NovelToon NovelToon
Tanah Berdebu

Tanah Berdebu

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan rahasia
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Warning !!!
Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat, atau alur, Adalah Hasil Imajinasi Penulis, Murni Kebetulan Semata. Interpretasi agama dalam cerita ini merupakan bagian dari pengembangan karakter dan tidak dimaksudkan untuk mengubah ajaran atau akidah yang ada. Terimakasih 🙏

Di balik jubah sucinya sebagai pewaris pesantren, Zavier El-Shaarawy menjalani kehidupan ganda yang gelap di gemerlap Kota A. Sebagai pria liar yang haus kebebasan, ia terjerat dalam asmara membara bersama Zaheera Bareeka, gadis kota yang menjadi pusat dunianya. Namun, rahasia itu runtuh saat takdir menyeret mereka kembali ke tembok pesantren yang kaku.
Demi menutupi dosa dan menyelamatkan kehormatan keluarga, Zavier nekat membawa Zaheera masuk ke dunianya. Di bawah pengawasan Keluarga, sebuah pernikahan rahasia dilangsungkan demi menghalalkan sentuhan yang terlanjur melampaui batas.

Happy Reading Dear 🤗🌷

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#7

Matahari sore di Kota B menggantung rendah, membiaskan cahaya jingga yang tajam di koridor utama Universitas Al-Iman. Angin pegunungan yang biasanya sejuk kini terasa membawa hawa ketegangan bagi Zaheera.

Di hadapannya, Gus Azlan berdiri tegak seperti monumen batu yang tak tergoyahkan. Jubah kewibawaannya seolah menghimpit ruang gerak Zaheera, membuatnya merasa seperti terdakwa di pengadilan terbuka.

"Zaheera," suara Azlan berat, datar, namun sarat akan penekanan. "Ayahmu, Pak Narendra, datang ke sini bukan sekadar pindah domisili. Beliau sedang menjemput hidayah, sedang mencari ridho Tuhannya dengan sungguh-sungguh."

Azlan melangkah satu tindak lebih dekat, membuat Fatimah yang berdiri di samping Zaheera semakin menunduk takzim.

"Besok, saat kamu menginjakkan kaki lagi di kampus ini, usahakan pakailah kerudung. Minimal penutup kepala yang sopan," lanjut Azlan. Matanya yang tajam menatap helai-helai rambut Zaheera yang tergerai seolah itu adalah sebuah pelanggaran berat. "Ini bukan hanya soal aturan kampus yang tertulis di buku panduan mahasiswi. Ini soal menjaga marwah ayahmu di lingkungan ini. Kamu adalah wajah dari proses hijrahnya. Jangan sampai perilaku atau penampilanmu menjadi fitnah bagi kesungguhan Pak Narendra."

Zaheera merasakan gejolak kemarahan di ulu hatinya. Di Kota A, tidak ada yang berani mengatur cara berpakaiannya, bahkan ayahnya sekalipun. Namun di sini, pria asing yang baru ia kenal hari ini bicara seolah-olah memegang kendali atas moralitas keluarganya.

Ia melirik Fatimah yang tampak gelisah, lalu kembali menatap Azlan. Zaheera ingin membantah, ingin mengatakan bahwa iman tidak diukur dari selembar kain. Namun, ia teringat wajah Zavier. Ia teringat peringatan Zavier untuk tidak memancing keributan dengan kakaknya yang "hitam-putih" ini.

"Saya usahakan, Gus," jawab Zaheera singkat, ketus, dan tanpa senyum. Kalimat itu ia lontarkan hanya agar pria di depannya ini cepat pergi dan berhenti menceramahinya.

Azlan mengangguk sekali, sebuah gerakan kaku yang menandakan ia menerima jawaban itu sebagai janji formal. "Bagus. Saya pegang kata-katamu. Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam," gumam Zaheera lirih.

Di saat yang sama, di lantai dua gedung Syariah yang berseberangan dengan koridor Ekonomi, Zavier berdiri mematung di balik jendela kaca yang buram. Tangannya mencengkeram pembatas balkon kayu hingga buku-bukunya memutih, menyalurkan rasa frustrasi yang tak tersalurkan.

Dari posisi itu, ia melihat semuanya. Ia melihat gestur tubuh Azlan yang dominan dan bagaimana Zaheera tampak mengerutkan kening, menahan ketidaknyamanan yang luar biasa.

“Oh tidak, Sayang... semoga kamu tidak dalam masalah besar,” batin Zavier cemas.

Darahnya berdesir panas. Ada insting purba di dalam dirinya yang ingin berlari menuruni tangga, menerjang lapangan tengah, dan menarik Zaheera dari hadapan kakaknya.

Di Kota A, ia adalah perisai bagi Zaheera. Jika ada pria yang berani mengganggu atau mengusik kenyamanan kekasihnya, Zavier tidak akan segan untuk bertindak.

Namun di sini, ia lumpuh. Ia hanyalah Gus Zavier yang "teladan". Ia tidak bisa menyapa kekasihnya sendiri di depan umum tanpa mempertaruhkan nyawa spiritual keluarganya dan kehormatan pesantren yang telah dibangun berpuluh-puluh tahun oleh keluarga nya. Ia merasa sangat tidak berdaya, terkurung dalam sangkar emas kemunafikan yang ia ciptakan sendiri.

"Zavier? Kenapa melamun di jendela? Kelas Fiqih sebentar lagi dimulai," suara Yusuf, teman sekelasnya, mengejutkannya dari belakang.

Zavier tersentak, bahunya menegang sesaat sebelum ia berhasil memutar badan dan memasang kembali topeng ketenangannya yang sempurna. Ia tersenyum tipis, sebuah senyum mekanis yang sudah ia latih selama beberapa minggu terakhir.

"Oh, tidak apa-apa, Suf. Hanya sedang menghirup udara segar sebentar. Di dalam kelas agak pengap," jawab Zavier tenang.

Yusuf ikut melirik ke arah jendela, melihat sosok Azlan yang baru saja meninggalkan koridor Ekonomi. "Tadi itu Gus Azlan, ya? Wah, beliau memang dosen paling disiplin di sini. Lihat saja, mahasiswi baru itu pun langsung diberi bimbingan secara privat. Beliau benar-benar tidak pandang bulu kalau soal ketertiban."

Yusuf tertawa kecil, menganggap itu hal biasa, tanpa tahu bahwa pria yang berdiri di depannya sedang menahan badai hebat di dalam dadanya. Zavier hanya bisa mengangguk kaku, memaksakan diri untuk berjalan menuju bangkunya sementara pikirannya masih tertinggal di bawah sana, bersama Zaheera.

Setelah bayangan Azlan menghilang di balik tikungan gedung rektorat, Fatimah menarik napas lega yang sangat panjang, seolah-olah ia baru saja lolos dari terkaman singa.

"Ayo, Zaheera. Kita pulang sekarang. Gus Azlan memang begitu, beliau sangat menjaga ketertiban dan nama baik keluarga pesantren. Jangan dimasukkan ke hati ya, beliau hanya ingin yang terbaik untukmu," ucap Fatimah sambil menepuk bahu Zaheera dengan lembut.

Zaheera mendengus kasar. Ia menyampirkan tasnya ke bahu dengan gerakan emosional. "Dia dosen atau polisi moral? Menyebalkan sekali! Dia bicara seolah-olah aku ini pembawa sial bagi Ayahku sendiri," ucap Zaheera dengan suara yang bergetar karena marah.

"Sshhh... pelankan suaramu, Zee. Nanti ada yang dengar," bisik Fatimah cemas, melirik ke sekeliling.

"Aku tidak peduli, Fatimah! Dia tidak tahu apa-apa tentang aku atau Ayahku. Dia hanya melihat pakaianku dan langsung menghakimi hatiku," Zaheera melangkah lebar menuju area parkir, meninggalkan Fatimah yang berusaha mengejarnya.

Di dalam hatinya, Zaheera merasakan perih yang mendalam. Ia merasa asing, ditolak, dan dihakimi. Satu-satunya alasannya bertahan di tempat ini adalah Zavier. Namun, melihat Zavier yang hanya bisa diam mematung di gedung seberang tanpa berani membelanya, membuat Zaheera merasa kesepian di tengah keramaian.

Ia takut, peringatan Azlan tadi hanyalah awal dari rangkaian pemaksaan yang akan merampas jati dirinya. Ia mencintai Zavier, tapi ia benci bagaimana cinta ini memaksanya menjadi orang lain yang ia sendiri tidak kenali di depan cermin.

Di lantai dua, Zavier kembali melirik ke arah parkiran. Ia melihat mobil Zaheera bergerak meninggalkan kampus. Sebuah pesan singkat ia ketik dengan jemari gemetar di ponsel rahasianya:

Zavi : Tadi Mas Azlan bilang apa? Maafkan dia, Sayang. Dia memang kaku. Nanti malam aku akan carikan cara untuk menemuimu. Sabar ya, I love you.

Zavier meletakkan ponselnya kembali ke saku. Ia duduk di kelas, mendengarkan penjelasan tentang hukum pernikahan, sementara hatinya menangis karena menyadari bahwa pernikahan impiannya dengan Zaheera mungkin akan selalu menjadi rahasia yang tercekik oleh dinding-dinding tinggi pesantren ini.

🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰

1
winpar
lnjuttttttt💪💪💪💪💪lnjuttttttt
Ros🍂: Okay kak🥰
total 1 replies
winpar
thorrrr lnjut ceritanya thorrrr
Ros🍂: ashiappp kak🥰
total 1 replies
Nasya Sifa Aura
semangat thor 💪💪💪
Ros🍂: Jangan lupa di-like ya kak🙏 biar Author semangat, ma'aciww 🥰
total 1 replies
Nasya Sifa Aura
di tggu up ny ya thor jgn lm2 ,, aku nggak sanggup nggu lm2 🤣🤣🤣
Ros🍂: persis Zavier 🤣 nggak kuat lama-lama 🥰🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!