tak menyela. Ia mendengar apa yang akan dikatakan Ryu dan menunggu tanggapan Seroja.
"Aku juga tidak ingat soal pernikahan ini. Mungkin karena aku waktu itu masih kecil," kata Seroja akhirnya. Lalu ia menatap Ryu. "Tapi kamu waktu itu lebih besar dariku. Aku rasa, kamu gak mungkin lupa kalau kita sudah menikah."
Ryu tersenyum pahit.
"Ryu mengalami kecelakaan saat usianya sembilan tahun. Tepat setahun setelah kalian menikah," jelas Nyonya Hanifah.
Wanita yang masih terlihat segar meski usianya sudah lanjut itu menatap ke depan, seolah sedang mengingat masa lalu.
"Waktu itu libur sekolah. Ryu dan kedua orang tuanya ingin mengunjungimu," lanjut Nyonya Hanifah. "Tapi sayang... dalam perjalanan mereka mengalami kecelakaan. Ayah Ryu meninggal sehari setelah dirawat di rumah sakit."
Ryu memejamkan matanya menahan sakit yang tiba-tiba menyerang kepalanya. Rahangnya menegang, tangannya terkepal erat.
Nyonya Hanifah melihatnya. Meski demikian, ia tetap melanjutkan, "Ibu Ryu kondisinya tidak separah ayahnya. Tapi semangat hidupnya menurun saat tahu suaminya meninggal. Dan seminggu kemudian... ia menyusul."
Seroja menggenggam tangan keriput itu hangat. Ia mengerti perasaan wanita disampingnya ini.
"Ryu sendiri..." Nyonya Hanifah berusaha menyelesaikan ceritanya meski dadanya terasa sesak. "dia divonis mengalami amnesia retrograde. Kehilangan memori masa lalunya."
Nyonya Hanifah menatap Ryu yang wajahnya sedikit pucat. "Kepalanya langsung sakit jika dipaksa mengingat masa lalu. Bahkan saat tak sengaja disinggung pun kepalanya kembali sakit."
Seroja ikut menatapnya. Ia bisa melihatnya, Ryu menahan rasa sakit.
"Maaf, aku tidak tahu," ujar Seroja lirih.
Sejenak, waktu berlalu tanpa suara. Nyonya Hanifah berusaha menenangkan hatinya setelah membuka luka lama yang sebenarnya ingin ia tutup selamanya.
Ryu masih berusaha merilekskan tubuhnya yang sempat tegang karena sakit di kepalanya.
"Jadi..." kata Ryu akhirnya, setelah sakit di kepalanya perlahan mereda. "apa kamu masih mau melanjutkan pernikahan ini?" tanyanya.
"Dilanjutkan atau tidak, tak masalah bagiku," jawab Seroja tenang. Lalu ia menatap Ryu lurus. "Tapi... bagaimana denganmu?"
Nyonya Hanifah ikut menatap Ryu. Tongkat di tangannya ia pegang lebih kuat dari seharusnya.
Ryu menarik napas dalam sebelum akhirnya menjawab. "Jujur, aku sudah mencintai wanita lain."
Seroja tersenyum samar. Ia sudah menduganya. Tidak mungkin pria tampan dan mapan seperti Ryu masih sendiri.
"Namanya Clara," lanjut Ryu. "Kami sudah menjalin hubungan selama lima tahun. Dia bekerja sebagai analis investasi," beber Ryu dengan nada bangga yang sulit disembunyikan. "Dia berada di dunia yang sama denganku."
Nyonya Hanifah menatap Ryu tajam. Jelas ia tidak suka mendengar perkataan cucunya itu.
Seroja tersenyum, tapi tak sampai ke mata. Kalimat terakhir Ryu seolah ingin menegaskan padanya bahwa dunia mereka berbeda.
Dan ia bisa merasakannya. Dibanding dirinya, Ryu lebih menghargai wanita yang bernama Clara itu. Dan entah kenapa, harga dirinya merasa terusik.
"Jadi," ucapnya akhirnya. "kau ingin membatalkan pernikahan ini?" tanyanya tenang, meski dadanya terasa sesak.
Ryu tak langsung menjawab. Ia menatap Seroja lebih lama dari seharusnya. Namun ia tak bisa membaca wanita yang sudah sah menjadi istrinya itu.
"Aku butuh jawaban," tegas Seroja karena Ryu tak kunjung menjawab.
Ryu membuka mulut, tapi tak ada suara yang keluar. Keputusan yang sebelumnya terasa mudah, mendadak terasa berat.
Nyonya Hanifah mencengkram tongkatnya kuat. Garis rahangnya yang keriput memegang.
Seroja tersenyum. Tapi tak ada bahagia yang tersirat di sorot matanya.
"Aku tidak ingin memaksa orang yang tidak menginginkanku tinggal di sisiku," ucap Seroja tegas. "Jika kau tak ingin melanjutkan pernikahan ini, katakan dari sekarang. Ceraikan aku."
Suara Seroja tetap lembut, nadanya terkontrol. Tapi justru itu yang membuatnya terasa menghantam.
"Tapi jika kau ingin melanjutkan pernikahan ini," lanjut Seroja masih dengan nada yang sama. "Putuskan Clara."
Suaranya turun lebih rendah. "Karena aku tidak mentolerir perselingkuhan dalam rumah tanggaku."
Setiap kata yang diucapkan Seroja terasa menghantam jantung Ryu lebih keras dari pukulan apapun.
Dan Nyonya Hanifah?
Bibir wanita tua itu bergerak samar. Ia menatap cucu menantunya dengan tatapan kagum.
"Tidak kusangka," batinnya. "gadis yang terlihat lembut ini begitu tegas." Ia beralih menatap Ryu. "Kau akan menyesal jika melepaskan wanita seperti Seroja."
Ryu tertunduk. Garis rahangnya mengeras. Ia tak menyangka gadis yang lembut itu punya sisi setegas ini. Sekarang ia merasa seperti berdiri di persimpangan.
Kata-kata neneknya kembali terngiang di kepalanya.
"Jika kamu ingin menceraikan istrimu, keluar dari rumah ini dan jangan bawa apa pun."
Ryu memejamkan matanya sesaat, lalu membukanya.
"Aku memutuskan..." Ia menarik napas dalam, seolah meyakinkan dirinya sendiri kalau keputusannya kali ini sudah benar.
Napas Seroja tertahan. Tapi ia sudah menyiapkan diri apapun jawabannya.
Ia sudah siap jika diceraikan. Meski harus menanggung malu jika orang-orang di desanya tahu ia dijemput suaminya hanya untuk diceraikan.
...🔸🔸🔸...
...“Cinta mungkin tak bisa dipaksa. Tapi harga diri tetap harus dijaga.”...
...“Ia tidak meminta untuk dicintai. Tapi ia juga tidak akan tinggal di hati yang masih dihuni wanita lain.”...
..."Nana 17 Oktober "...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Semangat ya, Kak Nana... Up Bab Baru-nya Kak 🙏🙏🙏
Ponsel Ryu berdering - Jordi yang menghubungi. Ryu menerima telepon di balkon.
Mereka membicarakan bisnis. Tapi mata Ryu tak lepas dari istrinya.
Dari pintu balkon Ryu bisa melihat Seroja yang tersenyum ketika sedang berbincang dalam sambungan telepon. Ryu cemburu.
Selesai membahas soal pekerjaan, Ryu tanya pada Jordi. Pria yang bertemu istrinya di restoran tadi siang itu siapa.
Jordi sebut nama pria itu Evan.
Nama yang di lihat tadi Tony. Ryu jadi berpikir - ada berapa banyak pria di sekitar Seroja.
Pikirannya melayang pada tiga nama - Agus, Evan, dan Tony.
Ini baru sehari menjalani hidup bersama sebagai suami istri. Ya harus menjaga privasi masing-masing terlebih dahulu.
Nah kan - pertanda tidak atau belum boleh menyentuh barang pribadi istrinya. Jari Ryu tinggal beberapa sentu dari ponsel - pintu kamar mandi terbuka. Seroja terlihat muncul.
Aku tau! tapi aku harus menemui Clara itu, untuk memutuskannya! 😁😁😁