NovelToon NovelToon
Fajar Kedua Sang Lady

Fajar Kedua Sang Lady

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Sistem / Wanita perkasa / Tamat
Popularitas:43.2k
Nilai: 5
Nama Author: Irzad

tiba-tiba terbangun di tubuh Lady Genevieve, seorang bangsawan wanita yang sedang diasingkan di sebuah kastil tua karena fitnah kejam di ibukota. Suaminya sendiri, Duke of Blackwood, mengabaikannya. Saat dia bangun, sebuah "Sistem" muncul dan memberitahunya bahwa ada pelayan di kastil ini yang pelan-pelan meracuninya setiap malam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irzad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Kontrak Darah dan Silvershade

Jeritan yang hendak meluncur dari kerongkongan Martha mati seketika, tertahan oleh horor yang membekukan darahnya. Matanya yang membelalak lebar terpaku pada tusuk konde perak yang kini menancap dalam di punggung tangan kanannya, menembus kulit dan otot, mengunci tangannya pada kasur berlapis selimut kasar. Darah segar berwarna merah pekat mulai merembes keluar dari luka robekan itu, menetes perlahan menodai kain linen yang kusam.

Namun, rasa sakit yang membakar dari luka tusuk itu seolah menguap saat ia memberanikan diri menatap wajah wanita yang memegang kendali atas senjata tersebut.

Lady Genevieve tidak berteriak. Ia tidak menangis, memohon, atau meratap seperti yang selama ini ia lakukan. Wanita berkulit pucat pasi itu duduk dengan punggung tegak bersandar pada bantal, memancarkan aura keagungan yang begitu dingin dan absolut hingga membuat udara di dalam kamar terasa semakin membeku. Di tangan kiri Genevieve, cangkir keramik berisi racun yang mematikan itu bertengger dengan sangat stabil, uapnya yang beraroma tanah basah mengepul pelan membelai wajahnya yang tanpa ekspresi.

Empat detik. Sistem telah memperingatkan bahwa ia hanya memiliki sisa tenaga untuk ledakan fisik selama empat detik. Dan Genevieve telah menggunakan waktu itu dengan presisi seorang pembunuh bayaran yang sangat terlatih.

Kini, tubuhnya mulai menuntut bayaran. Di balik gaun linen tipisnya, otot-otot lengannya mulai bergetar halus menahan kelelahan yang ekstrem. Jantungnya berdetak dengan ritme yang menyakitkan, memompa darah ke pelipisnya hingga pandangannya sedikit berkunang-kunang. Namun, dengan kendali mental yang ditempa dari kehidupan masa lalunya, Genevieve memaksakan wajahnya tetap datar, menelan ludah berdarah di mulutnya, dan memfokuskan tatapan esnya tepat ke kedalaman pupil Martha.

"Kau terkejut, Martha?" bisik Genevieve. Suaranya serak, pelan, namun setiap suku kata diucapkan dengan artikulasi tajam yang mengiris kesunyian kamar layaknya sebilah belati. "Apakah kau berpikir racun ini akan bekerja begitu cepat hingga merampas akal sehatku? Atau kau berpikir aku akan dengan patuh menenggaknya seperti anjing yang menelan racun tikus dari majikannya?"

"Nyo... Nyonya..." Suara Martha keluar seperti cicitan tikus yang terperangkap. Ia mencoba menarik tangannya secara instingtif, namun gerakan sekecil apa pun membuat ujung mawar hitam dari tusuk konde itu merobek dagingnya lebih lebar. Ia meringis kesakitan, lututnya bergetar hebat hingga nyaris menghantam lantai batu. "Saya... saya tidak tahu apa yang Anda bicarakan. Ini... ini obat dari tabib—"

"Jangan menghina kecerdasanku, dan jangan membuang sisa waktumu yang berharga dengan kebohongan murahan," potong Genevieve dingin. Tangan kanannya yang terbebas perlahan meluncur mendekati tusuk konde yang menancap di tangan Martha. Alih-alih mencabutnya, jemari kurus Genevieve malah mencengkeram ukiran mawar hitam di ujung tusuk konde itu, lalu memutarnya beberapa milimeter dengan sengaja.

Martha memekik tertahan. Air mata rasa sakit seketika tumpah dari sudut matanya, membasahi bintik-bintik di pipinya yang kini seputih kertas. Napas pelayan itu memburu, dadanya naik turun dengan liar.

"Kau membawa konsentrat murni akar Silvershade pagi ini," lanjut Genevieve, nada suaranya tetap stabil dan mengalun pelan, kontras dengan kekejaman tindakannya. Ia memiringkan kepalanya sedikit, menatap cangkir di tangan kirinya. "Sebuah dosis yang dilipatgandakan karena Tuan Gideon merasa terdesak. Karena utusan pos malam tadi membawa kabar buruk dari ibukota. Karena Nyonya Besar mulai kehilangan kesabarannya terhadap kalian yang tidak becus menyingkirkan satu wanita buangan."

Dunia Martha seakan runtuh seketika. Mata pelayan itu membelalak semakin lebar, nyaris melompat keluar dari rongganya. Mulutnya terbuka dan tertutup tanpa suara. Fakta bahwa majikannya yang selama ini dianggap bodoh, lemah, dan depresi, bisa mengetahui percakapan rahasianya di pantri tengah malam tadi adalah sebuah ketidakmungkinan yang mengerikan. Ia merasa seolah sedang berhadapan dengan iblis yang bisa membaca pikirannya.

"Ba... bagaimana..." Martha tersedak ludahnya sendiri, tubuhnya merosot hingga ia berlutut di lantai dingin, namun tangannya tetap terpaku di atas ranjang. "Bagaimana Anda tahu...?"

Genevieve tidak menjawab pertanyaan itu. Ia tidak perlu menjelaskan keberadaan Sistem atau penjelajahannya di malam hari. Ketidaktahuan adalah senjata psikologis yang paling ampuh. Semakin Martha tidak mengerti, semakin besar teror yang akan menguasai pelayan itu.

"Yang perlu kau ketahui, Martha, adalah fakta bahwa nyawamu saat ini berada di ujung tanduk, dan bukan aku yang menempatkannya di sana," ucap Genevieve pelan. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, mendekatkan wajahnya ke wajah Martha yang bersimbah air mata kepanikan. "Nyonya Besar akan memenggal kepalamu jika aku tidak mati. Tapi jika aku meminum racun ini dan mati hari ini, apakah kau benar-benar berpikir wanita sekejam Nyonya Besar akan membiarkan seorang pelayan rendahan sepertimu hidup untuk menceritakan rahasianya?"

Kalimat itu menghantam rasionalitas Martha layaknya godam besi. Pelayan itu terdiam kaku. Di balik teror yang menguasai benaknya, sebuah kesadaran yang dingin mulai merayap naik. Genevieve benar. Rahasia pembunuhan seorang Duchess adalah dosa yang terlalu besar. Begitu tugas ini selesai, Gideon mungkin akan diselamatkan karena posisinya, namun Martha? Ia hanyalah pion yang bisa dikorbankan kapan saja untuk menghilangkan jejak.

Genevieve melihat perubahan di mata Martha. Keraguan. Ketakutan pada majikan aslinya di ibukota. Itulah celah yang ia tunggu.

Dengan gerakan yang sangat anggun dan terukur, Genevieve menekan bagian tepi cangkir keramik itu ke atas tusuk konde perak yang masih menancap di tangan Martha.

"Tidak... kumohon, Nyonya, jangan..." Martha mulai terisak parah, matanya menatap liar pada cairan pekat di dalam cangkir yang kini berada tepat di atas luka terbukanya.

"Gideon memerintahkanmu untuk memastikan aku tidak bisa bernapas sebelum matahari terbenam hari ini, bukan?" Genevieve memiringkan cangkir itu dengan sangat hati-hati. Sudut bibirnya melengkung membentuk senyuman tipis yang membekukan jiwa. "Mari kita lihat seberapa cepat racun ini bekerja jika ia masuk langsung ke dalam pembuluh darahmu."

Satu tetes cairan pekat berwarna kecokelatan itu meluncur dari bibir cangkir.

Tetesan itu jatuh dengan lambat di udara, menabrak pangkal tusuk konde perak, lalu mengalir turun mengikuti lekuk logam tersebut, dan akhirnya bercampur dengan darah merah yang menggenang di luka tusuk tangan Martha.

"TIDAK!" Martha menjerit tertahan, tubuhnya mengejang ke belakang karena panik luar biasa, namun rasa sakit dari tusuk konde itu memaksanya kembali berlutut. Ia menatap tangannya dengan horor absolut saat cairan itu menyerap masuk ke dalam dagingnya.

**[Peringatan Sistem: Objek Asing (Akar Silvershade) terdeteksi memasuki aliran darah target eksternal. Dosis sangat rendah. Perkiraan waktu menuju kerusakan organ permanen: 7 Hari.]**

Tulisan biru yang melayang di sudut pandangan Genevieve mengonfirmasi taktiknya. Ia tidak berniat membunuh Martha di tempat; mayat pelayan di kamarnya hanya akan mempercepat eksekusi dari pasukan ibukota. Ia membutuhkan bidak catur yang hidup.

1
Memyr 67
𝗃𝗂𝗄𝖺 𝗎𝗌𝗄𝗎𝗉 𝖺𝗀𝗎𝗇𝗀 𝖻𝖾𝗋𝖻𝗂𝖼𝖺𝗋𝖺 𝗍𝗂𝖽𝖺𝗄 𝖻𝖾𝗋𝖽𝖺𝗌𝖺𝗋𝗄𝖺𝗇 𝗄𝖾𝖻𝖾𝗇𝖺𝗋𝖺𝗇, 𝗍𝖺𝗉𝗂 𝖻𝖾𝗋𝖽𝖺𝗌𝖺𝗋𝗄𝖺𝗇 𝗉𝖾𝗋𝗂𝗇𝗍𝖺𝗁 𝖽𝖺𝗋𝗂 𝗂𝗌𝗍𝖺𝗇𝖺. 𝗄𝖾𝗍𝗂𝗄𝖺 𝗄𝖾𝖻𝖾𝗇𝖺𝗋𝖺𝗇 𝖺𝖽𝖺𝗅𝖺𝗁 𝗄𝖾𝗄𝗎𝖺𝗌𝖺𝖺𝗇, 𝗍𝗂𝗇𝗀𝗀𝖺𝗅 𝗆𝖾𝗇𝗎𝗇𝗀𝗀𝗎, 𝗍𝗎𝗆𝖻𝖺𝗇𝗀𝗇𝗒𝖺 𝗄𝖾𝗎𝗌𝗄𝗎𝗉𝖺𝗇, 𝗁𝗂𝗅𝖺𝗇𝗀𝗇𝗒𝖺 𝗄𝖾𝗒𝖺𝗄𝗂𝗇𝖺𝗇 𝖺𝖻𝗌𝗈𝗅𝗎𝗍.
Endang Sulistia
keren
Memyr 67
𝗈𝗐 𝗍𝖺𝗆𝖺𝗍. 𝗍𝖾𝗋𝗂𝗆𝖺𝗄𝖺𝗌𝗂𝗁 𝗎𝗇𝗍𝗎𝗄 𝗇𝗈𝗏𝖾𝗅𝗇𝗒𝖺 𝗒𝗀 𝗅𝗎𝖺𝗋 𝖻𝗂𝖺𝗌𝖺 𝗂𝗇𝗂
Yue Li MZy
Manarik juga~
Putri Amalia
kak author ini serius kan gak Hiatus? please smpe end
Memyr 67
𝗅𝖺𝗇𝗃𝗎𝗍. 𝖺𝗊 𝗍𝗎𝗇𝗀𝗀𝗎
Memyr 67
𝖽𝗂𝗍𝗎𝗇𝗀𝗀𝗎 𝗎𝗉 𝗌𝖾𝗅𝖺𝗇𝗃𝗎𝗍𝗇𝗒𝖺
Memyr 67
𝗅𝖺𝗇𝗃𝗎𝗍
Memyr 67
𝖻𝖺𝗀𝖺𝗂𝗆𝖺𝗇𝖺 𝗋𝖺𝗌𝖺𝗇𝗒𝖺, 𝗍𝗎𝖻𝗎𝗁 𝗒𝗀 𝗉𝖾𝗇𝗎𝗁 𝗋𝖺𝖼𝗎𝗇 𝖺𝗅𝗂𝗌𝗍𝖺𝗂𝗋?
Memyr 67
𝖺𝗅𝗂𝗌𝗍𝖺𝗂𝗋 𝗍𝖾𝗅𝖺𝗁 𝗆𝖾𝗆𝖻𝖾𝗇𝗍𝗎𝗄 𝗄𝖾𝗁𝖺𝗇𝖼𝗎𝗋𝖺𝗇𝗇𝗒𝖺 𝗌𝖾𝗇𝖽𝗂𝗋𝗂
Memyr 67
𝗍𝖾𝗋𝗂𝗆𝖺 𝗄𝖺𝗌𝗂𝗁 𝗌𝗎𝖽𝖺𝗁 𝗎𝗉. 𝖽𝗂𝗍𝗎𝗇𝗀𝗀𝗎 𝗎𝗉 𝖻𝖾𝗋𝗂𝗄𝗎𝗍𝗇𝗒𝖺
Memyr 67
𝗉𝖺𝖽𝖺 𝗉𝖺𝗍𝖺𝗁 𝗉𝖺𝗍𝖺𝗁 𝗍𝗎 𝗍𝗎𝗅𝖺𝗇𝗀. 𝗌𝖺𝗆𝖺 𝖽𝖾𝗇𝗀𝖺𝗇 𝗂𝗌𝗍𝗋𝗂 𝗌𝖺𝗁𝗇𝗒𝖺 𝗒𝖺? 𝗍𝗎𝗅𝖺𝗇𝗀𝗇𝗒𝖺 𝗉𝖺𝗍𝖺𝗁.
Memyr 67
𝗅𝖺𝗇𝗃𝗎𝗍. 𝖺𝗄𝗎 𝗍𝗎𝗇𝗀𝗀𝗎
Memyr 67
𝗆𝖺𝗐𝖺𝗋 𝖻𝖾𝗋𝖺𝗋𝗈𝗆𝖺 𝖻𝗎𝗌𝗎𝗄. 𝗆𝖺𝗐𝖺𝗋 𝖻𝖺𝗇𝗀𝗄𝖾 𝗒𝖺?
Memyr 67
𝗉𝗂𝗇𝗍𝖾𝗋 𝖻𝖺𝗇𝗀𝖾𝖽 𝗈𝗍𝗁𝗈𝗋 𝗆𝖾𝗇𝖽𝖾𝗌𝗄𝗋𝗂𝗉𝗌𝗂𝗄𝖺𝗇 𝗄𝖾𝗇𝗀𝖾𝗋𝗂𝖺𝗇 𝗒𝗀 𝖽𝗂𝖺𝗅𝖺𝗆𝗂 𝗌𝖺𝗇𝗀 𝖽𝗎𝗄𝖾 𝖺𝗋𝗈𝗀𝖺𝗇 𝖺𝗅𝗅𝗂𝗌𝗍𝖺𝗂𝗋
Memyr 67
𝗍𝖾𝗋𝗂𝗆𝖺 𝗄𝖺𝗌𝗂𝗁. 𝖽𝗂𝗍𝗎𝗇𝗀𝗀𝗎 𝗄𝖾𝗅𝖺𝗇𝗃𝗎𝗍𝖺𝗇𝗇𝗒𝖺
Memyr 67
𝗍𝖾𝗋𝗂𝗆𝖺 𝗄𝖺𝗌𝗂𝗁 𝗌𝗎𝖽𝖺𝗁 𝗎𝗉 𝗉𝖺𝗇𝗃𝖺𝗇𝗀
Memyr 67
𝗄𝖾𝖻𝖺𝗒𝖺𝗇𝗀 𝗉𝖾𝗇𝖽𝖾𝗋𝗂𝗍𝖺𝖺𝗇 𝗂𝗍𝗎 𝖽𝗎𝗄𝖾 𝖺𝗋𝗈𝗀𝖺𝗇 𝖺𝗅𝗅𝗂𝗌𝗍𝖺𝗂𝗋
Endang Sulistia
nahan nafas bacanya ...
Memyr 67
𝖽𝖾𝗇𝖽𝖺𝗆 𝗌𝖺𝗇𝗀 𝗉𝖾𝗇𝗀𝗎𝖺𝗌𝖺 𝗄𝖾𝗀𝖾𝗅𝖺𝗉𝖺𝗇 𝖽𝖺𝗋𝗂 𝗃𝗎𝗋𝖺𝗇𝗀 𝗁𝗂𝗍𝖺𝗆 𝗆𝖾𝗇𝖾𝗆𝗎𝗄𝖺𝗇 𝗃𝖺𝗅𝖺𝗇𝗇𝗒𝖺
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!