Aku nggak pernah membayangkan kalau gaun putih ini bakal terasa seberat rantai besi. Menikah dengan Bara Adiwangsa bukan mimpi indah yang jadi nyata, tapi awal dari sandiwara panjang yang nggak tahu kapan selesainya.
Bara itu suamiku, tapi dia yang paling sering bikin aku merasa nggak berharga. Dia bisa bersikap manis di depan orang tuanya, lalu berubah jadi orang lain yang kasar saat dia bersamaku.
Capek? Banget. Karena suamiku mungkin berpikir dia bisa menginjak-injak harga diriku hanya karena dia merasa telah "membeliku". Dia bisa saja menatapku dengan jijik, mengacuhkanku seolah aku hanyalah pajangan mati di pojok ruangan. Dia bisa memuja masa lalunya atau mencari pelarian pada orang lain, tapi ada satu kenyataan pahit yang tidak akan pernah bisa dia hapus, sekeras apa pun dia mencoba.
"Tatap aku, Bara. Hina aku sesukamu, tapi jangan pernah lupa satu hal... Aku Ini Istrimu."
Bab 5 Perckapan di Ruang Tamu
Cahaya matahari pagi menyelinap malu-malu dari balik gorden abu-abu yang tebal, menyentuh kelopak mata Renata. Dia mengerjap pelan, kepalanya terasa berat, dan seluruh tubuhnya terasa pegal di mana-mana.
Begitu kesadarannya terkumpul, Renata merasakan beban hangat yang melingkar erat di pinggangnya. Dia menoleh sedikit dan mendapati wajah Bara yang berada tepat di samping bahunya. Laki-laki itu masih tidur pulas, napasnya berat bahkan terdengar suara dengkur halus—tanda kalau dia benar-benar kelelahan setelah "pertempuran" panas yang mereka lalui semalam.
Dua jam. Renata menggigit bibir bawahnya saat ingatan tentang durasi gila semalam terlintas di kepalanya. Dia tidak menyangka Bara bisa sebuas itu.
Perlahan, dengan gerakan yang sangat hati-hati agar tidak membangunkan sang singa, Renata menyingkirkan tangan kekar Bara dari tubuhnya. Dia meringis kecil saat merasakan perih di area sensitifnya ketika kakinya menyentuh lantai dingin.
Di bawah temaram lampu tidur yang masih menyala, Renata melihat pakaiannya berserakan di lantai—piyama satinnya yang sudah tak berbentuk lagi. Dia menghela napas, lalu meraih kain bersih dan melangkah gontai menuju kamar mandi. Dia butuh air hangat untuk membilas sisa-sisa keringat dan jejak kepemilikan Bara yang masih menempel di kulitnya.
Di depan cermin kamar mandi yang beruap, Renata tertegun.
"Brengsek..." bisiknya lirih.
Lehernya, tulang selangkanya, bahkan sampai ke bahu penuh dengan bercak kemerahan yang sangat kontras dengan kulit putihnya. Bara benar-benar tidak menyisakan ruang kosong. Ini bukan lagi sekadar tanda cinta, ini adalah tanda klaim yang sangat egois.
Setelah membersihkan diri seadanya, Renata keluar dengan mengenakan bathrobe tebal yang tertutup rapat sampai ke dagu. Dia melihat Bara mulai menggeliat di atas kasur, sepertinya sebentar lagi pria itu akan bangun.
Renata buru-buru mencari pakaian di lemari. Dia harus menemukan baju dengan kerah tinggi. Karena di bawah sana, di ruang tamu, ada suara-suara yang mulai terdengar. Suara Pak Baskoro yang sedang tertawa, dan... satu suara laki-laki lain yang sangat dia kenali.
"Reno?" gumam Renata cemas.
Benar saja, Reno datang sepagi ini untuk bertemu Pak Baskoro. Renata memegang lehernya yang perih. Dia tidak tahu bagaimana caranya turun ke bawah tanpa membuat semua orang menaruh curiga padanya apa yang dilakukan semalam.
Renata menarik napas panjang, memastikan kerah tinggi bajunya sudah menutupi setiap inci bekas merah di lehernya. Dengan langkah yang masih terasa sedikit berat dan kaku, dia perlahan menuruni tangga.
Begitu kakinya menginjak lantai bawah, suasana ruang tamu yang hangat langsung menyambutnya. Di sana, Papah Baskoro duduk santai dengan majalah di tangannya, sementara di seberangnya, Reno duduk dengan gaya elegan khasnya.
"Wah, baru bangun menantu kesayangan Papa?" sapa Pak Baskoro sambil terkekeh pelan, melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul delapan lewat. "Tidur nyenyak ya semalam? Bara mana? Masih tidur itu anak?"
Renata tersenyum canggung, wajahnya mendadak panas mendengar candaan mertuanya. "Iya, Pa... agak kecapekan semalam. Bara masih di atas, bentar lagi juga turun."
"Hai, Renata," sapa Reno singkat. Dia mengangkat tangannya, melambaikan jari dengan senyum miring yang sulit dibaca. Matanya menatap Renata dari ujung kepala sampai ujung kaki, seolah sedang memindai sesuatu di balik pakaian tertutup yang dikenakan wanita itu.
"Hai juga," jawab Renata pendek. Dia merasa tidak nyaman di bawah tatapan Reno yang seolah tahu apa yang terjadi di balik pintu kamar semalam.
Tanpa menunggu percakapan lebih jauh, Renata bergegas melangkah menuju dapur. Dia butuh sesuatu yang hangat untuk menenangkan perutnya yang terasa mual dan badannya yang masih lemas. Di dapur, dia mengambil cangkir, memasukkan teh celup, dan menuangkan air panas perlahan.
Sambil mengaduk tehnya, bunyi sendok yang beradu dengan gelas terdengar pelan di kesunyian dapur, Renata sedikit memiringkan kepalanya. Posisi dapur yang tidak jauh dari ruang tamu membuatnya bisa mendengar sayup-sayup percakapan antara Pak Baskoro dan iparnya itu.
"Jadi, progres proyek di pinggir kota itu gimana, Ren?" suara berat Pak Baskoro terdengar bertanya serius.
"Lancar, Om. Tapi saya rasa ada beberapa hal yang perlu saya diskusikan lebih dalam sama Bara... atau mungkin sama Renata juga," jawab Reno. Suaranya terdengar lebih rendah sekarang. "Bara belakangan ini agak emosional kalau soal pekerjaan. Saya cuma takut itu mengganggu pekerjaannya."
Renata berhenti mengaduk. Tangannya diam di atas cangkir.
"Maksud kamu?" tanya Pak Baskoro penasaran.
"Ya... Om tahu sendiri kan Bara orangnya posesif," lanjut Reno dengan nada santai tapi mematikan. "Saya cuma khawatir sama Renata, dia pasti tertekan kalau Bara terlalu mengekang, apalagi di kantor. Kemarin saja mereka sempat ribut cuma karena hal sepele."
Renata menggigit bibir bawahnya. Reno benar-benar sedang bermain api. Dia sengaja memancing di depan Papah Baskoro untuk menjatuhkan citra Bara, atau mungkin... untuk memancing reaksi Pak Baskoro tentang pernikahan mereka.
"Gila ini orang," batin Renata. Dia terus menajamkan telinga, menunggu apa jawaban mertuanya yang sangat menjunjung tinggi keharmonisan keluarga itu.
Pak Baskoro tertawa renyah, menggelengkan kepalanya sambil melipat koran pagi itu. Suaranya terdengar sangat yakin, tipe suara orang tua yang terlalu memuja keharmonisan keluarganya.
"Ah, kamu ada-ada saja, Reno. Bara itu memang keras wataknya, tapi dia pasti sayang sekali sama Renata. Wajar kalau mereka masih pasutri, agak posesif sedikit, namanya juga lagi hangat-hangatnya," ujar Pak Baskoro santai. "Nggak mungkinlah dia seperti itu, Reno."
Reno memperbaiki posisi duduknya, senyum miringnya tidak pudar. "Tapi Om, saya lihat sendiri kemarin di kantor—"
Ehem!
Sebuah deheman berat dan dalam memotong kalimat Reno seketika. Di ujung tangga, Bara berdiri dengan kemeja hitam yang lengannya sudah digulung sampai siku, rambutnya masih agak basah, memberikan kesan maskulin yang sangat kuat. Tatapannya langsung terkunci pada Reno, tajam dan dingin.
"Pagi-pagi sudah kesini, Ren. Ada apa?" sapa Bara sambil melangkah turun dengan santai, seolah tidak ada beban meski badannya sendiri sebenarnya juga terasa pegal.
Reno langsung berdiri, memasang wajah ramah yang tampak sangat palsu. "Pagi, Bar. Iya nih, ada dokumen yang harus segera Om Baskoro tanda tangani."
Pak Baskoro menoleh ke arah putranya, lalu mencibir pelan. "Dasar! Baru bangun kamu? Istrimu saja sudah bangun dari tadi, sudah di dapur buat teh. Suami macam apa kamu ini, jam segini baru melek?"
Bara hanya mendengus pelan, berjalan menuju meja makan yang tak jauh dari ruang tamu, matanya sempat melirik ke arah dapur di mana dia tahu Renata sedang bersembunyi. "Capek banget, Pa. Semalam... tidurnya agak telat karena banyak 'urusan' yang harus diselesaikan," jawab Bara dengan nada yang sengaja dibuat ambigu, membuat Pak Baskoro hanya geleng-geleng kepala.
Bara kemudian mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan yang terasa sepi. "Mama sama Siska ke mana? Tumben jam segini nggak ada suaranya."
"Lagi belanja ke pasar sama Bi Sumi,"
"Katanya mau masak besar buat makan nanti malam, kebetulan keluarga Reno mau datang ." Jawab Papah Baskoro sambil menatap Reno.
Bara hanya mengangguk, lalu pandangannya kembali beralih ke Reno yang masih di sana. Suasana mendadak berubah menjadi kaku. Bara tahu persis apa yang baru saja dibicarakan Reno dengan Papanya, dan itu membuatnya ingin sekali menyeret sepupunya itu keluar dari rumah ini sekarang juga.
Sementara itu di dapur, Renata masih mematung sambil memegang cangkir tehnya yang sudah mulai hangat. Jantungnya berdegup kencang. Dia tahu, kalau Bara sudah turun dan bertemu Reno, percakapan santai ini sebentar lagi pasti akan berubah menjadi medan perang yang serius.
Bara melangkah ke arah dapur, langkah kakinya yang berat terdengar jelas di lantai marmer, membuat Renata tersentak dari lamunannya. Bara berdiri tepat di belakang istrinya, aroma sabun mandi dan maskulin khasnya langsung mengepung indra penciuman Renata.
Tanpa memedulikan keberadaan Papa dan Reno di ruang tamu, Bara mencondongkan tubuhnya, berbisik rendah tepat di samping telinga Renata.
"Masih capek ya?" tanya Bara dengan suara serak yang sengaja ia buat hanya terdengar oleh mereka berdua. "Efek yang kita lakuin semalam ternyata belum hilang ya di muka lo? Pucat banget."
Wajah Renata seketika memerah padam. Dia buru-buru menjauhkan cangkir tehnya, tidak berani menatap mata Bara yang tampak berkilat penuh kemenangan.
"Bara, pelan-pelan suaranya," bisik Renata dengan nada malu-malu sekaligus panik. "Yang kita lakuin semalam... jangan dibahas di sini. Ada Papa sama Reno di depan."
Bara hanya menyunggingkan senyum tipis, seolah menikmati kegugupan istrinya. Dia memperhatikan kerah tinggi baju Renata yang tertutup rapat, tahu persis apa yang sedang disembunyikan di baliknya.
"Kenapa? Takut mereka tahu kalau lo ternyata menikmati sekali diatas tubuh gue," goda Bara lagi, jemarinya sempat menyentuh sekilas pundak Renata yang masih terasa tegang.
"Bara, please..." Renata memohon dengan tatapan mata yang memelas.
Bara akhirnya menegakkan tubuhnya, kembali ke mode yang dingin namun protektif. "Ya sudah. Ayo ikut gue ke depan. Nggak enak ninggalin Papa sama tamu spesial kita."
Bara meraih tangan Renata, menggenggamnya dengan erat—sebuah gestur yang terlihat manis bagi orang luar, tapi bagi Renata, itu adalah cara Bara untuk mengunci pergerakannya. Mereka berdua berjalan berdampingan menuju ruang tamu, kembali bergabung dengan Pak Baskoro dan Reno yang masih setia menunggu.
"Nah, ini dia anak Papah sama mantu Papah," celetuk Papah saat melihat mereka datang. "Duduk sini, Renata. Papa mau ngobrol santai sebentar mumpung kalian semua kumpul."
Renata duduk di sofa tepat di samping Bara, sementara Reno menatap tangan mereka yang masih bertautan dengan pandangan yang sulit diartikan. Suasana santai itu perlahan mulai terasa sedikit lebih berat, seolah ada badai yang siap meledak di tengah-tengah obrolan keluarga ini.
Papah menyandarkan punggungnya ke sofa, menatap anak dan mantunya duduk berdua di hadapannya. Kemudian Papah menoleh ke arah keponakannya yang sedari tadi terus memperhatikan pasangan itu.
"Reno," panggil Om Baskoro sambil menunjuk Bara dan Renata dengan dagunya. "Menurut pendapat kamu, mereka berdua ini cocok nggak?"
Reno sempat terdiam sepersekian detik. Matanya sempat bertemu dengan tatapan tajam Bara yang seolah sedang memperingatkannya untuk tidak bicara macam-macam. Dengan senyum profesional yang dipaksakan, Reno akhirnya mengangguk.
"Cocok banget, Om. Pokonya mereka serasi. Apalagi yang satu sifatnya keras kepala, yang satu kelihatannya... penurut," jawab Reno sambil melirik Renata sekilas. "Pilihan untuk jadi mantu Om emang nggak pernah salah."
Om Baskoro merasa puas sampai bahunya berguncang. "Nah, kan! Apa Om bilang. Mereka ini pasutri yang lagi hangat-hangatnya, Ren. Kadang dunia serasa milik berdua saja sampai bangun aja kesiangan."
Tawa Pak Baskoro memenuhi ruangan, sementara Renata hanya bisa menunduk sambil meremas cangkir tehnya, wajahnya masih terasa panas. Om Baskoro kemudian menatap Reno dengan tatapan menyelidik yang jenaka.
"Oh, ya... ngomong-ngomg kamu kapan menyusul seperti mereka, Ren? Masa mau sendiri aja." Lanjutnya dengan tatap serius ke Reno." Om kasih tau yah, umur kamu itu sudah matang, lho."
Reno terkekeh, mencoba mencairkan suasana yang sempat kaku baginya. "Aduh, kalau itu... saya nunggu waktunya saja, Om. Jodoh mah nggak ke mana, kalau memang sudah takdirnya, yang jauh pun pasti mendekat Om."
Mendengar jawaban itu, semua yang ada di ruang tamu pun tertawa. Suasana yang tadinya penuh intimidasi mendadak mencair menjadi obrolan keluarga yang hangat, setidaknya... di permukaan.
Bara yang sejak tadi hanya diam sambil merangkul pundak Renata, tiba-tiba berceletuk dengan nada meledek.
"Aduh, Ren... Ren... mau sampai kapan lo sendirian begini?" pancing Bara sambil menyeringai tipis. "Gue sih nggak masalah lo menjomblo, tapi apa lo nggak kasihan sama 'Joni' lo? Masa diajak main sendirian terus setiap malam."
Tawa Pak Baskoro meledak mendengar candaan vulgar putranya itu. "Hahaha! Kamu ini, Bara! Jaga mulutmu di depan istrimu!"
Renata ikut tersenyum tipis melihat keakraban palsu namun terlihat nyata di depan mertuanya itu. Di balik tawa mereka, Renata bisa merasakan otot lengan Bara yang mengeras di bahunya, sebuah sinyal bahwa kehangatan ini hanyalah lapisan tipis sebelum percakapan yang jauh lebih serius dimulai.
Sedangkan Reno tersenyum miring, senyum yang tidak sampai ke mata namun cukup untuk menyamarkan kilatan amarah yang sempat melintas. Dia meletakkan cangkir kopinya dengan perlahan di atas meja, suaranya terdengar santai namun setiap katanya seperti mata pisau yang baru saja diasah.
"Nggak apa-apa, Bar," jawab Reno tenang, matanya beralih menatap Renata sedetik lebih lama dari biasanya. "Daripada nikah cuma karena... ya, karena gue belum cocok waktunya aja. Gue lebih milih nunggu momen yang pas daripada harus buru-buru tapi ternyata..."
Kalimat Reno menggantung di udara. Kata 'terpaksa' yang sudah berada di ujung lidahnya, siap untuk diletakkan tepat di depan wajah Bara dan Om Baskoro. Namun, Reno segera menelannya kembali saat melihat tatapan Bara yang mendadak berubah.
Reno terkekeh pendek, berusaha menutupi jeda yang sempat membuat suasana mendadak tegang itu. "Ya, pokoknya jodoh itu nggak bisa dipaksain, kan, Om? Takutnya kalau dipaksa malah nggak tahan lama."
Om Baskoro, yang tidak menyadari ketegangan bawah tanah di antara dua pria itu, hanya manggut-manggut setuju. "Benar juga kata Reno. Pernikahan itu komitmen seumur hidup, jadi harus di pikirin secara matang. Jangan sampai udah terjalin hubungan suami-istri malah...kehilangan diri sendiri atau lupa alasan awal mengapa kalian memilih untuk menjalin hubungan dengannya."
Bara tidak tertawa lagi. Genggamannya di pundak Renata mengencang secara posesif, seolah sedang menegaskan kembali bahwa apa pun alasan di balik pernikahan mereka, Renata kini adalah miliknya yang sah—baik secara hukum maupun secara fisik seperti yang terjadi semalam.
"Satu hal yang lo gatau, Ren," ucap Bara dengan suara rendah yang mengancam. "Kadang sesuatu yang awalnya terasa dipaksa, bisa jadi hal yang paling nggak mau lo lepasin seumur hidup. Dan gue... bukan tipe orang yang gampang ngelepasin yang udah jadi milik gue."
Renata hanya bisa menunduk, merasakan atmosfir di ruangan itu semakin menyesakkan. Suasana kekeluargaan yang tadinya hangat kini kembali terasa seperti medan perang yang tertutup kabut.
Reno terdiam sejenak, mencerna kata-kata Bara yang terdengar seperti peringatan keras sekaligus klaim mutlak. Dia mengangguk pelan untuk mencairkan suasana, memperlihatkan senyum tipis yang tak terbaca, seolah sedang menyimpan kartu as di balik lengan kemejanya.
"Ya, lo bener, Bar. Sesuatu yang berharga emang nggak boleh dilepasin gitu aja," jawab Reno dengan nada yang sengaja dibuat santai, meski matanya sempat melirik Renata sekali lagi.
Reno kemudian melirik jam tangannya, lalu menepuk dahi seolah baru teringat sesuatu yang sangat mendesak. "Aduh, hampir lupa. Om, kayaknya saya harus pamit deh... soalnya baru kepikiran ada beberapa detail di laporan kerjaan yang belum beres dan harus dikirim ke klien siang ini juga."
Reno berdiri dari sofanya, merapikan jas yang ia kenakan. "Om, makasih banyak kopinya. Selalu enak ngobrol sama Om."
Om Baskoro ikut berdiri, menepuk bahu keponakannya itu dengan ramah. "Iya, Ren. Hati-hati di jalan. Jangan terlalu gila kerja, cari waktu buat cari pendamping juga biar nggak kalah sama Bara."
Reno hanya tertawa kecil mendengar wejangan itu. Dia kemudian beralih menatap pasutri di depannya. "Bar, Renata, gue pamit dulu ya..." Jeda sebentar, Kemudian Reno menatap Isitri Bara."Syal yang kamu pake bagus juga, cocok sama kamu."
Setelah itu tanpa menunggu jawaban, Reno melangkah pergi meninggalkan ruang tamu dengan langkah tegap, meninggalkan keheningan yang mendadak terasa berat di belakangnya. Bara hanya menatap punggung Reno sampai benar-benar menghilang di balik pintu depan, sementara Renata akhirnya bisa membuang napas panjang yang sedari tadi tertahan di dadanya.