NovelToon NovelToon
JALANGKUNG JATUH CINTA

JALANGKUNG JATUH CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Cintapertama / Mata Batin
Popularitas:207
Nilai: 5
Nama Author: Ry_chan04

Satria adalah cowok SMA yang memiliki "berkah" sekaligus kutukan: ia bisa melihat makhluk halus. Sialnya, Satria tidak seperti tokoh indigo di film-film yang terlihat misterius dan keren. Satria adalah seorang Indigo Semprul. Bukannya mengusir setan dengan doa yang khusyuk, ia lebih sering bernegosiasi dengan kuntilanak menggunakan voucher kuota atau menawar pocong agar tidak melompat di depannya karena ia punya penyakit jantung ringan.
​Pindah ke SMA Wijaya Kusuma—sekolah tua peninggalan Belanda yang kabarnya sangat angker—Satria berharap bisa hidup normal. Namun, harapannya pupus saat ia bertemu Arini, gadis manis ketua OSIS yang ternyata adalah cinta pertamanya saat SD.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menjadi Pahlawan Kesorean

Setelah tragedi "Salah Peluk Pocong" yang meruntuhkan sisa-sisa martabat Satria sebagai indigo karismatik, hari Sabtu seharusnya menjadi waktu untuk hibernasi. Namun, di SMA Wijaya Kusuma, hari libur hanyalah istilah administratif. Bagi Satria, Sabtu ini adalah hitungan mundur hari keenam sebelum Intel Ghaib mengeksekusi ancamannya.

​Pagi itu, Satria terbangun dengan bau tanah kuburan yang masih tertinggal di cuping hidungnya—atau mungkin itu hanya trauma psikologis. Ia sedang bersiap-siap menuju toko bangunan untuk membeli masker gas sesuai saran Arini, ketika sebuah pesan masuk ke ponselnya.

​“Sat, gawat! Ada tim survei 'kontraktor' datang ke sekolah. Mereka bawa alat berat. Pak Broto nggak bisa cegah karena mereka bawa surat tugas resmi dari yayasan pusat. Aku di lab, sembunyi. Cepat ke sini!”

​Satria tidak butuh waktu dua kali untuk berpikir. Ia menyambar jaket, masker medis (karena masker gas belum terbeli), dan botol air mineral yang sudah didoakan (setidaknya oleh ibunya yang tadi pagi sedang tadarus).

Satria tiba di sekolah pukul tiga sore. Matahari sudah mulai condong ke barat, menciptakan bayangan panjang dan tajam yang tampak seperti jari-jari hitam yang mencengkeram gedung sekolah. Gerbang depan dijaga oleh dua pria berbadan tegap dengan kacamata hitam—tipe manusia yang napasnya berbau rokok kretek dan aura negatif.

​"Mau ke mana, Dek? Hari libur dilarang masuk," cegat salah satu penjaga.

​"Anu, Pak... ketinggalan buku sejarah. Besok ada ujian susulan, kalau nggak ambil sekarang saya bisa nggak lulus," Satria memasang wajah paling memelas, teknik "Pahlawan Teraniaya" yang sering ia gunakan untuk menghindari hukuman Pak Broto.

​Penjaga itu menatapnya curiga, tapi tiba-tiba ia tersentak. Kepalanya miring ke kiri secara mendadak. Satria tahu kenapa; Meneer Van De Berg baru saja memberikan tiupan es tepat di lubang telinga sang penjaga.

​"Duh, kok merinding ya? Ya sudah, cepat masuk! Lima menit!"

​Satria berlari melewati koridor. Ia melihat sebuah truk besar terparkir di lapangan basket. Beberapa orang sedang memasang patok-patok kayu di area taman. Ini bukan sekadar survei; ini adalah penandaan wilayah untuk pembongkaran.

​Ia menyelinap ke sayap barat, menuju Lab Biologi. Di sana, Arini sudah menunggu di balik pintu yang sedikit terbuka. Wajahnya tegang, tapi matanya berapi-api.

​"Mereka sudah di depan ruang TU, Sat. Mereka mau ambil arsip denah bangunan. Kalau mereka tahu ubin di lab ini adalah pusat pengamanan, mereka bakal hancurkan tempat ini sebelum kita sempat bongkar," bisik Arini.

"Gue bawa linggis kecil sama palu dari gudang rumah," Satria mengeluarkan alat-alatnya. "Rin, lo jaga pintu. Kalau ada suara langkah kaki, kasih kode. Dudung bilang ada gas beracun, pakai ini."

​Satria menyerahkan masker medis berlapis tisu basah pada Arini. Bukan masker gas profesional, tapi dalam kondisi darurat, ini adalah pertahanan terbaik mereka.

​Satria menuju ubin ketiga di depan meja guru. Ia mengetuk ubin itu. Suaranya berbeda—kosong dan bergaung. Dengan tangan gemetar, ia mulai mencongkel pinggiran semen dengan linggis kecil.

​Kreeek... sreeet...

​"Pelan-pelan, Sat! Suaranya kedengeran sampai luar!" Arini mengingatkan.

​Tiba-tiba, dari sela-sela ubin yang mulai terbuka, keluar asap berwarna hijau kekuningan yang tipis. Baunya seperti telur busuk dicampur amonia. Ini dia—gas pertahanan Profesor Hans.

​"Uhuk! Rin, jangan hirup!" Satria menahan napas. Ia menuangkan air mineralnya ke atas ubin tersebut untuk meredam debu dan gas.

​Di saat yang sama, Meneer Van De Berg muncul dengan wajah panik. “ANAK MUDA! MEREKA MENUJU KE SINI! SI INTEL GHAIB ITU MERASAKAN GETARANNYA!”

Pintu Lab Biologi tiba-tiba dihantam dari luar. BRAKK!

​Namun, pintu itu tidak terbuka. Arini sudah menguncinya dari dalam dan menumpuk beberapa kursi di belakangnya. "Sat! Cepetan!"

​Satria menghantam ubin itu dengan palu sekuat tenaga. PRAKK! Ubin itu pecah, memperlihatkan sebuah kotak besi kecil yang tertanam di dalam semen. Satria merogoh ke dalam lubang yang penuh gas itu, tangannya terasa panas tersengat zat kimia tua.

​Di luar pintu, terdengar suara geraman yang bukan berasal dari manusia. Intel Ghaib yang kemarin duduk di kantin muncul dalam bentuk aslinya—bayangan hitam tinggi tanpa wajah dengan kuku-kuku panjang. Ia menembus pintu kayu seolah-olah pintu itu terbuat dari air.

​"Rin! Mundur!" Satria berteriak.

​Intel Ghaib itu melayang menuju Satria. Meneer Van De Berg segera mencabut pedangnya. “BERHENTI, KAU MAKHLUK SURUHAN! HADAPI PERWIRA KERAJAAN BELANDA!”

​Pertarungan ghaib pecah di tengah laboratorium. Mikroskop bergetar, tabung reaksi pecah sendiri, dan suhu ruangan berubah-ubah dari panas menyengat ke dingin membeku. Meneer Van De Berg bertarung dengan gagah berani, namun Intel Ghaib itu terlalu kuat karena ia mendapatkan pasokan energi dari "bos" manusia di luar sana.

​Satria berhasil menarik kotak besi itu keluar. Kotak itu berat dan berkarat. "Gue dapet, Rin! Ayo cabut!"

​"Lewat mana?! Pintu depan dihadang bayangan itu!" Arini menunjuk ke arah jendela yang menghadap ke kebun belakang—area kekuasaan Pocong Dudung.

Satria menyambar tasnya yang berisi kotak besi, menggandeng tangan Arini, dan berlari menuju jendela. Mereka melompat keluar tepat saat Intel Ghaib itu berhasil memukul mundur Meneer Van De Berg.

​Mereka mendarat di atas tumpukan daun kering. Hari sudah sore, langit berwarna oranye gelap menuju ungu. Mereka berlari menembus rimbunnya pohon bambu.

​“Mas Sat! Ke sini! Lompat ke parit!” suara Pocong Dudung terdengar dari kegelapan.

​Satria dan Arini melompat ke dalam parit kering yang tertutup semak belukar. Mereka meringkuk di sana, menahan napas. Di atas mereka, Intel Ghaib melayang-layang, mencari keberadaan mereka dengan indra penciumannya yang tajam.

​Tiba-tiba, ribuan kunang-kunang ghaib muncul dari tanah, mengerumuni Intel Ghaib tersebut. Itu adalah bantuan dari penghuni tanah sekolah yang tidak ingin digusur. Mereka mengalihkan perhatian sang intel, membawanya menjauh ke arah aula depan.

​Satria dan Arini terduduk lemas di dalam parit. Pakaian mereka kotor, wajah penuh debu, dan Satria merasa paru-parunya sedikit perih karena menghirup gas tadi.

​"Kita... kita berhasil?" Arini bertanya dengan suara berbisik, mencoba mengatur napasnya yang memburu.

​"Kayaknya," Satria membuka tasnya. Kotak besi itu ada di sana. "Kita harus buka ini di tempat aman. Bukan di sini."

​Arini menatap Satria. Di bawah temaram cahaya senja yang tersisa, wajah Satria yang berantakan justru tampak... berbeda di mata Arini. "Kamu tahu, Sat? Kamu beneran jadi pahlawan sore ini. Meskipun agak telat, dan meskipun kita tadi hampir mati karena bau telur busuk."

​Satria tertawa kecil, meski dadanya masih sesak. "Pahlawan kesorean, Rin. Itu spesialisasi gue. Kalau pahlawan kesiangan itu Budi."

Mereka berhasil keluar dari area sekolah lewat pagar belakang yang jebol, tepat saat lampu-lampu jalan mulai menyala. Mereka pergi ke sebuah warung kopi kecil yang sepi di dekat perempatan untuk membuka kotak itu.

​Dengan bantuan obeng kecil yang dibawa Satria, kunci kotak itu akhirnya jebol. Di dalamnya, tidak ada tumpukan emas. Tidak ada permata. Hanya ada sebuah gulungan perkamen tua yang dibungkus kain beludru merah, dan sebuah kalung perak dengan liontin berbentuk bunga melati.

​Satria membuka perkamen itu. Isinya adalah tulisan tangan yang sangat rapi dalam bahasa Belanda dan Melayu lama.

​“Akte Kepemilikan Lahan: SMA Wijaya Kusuma (dahulu Institut Van De Berg). Lahan ini dihibahkan selamanya untuk pendidikan, dan tidak boleh dipindahtangankan atau dialihfungsikan. Jika dilanggar, maka seluruh aset akan kembali ke tangan ahli waris sah: Keturunan dari Maria Van De Berg.”

​"Maria Van De Berg?" Satria mengerutkan kening. "Siapa dia?"

​Meneer Van De Berg yang muncul di pojok warung kopi (membuat penjual kopi tiba-tiba merasa ingin memakai jaket) tampak tertunduk lesu. “Maria... dia adalah putri saya yang hilang saat perang. Dia adalah alasan saya tetap tinggal di sini. Saya pikir dia sudah tiada...”

​Arini mengambil liontin perak itu. Ia membukanya. Di dalamnya ada foto kecil seorang gadis yang wajahnya... sangat mirip dengan seseorang.

​"Sat... lihat ini," Arini menyerahkan liontin itu pada Satria.

​Satria membandingkan foto di liontin dengan wajah Arini. Kemiripannya mencapai delapan puluh persen. Garis rahangnya, bentuk matanya, bahkan cara gadis di foto itu tersenyum.

​"Jangan bilang kalau lo..." Satria tidak sanggup melanjutkan kalimatnya.

​"Nenek buyutku namanya Maria," bisik Arini, suaranya bergetar. "Aku selalu dikasih tahu kalau keluargaku dulu punya hubungan dengan orang Belanda di bidang pendidikan, tapi aku nggak pernah tahu kalau ini tempatnya."

​Satria tersandar di kursi kayu. Jadi, ini alasannya kenapa Meneer Van De Berg begitu protektif pada Arini. Bukan cuma karena Arini cantik atau pintar, tapi karena di dalam nadi Arini mengalir darah putri sang Meneer yang paling ia cintai.

​"Rin, ini artinya... lo adalah pemilik sah sekolah ini secara hukum ghaib dan nyata. Kontraktor itu nggak punya hak apa-apa!" Satria berseru pelan, matanya berbinar.

​Arini menatap perkamen itu, lalu menatap Satria. "Berarti misi kita belum selesai, Sat. Kita punya bukti, tapi kita harus tahu siapa 'bos' di balik kontraktor ini yang berani memalsukan surat yayasan."

hari ini mereka menemukan Sebuah fakta besar yang mengubah segalanya. Satria bukan lagi sekadar indigo yang membantu teman sekolahnya. Ia kini adalah pelindung bagi pewaris sah sekolah ini. Dan saat malam semakin larut, Satria tahu bahwa pahlawan kesorean tidak punya waktu untuk beristirahat, karena besok, perang yang sesungguhnya melawan keserakahan manusia dan kekuatan hitam akan dimulai.

​"Ayo pulang, Rin. Simpan ini baik-baik," Satria menggandeng tangan Arini. "Besok kita akan buat Pak Broto dan seluruh tim survei itu ternganga."

​Di kejauhan, Intel Ghaib mengawasi mereka dari atas kabel listrik, namun kali ini Satria tidak merasa takut. Ia punya kontrak, ia punya sejarah, dan ia punya Arini di sampingnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!