NovelToon NovelToon
I'M An Imperfect Mom

I'M An Imperfect Mom

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Balas Dendam / Penyesalan Suami
Popularitas:899
Nilai: 5
Nama Author: Amanda Shakira

"Di kantor, Aruna adalah pemenang. Namun di rumah, ia adalah orang asing yang kehilangan tempat. Ketika mantan suaminya kembali membawa 'istri sempurna', hidup Aruna mulai retak.

Satu per satu barangnya hilang, ingatannya mulai dikhianati, dan putranya perlahan menjauh. Apakah Aruna memang ibu yang gagal, atau seseorang sedang merancang skenario untuk membuatnya gila?

Menjadi ibu itu berat. Menjadi ibu yang waras di tengah teror... itu mustahil."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda Shakira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27: TENTARA BAYANGAN

Bab 27: Tentara Bayangan

Hujan deras mengguyur Jakarta, seolah ingin mencuci bersih jejak pelarian berdarah Aruna dari galeri seni tadi malam. Di sebuah gudang penyimpanan kontainer yang terletak jauh di sudut pelabuhan Sunda Kelapa, lampu-lampu neon berkedip redup. Ini adalah markas rahasia yang disiapkan Adrian, tempat yang bahkan satelit militer "Papa Besar" pun akan kesulitan untuk membedahnya.

Aruna berdiri di depan jendela kaca yang buram oleh uap, menatap deretan kontainer di bawah sana. Siska sedang tertidur di ruangan medis darurat setelah diberikan obat penenang, sementara Adrian sibuk memeriksa persediaan senjata.

"Mbak Bos, jangan bengong terus, nanti kesambet hantu pelabuhan," Bambang muncul dengan nampan berisi tiga cup mi instan yang uapnya mengepul. "Ini protein tingkat tinggi buat kita yang lagi jadi buronan nomor satu versi Adhigana."

Aruna menoleh, sedikit tersenyum melihat Bambang yang tetap santai meski nyawa mereka tadi malam hampir melayang. "Terima kasih, Bambang. Bagaimana perkembangannya?"

Bambang meletakkan mi instan itu di meja kerja yang dipenuhi kabel. "Buruk, Mbak. Tapi buruk yang seru. Kakek Mbak bener-bener niat. Dia sudah membekukan seluruh rekening atas nama Aruna Mahendra dan Rhea Mahendra. Sekarang kita resmi jadi gembel elit. Untungnya, saya sempat narik dana darurat ke akun kripto yang servernya ada di Islandia. Jadi, kita masih bisa makan mi instan sampai lima tahun ke depan."

"Uang bukan masalah utama sekarang," Adrian bergabung dengan mereka, wajahnya tampak lelah. "Masalahnya adalah pengumuman Prabawa. Dia menawarkan hadiah lima puluh miliar bagi siapa saja yang bisa membawa Aruna 'hidup atau mati'. Sekarang, setiap pembunuh bayaran di Asia Tenggara sedang mengincar kepala kita."

Aruna menarik napas panjang, lalu menyesap mi instannya. Rasa hangatnya sedikit menenangkan sarafnya yang tegang. "Itu sebabnya kita butuh pasukan. Adrian, apa Maya sudah membalas?"

"Sudah," Adrian mengangguk. "Mereka akan sampai satu jam lagi. Tapi Aruna, kamu harus siap. Mereka bukan tentara terlatih. Mereka adalah orang-orang yang hancur karena Bimo dan Adhigana. Beberapa dari mereka kehilangan keluarga, harta, bahkan identitas."

Satu jam kemudian, pintu gudang yang berat itu terbuka dengan suara derit besi yang memilukan. Enam orang melangkah masuk dari kegelapan hujan. Di depan mereka berdiri Maya, wanita dari klinik jiwa yang dulu membantu Aruna. Namun, sosok-sosok di belakangnya lah yang membuat Aruna terpaku.

Ada seorang pria paruh baya dengan bekas luka bakar di satu sisi wajahnya—dia adalah mantan akuntan Adhigana yang tahu semua jalur pencucian uang mereka. Ada seorang wanita muda yang tampak rapuh namun matanya sangat tajam—dia adalah ahli kimia yang dulu dipaksa meracik obat-obatan penenang di klinik. Dan sisanya adalah orang-orang yang penampilannya lebih mirip gelandangan, namun ada aura haus darah di mata mereka.

"Aruna," Maya melangkah maju, memeluk Aruna dengan erat. "Aku membawa mereka yang selamat. Kami menyebut diri kami 'The Scraps'—Sisa-Sisa. Kami adalah bukti bahwa Prabawa Adhigana tidak bisa memusnahkan segalanya."

Aruna menatap mereka satu per satu. "Aku tahu kalian telah kehilangan segalanya. Aku juga sama. Tapi hari ini, aku tidak mengajak kalian untuk meratapi masa lalu. Aku mengajak kalian untuk menghancurkan mereka yang telah mengambil hidup kita."

Pria dengan luka bakar itu, yang dikenal sebagai Haris, melangkah maju. "Kami tidak butuh pidato, Aruna. Kami butuh pemimpin yang tidak akan lari saat peluru mulai terbang. Kami dengar apa yang kau lakukan di galeri semalam. Kau menyelamatkan Siska? Wanita yang membantumu hancur?"

"Aku menyelamatkan informasi," jawab Aruna tegas. "Dan aku menyelamatkan seorang saksi yang akan membuat mereka membusuk di neraka. Aku tidak memaafkan, aku hanya menggunakan segala senjata yang ada. Jika kalian bersamaku, kalian bukan lagi korban. Kalian adalah bayangan yang akan menghantui setiap langkah Prabawa dan Nirwana."

Bambang tiba-tiba bersorak kecil dari pojok ruangan. "Wuih! Mantap banget pidatonya Mbak Bos! Pas banget sama musik latar yang lagi saya dengerin!"

Haris menatap Bambang dengan dahi berkerut, lalu kembali menatap Aruna. Ia perlahan berlutut di lantai gudang yang dingin, diikuti oleh yang lainnya. "Tunjukkan jalannya, Aruna. Kami akan menjadi tangan kananmu."

Malam itu juga, Aruna membagi tugas. Haris dan Bambang bekerja sama untuk meretas jalur logistik Adhigana. Maya dan sang ahli kimia menyiapkan pertahanan medis dan penawar jika mereka kembali diserang gas saraf. Adrian melatih taktik gerilya untuk mereka yang sanggup bertarung.

"Mbak Bos, liat ini," Bambang memanggil Aruna ke mejanya. "Saya nemu pola aneh. Nirwana ternyata baru saja membeli sebuah fasilitas terbengkalai di daerah pegunungan Jawa Barat. Mereka menyebutnya 'Project Nest'. Dan coba tebak siapa yang baru saja dikirim ke sana?"

Aruna mendekat, hatinya berfirasat buruk.

"Kenzo?" bisik Aruna.

"Bukan Kenzo," Bambang menggeleng. "Kenzo masih aman di lokasi rahasia yang Mas Adrian siapin. Tapi yang dikirim ke sana adalah... Bimo Pratama. Dia belum mati, Mbak! Tembakan di kapal kemarin cuma akting atau mungkin dia pake peluru hampa. Dia sekarang sedang menjalani prosedur 're-sosialisasi' oleh Nirwana."

Aruna memejamkan mata, menahan amarah yang meledak. Bimo masih hidup. Dan dia sedang dipersiapkan menjadi senjata baru oleh Nirwana.

"Bagus," ucap Aruna dingin. "Aku lebih suka dia masih hidup. Karena kematian yang dia berikan pada dirinya sendiri terlalu mudah. Dia harus merasakan apa yang aku rasakan."

Aruna menatap pasukan kecilnya yang kini sedang bersiap di bawah sana. Mereka adalah tentara bayangan. Orang-orang yang dianggap sudah mati oleh dunia, namun kini bangkit untuk menuntut balas.

"Bambang, siapkan rute menuju Jawa Barat," perintah Aruna. "Kita tidak akan menunggu mereka menyerang kita lagi. Kita yang akan mendatangi sarang mereka."

"Siap, Mbak Bos! Saya siapkan rute paling aman, plus daftar warung sate paling enak di sepanjang jalur pantura buat kita mampir," jawab Bambang sambil jempolnya naik.

Perang baru saja memasuki fase kedua. Bukan lagi pelarian, tapi Invasi.

Bersambung....

.

.

.

.

.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Bab 28: Menuju Sarang Burung.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!