NovelToon NovelToon
Gadis Milik Tuan Dingin

Gadis Milik Tuan Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Helena Fox

Aliora Amerta gadis cantik 19 tahun. Hidupnya berubah ketika pamannya berhutang besar pada Saga. Untuk melunasi hutang itu, Liora dipaksa menikah dengan Saga, pria yang sangat ditakutinya.

Sagara Verhakc berusia 27 tahun. Di dunia bisnis ia dikenal sebagai CEO jenius dan juga kejam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Helena Fox, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 7

Pintu kamar terbuka.

Klik.

Liora langsung tahu… ini bukan kamarnya.

Ruangan itu jauh lebih besar. Lebih gelap. Lebih dingin. Setiap sudutnya terasa asing… dan menekan.

Tubuhnya masih berada dalam gendongan Saga.

“A-aku mau ke kamarku…” ucapnya pelan, suaranya gemetar.

Tidak ada jawaban.

Saga melangkah masuk, lalu menutup pintu dengan satu dorongan.

BRAK.

Suara itu menggema. Jantung Liora langsung berdegup kencang.

Ia mulai panik.

“Ini… ini kamar siapa…” tanyanya, meski sebenarnya ia sudah tahu jawabannya.

Saga menurunkannya di atas ranjang besar di tengah ruangan.

Empuk.

Namun terasa seperti jebakan.

“Kamar aku,” jawabnya singkat.

DEG.

Liora langsung bangkit, meski kakinya terasa sakit.

“Enggak! Aku gak mau di sini!” katanya cepat, mundur pelan dari ranjang.

Tatapannya mulai gelisah.

Panik.

“Aku mau ke kamar aku… tolong…”

Namun langkahnya terhenti. Karena Saga sudah berdiri di depannya.

Menghalangi jalan.

Tatapan itu…

tajam.

Dingin. Tak tersentuh.

“Mulai malam ini kamu tidur di sini,” ucapnya datar.

Bukan ajakan.

Bukan permintaan. Melainkan Perintah.

Liora menggeleng cepat.

“Enggak… aku gak mau… aku takut…” suaranya mulai pecah.

Sisi polos dan penakutnya terlihat jelas sekarang.

Ia bukan gadis pemberontak lagi. Ia hanya… gadis yang ketakutan.

“Aku janji aku gak bakal kabur… aku cuma mau di

 kamarku…”

Tatapan mereka bertemu...

Lalu..

Saga mengeluarkan sesuatu dari balik jasnya.

Klik.

Pistol itu kembali muncul.

Diletakkan di meja samping ranjang.

Tidak diarahkan. Tidak diangkat.

Tapi cukup terlihat. Cukup untuk membuat pesan itu jelas.

Udara berubah dingin. Liora terdiam. Matanya tertuju pada benda itu.

Napasnya mulai tidak teratur.

“Naik ke ranjang,” ucap Saga rendah.

Air mata liora jatuh lagi.

Namun—

tidak ada perubahan di wajah Saga. Ia tetap menatap Liora tanpa ekspresi.

Lalu perlahan…

ia melangkah mendekat. Satu langkah.

Dua langkah.

Liora mundur.

Sampai akhirnya—

punggungnya menyentuh dinding.

Terjebak.

“Takut?” tanya Saga rendah.

Liora mengangguk kecil. Tubuhnya gemetar.

Saga terdiam sejenak.

Lalu—

ia mengangkat tangannya.

Dan—

menekan sesuatu di samping.

Klik.

Lampu redup. Ruangan menjadi lebih gelap.

Lebih menekan.

“Kalau kamu tetap keras kepala…” ucapnya pelan, hampir berbisik, “aku bisa buat kamu lebih takut dari ini.”

DEG!

Napas Liora tercekat.

Ia langsung menggeleng cepat.

“Ja-jangan… aku… aku nurut…”

Akhirnya.

Ia menyerah. Bukan karena ingin.

Tapi karena takut. Saga menatapnya beberapa detik.

Memastikan.

Lalu ia berbalik.

Melepas jasnya dengan tenang, seolah semua ini hal biasa.

Sementara Liora masih berdiri di tempat, tidak berani bergerak.

“Tidur,” ucap Saga tanpa menoleh.

Liora ragu.

Namun perlahan…

ia berjalan ke arah ranjang. Naik dengan hati-hati.

Duduk di ujung, menjaga jarak sejauh mungkin.

Tubuhnya kaku. Tangannya menggenggam ujung bajunya.

Saga ikut naik ke ranjang. Dan itu saja sudah cukup membuat Liora menegang.

Ia refleks mundur sedikit lagi.

“Ja-jangan dekat-dekat…” bisiknya.

Saga melirik sekilas.

“Kalau aku mau sesuatu,” ucapnya datar, “kamu tidak akan bisa menolak dari tadi.”

Kalimat itu…

jujur.

Dan justru membuat Liora semakin diam.

Ia tidak punya bantahan.

Saga berbaring di sisi lain ranjang. Jarak mereka tidak terlalu dekat.

Namun tetap terasa… terlalu dekat bagi Liora.

Sunyi.

Hanya suara napas mereka yang terdengar.

Beberapa menit berlalu. Liora masih terjaga.

Matanya terbuka.

Takut.

Gelisah.

Ia melirik pelan ke arah Saga. Pria itu memejamkan mata.

Tenang.

Seolah tidak ada apa-apa.

Padahal…

semua yang terjadi hari ini…menghancurkan hidupnya.

Liora menarik selimut pelan.Menutup sebagian tubuhnya.

Masih berjaga.

Masih takut.

"“Tidur,” ucap saga singkat.

Liora tidak bergerak. Ia tetap berbaring membelakangi saga, memeluk dirinya sendiri.

Ketakutan.

Saga membuka matanya menatap sekilas.

Lalu—

tanpa aba-aba—

ia menarik tubuh Liora.

“AAK—!”

Liora terkejut saat tubuhnya langsung ditarik mendekat.

Dan dalam sekejap—

ia sudah berada dalam pelukan Saga.

Terkunci.

Kuat.

“T-tunggu! Lepasin aku!” Liora panik, mencoba mendorong dada Saga.

Namun sia-sia.

Pelukan itu tidak memberi ruang. Bukan lembut.

Lebih seperti… menahan.

“Diam,” bisik Saga di dekat telinganya.

Suaranya rendah.

Dalam.

“ Apa kamu ingin aku menggunakan senjata itu? hmm.."

Deg.

Kalimat itu membuat Liora langsung terdiam. Membeku.

Seluruh tubuhnya masih gemetar. Tambah gemetar.

Ia tetap mencoba menjauh sedikit.

“Kamu brengsek … aku takut…” suaranya nyaris tak terdengar.

Untuk pertama kalinya. ia terdengar sangat kecil.

Sangat rapuh. Saga tidak langsung menjawab. Tangannya masih melingkari tubuh Liora.

Menahan. Menjaga agar ia tetap di tempat.

“Aku tidak peduli,” ucapnya akhirnya.

Tetap dingin. Tapi tidak mengancam seperti sebelumnya.

Liora menutup matanya. Air matanya terus mengalir diam-diam.

Namun ia tidak lagi meronta. Bukan karena nyaman.

Tapi karena…

tidak punya kekuatan lagi.

Beberapa menit berlalu.

Hening.

Hanya suara napas mereka yang terdengar.

Dan perlahan…

pelukan itu tidak lagi terasa sekeras tadi. Namun Masih kuat.

Tapi… tidak menyakitkan.

Saga memejamkan matanya sementara. Dengan Liora di dalam pelukannya.

Sementara Liora…

masih terjaga.

Matanya terbuka dalam gelap.Jantungnya berdetak cepat.Namun entah kenapa…

di balik rasa takut itu—

ia mulai merasakan sesuatu yang asing. justru membuatnya semakin bingung.Namun perlahan.

rasa lelah mengalahkan segalanya. Matanya mulai terpejam.

Dan malam itu…

untuk pertama kalinya—

Liora tidur…di sisi pria yang paling ia takuti.

Sementara di sisi lain,

Saga membuka matanya kembali. Menatap langit-langit.

Sunyi.

Tak tersentuh. Namun untuk pertama kalinya…

ia tidak tidur di markasnya. Melainkan di mansion.

Bersama seorang gadis…

yang berhasil mengganggu ketenangannya.

.

.

.

.

.

 .

.

.

Bersambung.............................

1
park jongseong
cerita yang menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!