NovelToon NovelToon
Istri Culun Sang CEO: Kebangkitan Sang Ratu Panggung

Istri Culun Sang CEO: Kebangkitan Sang Ratu Panggung

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:10.9k
Nilai: 5
Nama Author: Eireyynezkim

Dulu, ia adalah Thalia Alexandria—artis papan atas yang hidup dalam sorotan, dipuja dan dielu-elukan oleh jutaan penggemar. Namun, satu malam mengubah segalanya ketika ia ditemukan tak bernyawa di apartemennya sendiri. Saat membuka mata, dunia yang ia kenal telah lenyap. Ia bukan lagi sang bintang gemerlap, melainkan Thalia Anderson—gadis culun, pemalu, dan dipandang rendah oleh keluarganya sendiri. Lebih mengejutkan lagi, ia telah terikat pernikahan dengan Aiden Hugo Maverick, CEO muda yang dingin, kejam, dan sama sekali tidak mencintainya.

Dihina oleh ibu tiri, disakiti saudara tiri, dan dipermalukan di lingkungan kampus, hidup barunya terasa seperti neraka. Namun, mereka semua tak menyadari satu hal—di balik penampilan polos itu, tersembunyi jiwa seorang ratu panggung yang tak mudah ditaklukkan. Dengan tekad membara, Thalia berjanji akan membalikkan keadaan. Termasuk menaklukkan hati sang CEO yang dingin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

8

Pagi itu, sinar matahari menembus jendela kamar Nadine. Ia duduk di depan meja rias, menyisir rambutnya sambil menatap layar laptop yang terbuka di depannya.

Di situs resmi kampus, daftar live voting untuk perwakilan fakultas terpampang jelas. Nadine tersenyum puas-namanya berada di puncak daftar Fakultas Seni. Ia mendapat suara terbanyak sejauh ini. Tapi bukan itu yang membuatnya bersorak dalam hati.

Matanya bergerak ke kolom Fakultas Ilmu Komunikasi. Di sana, nama "Thalia Anderson" terpampang di urutan pertama dengan perolehan suara yang melonjak drastis. Tidak ada calon lain yang mendekati jumlahnya. Dengan kata lain, Thalia nyaris pasti akan menjadi perwakilan fakultasnya.

Rencana Hampir Sempurna

Nadine menutup laptopnya perlahan, senyum licik mengembang di wajahnya. Bagus... sangat bagus.

"Kalau jumlah suara Thalia sudah segini, tidak akan ada yang bisa menggusurnya. Sebentar lagi panggung itu akan jadi mimpi buruknya," gumamnya sambil mengambil lipstik dari meja rias.

Ia sudah membayangkan Thalia berdiri di tengah panggung besar, disorot lampu, semua orang menatap... lalu satu kesalahan kecil saja akan menjadi bahan tawa. Dan yang paling ia tunggu-wajah ayahnya saat melihat anak kandungnya dipermalukan di depan semua orang.

Acara pemilihan Duta Kampus bukan hanya untuk mahasiswa. Orang tua juga diundang, bahkan dianjurkan hadir. Bukan tanpa alasan di acara itu ada sesi amal, di mana para orang tua berlomba-lomba berdonasi.

Tentu saja, bukan semata-mata karena mereka sangat dermawan. Semua dilakukan di depan kamera dan wartawan, agar citra mereka sebagai "orang baik hati" terpampang di media.

Dan Papa akan ada di sana, pikir Nadine. Dia akan menyaksikan sendiri Thalia menjadi bahan tertawaan. Sempurna.

Di sisi lain, Thalia duduk di meja riasnya sendiri, menatap wajahnya di cermin. Ia memutar ponselnya di tangan, membaca pesan-pesan yang masuk dari Zea yang sejak pagi sudah panik.

Tapi Thalia bukan tipe yang mudah terintimidasi. Ia malah sedang memikirkan hal yang lebih... rumit.

"Masalahnya, aku bisa terlalu banyak hal," gumamnya pada bayangannya di cermin.

Ia mengambil catatan kecil dan mulai menuliskan opsi:

Menyanyi dengan teknik vokal penuh

Monolog akting

Ballet klasik

Tari hip-hop atau modern

Piano, biola, atau harpa

Thalia memandang daftar itu, lalu tertawa kecil.

Kalau aku tampilkan semua... bukankah itu akan terlihat sombong?

Ia mengetuk-ngetukkan pulpen ke meja. "Ya, aku masih punya rasa iba. Tidak semua orang kuat melihat level bakat seperti ini."

Pikiran itu membuatnya tersenyum geli. Di kehidupan sebelumnya, ia punya 180 juta pengikut di media sosial-rekor tertinggi di negaranya. Itu bukan angka kecil, dan jelas membuktikan bakatnya yang tak terbantahkan.

"Mereka mau jebak aku? Silakan. Aku akan membuat jebakan ini jadi panggungku."

Di rumah lain, Zea duduk di lantai kamarnya, dikelilingi tumpukan buku. Biasanya ia tenang, tapi pagi ini ia gelisah.

Ia menggigit bibir bawahnya sambil memegang ponsel. "Bagaimana kalau semua ini benar-benar jebakan? Bagaimana kalau Thalia dipermalukan? Bagaimana kalau dia trauma?"

Zea tahu persis bagaimana rasanya menjadi bahan tertawaan di kampus. Ia sendiri sudah sering mengalaminya. Tapi Thalia... meski sekarang terlihat lebih percaya diri, Zea takut sahabatnya itu akan terpukul jika semua orang menertawakannya.

Zea akhirnya mengirim pesan panjang.

Zea: "Thal, aku serius. Aku nggak yakin ini kabar baik. Semua orang di grup gosip kampus udah ngomongin kamu. Ada yang bilang ini kejutan, ada yang bilang 'pasti bakal seru'. Aku takut mereka cuma mau nonton kamu gagal."

Tidak butuh lama, balasan datang.

Thalia: "Zea... aku sudah tahu ini permainan.

Dan aku tidak takut. Justru ini kesempatan buatku."

Zea mengerutkan kening.

Zea: "Kesempatan? Kamu nggak takut?"

Thalia: "Aku sudah hidup di dunia yang jauh lebih kejam dari kampus ini. Percayalah, Zea. Mereka yang akan kaget nanti."

Thalia meletakkan ponsel, lalu beranjak dari meja rias. Ia berdiri di depan lemari besar, membuka pintu, dan mulai memilih pakaian. Kalau panggung ini adalah perangkap, aku akan datang dengan penuh gaya. Mereka pikir aku korban? Salah besar.

Sambil memilah-milah gaun, ia memikirkan teknik yang tepat. Kalau aku mau aman, aku bisa pilih satu bakat saja. Tapi kalau mau balas dendam... mungkin aku harus sedikit memamerkan kemampuan. Tidak semuanya, cukup untuk membuat mereka terdiam.

Sementara Itu di Rumah Nadine. Nadine mengenakan blus putih dan rok midi, bersiap untuk pergi. Marrie muncul di ambang pintu kamarnya. "Kau tampak bersemangat, sayang. Apa kabar voting?"

Nadine tersenyum puas. "Aku unggul di fakultasku, dan Thalia juga sudah tidak mungkin tergeser di fakultasnya."

Marrie tertawa kecil. "Bagus. Papa akan bangga padamu... dan kecewa pada dia. Itu yang kita inginkan."

"Percayalah, Ma. Dua minggu lagi, semua orang akan tahu siapa Thalia sebenarnya."

Sementara dua kubu itu sibuk dengan persiapan masing-masing, jam terus berdetak menuju hari acara. Di satu sisi, Nadine membangun keyakinan bahwa rencananya akan berjalan mulus. Di sisi lain, Thalia menyiapkan penampilan yang bisa mengubah jalannya permainan.

Zea? Ia hanya bisa berharap bahwa sahabatnya benar-benar tahu apa yang ia lakukan.

Setelah berpikir panjang sambil memandangi daftar peserta di situs kampus, Thalia akhirnya mengambil keputusan. Semua ingatan dari tubuh aslinya ia gali satu per satu, mencoba mengingat setiap detail tentang Nadine.

Satu hal yang ia tahu pasti: Nadine akan bermain piano.

Bukan tebak-tebakan semata, tapi berdasarkan ingatan, Nadine tidak bisa bernyanyi. Gadis itu hanya punya satu keahlian yang cukup menonjol-piano. Dan harus diakui, permainan pianonya memang bagus, bahkan nyaris setara pemain profesional. Tidak heran ia selalu menjadi kebanggaan ayahnya di acara keluarga.

Thalia memutar bola matanya. "Jadi kau akan main piano, Nadine? Baiklah. Kalau begitu aku akan membuat panggung ini... jadi mimpi burukmu."

Ia berpikir keras. Kalau aku juga hanya bermain piano, orang akan sulit membedakan kami kecuali dari teknik. Dan kalau mereka tidak paham teknik, nilai akan subjektif.

Tapi jika ia tampil berbeda, publik akan punya perbandingan jelas. Ia tidak butuh semua orang menjadi ahli musik, cukup membuat mereka terkesan.

Main piano sambil bernyanyi...

Ya, itu ide yang sempurna. Nadine tidak akan pernah bisa melakukan itu, mengingat suaranya yang sumbang. Thalia bahkan masih ingat betul cerita memalukan dari ingatan tubuh aslinya-bagaimana saat remaja, Nadine bercita-cita menjadi penyanyi terkenal. Ayahnya sampai menyewa guru vokal terbaik di kota. Tapi, walau latihan bertahun-tahun, kemampuan vokal Nadine tidak berkembang. Suaranya tetap sumbang, nadanya melenceng, dan ia sering kehabisan napas di tengah lagu.

Tak ada manajemen yang mau mengontrak penyanyi dengan kualitas seperti itu. Akhirnya Nadine banting setir, memilih menjadi pianis murni. Dan harus diakui, itu memang keputusan yang tepat untuknya.

Meski Thalia sangat yakin dengan bakatnya, bukan berarti ia akan menyepelekan pertarungan ini. Ia tahu bahwa kepercayaan diri tanpa persiapan hanya akan menjadi kesombongan yang merugikan diri sendiri.

Ia melirik jam, lalu bangkit dari kursi rias.

Kalau begitu, saatnya latihan.

Turun ke ruang tengah, Thalia menemukan grand piano hitam mengilap yang berdiri megah di sudut ruangan. Ia duduk di bangku empuknya, menyesuaikan posisi tubuh, lalu menekan beberapa tuts untuk mengecek nada. Jemarinya bergerak ringan, lalu ia mulai memainkan sebuah melodi lembut.

Suara piano mengalun indah, lalu diiringi suaranya yang merdu. Thalia bernyanyi dengan kontrol vokal sempurna, napas panjang, dan emosi yang tepat. Perpaduan itu seperti racun manis yang menawan siapa pun yang mendengarnya.

Beberapa pelayan yang sedang membereskan ruang makan terhenti begitu mendengar suara itu. Satu per satu mereka mendekat, berdiri di ambang pintu, terpesona.

Jika boleh jujur, ini adalah suara terindah yang pernah mereka dengar seumur hidup. Bukan hanya merdu, tapi penuh perasaan, seakan Thalia menyanyi langsung ke hati mereka.

Anne dan dua anteknya yang dulu pernah meremehkan Thalia sudah tidak ada, tapi para pelayan yang tersisa tetap terkejut. Selama ini, nyonya mereka dikenal pendiam, pemalu, dan sering menghindari tatapan mata. Sekarang? Duduk di depan grand piano seperti diva di panggung konser.

Di tengah alunan musik, langkah kecil terdengar dari arah tangga. Liam yang baru saja bangun tidur mengucek mata dan melihat mamanya.

"Ma... Ma nyanyiii..." gumamnya pelan, senyum mengembang di wajah mungilnya.

Thalia melirik, tersenyum, lalu melanjutkan permainan pianonya sambil menatap ke arah putra kecil itu. Liam langsung berlari kecil dan duduk di lantai, mendengarkan dengan mata berbinar-binar.

Bagi Liam, Mama-nya sudah hebat hanya karena membelanya dari pelayan jahat. Tapi sekarang, Mama-nya juga bisa bermain piano dan bernyanyi secantik ini? Ia merasa seperti anak paling beruntung di dunia.

Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata lain yang memperhatikan dari lantai atas. Aiden, yang baru saja kembali dari urusan kerja, berdiri diam di koridor, bersandar pada pagar kayu.

Ia menatap pemandangan di bawah dengan ekspresi sulit dibaca. Jemari istrinya bergerak lincah di atas tuts piano, suaranya mengalun sempurna tanpa sedikit pun fals. Bukan penampilan amatir ini jelas permainan profesional yang sudah diasah bertahun-tahun.

Aneh... pikirnya. Sejak kapan dia bisa bermain seperti itu?

Usia istrinya baru 19 tahun. Tidak banyak orang seusianya yang memiliki teknik vokal dan permainan piano sekelas ini. Terlebih lagi, selama ini Thalia tidak pernah menunjukkan tanda-tanda bisa melakukan hal seperti itu.

Aiden menyipitkan mata. Apakah selama ini dia hanya berpura-pura bodoh untuk mengelabuiku?

Mata Aiden mengikuti setiap gerakan istrinya.

Nada demi nada, lirik demi lirik, semua dibawakan dengan percaya diri. Ia tidak melihat sedikit pun keraguan.

Wanita ini... terlalu banyak rahasia.

Aiden tidak suka kejutan. Ia benci

ketidakpastian. Dan istrinya yang dulu penakut kini berubah menjadi seseorang yang misterius, penuh bakat tersembunyi. Semua ini memicu rasa curiga yang semakin besar di hatinya.

Ia menarik napas panjang. Kalau dia memang berpura-pura selama ini... berarti ada tujuannya.

Dan aku harus tahu tujuannya.

Thalia menyelesaikan lagunya dengan sentuhan lembut pada tuts terakhir. Ruangan hening sejenak, lalu diisi tepuk tangan kecil dari Liam.

"Mama hebat!" seru bocah itu sambil berlari mendekat.

Thalia mengangkat Liam ke pangkuannya dan mengecup keningnya. "Terima kasih, sayang."

Para pelayan yang menonton dari pintu saling pandang, lalu kembali ke pekerjaan masing-masing. Tapi bisik-bisik kecil mulai terdengar di antara mereka. Hari ini, citra sang nyonya berubah total di mata mereka.

Aiden berbalik, melangkah pergi dengan pikiran penuh pertanyaan. Sementara itu, Thalia memeluk Liam erat-erat. Ia sudah membayangkan bagaimana Nadine akan bereaksi saat melihat penampilan itu nanti.

Kalau kau pikir aku akan jatuh di panggung, Nadine... bersiaplah untuk kecewa.

1
CaH KangKung,
MC... josss
CaH KangKung,
👣👣
Fajar Fathur rizky
cepat hancurkan Abraham thor
Iry: hehehe😁
total 1 replies
Iry
siap
Mifta Nurjanah
lanjut
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛
secangkir kopi buat kamu thor😊
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛: sama🤗
total 2 replies
Lili Inggrid
lanjut
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛
thor, bab ini tadi ceritanya ada yang di ulang²🤭
Iry: baiklah beb
total 3 replies
Sugiarti Arti
bagus
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛
thor kasih visualnya dong😊
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛: iya dong thor biar gak penasaran 🤭
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛
jos jis thalia👍🏻
Anonim
bagus iii ceritanya
lanjuttttt/Kiss/
Ma Em
Semangat Thalia pasti kamu pemenang nya dan sukses jadi bintang kalahkan semua saingan mu dan bersinar lah dgn prestasimu apalagi Nadine yg tdk ada apapa nya buat mereka yg dulu selalu menghinamu malu .
PrettyDuck: Halo pembaca setia Noveltoon 🤗
Aku baru menamatkan cerita berjudul "Beautifully Hurt" ✨️
Kalau berkenan silahkan berkunjung dan nikmati ceritanya 💕

Apa jadinya kalau Dinda (21) dipaksa menikah dengan Rendra (35) ? Putra tunggal presiden yang reputasinya sedang hancur karena skandal panas dengan seorang aktris.
Di balik pernikahan yang penuh tekanan, rahasia, dan sorotan publik, Dinda harus bertahan di dunia yang sama sekali bukan miliknya 💔
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!