Di lembah Brantas yang tenang, Wira hidup sebagai pemuda desa biasa, tanpa nama besar, tanpa warisan, dan tanpa tahu bahwa darah yang mengalir di tubuhnya menyimpan rahasia berbahaya. Ketika desa tempat ia tinggal dibakar dalam pusaran perebutan kuasa antara Gelang-Gelang, Singhasari, dan para penguasa yang saling mengkhianati, Wira kehilangan segalanya dalam satu malam. Dari reruntuhan itu, ia dipaksa melarikan diri, bertahan hidup, dan perlahan menapaki jalan yang mengubahnya dari anak desa menjadi pendekar yang disegani.
Di bawah bimbingan Ki Rangga, bersama sahabat setianya Panca, Wira melewati latihan keras, perburuan, pengkhianatan, dan pertarungan hidup-mati. Sementara itu, Jayakatwang dan kekuatan-kekuatan besar lain bergerak di atas panggung sejarah, menjatuhkan kerajaan dan membangun tatanan baru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Nama Lama yang Kembali
Pintu rumah singgah tua itu masih tertutup rapat, tetapi suara dari luar telah membuat suasana di dalam berubah total.
Wira berdiri kaku di dekat meja kecil, lempeng kayu miliknya masih tergenggam, sementara kertas tua pemberian ibunya terasa makin berat di tangan. Panca sudah merapat ke sisi dinding, wajahnya tegang dan napasnya lebih cepat dari biasanya. Jaya menatap pintu tanpa berkedip, seolah sedang menimbang satu keputusan yang sudah lama ia hindari. Ki Rangga sendiri tidak bergerak. Namun dari ketenangan tubuhnya, Wira tahu gurunya sedang bersiap untuk sesuatu yang serius.
Di luar, orang itu kembali berbicara.
“Buka. Aku tidak datang untuk berdebat.”
Suara itu terdengar tenang, dalam, dan asing sekaligus akrab. Ada wibawa yang tidak dibuat-buat. Wira memandang Ki Rangga, mencari tanda pengenal dari wajah gurunya. Tetapi Ki Rangga tetap diam. Itu justru membuat dada Wira semakin sesak.
Panca berbisik, “Kau kenal suaranya?”
Ki Rangga tidak menjawab segera. Baru setelah hening sejenak, ia berkata, “Kenal.”
Wira menoleh cepat. “Siapa?”
Ki Rangga menatap pintu. “Seseorang dari masa lalu.”
“Jawabanmu selalu makin menyebalkan,” gumam Panca.
Jaya menarik napas pelan, lalu berkata, “Kalau dia yang datang sendiri, berarti kita memang sudah terlambat.”
Wira menatap Jaya. “Kau tahu siapa di luar?”
Jaya mengangguk singkat. “Aku pernah melihatnya dulu. Orang itu bukan biasa.”
Ki Rangga akhirnya bergerak. Ia mengambil satu langkah ke pintu, tetapi tidak langsung membukanya. Tangan kanannya tetap dekat pinggang, dan matanya tidak pernah lepas dari celah kayu. Wira bisa merasakan ketegangan merambat ke seluruh ruangan. Bahkan udara seperti menahan napas bersama mereka.
Lalu terdengar suara ketukan sekali lagi.
Bukan keras. Justru terlalu tenang.
“Ki Rangga,” suara di luar memanggil nama itu dengan jelas.
Wira langsung menatap gurunya. Nama itu bukan dipanggil sembarang. Orang yang tahu namanya pasti benar-benar mengenal.
Ki Rangga memejamkan mata sesaat, lalu membuka pintu perlahan.
Angin malam menyelinap masuk bersama cahaya bulan yang redup. Di ambang pintu berdiri seorang pria berusia sekitar lima puluhan, berpakaian rapi meski debu jalan menempel di ujung pakaiannya. Tubuhnya tegak, rambutnya mulai memutih di pelipis, dan di wajahnya ada garis-garis tegas yang menunjukkan ketegasan lama, bukan ketuaan lemah. Sorot matanya langsung menyapu ruangan, lalu berhenti pada Ki Rangga, Jaya, dan akhirnya Wira.
Wira menahan napas.
Ada sesuatu pada wajah pria itu yang membuat dadanya bergetar. Bukan karena ia mengenalnya, melainkan karena wajah itu tampak seperti wajah seseorang yang pernah berada dekat dengan cerita yang kini mengejarnya. Pria itu menatap Wira lama, lalu mengalihkan pandangan ke kotak kayu di meja.
“Jadi benar,” katanya pelan. “Kau sudah menemukannya.”
Ki Rangga menatapnya tajam. “Raden Seta.”
Panca langsung menoleh ke Wira dengan ekspresi bingung. “Raden?”
Jaya sedikit mengernyit, seakan nama itu memang menegaskan dugaan buruknya.
Pria di ambang pintu itu—Raden Seta—memandang Ki Rangga tanpa senyum. “Aku kira kau sudah lebih berhati-hati.”
“Aku juga,” jawab Ki Rangga datar. “Sampai kau datang membawa orang-orang.”
Raden Seta menghela napas kecil, lalu melangkah masuk satu langkah. “Aku datang sendiri.”
Panca memandang ke luar, lalu kembali ke dalam. “Sendiri? Dengan begitu banyak suara di luar?”
Wira juga mendengar langkah tambahan di kejauhan, tapi tidak terlalu dekat. Raden Seta tampaknya memang tidak membawa banyak orang masuk, tetapi jelas ada kelompok yang menjaga di luar. Itu membuat situasi lebih berbahaya. Orang itu datang sambil tetap memegang kendali.
Raden Seta menatap Panca sekilas. “Mereka bukan pasukanku. Mereka pengikut jalur lama yang ikut bergerak saat tahu kabar ini menyebar.”
Jaya langsung menyipit. “Jadi kau memang sudah tahu?”
Raden Seta menatap Jaya singkat. “Aku tahu lebih lama dari yang kau kira.”
Wira mendengus pelan. Semua orang seolah tahu sesuatu yang tidak ia tahu. Ia mulai muak dengan keadaan itu. “Kalau kalian semua tahu, kenapa aku yang selalu terlambat?”
Tak ada yang langsung menjawab.
Raden Seta justru memandang Wira lebih penuh. “Karena kau baru sekarang sampai pada pintu yang sebenarnya.”
Kalimat itu membuat ruangan makin sunyi. Wira merasakan keringat dingin di tengkuk. Ia menatap pria itu dengan waspada. “Siapa kau sebenarnya?”
Raden Seta tidak langsung menjawab. Ia menoleh ke Ki Rangga, seolah meminta izin atau setidaknya memastikan bahwa percakapan ini tidak meledak terlalu cepat. Ki Rangga hanya menatap balik dengan wajah datar.
Akhirnya Raden Seta berkata, “Dulu aku bagian dari lingkaran yang dekat dengan keluargamu.”
Wira menegang. “Keluargaku?”
“Ya.”
“Dan ibuku?”
Wajah Raden Seta berubah sedikit, nyaris tak terlihat. Tetapi cukup bagi Wira untuk tahu bahwa pertanyaan itu menyentuh sesuatu yang lama disimpan.
“Dulu ibumu bukan sekadar perempuan biasa,” kata Raden Seta perlahan. “Ia berada di tengah keputusan yang bisa mengubah banyak hal.”
Panca menggaruk kepala. “Semua orang selalu bilang begitu. Kenapa tidak ada yang mau bicara jelas?”
Raden Seta menatapnya singkat. “Karena kebenaran yang jelas sering terlalu berbahaya untuk diucapkan di tempat yang salah.”
Ki Rangga akhirnya bicara. “Kau datang ke sini untuk mengambil kotak itu?”
“Bukan mengambil,” jawab Raden Seta. “Meneruskan.”
Jaya langsung mengernyit. “Meneruskan ke siapa?”
Raden Seta memandang Wira. “Ke orang yang berhak membukanya.”
Wira refleks menatap kotak kayu di meja. Tiba-tiba benda itu terasa seperti pusat ruangan. Ia menatap Raden Seta lagi. “Itu berarti aku?”
“Bisa jadi.”
“Bisa jadi?” Wira mengangkat suara. “Kalian semua bicara seolah aku hanya tebakan!”
Raden Seta menatapnya dengan sabar. “Karena kau masih harus membuktikannya.”
Panca menggeram kecil. “Nah, ini dia. Orang tua satu ini lebih menyebalkan daripada Jaya.”
Jaya melirik Panca. “Terima kasih.”
Ki Rangga melangkah ke samping meja dan menutup kotak kayu itu kembali. “Kalau kau datang membawa kabar, katakan semuanya. Jangan berputar-putar.”
Raden Seta menarik napas. “Baik.”
Ia menatap mereka satu per satu, lalu berkata, “Orang-orang yang mengejarmu sejak awal tidak hanya mencari benda. Mereka mencari jalur yang mengarah ke ruang lama. Ruang yang dulu ditutup karena isinya terlalu berbahaya untuk disimpan di tangan yang salah.”
Wira menatapnya tajam. “Ruang lama itu apa?”
“Aku tidak akan memanggilnya dengan nama aslinya di sini,” jawab Raden Seta. “Tapi kau sudah cukup dekat. Dua bagian yang kalian pegang itu adalah kunci.”
Jaya langsung menegaskan, “Dan masih ada satu lagi.”
Raden Seta mengangguk. “Benar.”
Panca menutup wajah sebentar. “Kenapa selalu ada satu lagi?”
“Karena yang disimpan dulu memang dipisah menjadi tiga bagian,” kata Raden Seta. “Satu dipegang keluargamu, satu disembunyikan di tempat ini, dan satu lagi hilang sebelum sempat dipindahkan.”
Wira memandang mereka semua bergantian. “Jadi kami belum lengkap.”
“Belum,” jawab Ki Rangga.
Wira memejamkan mata sesaat. Kata “belum” itu terasa seperti kutukan. Ia sudah menempuh banyak jalan, dikejar berkali-kali, dan sekarang justru baru tahu bahwa yang ia pegang masih belum utuh.
Raden Seta menatapnya. “Karena itu aku datang malam ini.”
Jaya menyilang tangan. “Kalau begitu, orang-orang di luar bukan pengikutmu?”
“Bukan sepenuhnya,” jawab Raden Seta. “Sebagian datang karena aku, sebagian lagi karena mereka mencium gerakan lama. Dan sebagian lain… mungkin sudah lebih dulu memihak lawan.”
Ki Rangga menyipitkan mata. “Berarti kau tidak sepenuhnya mengendalikan situasi.”
“Kalau aku bisa mengendalikan semuanya, aku tidak akan datang malam-malam seperti orang buronan,” balas Raden Seta.
Panca terkekeh pendek, lalu langsung menutup mulut karena suasana tetap tegang.
Wira memandang Raden Seta lebih lama. “Kalau kau tahu semua ini, kenapa ibuku tidak mencarimu?”
Raden Seta diam sejenak. “Karena ia percaya aku bisa dilacak.”
Wira terdiam.
“Dan mungkin ia benar,” lanjut Raden Seta. “Karena setelah itu, semuanya menjadi lebih rumit.”
Ruangan kembali hening. Wira merasakan ada sesuatu yang bergerak di balik kata-kata itu. Ibunya pernah mengenal orang-orang yang kini berdiri di depannya. Bukan hanya Jaya. Bukan hanya Ki Rangga. Bahkan Raden Seta pun seolah bagian dari lingkaran lama yang terlalu dekat dengan rahasia keluarga mereka.
Ki Rangga memecah diam. “Kau datang sekarang, artinya ada perubahan.”
Raden Seta mengangguk. “Ada pengkhianat.”
Jaya langsung menegakkan tubuh. “Siapa?”
“Kalau kusebut nama, kau mungkin sudah tahu.”
Wira menatapnya waspada. “Berarti orang dalam.”
Raden Seta mengangguk. “Sangat dalam.”
Panca mengerutkan dahi. “Dan itu orang yang memimpin mereka malam ini?”
Raden Seta menatap pintu sejenak sebelum menjawab. “Bisa jadi. Atau orang yang meletakkan jalan agar mereka tiba di sini.”
Wira merasa jantungnya memukul lebih keras. Pintu belakang rumah singgah itu terasa makin rapuh. Di luar, langkah-langkah mulai terdengar lebih jelas. Orang-orang yang menjaga tempat itu seperti bergerak memposisikan diri. Bukan tanda baik.
Ki Rangga mengangkat tangan. “Kita tidak akan keluar lewat depan.”
“Setuju,” kata Raden Seta. “Tapi sebelum itu, kalian harus tahu satu hal lagi.”
Wira menatapnya. “Apa?”
Raden Seta menatap kotak kayu di meja. “Keping logam yang kalian temukan bukan hanya pasangan dari lempeng milikmu. Ia adalah penanda arah.”
Wira membeku. “Arah ke mana?”
“Ke tempat yang dulu dijaga paling ketat.”
Panca langsung memotong, “Boleh tidak sekali ini kau bicara tanpa teka-teki?”
Raden Seta menatapnya tenang. “Kalau aku bicara terlalu terang di sini, orang luar bisa menangkap potongan informasinya. Dan itu cukup untuk membuat semua yang kita simpan sia-sia.”
Jaya menghela napas, lalu berkata, “Jadi ada tempat yang harus kita cari sebelum mereka.”
“Ya,” jawab Raden Seta.
Ki Rangga menatapnya tajam. “Dan tempat itu sekarang bisa dibuka oleh Wira?”
Raden Seta mengangguk. “Kalau dia siap.”
Wira merasakan tenggorokannya kering. Ia ingin berkata bahwa ia tidak merasa siap untuk apa pun, tetapi kalimat itu terlalu jujur bahkan untuk dirinya sendiri. Yang benar adalah ia sudah lelah lari, lelah disembunyikan, dan lelah dijadikan bagian dari rahasia yang tak selesai. Namun di sisi lain, ia juga takut pada jawaban yang mungkin akan muncul jika pintu itu benar-benar terbuka.
“Apa yang ada di tempat itu?” tanya Wira akhirnya.
Raden Seta menatapnya lama. “Sesuatu yang dulu diselamatkan ibumu.”
“Benda?”
“Bisa dibilang begitu.”
“Dan kenapa itu penting?”
Raden Seta menatap Wira dengan sorot yang tidak mudah dibaca. “Karena di dalamnya ada alasan kenapa kau diburu sampai sejauh ini.”
Kalimat itu menghantam Wira lebih keras daripada suara apa pun di luar. Selama ini ia hanya menebak-nebak. Tapi sekarang ia mendengar bahwa perburuan ini bukan kebetulan, bukan salah sasaran, bukan sekadar kesalahpahaman. Ada alasan. Dan alasan itu berasal dari sesuatu yang sengaja disembunyikan ibunya.
Terdengar bunyi keras dari luar.
Bukan ketukan kali ini. Melainkan seperti pintu depan didorong paksa.
Semua orang langsung menegang.
Ki Rangga menatap Raden Seta. “Mereka masuk.”
Raden Seta mengerutkan rahang. “Sudah kuduga terlalu cepat.”
Panca langsung berdiri. “Jadi sekarang bagaimana?”
Jaya bergerak cepat menuju jendela kecil di sisi ruangan, mengintip ke luar. “Ada lebih dari lima.”
Ki Rangga mengangguk singkat. “Cukup untuk memaksa.”
Wira meremas kertas ibunya hingga hampir kusut. “Kita harus lari lagi?”
Raden Seta memandangnya. “Tidak jika kita mau memanfaatkan rumah ini.”
“Caranya?” tanya Wira.
Raden Seta mengangkat tangan ke arah papan lantai di sisi belakang meja. “Ada ruang bawah. Jalur kecil menuju luar. Dulu dipakai untuk menyelamatkan barang penting.”
Panca menatapnya tidak percaya. “Kau serius baru bilang sekarang?”
“Sekarang baru perlu,” jawab Raden Seta.
Ki Rangga langsung mengangguk. “Buka.”
Mereka bergerak serempak. Jaya dan Panca menggeser meja kecil dari atas papan. Ki Rangga membantu menarik penutup lantai yang sudah disamarkan. Di bawahnya tampak lubang gelap dengan tangga kayu sempit turun ke bawah. Udara dari sana lembap dan dingin, seperti ruang yang lama tertutup.
Wira menatap lubang itu, lalu menatap kotak di meja. Ia tahu malam ini belum selesai. Tapi untuk pertama kalinya ia melihat arah yang lebih jelas daripada sekadar kabur tanpa tujuan.
Raden Seta menepuk bahu Wira sekali, ringan namun tegas. “Kau harus memegang ini.”
Wira menatapnya. “Apa maksudmu?”
“Kalau jalur itu benar, maka kau harus yang pertama masuk.”
Wira menelan ludah. “Kenapa aku?”
Raden Seta menatapnya lurus. “Karena dari semua orang di ruangan ini, kaulah yang paling diincar.”
Di luar, suara orang-orang makin gaduh. Seseorang berteriak memanggil nama yang tak jelas. Pintu depan mulai digedor.
Ki Rangga menatap Wira. “Tak ada waktu.”
Wira mengangguk pelan, lalu menggenggam lempeng kayu dan kertas ibunya erat-erat. Ia menatap Jaya, Panca, lalu Raden Seta. Mereka semua tampak tegang, tetapi juga siap.
Satu per satu, mereka mulai turun ke ruang bawah yang gelap.
Dan saat Wira menuruni tangga kayu sempit itu, ia tahu satu hal dengan sangat jelas: malam ini bukan hanya soal selamat atau tidak. Malam ini adalah langkah pertama menuju rahasia yang selama ini dijaga ibunya dengan nyawa.
bukin pusing aja