NovelToon NovelToon
Bumi 6026

Bumi 6026

Status: sedang berlangsung
Genre:Hari Kiamat / Penyelamat / Time Travel / Fantasi Isekai / Dikelilingi wanita cantik / Harem
Popularitas:858
Nilai: 5
Nama Author: imafi

Bumi, anak SMA biasa yang cuma jago ML, terbangun pada tahun 6026 untuk menjadi penolong dunia. Ia harus mencari sebuah daerah yang paling aman di muka bumi, tapi ia malah terdampar di wilayah yang hanya diisi oleh perempuan muda dan cantik. Pemimpin mereka ingin Bumi menghamili semua yang ada di sana, padahal ternyata mereka adalah...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon imafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Bab 11

Hutan itu seperti makhluk hidup yang bernapas pelan, tapi dalam dan berat. Udara terasa lembap, menggantung seperti kain basah yang tak pernah dijemur. Setiap langkah Pam dan Bumi menginjak tanah yang lunak, seperti menginjak sesuatu yang sudah terlalu lama diam di tempatnya, menyimpan rahasia, membusuk perlahan tanpa pernah benar-benar mati.

Cahaya matahari hanya jatuh dalam serpihan kecil di antara dedaunan yang rapat. Sinar itu tampak pucat, seperti sudah kelelahan sebelum sampai ke tanah. Di beberapa tempat, batang pohon membengkak aneh, berurat seperti daging yang membeku. Lumut tumbuh tebal, berwarna kehijauan gelap dengan semburat keunguan, seolah hutan ini sedang mencoba menjadi sesuatu yang lain.

Bumi berjalan di belakang Pam, napasnya sedikit terengah. Bajunya basah oleh keringat, menempel di punggung seperti kulit kedua yang tidak nyaman.

“Aku nggak suka tempat ini,” gumam Bumi pelan, matanya menyapu sekitar dengan waspada.

Pam tidak menoleh. Langkahnya ringan, hampir tanpa suara, seperti ia sudah menjadi bagian dari hutan itu sendiri.

“Tempat ini juga nggak suka kamu,” jawab Pam santai, setengah bercanda, setengah serius.

Bumi mendecak, tapi tidak sempat membalas.

Suara ranting patah tiba-tiba terdengar dari belakang.

Krek.

Keduanya langsung berhenti.

Hening.

Lalu—

GRRAAAAKK!

Sesuatu menerobos semak-semak dengan suara kasar. Seekor makhluk muncul—tubuhnya seperti kadal raksasa, tapi sisiknya tebal dan berlapis seperti tempurung kura-kura. Setiap langkahnya berat, membuat tanah sedikit bergetar. Matanya kecil, tapi berkilat liar.

“Lari!” teriak Pam.

Tidak perlu disuruh dua kali. Bumi langsung berbalik dan berlari, jantungnya seperti dipukul dari dalam. Nafasnya memburu, dunia di sekitarnya berubah menjadi kabur hijau dan cokelat.

Suara makhluk itu mengejar dari belakang—gesekan sisik dengan tanah, napas berat, dan dentuman langkah yang semakin dekat.

Pam melompat ke sebuah pohon, tangannya cekatan meraih dahan, kakinya menapak cepat seperti ia tidak punya berat.

“Naik!” teriaknya dari atas.

Bumi mencoba mengikuti. Ia memegang batang pohon yang licin oleh lumut.

“Cepat, Bum!” suara Pam tegang.

Bumi menarik tubuhnya naik, tapi kakinya terpeleset. Lumut itu seperti minyak, licin dan dingin. Tubuhnya meluncur turun.

“Ah—!”

Makhluk itu sudah sangat dekat. Bumi bisa mencium bau busuk dari mulutnya, seperti bangkai yang terlalu lama terendam air.

Rahangnya terbuka.

Detik itu terasa melar panjang.

Bumi memejamkan mata.

DOR!

Suara tembakan memecah hutan.

Bumi membuka mata. Makhluk itu terhuyung. Sisiknya retak di bagian kepala, tapi belum tumbang.

“Pegangan!” teriak Pam.

Bumi mencoba lagi, kali ini dengan panik. Ia berhasil menarik tubuhnya naik beberapa senti.

DOR! DOR!

Peluru berikutnya menembus celah di antara sisik. Makhluk itu meraung, suara yang membuat bulu kuduk berdiri.

Pam melompat turun dari pohon dengan gerakan cepat, seperti bayangan yang jatuh. Ia mengeluarkan belati dan, tanpa ragu, menusuk bagian leher makhluk itu—di titik yang tampaknya paling lunak.

Darah hitam menyembur, kental dan berbau logam.

Makhluk itu menggelepar beberapa detik, lalu diam.

Hutan kembali sunyi, seolah tidak terjadi apa-apa.

Bumi masih terpaku di pohon, napasnya berantakan.

“Turun,” kata Pam, santai, sambil mengelap belatinya di daun besar.

Bumi turun perlahan. Kakinya masih gemetar.

“Gila…” bisiknya. “Itu apaan sih?”

Pam mengangkat bahu. “Menu makan malam yang gagal.”

Bumi menatapnya tajam. “Aku serius, Pam.”

Pam akhirnya menatap Bumi. Ada sesuatu di matanya—lelah yang disembunyikan di balik sikap santainya.

“Mereka berubah,” katanya pelan. “Semua berubah.”

Mereka berjalan menjauh dari bangkai makhluk itu, lalu berhenti di sebuah area yang sedikit lebih terbuka. Pam duduk di atas akar besar, membuka tas kecilnya.

“Istirahat sebentar,” katanya.

Bumi duduk di sebelahnya, masih memikirkan makhluk tadi.

“Kenapa hewan jadi aneh semua?” tanya Bumi akhirnya.

Pam membuka botol air, minum sedikit sebelum menjawab. “Karena dunia kita udah bukan dunia yang dulu. Radiasi nuklir, hujan meteor, eksperimen gagal… semuanya campur jadi satu. Alam itu kayak… dapur yang kebakaran. Semua resep jadi kacau.”

Bumi mengernyit. “Tapi manusia?”

Pam tersenyum tipis, lalu terkekeh pelan.

“Menurut kamu, suku Ms Shopia itu kenapa bisa begitu?”

Bumi terdiam. Ingatan tentang mereka muncul—wajah-wajah yang tidak sepenuhnya manusia, perilaku yang… tidak normal.

“Oh…” Bumi mengangguk pelan. “Jadi kita juga berubah, cuma… beda bentuknya?”

“Bisa dibilang begitu.”

Mereka mulai makan bekal. Bumi menggigit makanan keringnya, tapi wajahnya langsung berubah.

“Ugh… ini masih lebih enak dari makanan yang mereka kasih waktu aku disandera,” katanya.

Pam melirik. “Seberapa parah?”

Bumi meringis. “Kayak… campuran daging basi sama lumpur. Aku hampir nggak bisa telan.”

Pam tertawa kecil. “Ya jelas.”

“Apa maksudmu ‘ya jelas’?”

Pam menatap Bumi, senyumnya melebar sedikit, seperti seseorang yang hendak membuka rahasia gelap.

“Itu memang daging.”

Bumi berhenti mengunyah. “Ya iya lah—”

“Daging manusia.”

Sunyi.

Bumi menatap Pam, mencoba mencerna.

“…Apa?”

Pam mengangkat bahu. “Mayat. Mereka olah jadi makanan. Lebih praktis daripada berburu.”

Butuh beberapa detik sampai kata-kata itu benar-benar masuk ke kepala Bumi.

Lalu—

“Ugh—!”

Bumi langsung memuntahkan makanannya, tubuhnya membungkuk, perutnya berontak hebat.

Pam tertawa lepas. Suaranya ringan, hampir seperti anak kecil yang baru berhasil mengerjai temannya.

“Ekspresimu itu loh… nggak bisa dibeli,” katanya sambil terkekeh.

Bumi menghapus mulutnya, wajahnya pucat. “Kamu jahat…”

“Tapi jujur.”

Bumi menarik napas dalam, mencoba menenangkan diri.

Beberapa saat kemudian, suasana menjadi lebih tenang. Angin pelan berdesir, membawa aroma tanah dan sesuatu yang sulit dijelaskan—antara segar dan busuk.

Pam mengambil sesuatu dari tasnya. Sebuah pistol.

“Sekarang, pelajaran penting,” katanya.

Bumi mengangkat alis. “Serius?”

“Kalau kamu mau hidup lebih lama dari hari ini, iya.”

Pam menunjukkan cara memegang pistol, bagaimana mengarahkan, bagaimana menarik pelatuk tanpa panik.

“Jangan kaku. Tanganmu itu bukan batu. Santai, tapi siap,” kata Pam sambil membetulkan posisi tangan Bumi.

Jari Pam menyentuh tangan Bumi sebentar—hangat, stabil. Bumi merasa aneh, tapi tidak menarik tangannya.

“Fokus ke target, bukan ke rasa takutmu,” lanjut Pam.

Bumi mencoba menembak ke batang pohon.

DOR!

Pelurunya meleset jauh.

Pam tertawa kecil. “Kalau pohonnya bisa kabur, dia sudah selamat.”

“Ya ampun, aku baru pertama kali!”

“Makanya aku ngajarin.”

Latihan itu berlangsung beberapa saat. Pelan-pelan, Bumi mulai lebih stabil. Tembakannya mulai mendekati target.

Ada sesuatu yang berubah di antara mereka—bukan hanya rekan perjalanan, tapi seperti dua orang yang mulai saling memahami tanpa perlu banyak kata.

Saat mereka duduk lagi, Bumi menatap Pam.

“Orang tuamu?” tanyanya hati-hati.

Pam tidak langsung menjawab. Ia menatap ke kejauhan, ke arah hutan yang tampak tak berujung.

“Mereka… ditangkap,” katanya akhirnya.

“Siapa?”

“Led Hamlich.”

Nama itu terasa berat, seperti batu yang jatuh ke dalam air.

“Kenapa?” tanya Bumi pelan.

“Karena mereka tidak setuju. Partai oposisi. Di dunia lama, itu mungkin cuma politik. Di dunia sekarang… itu alasan untuk menghilang.”

Bumi menelan ludah. “Kamu… sendirian sejak itu?”

Pam tersenyum tipis, tapi matanya tidak ikut tersenyum.

“Sendirian itu relatif.”

Satu jam berlalu tanpa terasa.

“Yuk,” kata Pam akhirnya, berdiri. “Kita harus jalan lagi.”

Mereka melanjutkan perjalanan. Hutan semakin rapat, suara serangga semakin nyaring, seperti bisikan yang tidak pernah berhenti.

Lalu—

Langkah mereka terhenti.

Dari balik pepohonan, sosok-sosok muncul. Bertopeng. Berpakaian gelap. Senjata api terarah lurus ke arah mereka.

Bumi langsung tegang. Tangannya refleks ingin mengambil pistol.

Pam menahan tangannya.

“Jangan,” bisiknya sangat pelan.

“Kenapa—”

“Percaya aku.”

Bumi menatap Pam. Ada keyakinan di sana, aneh tapi kuat.

Pam mengangkat tangan, tanda menyerah.

Pasukan itu mendekat, mengepung mereka. Salah satu dari mereka memberi isyarat agar mereka berjalan.

“Ngikut saja,” bisik Pam.

Mereka berjalan di tengah kepungan, melewati jalur sempit yang sebelumnya tidak terlihat. Hutan seolah membuka jalan rahasia.

Dan kemudian—

Sebuah tempat muncul.

Seperti kerajaan yang tumbuh dari akar dan daun. Struktur kayu dan tanaman saling melilit, membentuk bangunan yang tidak biasa. Ada cahaya, ada kehidupan. Orang-orang bergerak di dalamnya, tapi semuanya teratur.

Bumi tertegun.

“Ini…” bisiknya.

Pam tidak menjawab.

Mereka dibawa ke sebuah area terbuka yang lebih besar. Di tengahnya, ada singgasana yang terbuat dari akar besar yang dipelintir.

Dan di sana…

Seorang wanita duduk.

Tatapannya tajam. Wajahnya kuat. Ada sesuatu yang… familiar.

Bumi melangkah maju tanpa sadar.

“Kak Nuri?” ucapnya pelan, hampir tidak percaya.

Sunyi seketika.

Wanita itu berdiri perlahan.

Langkahnya mantap saat mendekati Bumi.

Dan—

Plak!

Tamparan keras mendarat di wajah Bumi.

Kepalanya terlempar ke samping. Dunia seakan berhenti sejenak.

“Jangan seenaknya bilang aku kakakmu!” suara wanita itu dingin, tajam seperti pisau.

Bumi memegang pipinya yang panas, matanya membesar.

“Tapi… kamu—”

“Diam!” bentaknya.

Pam berdiri di samping, wajahnya sulit dibaca.

Hutan di sekitar mereka seakan ikut menahan napas.

Dan Bumi… baru saja menyadari bahwa perjalanan ini belum mendekati akhir. Bahkan, mungkin—ini baru pintu masuknya.

1
Q. Adisti
seruu, lanjut kaaak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!