"Kalau kau memang ingin mati, setidaknya selesaikan dulu 7 permintaanku. Setelah itu, aku tidak akan melarangmu gantung diri di pohon ini."
Kehilangan karier, dikhianati sahabat, dan ditinggal tunangan, Gani pulang ke desa masa kecilnya hanya dengan satu tujuan: mati dengan tenang di bawah pohon beringin tua.
Namun, rencananya berantakan saat Kirana—gadis desa yang cerewet, keras kepala, namun memiliki senyum paling tulus—menemukannya di hutan dan memberinya satu kesepakatan gila. Gani terpaksa menyetujui "7 Permintaan" gadis itu sebelum ia diizinkan mati.
Mulai dari mencuri mangga Kepala Desa hingga menari di bawah hujan badai, setiap permintaan justru perlahan mengembalikan warna di hidup Gani yang kelabu.
Namun, saat cinta mulai menunda niat kematiannya, Gani menyadari satu kebenaran yang kejam: Kirana memiliki alasan yang jauh lebih tragis darinya untuk tidak bisa hidup lebih lama lagi.
Kini, mampukah tangan yang pernah hancur itu menyelamatkan satu-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Rasa Manis di Tepi Kali Bening
Mereka terus berlari menyusuri jalan setapak yang membelah kebun singkong hingga suara umpatan Pak Kades dan kehebohan ayam-ayam peliharaannya benar-benar tertelan oleh jarak. Napas keduanya berpacu seiring dengan derap langkah kaki yang menghantam tanah kering.
Pelarian itu baru berakhir ketika rimbunnya kebun singkong mulai menipis, digantikan oleh barisan pohon bambu yang melengkung menyerupai terowongan hijau. Di ujung terowongan alami tersebut, terhampar sebuah sungai berbatu yang membelah desa. Penduduk setempat menyebutnya Kali Bening.
Airnya mengalir tenang, memantulkan sisa-sisa cahaya keemasan dari matahari yang mulai condong ke ufuk barat. Suara gemercik air yang menabrak bebatuan kali terdengar seperti melodi penenang yang mendinginkan sisa-sisa adrenalin di dalam darah.
Kirana merosot duduk di atas sebuah batu kali yang besar dan pipih, bersandar pada sebatang pohon waru yang tumbuh condong ke arah sungai. Gadis itu kembali terengah-engah, memejamkan matanya rapat-rapat sambil menekan dada kirinya dengan telapak tangan. Wajahnya memucat, kontras dengan rona merah di pipinya akibat terbakar sinar matahari.
Gani, yang napasnya juga belum sepenuhnya teratur, menjatuhkan diri di atas hamparan rumput tebal tak jauh dari batu tempat Kirana duduk. Ia melepaskan ikatan sarung di pinggangnya, membiarkan enam buah mangga madu berukuran besar menggelinding keluar dan berhenti di antara bebatuan kerikil.
Pria itu menelentangkan tubuhnya menatap langit, membiarkan dadanya naik turun dengan cepat. Kaus hitamnya basah oleh keringat dan kotor oleh noda tanah serta getah pohon. Rambutnya yang biasanya selalu tertata rapi dengan pomade kini acak-acakan, dipenuhi serpihan daun kering.
Jika ada salah satu kolega bisnisnya, atau Sania—mantan tunangannya yang terobsesi pada penampilan—melihatnya sekarang, mereka pasti akan mengira Gani telah kehilangan kewarasannya. Dan anehnya, Gani tidak peduli. Untuk pertama kalinya sejak dunia yang ia bangun runtuh, ia merasa benar-benar hidup.
"Kau... hampir saja membuat kita berdua masuk penjara desa," ucap Gani di sela-sela napasnya yang putus-putus. Tawa pelan masih terselip di ujung kalimatnya.
Kirana membuka mata, memaksakan seulas senyum meski bibirnya masih terlihat sedikit kebiruan. Ia menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan, mencoba menstabilkan ritme jantungnya yang berantakan.
"Penjara desa tidak ada, Tuan Kota. Paling-paling kita dihukum menyapu halaman kelurahan selama seminggu," balas Kirana, suaranya terdengar jauh lebih lemah dari biasanya, meski nada jenakanya tidak hilang. Gadis itu menunjuk tumpukan mangga di dekat kaki Gani. "Lagipula, lihat hasil rampasan kita. Enam buah mangga madu kualitas super. Ini kemenangan telak."
Gani mengubah posisinya menjadi duduk bersila. Ia memandangi mangga-mangga ranum tersebut dengan saksama. Warnanya perpaduan antara kuning cerah dan jingga kemerahan, menjanjikan rasa manis yang luar biasa. Aroma khas mangga yang masak di pohon menguar kuat, mengalahkan bau tanah basah di sekitar mereka.
"Masalahnya, Komandan," Gani mengangkat salah satu mangga itu, menimbangnya di telapak tangan. "Kita tidak punya pisau. Bagaimana cara memakannya? Jangan bilang kau mau aku memakannya beserta kulitnya."
Kirana mendecakkan lidah, seolah Gani baru saja menanyakan hal paling bodoh di dunia. Ia beringsut turun dari batu, duduk di atas rumput berhadapan dengan Gani. Gadis itu mengambil satu buah mangga, lalu meremas-remasnya dengan lembut menggunakan kedua telapak tangannya.
"Ini cara anak kampung," ujar Kirana santai. Ia terus memijat mangga itu hingga teksturnya terasa sedikit lembek di bagian dalam. Kemudian, dengan menggunakan giginya, ia menggigit ujung kulit mangga yang berdekatan dengan tangkai, merobeknya kecil, lalu mengisap daging buah yang telah hancur dari lubang tersebut.
Sari mangga yang manis dan kental mengalir keluar. Kirana memejamkan mata, menikmati rasa manis yang meledak di lidahnya dengan ekspresi sangat puas. Sedikit cairan mangga menetes di sudut bibirnya, yang segera ia usap dengan punggung tangan tanpa memedulikan etiket.
"Coba saja. Rasanya seratus kali lebih enak daripada mangga yang dipotong rapi di atas piring porselen," tantang Kirana, menyodorkan sebuah mangga lain kepada Gani.
Gani menatap mangga di tangannya dengan ragu. Di Jakarta, ia biasa menyantap dessert mangga yang diiris setipis kertas, disajikan dengan daun mint dan krim mascarpone di restoran mewah. Makan mangga dengan cara diisap langsung dari kulitnya terasa sangat primitif.
Namun, rasa hausnya setelah berlari mengalahkan keraguannya. Gani meniru gerakan Kirana. Ia meremas mangga itu, menggigit ujungnya, lalu mengisap isinya.
Sensasi pertama yang menyentuh lidahnya adalah rasa manis yang luar biasa pekat, disusul sentuhan asam yang menyegarkan di ujung saraf pengecapnya. Tekstur daging mangga yang lembut langsung lumer di mulut. Gani melebarkan matanya. Kirana benar. Rasa manis ini seolah mengalir langsung ke aliran darahnya, memberikan suntikan energi instan yang menghidupkan kembali sel-sel tubuhnya yang mati rasa.
Gani mengisap mangga itu dengan rakus, tidak peduli ketika sari buahnya yang lengket menetes mengenai jari-jari dan dagunya. Rasa lapar dan dahaga yang berpadu dengan kepuasan karena hasil 'jerih payahnya' sendiri membuat buah sederhana itu terasa seperti hidangan dari surga.
Keduanya sibuk menikmati hasil curian mereka dalam diam. Hanya terdengar suara kecapan sesekali dan gemercik air sungai yang mengalir di sebelah mereka. Tiga mangga tandas dalam waktu kurang dari sepuluh menit.
Setelah selesai, Gani berdiri dan berjalan menuju tepi sungai. Ia berjongkok, meraup air sungai yang jernih dan dingin untuk membersihkan wajah serta tangannya yang lengket oleh getah dan sari mangga. Ia kemudian melepas sepatunya, menggulung celana jinnya hingga selutut, lalu merendam kakinya di air sungai. Sensasi dingin langsung menusuk pori-porinya, menenangkan otot-otot kakinya yang tegang.
Kirana menyusul tak lama kemudian. Gadis itu tidak ikut merendam kakinya. Ia hanya mencuci muka dan tangannya, lalu kembali duduk di atas batu besar, memeluk kedua lututnya ke dada. Udara sore di pinggir kali mulai terasa lebih dingin, membuat gadis itu merapatkan kerah kemeja birunya.
Gani menoleh, memperhatikan profil samping wajah Kirana yang terpapar sinar matahari senja. Rambutnya yang sedikit berantakan tertiup angin, memperlihatkan garis rahangnya yang tegas namun rapuh. Di bawah cahaya keemasan itu, Gani bisa melihat dengan jelas seberapa pucat kulit gadis itu yang sebenarnya. Pucat yang bukan karena kurang terkena sinar matahari, melainkan pucat yang mengindikasikan sesuatu yang tidak beres di dalam tubuhnya.
“Kau punya tubuh yang sehat, tangan yang utuh, dan napas yang panjang...”
Kalimat Kirana semalam saat berada di bawah pohon Akar Tua kembali bergema di kepala Gani. Ada beban tersembunyi di balik kalimat itu. Sebuah kegetiran yang dibalut dengan senyum ceria.
"Jadi," suara Kirana memecah keheningan, mengalihkan pandangannya dari riak air sungai ke arah Gani. "Bagaimana rasanya kembali hidup, Tuan Kota?"
Gani menghela napas panjang, menatap bayangan dirinya sendiri di permukaan air sungai yang tenang. "Aku tidak tahu apakah aku sudah kembali hidup. Tapi, setidaknya... selama tiga jam terakhir, aku lupa bahwa aku punya alasan untuk mati."
Itu adalah sebuah pengakuan yang jujur. Sebuah kerentanan yang entah mengapa sangat mudah Gani tunjukkan di hadapan gadis yang baru ia kenal kurang dari dua puluh empat jam ini. Mungkin karena Kirana telah melihatnya di titik terendahnya, Gani tidak merasa perlu memakai topeng pertahanan lagi.
Kirana tersenyum tipis, menopang dagunya di atas lutut. "Itu permulaan yang bagus. Manusia tidak perlu alasan besar untuk terus hidup. Kadang, alasan itu sesederhana ingin memakan mangga curian, atau ingin melihat matahari terbenam besok sore."
Gani terkekeh pelan, tawa yang terdengar jauh lebih natural daripada sebelumnya. "Filosofi desa yang sangat sederhana. Tapi, dunia di luar Karangbanyu tidak berjalan dengan cara seperti itu, Kirana."
Kirana memiringkan kepalanya, matanya memancarkan rasa ingin tahu yang murni. "Ceritakan padaku. Seperti apa sebenarnya 'Kota' itu? Seumur hidupku, aku hanya melihat Jakarta dari layar televisi. Dan jujur saja, sinetron selalu membuatnya terlihat seperti surga yang penuh masalah."
Gani mengambil sebuah kerikil pipih dari dasar sungai, lalu melemparnya menyusur permukaan air. Kerikil itu memantul tiga kali sebelum akhirnya tenggelam. Tatapannya menerawang jauh melampaui bukit di seberang sungai, seolah ia bisa melihat siluet gedung-gedung pencakar langit Jakarta di balik sana.
"Jakarta... bukan surga, dan bukan juga neraka," Gani memulai, suaranya merendah, sarat akan letih yang mendalam. "Itu adalah sebuah mesin raksasa yang tidak pernah berhenti berputar. Dan manusia di dalamnya hanyalah roda gigi."
Gani menoleh, menatap mata sabit Kirana. "Kau bangun sebelum matahari terbit, menghabiskan dua jam terjebak dalam lautan logam beroda yang mengeluarkan asap beracun. Kau sampai di kantor, sebuah sangkar kaca di atas awan, hanya untuk menatap layar komputer selama sepuluh jam, memeras otakmu untuk memenangkan kompetisi yang tidak ada garis akhirnya."
Gani menggeser duduknya, menarik kakinya dari air dan memeluk lututnya, meniru postur Kirana.
"Semuanya diukur dengan angka. Berapa nilai kontrakmu? Apa merek mobilmu? Di mana letak apartemenmu? Kau tersenyum bukan karena kau bahagia, tapi karena itu adalah bagian dari networking bisnis. Kau bersalaman dengan orang yang diam-diam ingin menghancurkanmu, dan kau memeluk orang yang besok mungkin akan menikammu dari belakang."
Nada suara Gani mulai bergetar. Bayangan Raka dan Sania melintas dengan cepat, menyisakan jejak perih di dadanya.
"Di sana, di atas gedung-gedung yang kurancang sendiri, aku sering berdiri menatap ke bawah. Melihat jutaan titik cahaya dari lampu mobil dan jalanan. Dari atas sana, manusia terlihat seperti semut yang tidak ada artinya. Semuanya terasa begitu besar, sementara dirimu terasa sangat kecil dan hampa. Itulah kota, Kirana. Sebuah ilusi kesuksesan yang pelan-pelan menggerogoti jiwamu."
Kirana mendengarkan dalam diam. Tidak ada interupsi, tidak ada bantahan, hanya perhatian penuh yang jarang Gani dapatkan dari siapa pun di kehidupan lamanya. Gadis itu seolah menyerap setiap tetes rasa sakit Gani dan membiarkannya larut bersama aliran Kali Bening.
"Lalu, kenapa kau berjuang mati-matian untuk berada di sana, kalau tempat itu sangat mengerikan?" tanya Kirana lembut, suaranya berpadu dengan desir angin sore.
Gani menunduk, mengusap bekas luka sayatan di pergelangan tangannya tanpa sadar. "Karena pembuktian," bisiknya lirih. "Aku lahir di desa ini, dalam kemiskinan yang membuat ayahku harus menunduk di hadapan orang-orang berharta. Aku ingin membuktikan bahwa anak Pak Haris bukan orang rendahan. Aku berlari terlalu kencang mengejar pengakuan itu, hingga aku lupa caranya berjalan."
Keheningan kembali menyelimuti mereka berdua. Kali ini, bukan keheningan yang canggung, melainkan kesunyian yang saling memahami. Luka yang selama ini bernanah di dada Gani perlahan menemukan muaranya untuk mengalir keluar.
Kirana turun dari batunya. Ia berjalan mendekati Gani, lalu duduk di atas rumput di sebelahnya. Jarak mereka kini hanya terpaut satu jengkal. Bahu mereka sesekali bersentuhan saat salah satu dari mereka mengubah posisi.
"Kau tahu, Tuan Kota," Kirana menengadah, menatap kanopi langit di atas mereka yang perlahan berubah warna dari biru menjadi gradasi ungu dan jingga yang memukau. "Kami orang desa punya cara pandang yang berbeda."
Gani menoleh, menatap profil wajah Kirana. Semburat jingga dari langit memantul di bola mata gadis itu.
"Di tempatmu, kau membangun gedung tinggi agar kau bisa memandang rendah ke dunia di bawahmu. Tapi akibatnya, kau merasa kesepian di puncak sana," ucap Kirana, suaranya mengalun seperti puisi. "Di sini, di desa ini, tidak ada bangunan tinggi. Kami selalu memijak tanah yang rata. Tapi sebagai gantinya... kami memandang langit."
Kirana mengangkat sebelah tangannya, menunjuk ke bentangan cakrawala senja di atas Kali Bening. Kawanan burung kuntul putih terbang beriringan kembali ke sarang, melintasi matahari yang perlahan tenggelam.
"Saat kau memandang langit dari bawah, kau sadar bahwa alam semesta ini terlalu besar, dan masalahmu... hanyalah setitik debu di hamparan sawah. Kami tidak berlomba untuk menjadi yang paling tinggi. Kami hanya hidup. Menanam benih, menunggu hujan, memanen hasil, dan mensyukuri napas yang masih diberikan hari ini. Hidup tidak perlu selalu tentang pencapaian, Gani. Terkadang, berhasil melewati hari tanpa menyerah pun sudah merupakan sebuah kemenangan yang layak dirayakan."
Gani tertegun. Kata-kata gadis itu mengalir masuk menembus pertahanannya yang paling tebal. Selama tiga puluh tahun hidupnya, ia selalu diajarkan bahwa nilai seorang pria ditentukan oleh apa yang berhasil ia taklukkan. Ia tidak pernah diajarkan bahwa diam dan menerima keberadaan diri sendiri adalah sebuah pilihan yang sah.
Namun, di balik kebijaksanaan kata-kata itu, Gani menangkap sebuah nada kerinduan yang ditahan kuat-kuat oleh Kirana.
"Jika desa ini begitu sempurna bagimu," Gani menguji, menatap lekat-lekat mata Kirana. "Lalu kenapa tadi kau bertanya tentang Kota dengan mata yang begitu penasaran? Kenapa kau tidak pernah pergi dari sini untuk melihat dunia luar? Melihat laut, mungkin? Atau lampu-lampu kota yang kubenci itu?"
Senyum Kirana sedikit memudar. Bahunya merosot turun dalam tempo yang sangat lambat. Gadis itu mengalihkan pandangannya dari langit, kembali menatap riak air sungai di dekat kakinya. Tangannya tanpa sadar mencengkeram kain celana jin di sekitar lututnya.
"Aku..." Kirana menggigit bibir bawahnya, mencari kata-kata yang tepat. "Tubuhku lebih menyukai udara Karangbanyu. Kota terlalu... penuh sesak untukku. Aku tidak suka keramaian."
Itu adalah sebuah kebohongan, atau setidaknya setengah kebenaran. Gani, yang terbiasa membaca negosiasi bisnis dan menangkap kebohongan klien, langsung menyadarinya. Gerakan mata Kirana yang menghindar, napasnya yang tiba-tiba tertahan, dan bagaimana ia kembali memegang dada kirinya secara refleks, adalah bahasa tubuh dari seseorang yang sedang menyembunyikan rasa sakit yang besar.
Ingatan Gani kembali memutar adegan pelarian mereka beberapa jam lalu. Bagaimana wajah Kirana memucat, bibirnya membiru, dan napasnya seolah ditarik paksa dari dalam paru-parunya. Itu bukan kelelahan fisik orang normal. Itu adalah gejala klinis.
Rasa penasaran mulai tumbuh subur di benak Gani, menggeser sisa-sisa pikiran tentang tali gantung diri. Siapa sebenarnya Kirana? Rahasia apa yang disembunyikannya di balik senyum ceria dan tantangan "tujuh permintaan" itu?
"Matahari sudah hampir tenggelam," Kirana tiba-tiba bersuara, memecah kecurigaan Gani. Gadis itu berdiri dengan cepat, menepuk-nepuk rumput dari celananya, kembali memasang topeng keceriaannya tanpa cela. "Bibi Ratna pasti sudah mencariku, dan kau harus segera pulang untuk mandi. Kau bau getah mangga."
Gani ikut berdiri, memutuskan untuk tidak mendesak gadis itu lebih jauh. Ia tahu persis bagaimana rasanya didesak saat kau belum siap menceritakan lukamu. Biarkan saja teka-teki itu terjawab nanti.
Gani mengumpulkan tiga buah mangga yang tersisa ke dalam sarungnya, lalu memakai sepatunya kembali. Ia berjalan beriringan dengan Kirana meninggalkan tepian Kali Bening, masuk kembali ke dalam terowongan pohon bambu.
Lampu-lampu jalan desa yang remang-remang mulai menyala satu per satu, mengusir bayang-bayang senja. Di antara keremangan itu, beberapa ekor kunang-kunang mulai menampakkan diri, berkedip hijau kekuningan seperti bintang kecil yang jatuh ke bumi.
Gani menghentikan langkahnya sejenak, membiarkan Kirana berjalan beberapa langkah di depannya. Ia menatap punggung kecil gadis itu. Gadis bergaun—kini berkemeja biru—yang entah bagaimana telah membajak rencana kematiannya dan memaksanya merasakan asam manis mangga curian.
Gani menarik napas panjang, menghirup udara desa yang kini terasa jauh lebih bersahabat. Ia menatap tangannya sendiri. Tangan yang semalam merajut simpul kematian, kini menahan beban mangga untuk dimakan nanti malam.
Masa depan mungkin masih gelap, utangnya mungkin tidak akan pernah lunas, dan luka pengkhianatan itu mungkin masih akan berdarah untuk waktu yang lama. Tapi untuk saat ini, untuk malam ini, Gani tahu satu hal yang pasti.
Ia tidak ingin mati malam ini. Ia ingin melihat, permintaan gila apa lagi yang akan diajukan oleh sang Tiran Kecil besok pagi.
"Hei, Komandan! Berhenti melamun dan cepat jalan! Gelap!" seru Kirana dari depan, menoleh sambil memutar bola matanya.
Gani tersenyum tipis, sebuah senyum simpul yang jarang sekali menghiasi wajahnya.
"Siap, Tiran Kecil," gumamnya pelan, lalu mempercepat langkahnya menyusul Kirana, membiarkan desa Karangbanyu menelannya dalam kedamaian yang baru saja ia temukan kembali.