Seorang wanita bernama Nirmala harus kembali ke desa terpencil tempat kakeknya tinggal setelah menerima surat misterius. Di desa itu, ada mitos tentang "Wewe Putih", sosok yang konon mencuri anak-anak, namun hanya anak yang "dilupakan" oleh keluarganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7
Lampu-lampu kota Jakarta yang gemerlap kini hanya tampak seperti garis-garis cahaya yang kabur di mata Nirmala. Di belakang kemudi motor, Arka memacu kendaraannya dengan kecepatan yang nyaris gila, membelah angin malam yang menusuk tulang. Nirmala mendekap punggung Arka dengan sisa tenaganya, matanya terpejam rapat, namun bayangan sosok tanpa wajah di balkon apartemennya terus berputar di balik kelopak matanya.
Setiap kali motor itu menghantam lubang, Nirmala merasakan sensasi aneh di lengannya. Gatal yang luar biasa, seolah-olah ada ribuan semut kecil yang merayap di bawah kulitnya. Ia tahu itu bukan semut. Itu adalah serat-serat kayu yang mulai mengeras.
"Arka, masih jauh?" bisik Nirmala di balik helm, suaranya nyaris hilang ditelan deru mesin.
"Sebentar lagi, Nir. Bertahanlah," jawab Arka. Suaranya terdengar parau, menahan rasa sakit yang luar biasa di kepalanya akibat benturan energi di apartemen tadi.
Mereka mulai meninggalkan jalanan protokol dan memasuki daerah pinggiran yang lebih sunyi. Pohon-pohon di pinggir jalan di sini terasa berbeda mereka tidak mengancam. Hingga akhirnya, Arka membelokkan motornya ke sebuah gang sempit yang dipenuhi tanaman melati air di sisi-sisinya. Mereka berhenti di depan sebuah rumah sederhana dengan pagar bambu dan teras yang terang oleh lampu bohlam kuning yang hangat.
Seorang wanita paruh baya dengan daster batik dan rambut yang disanggul rapi sudah berdiri di teras. Wajahnya yang teduh tampak sangat cemas. Inilah Ibu Sekar, ibu Arka.
"Ya Allah, Arka! Kenapa kau pucat sekali?" seru Ibu Sekar saat melihat anaknya turun dari motor dengan langkah sempoyongan. Namun, pandangannya segera beralih kepada Nirmala yang masih gemetar di atas motor.
"Bu... tolong dia. Tolong Nirmala." rintih Arka sebelum akhirnya ia jatuh terduduk di lantai teras.
Ibu Sekar dengan sigap merangkul Nirmala. "Ayo, Nak. Masuk dulu. Di sini aman. Ibu sudah memagari rumah ini dengan doa dan air suci."
Begitu melangkah masuk, Nirmala merasakan perubahan atmosfer yang drastis. Jika di apartemennya tadi terasa dingin dan pengap oleh aroma kematian, rumah Ibu Sekar berbau seperti minyak telon, kayu manis, dan seduhan teh tubruk. Sangat manusiawi. Sangat hangat.
Ibu Sekar membawa Nirmala ke kamar tamu yang kecil namun sangat rapi. "Duduk di sini, Nak. Biar Ibu ambilkan air hangat."
Nirmala hanya mengangguk. Ia duduk di tepi ranjang, tangannya masih mendekap kotak besi dari Sandiwayang. Tak lama, Ibu Sekar kembali membawa baskom berisi air hangat dan kain waslap. Saat Ibu Sekar hendak mengusap lengan Nirmala, ia tertegun.
Matanya yang lembut membelalak melihat bercak-bercak kecokelatan yang keras di kulit Nirmala tekstur yang jelas-jelas menyerupai kulit pohon randu.
"Nak..." bisik Ibu Sekar, jarinya menyentuh permukaan bercak itu dengan sangat hati-hati. Tidak ada rasa jijik di wajahnya, yang ada hanyalah kesedihan yang mendalam. "Jadi benar... kau adalah anak yang mereka bicarakan itu?"
Nirmala mendongak, matanya berkaca-kaca. "Ibu tahu? Ibu tahu tentang Sandiwayang?"
Ibu Sekar menghela napas panjang, lalu mulai mengusap kulit Nirmala dengan air hangat yang sudah dicampur garam krosok. "Dulu, saat Arka masih kecil, suamiku ayah Arka pernah bercerita tentang sebuah desa yang menanam kenangan manusia di akar pohon. Aku tidak menyangka itu benar-benar ada. Tapi jangan takut, di rumah ini, kau adalah manusia. Bukan kayu, bukan tumbal."
Sementara itu di ruang tengah, Arka duduk bersandar di kursi rotan. Kepalanya masih berdenyut. Ia tahu, kondisinya yang lemah hanya akan membahayakan Nirmala. Kekuatan 'mata' yang ia miliki justru menjadi bumerang karena ia terlalu banyak menyerap residu hitam dari Sandiwayang.
"Bu," panggil Arka saat Ibu Sekar keluar dari kamar Nirmala.
"Istirahatlah, Arka. Kau sudah keterlaluan memaksa diri," tegur Ibu Sekar sambil memberikan segelas jamu pahit.
"Aku harus pergi, Bu. Besok pagi, aku harus ke rumah Aki." ujar Arka mantap.
Ibu Sekar terdiam. Tangannya yang memegang nampan sedikit bergetar. "Aki sudah sangat tua, Arka. Dia sudah tidak mau lagi mengurusi urusan dunia hitam."
"Tapi ini tentang Nirmala, Bu! Dia bukan manusia biasa lagi. Akar itu mulai mengambil alih fisiknya. Jika aku tidak menemukan cara untuk memutus ikatan itu, Nirmala akan menjadi bagian dari hutan itu selamanya!" Arka menekan suaranya agar tidak terdengar ke dalam kamar.
Pagi harinya, sebelum matahari benar-benar naik, Arka sudah bersiap. Ia mengenakan jaketnya kembali, namun matanya masih terlihat merah. Nirmala berdiri di ambang pintu kamar, menatap Arka dengan perasaan takut yang luar biasa.
"Kau akan meninggalkanku?" tanya Nirmala lirih.
Arka mendekat, memegang kedua bahu Nirmala. "Aku pergi untuk menjemput nyawamu, Nir. Kau di sini bersama Ibuku. Dia tahu apa yang harus dilakukan jika 'mereka' datang mengetuk pintu. Jangan pernah buka pintu untuk siapa pun, meskipun kau mendengar suara Ayah atau Ibumu memanggil."
"Arka, aku takut..."
"Pegang ini," Arka melepaskan sebuah gelang dari jalinan benang tujuh warna di pergelangan tangannya. "Ini pemberian Ibu. Pakai ini. Jika ia terasa panas, segera lari ke dapur dan siram dirimu dengan air sumur."
Nirmala menerima gelang itu, merasakannya melingkar di tangannya yang mulai mengeras. Ia melihat Arka menaiki motornya dan menghilang di ujung gang, meninggalkannya dalam kesunyian rumah Ibu Sekar yang dikelilingi pagar melati.
Arka menempuh perjalanan empat jam menuju lereng Gunung Merapi, tempat di mana kakeknya, yang biasa dipanggil Aki, tinggal dalam kesunyian. Rumah Aki bukanlah rumah kayu yang menyeramkan seperti di Sandiwayang. Itu adalah rumah bambu sederhana yang berdiri di atas tebing kecil, dikelilingi oleh kebun kopi yang asri.
Saat Arka sampai, ia menemukan seorang pria tua dengan rambut putih panjang sedang duduk bersila di depan sebuah tungku kecil. Pria itu tidak menoleh, namun ia berbicara tepat saat mesin motor Arka mati.
"Kau membawa bau kayu busuk ke rumahku, Cucu." ujar Aki dengan suara yang berat namun jernih.
Arka turun dari motor, berjalan mendekat, dan langsung bersimpuh di kaki kakeknya. "Aki... tolong aku. Temanku dalam bahaya."
Aki menoleh perlahan. Matanya tidak putih seperti kakek Nirmala, melainkan berwarna cokelat jernih yang tampak bisa menembus jiwa seseorang. Ia menghela napas, lalu menyuruh Arka duduk di hadapannya.
"Sandiwayang lagi." gumam Aki. "Kenapa manusia tidak pernah kapok bermain dengan ingatan?"
"Aki, dia... dia lahir dari sana. Dia disebut 'Wadon Silihan'. Raga ibunya hanya pinjaman. Sekarang akar itu menagih jantungnya," jelas Arka dengan tergesa-gesa.
Aki tertawa kecil, sebuah tawa yang terdengar sangat tenang namun penuh makna. "Arka, dengarkan Aki. Sandiwayang itu kuat bukan karena pohonnya. Ia kuat karena tipu muslihat."
Arka mengerutkan kening. "Maksud Aki? Aku melihat sendiri kakeknya berubah menjadi kayu! Aku melihat kulit Nirmala mengeras!"
"Itu adalah manifestasi dari rasa percaya, Arka," Aki menyesap kopinya perlahan. "Pohon Randu itu adalah entitas yang hidup dari rasa bersalah dan keyakinan manusia bahwa mereka 'berhutang'. Ayah Nirmala percaya dia berhutang, maka ia membayar. Nirmala percaya dia adalah bagian dari kayu, maka kulitnya berubah menjadi kayu. Itu adalah ilusi persepsi yang sudah berumur ratusan tahun."
"Jadi... Nirmala manusia?"
"Dia bisa menjadi manusia jika dia menolak menjadi kayu." Aki berdiri, lalu masuk ke dalam rumahnya yang remang-remang. Ia keluar membawa sebuah bungkusan kain putih. Di dalamnya terdapat sebuah kalung dengan liontin kecil berbentuk biji tanaman yang sudah mengeras seperti batu.
"Ini adalah biji dari pohon yang lebih tua dari Randu Sandiwayang. Pohon ini hidup dari air hujan, bukan dari ingatan. Pakai ini pada Nirmala. Ini bukan jimat pelindung, tapi ini adalah 'Jangkar Kemanusiaan'. Ini akan mengingatkan jiwanya bahwa detak jantungnya adalah miliknya sendiri, bukan getah pohon."
Aki menepuk bahu Arka. "Tapi kau, Arka... kau tidak bisa melawannya dengan fisik. Kau harus bertapa di gua belakang rumahku malam ini. Kau harus membersihkan matamu dari debu Sandiwayang. Jika tidak, kau hanya akan melihat apa yang 'mereka' ingin kau lihat."
Malam itu, sementara Arka duduk bersila di dalam gua yang dingin, mencoba melawan bisikan-bisikan gaib yang mencoba merusak fokusnya, di rumah Ibu Sekar, suasana mulai berubah.
Kabut tipis kabut yang seharusnya tidak ada di Jakarta mulai merayap masuk dari celah bawah pintu pagar. Suara ketukan pelan mulai terdengar di pintu depan rumah Ibu Sekar.
Tok...
tok...
tok...
"Nirmala... Ibu datang membawa sup ayam..." suara itu sangat lembut, sangat familiar. Suara Ibu Nirmala yang sudah meninggal.
Ibu Sekar yang sedang merajut di ruang tamu segera berdiri. Ia menggenggam tasbihnya erat-erat. Ia melihat ke arah kamar Nirmala, di mana gadis itu tampak sedang meringkuk ketakutan, menutup telinganya dengan bantal.
"Jangan didengar, Nak!" teriak Ibu Sekar. "Itu hanya angin!"
Namun ketukan itu berubah menjadi cakaran di pintu kayu.
Sreeet...
sreeet...
"Kembalikan... jantungku... Nirmala..."
"TIDAKK..."