Nama adalah hal yang sakral di dunia Haochun, Nama adalah berkah Dewa, nama adalah kekuatan. Manusia tanpa nama bukanlah siapa-siapa, semua manusia yang tak bernama hanyalah orang-orang buangan dan kriminal.
Karena hak pada Berkah dan Nama mereka dicabut.
Mereka akan dipanggil dengan sebutan apapun yang orang inginkan. Meskipun mereka bisa membuat nama sendiri, tetap saja itu tak memiliki makna apapun.
Nama lahir adalah kehormatan mutlak di dunia ini. Dan inilah kisah tentang anak Klan Bangsawan kelas satu. Dia memiliki Inti Spritual yang sangat buruk. Saking buruknya, bahkan tidak seorang pun sebelum dia di dunia Kultivasi yang memiliki Inti spritual seperti itu.
Sehingga dia dianggap sebagai aib keluarga. Berkah namanya miliknya dicabut layaknya hukuman bagi
penjahat keji.
Dimulailah kisah anak buangan yang membawa nasib baik dan buruk bersamaan.
Berjuang tanpa kekuatan Berkah Nama seperti yang dimiliki orang lain. Huang Kai yang berganti nama menjadi Feng Yan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leon Messi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 31
Berita yang mengejutkan Feng
Yan
Hutan di pinggir kota Padang bulan tetiba saja sangat gaduh, suara binatang buas dan binatang iblis bersahut-sahutan menandakan matahari segera terjaga dari tidurnya.
Feng Yan duduk bersila dengan mata terpejam, namun jiwanya dan pikirannya saat ini sedang berada dalam semesta spiritual.
Bagi pemuda itu berlatih fisik tidak lagi terlalu berpengaruh seperti sebelum-sebelumnya.
Semakin tinggi tingkatan basis kultivasi akan semakin sulit juga naik ke tahapan selanjutnya. Latihan dan sumber daya saja tidak cukup untuk menerobos tiap tahapan.
Mereka harus memahami inti dari kekuatan spiritual dan kultivasi. Terutama mengenai pemadatan Esensi alam yang mereka simpan di dalam inti spiritual.
Semakin tinggi ranah seseorang akan semakin sulit juga pemahamannya. Karena
Itulah seseorang yang mendapat inti pecah akan sangat sulit berkembang, terutama inti pecah dengan akar elemen yang berbeda.
Semesta spiritual ibarat lautan tak berujung, karena pada dasarnya berada dalam pikiran atau jiwa seseorang. Bentuk dan warna tergantung dari akar elemen yang dimiliki.
Di alam bawah sadarnya saat ini Feng Yan tengah berdiri diatas lautan api. Sudah cukup lama ia mengalami hambatan menerobos ke ranah yang lebih tinggi dari inti spiritualnya yang memiliki akar elemen api.
"Apa yang harus kulakukan untuk menerobos ke tahap selanjutnya? pondasi ku di tahap puncak sudah sangat stabil. Padahal dengan akar elemen yang kunamai kayu surga tidak terlalu lama menerobos dengan tahapan yang sama."
Suahhh
Sedang lena dalam berpikir Feng Yan di kejutkan oleh gelombang energi dari ruangan lain. Ia segera kembali ke alam nyata dan seringai senyum muncul dari bibirnya.
"Tampaknya kakak berhasil melewati penghalang dan menerobos ke ranah Pemadatan Pondasi".
Ia keluar dari kamar dan melihat Ya Fei sudah berada di depan kamar YunZhi. Ia terlihat sangat bahagia melihat perkembangan temannya itu.
"Adik Feng, kakakmu benar-benar jenius, ia sudah berhasil menerobos penghalang dan menerobos ke ranah Pemadatan Pondasi". Ia berjingkat-jingkat seolah-olah dia lah yang sudah meraih keberhasilan.
"Kuharap kakak Ya Fei juga berhasil menerobos ke ranah grandmaster dalam waktu dekat".
"Hehe, aku sudah menerima pemberianmu. Kau tenang saja, dalam waktu dekat aku pasti berhasil." Meski berkata begitu, Ya Fei terdengar tidak begitu percaya diri dari nada bicaranya.
Wanita itu mengalihkan pembicaraan, mungkin karena cukup sulit bagi orang yang memiliki inti pecah dua seperti yang dimiliki Ya Fei untuk naik tingkat.
Feng Yan dengan lembut menyemangati, "Aku yakin Kakak Ya Fei pasti mampu."
Ya Fei mengangguk. Lalu menahan Feng Yan yang bersiap pergi, "Eh, kau mau ke mana adik Feng?"
"Hanya ingin berkeliling untuk menyegarkan badan," jawab Feng Yan sambil meraih pedang balok yang ia sandarkan di pojok ruangan.
"Kau tidak ingin memberi selamat pada kakakmu?".
"Nanti saja, sepertinya kakak masih membutuhkan sedikit penyesuaian dengan kekuatannya."
Kediaman keluarga Hui saat ini sedang dihebohkan oleh berita kematian tetua muda dan cacatnya tubuh anak dari kepala keluarga.
"Kurang ajar, bagaimana mungkin Hui Chongsu mati di tangan orang yang tidak memiliki berkah nama dan memiliki inti pecah! Bahkan Ia juga berani membuat putraku cacat". Bergetar karena amarah
Kepalan tangan kepala keluarga Hui memikirkan kerugian yang mereka terima akibat perbuatan seorang pemuda tidak dikenal.
"Sebar semua orang kita ke seluruh kota termasuk kota Padang Bulan. Katakan pada mereka untuk tidak menyerang lebih dulu."
"Cukup awasi dan ikuti hingga salah satu dari kami bertiga datang, atau setidaknya dua tetua di ranah Pemadatan Pondasi untuk menangkap pemuda itu". Kali ini tetua utama memberi perintah mewakili kepala keluarga.
Tentu saja tidak mungkin bagi orang-orang di ranah master mampu mengalahkan orang yang sudah mengalahkan tahap Pemadatan Pondasi.
"Ayah, aku ingin orang itu ditangkap hidup-hidup." Tuan muda Hui datang dengan tangan kiri yang sudah buntung.
"Aku sendiri yang akan memotong tangan dan kaki sampah tanpa berkah nama itu." Memerah wajah tuan muda saat menyatakan dendamnya.
"Diam Kau! Kita kehilangan orang paling berbakat di keluarga merupakan kesalahanmu. Kalau saja kau tidak bersikap picik dan bertindak sesuka hati, ini semua pasti tidak akan terjadi."
Akhirnya kepala keluarga Hui mengusir putranya dari ruang pertemuan.
"Tuan, pemuda ini kutakutkan memiliki pendukung kuat di belakangnya. Menurut orang-orang kita, ia sudah berada di ranah grandmaster di usia bahkan kurang dua puluh tahun. Dengan bakat seperti itu, bisa dipastikan kalau dia murid sekte besar".
"Hui Teng, apa kau lupa kalau orang kita juga mengatakan bocah ini tidak memiliki Berkah Nama. Mungkin benar dulu pemuda ini murid sekte besar atau dari keluarga terpandang. Tanpa berkah nama, jelas dia sudah melakukan tindak kejahatan."
"Ah, kenapa aku melupakan hal penting itu." Tetua utama mengusap jenggotnya yang tidak terlalu panjang.
"Semoga orang-orang kita bisa lekas menemukannya. Apa salah satu dari kita
Harus turun tangan untuk menghadapi pemuda itu ketua". Tanya salah satu tetua yang juga berada di ranah Raja.
"Di keluarga hanya kita bertiga yang berada di ranah Raja. Tapi kalau berita tentang kita melawan seorang bocah tersebar keluar, ini akan memperburuk citra keluarga Hui." Mendengar ucapan tetua utama membuat dua orang lainnya memijat kepala yang tidak sakit.
"Bocah itu harus mati apapun yang terjadi, kita hanya memiliki dua orang lagi yang berada di ranah Pemadatan Pondasi tahap awal. Kurasa itu tidak cukup untuk menghadapinya."
Akhirnya dalam pertemuan itu Tetua Hui Fan yang berada di ranah raja tahap awal ditugaskan untuk menyelesaikan masalah dengan Feng Yan.
Kembali ke kota Padang Bulan
Feng Yan sedang duduk di sebuah restoran dan memesan sebotol arak.
"Ternyata adik Feng sedang minum sendirian," Cheng Yu yang sudah berdiri di
Belakang akhirnya ikut duduk dan ternyata bersama teman, orang itu tidak lain adalah Tan Bu.
"Kudengar adik Feng akan ke sekte Bintang Abadi, apa kau ingin menjadi murid disana?". Cheng Yu bertanya sambil menyesap minuman di cangkirnya.
"Senior Cheng pasti bercanda, bagaimana mungkin aku bisa bergabung dengan sekte besar itu." Feng Yan berusaha merendah. Kalau dipikir-pikir tidak ada sekte yang pantas untuknya saat ini.
"Adik Feng, apa kau tahu kalau satu dunia kuno kecil akan terbuka di gunung Taring enam bulan lagi?"
Feng Yan mengernyitkan dahi saat mendapat informasi dari Tan Bu. Dia yang selama ini mengasingkan diri di pinggir kota Batu Besi tentu saja tidak terlalu mengetahui informasi dunia luar.
"Jadi dunia kuno kecil akan terbuka di gunung Taring?" Feng Yan balik bertanya.
"Bukankah keluarga Xiao tinggal di dekat
Sana." Pemuda itu membatin sebelum Cheng Yu menjawab pertanyaannya.
"Rencananya aku dan Yun Zhi akan ikut masuk ke sana, sedangkan Ya Fei dan Tan Bu baru akan ikut bila mereka mampu menerobos ke ranah Grandmaster." Cheng Yu menerangkan sambil menoleh pada Tan Bu.
"Kakak Ya Fei sepertinya akan segera menerobos ke ranah Grandmaster, dia beruntung memiliki inti pecah dua dengan akar yang sama." Feng Yan tidak mengutarakan pemikiran itu pada dua orang teman semejanya.
"Benarkah?" Cheng Yu terlihat sangat bersemangat.
Cukup lama tiga orang itu bersenda gurau, hingga pembicaraan orang di meja sebelah mengejutkan Feng Yan.
"Apa kau sudah dengar kalau nona kedua keluarga Xiao kabur dari rumah karena tidak ingin membatalkan pertunangan dengan bocah sampah keluarga Huang dulu."
"Padahal sudah banyak yang melamar
Gadis yang dianggap sudah janda itu. Sampah Huang itu juga tidak pernah terdengar lagi kabarnya. Konon orang-orang sudah menganggapnya mati." Teman dari pria yang mengawali percakapan juga ikut membahas Xiao Feng Ying.
"Sepertinya Adik Feng sangat tertarik dengan berita mengenai nona Xiao ini?"
Cheng Yu bertanya karena ia melihat Feng Yan sangat antusias mendengarkan pembicaraan orang di meja sebelah.
"Apa Senior Cheng juga mengetahui kabar ini?" Feng Yan balik bertanya.
"Hahaha, sepertinya adik Feng ini benar-benar ketinggalan berita yang hampir setiap orang sudah mengetahuinya."
"Dengar, semua orang juga tidak menduga kalau keluarga Xiao tetap ingin menikahkan putrinya dengan anak buangan Huang. Kepala keluarga Xiao terkenal sebagai orang yang selalu menepati janjinya."
"Walaupun karena hal itu mereka jadi bahan tertawaan orang lain. Namun karena sudah sangat lama tidak terdengar kabar dari
Bocah Huang. Entah sudah mati dan entah apa nama yang dia gunakan saat ini jika ia masih hidup."
Cheng Yu melanjutkan penjelasan yang ia ketahui, "Para tetua mendesak kepala keluarga memutuskan hubungan dengan bocah itu. Sedangkan Putri kedua sudah mereka anggap sebagai janda. Bagaimana pun walau belum menikah seorang gadis tetap dianggap janda kalau sudah ditinggal mati oleh tunangannya". Cheng Yu menjelaskan dengan rinci mengenai berita tentang nona kedua Keluarga Xiao.
Feng Yan menyimak dengan seksama penjelasan dari Cheng Yu dan Tan Bu,
"Bukankah pertunangan itu sudah batal saat keluarga Huang mengusir Bocah itu dulu."
Tanya Feng Yan sambil menggaruk keningnya.
Cheng Yu menggelengkan kepala mendengar perkataan Feng Yan.
"Pertunangan bukan hanya hubungan dua keluarga, tapi bersifat pribadi antara dua orang saat sudah diputuskan."
"Walaupun keluarga Huang sudah
Menyerahkan kontrak pertunangan kepada keluarga Xiao. Tapi sampai saat ini pemuda itu tidak pernah datang. Kudengar Nona kedua keluarga Xiao juga membawa kabur surat kontrak itu agar para tetua dan kakeknya tidak bisa membatalkan pertunangannya."
"Bocah malang itu benar-benar beruntung, masih bisa mendapatkan gadis cantik walau dianggap sampah oleh semua orang." Tan Bu meneguk minumannya setelah mengatakan sesuatu yang membuatnya iri.
Setelah merasa cukup dari penjelasan dua orang itu Feng Yan pamit dan meninggalkan satu keping emas di atas meja untuk membayar minuman mereka.
Menghela napas panjang Feng Yan tidak tahu harus melakukan apa. "Apa berita ini yang ingin dibahas oleh kakak."
Karena terlalu banyak berpikir pemuda itu tidak menyadari sepanjang jalan pulang ia dikuntit oleh beberapa orang.
"Hmm... Sepertinya ada yang cari masalah," batin Feng Yan santai saat masuk ke rumah.
Baru membuka pintu, Feng Yan sudah disambut oleh kakaknya.
"Melihat dari ekspresimu sepertinya kau sudah mendengar berita tentang nona Xiao."
Mendengar pertanyaan dari kakaknya Feng Yan menghempaskan tubuhnya di kursi ruang tamu.
Sedangkan Ya Fei yang mendengarkan perkataan Yun Zhi menjadi sangat penasaran.
"Saudari Yun Zhi memangnya apa hubungannya berita tentang nona Xiao dengan adikmu".
"Ya Fei seperti biasa kau sangat cerdas memahami sesuatu. Kau pasti sudah bisa menduganya bukan?"
"Tidak mungkin!" Ya Fei menutup mulut karena tak percaya dengan kenyataan yang baru saja ia cerna.
"Rahasiakan hal ini, termasuk dari kekasihmu Cheng Yu." Ya Fei hanya mengangguk setuju dengan ucapan Yun Zhi.