NovelToon NovelToon
Menunggumu Berdamai Dengan Luka

Menunggumu Berdamai Dengan Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Romansa Fantasi / CEO
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

''Semua laki-laki sama, termasuk kamu."

Duniaku hancur saat tahu Ayah punya keluarga lain. Malam itu juga, aku pergi meninggalkan rumah, kenangan, dan laki-laki yang paling mencintaiku tanpa satu pun kata pamit. Bagiku, cinta hanya sebuah kepalsuan.

Lima tahun berlalu, aku kembali sebagai wanita mandiri yang keras hati. Namun, takdir mempertemukanku lagi dengannya di sebuah persimpangan.

Dia tidak lagi mengejarku. Dia hanya memilih duduk di sampingku saat aku menangis, mendengarkan tanpa banyak tanya, dan menjagaku dari kejauhan.

Apakah aku sanggup membuka hati, saat bayang-bayang pengkhianatan Ayah masih menghantui? Bisakah aku berdamai dengan luka, jika memaafkan saja terasa begitu mustahil?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Pagi itu, aroma kopi dan roti bakar menyeruak dari dapur. Aku sedang merapikan blazer abu-abuku di depan cermin saat Ibu menghampiriku dengan segelas susu hangat.

"Rana, sarapan dulu," ucap Ibu lembut.

Aku tersenyum, menerima gelas itu. "Iya, Bu. Habis ini Rana berangkat. Sepertinya hari ini taksi online agak susah karena cuaca mendung begini."

Ibu terdiam sejenak, menatapku dengan pandangan yang dalam. Beliau meletakkan tangannya di bahuku. "Rana, Ibu perhatikan akhir-akhir ini kamu sering pulang larut malam dan harus menunggu taksi di depan lobi kantor. Ibu khawatir, apalagi Jakarta tidak selalu aman kalau malam."

"Rana nggak apa-apa, Bu. Sudah biasa," jawabku berusaha menenangkan.

"Tidak, Sayang. Butik kita sedang sangat stabil, dan tabungan kita sudah lebih dari cukup," Ibu mengambil sebuah amplop dari laci meja makan. "Ibu ingin kamu beli mobil sendiri. Pilihlah yang nyaman untukmu bekerja. Ibu tidak mau melihat putri Ibu kepanasan atau kehujanan lagi di persimpangan jalan saat menunggu jemputan."

Aku tertegun. Membeli mobil sendiri? Dulu, impian ini terasa begitu jauh saat kami baru tiba di kota ini dengan koper seadanya.

"Tapi Bu, tabungan ini untuk pengembangan butik Ibu—"

"Butik sudah jalan, Rana. Keamananmu jauh lebih penting bagi Ibu," potong Ibu dengan tegas namun penuh kasih. "Ibu ingin kamu pergi dan pulang dengan aman. Ibu tidak ingin kamu merasa kekurangan sedikit pun, apalagi setelah semua kerja kerasmu untuk kita."

Aku memeluk Ibu erat. Ada rasa haru yang membuncah. Memiliki kendaraan sendiri bukan hanya soal kenyamanan, tapi bagiku, itu adalah simbol kemandirian yang utuh. Aku tidak perlu lagi berdiri di pinggir jalan yang mengingatkanku pada pertemuan tak terduga dengan Farez malam itu.

"Terima kasih, Bu. Sore ini, sepulang dari kantor konsultan, Rana akan mampir ke showroom," bisikku.

Aku berangkat ke kantor dengan perasaan yang lebih ringan. Di dalam taksi, aku menatap keluar jendela. Aku membayangkan diriku menyetir sendiri, menutup rapat kaca jendela dari hiruk-pikuk kota, dan yang terpenting: menciptakan ruang pribadiku sendiri yang tidak bisa diinterupsi oleh siapa pun.

Aku adalah Rana yang mampu membeli jalannya sendiri menuju masa depan. Aku tidak butuh tumpangan dari masa lalu.

Sesampainya di kantorku, langkahku terasa lebih mantap. Meskipun hari ini ada jadwal tim Farez datang ke kantorku untuk asistensi proyek, perasaan bangga atas dukungan Ibu membuatku merasa lebih kuat. Aku siap menghadapi siapa pun hari ini, termasuk Direktur Abiwangsa itu.

Sore harinya, aku keluar dari gedung kantor dengan langkah yang masih membawa sisa-sisa semangat dari pembicaraanku dengan Ibu pagi tadi. Bayangan tentang deretan mobil di showroom dan kebebasan yang sebentar lagi kupunya membuatku sedikit tersenyum.

Aku berdiri di pinggir trotoar, menunggu lampu bagi pejalan kaki berubah hijau. Angin sore yang membawa aroma aspal basah meniup ujung rambutku. Di seberang jalan, kerumunan orang juga melakukan hal yang sama, bersiap untuk menyeberang.

Namun, saat mataku memindai kerumunan di seberang sana, jantungku seolah berhenti berdetak.

Di antara puluhan wajah asing, berdiri seorang pria paruh baya dengan kemeja batik yang sangat kukenal. Tubuhnya tidak sekerap dulu, rambutnya kini hampir memutih sepenuhnya, namun raut wajah itu... raut wajah yang selalu kupuja sekaligus kubenci setengah mati, ada di sana.

"Ayah?" bisikku lirih, nyaris tak terdengar oleh telingaku sendiri.

Seketika, kakiku terasa seperti jelly. Seluruh persendianku melemas, membuatku harus berpegangan pada tiang lampu jalan di sampingku agar tidak ambruk. Dunianya yang tadi terasa stabil, tiba-tiba berguncang hebat.

Ingatanku terseret paksa ke malam lima tahun lalu. Suara tangis Ibu, koper yang tertutup rapat, dan punggung Ayah yang menjauh tanpa penyesalan. Pria di seberang jalan itu adalah alasan kenapa aku harus mengganti namaku, alasan kenapa aku takut mencintai, dan alasan kenapa Ibu harus bangun setiap malam dengan isakan tertahan.

Ayah tampak sedang menunggu seseorang. Ia sesekali melihat jam tangan—jam tangan merk rolex tua yang dulu selalu kubanggakan karena itu adalah hadiah ulang tahun dari Ibu. Melihat jam itu masih melingkar di sana, hatiku terasa seperti disayat sembilu.

Lampu penyeberangan berubah hijau. Kerumunan mulai bergerak.

Orang-orang di sampingku mulai melangkah, namun aku tetap mematung. Aku ingin lari ke arah berlawanan, tapi mataku terkunci pada sosoknya yang kini ikut melangkah maju. Dia berjalan ke arahku, namun tatapannya tidak tertuju padaku. Dia sedang tersenyum pada seseorang yang berdiri beberapa meter di belakangku.

Aku menoleh perlahan dengan sisa tenaga yang kupunya.

Seorang laki-laki muda, mungkin usianya beberapa tahun di atas ku, melambaikan tangan ke arah Ayah. Laki-laki itu memiliki rahang yang mirip dengan Ayah, mata yang mirip dengan Ayah. Inikah dia? Anak laki-laki yang dulu menghancurkan mimpiku tentang keluarga sempurna?

Rasa mual tiba-tiba naik ke kerongkonganku. Aku tidak sanggup melihat mereka berpelukan. Aku tidak sanggup melihat kebahagiaan mereka yang dibangun di atas reruntuhan hidupku dan Ibu.

Dengan tangan gemetar, aku segera berbalik. Aku tidak jadi menyeberang. Aku menerobos kerumunan di belakangku, berjalan secepat mungkin tanpa arah tujuan, hanya ingin menjauh sejauh mungkin dari bayang-bayang masa lalu yang baru saja nyata di depan mata.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!