SMA Nusantara bukan sekadar tempat menuntut ilmu. Ia adalah mesin raksasa yang memangsa jiwa. Di balik kemegahan arsitekturnya, tersimpan eksperimen gelap "Proyek Nusantara" yang telah mengorbankan ribuan siswa sejak tahun 1985. Setiap detak lonceng adalah tanda maut dan setiap koridor adalah penjara bagi mereka yang tak pernah kembali ke rumah.
Arga, seorang remaja dengan kemampuan Indigo yang ekstrem, terpaksa memasuki neraka ini demi mencari kakaknya yang hilang. Berbekal tangan perak yang menjadi kunci sekaligus kutukannya, Arga bersama Lintang dan Rian harus mengungkap konspirasi berdarah Sang Kepala Sekolah, Bramantyo.
Di dunia di mana batas antara realitas dan alam Barzakh kian menipis, mampukah Arga mematahkan sumpah hitam pendiri sekolah sebelum fajar terakhir ditelan kegelapan abadi?
Since: 10-04-2026
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I'ts Roomie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Replika
Suara alarm yang menderu di Ruang Isolasi kini berubah menjadi lengkingan panjang yang memecah gendang telinga, sebuah tanda bahwa struktur tempat ini sudah tidak dapat diselamatkan. Cairan asam yang menggenang di lantai mulai menguap, membentuk kabut tebal berwarna hijau neon yang menyelimuti seluruh ruangan dengan udara yang panas dan mematikan.
Arga membenamkan dagunya di bahu Raka. Berat tubuh kakaknya terasa nyata, hangat, dan manusiawi, sebuah pegangan yang membuatnya tidak mau menyerah. Namun di depannya, satu-satunya jalan keluar telah diblokir total.
Barisan makhluk yang berdiri di sana berbeda dengan yang pernah ia lawan sebelumnya. Mereka adalah Biological Automata generasi terbaru. Tubuh mereka tidak dilapisi logam, melainkan dibungkus oleh membran transparan yang tipis namun kuat, memperlihatkan cairan hijau pekat yang mengalir deras di dalam pembuluh-pembuluh buatan mereka. Mereka adalah perwujudan hidup dari cairan pengawet itu sendiri, diciptakan dari jiwa-jiwa murid yang gagal dan dilarutkan demi kesempurnaan.
"Subjek terdeteksi... Kontaminasi emas terdeteksi..." suara mereka bergema serempak, kasar dan kering seperti besi yang bergesekan tanpa pelumas.
Tinta hitam di tubuh Arga berdenyut kencang, merambat naik hingga ke leher dan pipi, seolah berirama dengan detak jantungnya yang memacu adrenalin. Setiap langkah maju yang diambil makhluk-makhluk itu membuat cairan di dalam tubuh mereka berbuih, seolah mereka adalah tabung reaksi berjalan yang siap meledak sewaktu-waktu.
"Lintang! Aku butuh jalur keluar sekarang! Cairan ini naik terlalu cepat!" teriak Arga ke arah komunikator yang terpasang di dinding.
"Aku baru saja memutus aliran utama!" jawab Lintang, suaranya putus-putus tertutup derau listrik. "Tapi itu membuat tekanan di tangki pembuangan menjadi gila! Kau harus masuk ke pipa pembuangan di bawah meja kerja dalam sepuluh detik atau kau akan terpanggang hidup-hidup!"
Sepuluh detik. Tidak ada waktu untuk negosiasi.
Arga menghantamkan kakinya ke lantai dengan keras. Ia melepaskan gelombang energi Indigo yang terkumpul di dalam dirinya. Gelombang itu tidak meledak untuk menghancurkan, melainkan mendingin dengan cepat, membekukan cairan hijau di dalam tubuh para pengepung itu hanya dalam hitungan detik. Tekanan pembekuan yang mendadak membuat tubuh mereka retak dari dalam, menyemprotkan kristal-kristal tajam ke segala arah.
Arga berlari sekuat tenaga melewati celah yang terbuka, menerjang puing-puing dan meja kerja yang berantakan. Ia mencapai meja tua tempat ia menemukan catatan sejarah tadi. Di bawahnya, sebuah penutup lubang bundar terlihat jelas. Dengan satu tendangan kuat, penutup besi itu terbuka lebar.
"Bertahanlah, Kak," bisiknya.
Mereka terjun bebas ke dalam kegelapan pipa pembuangan tepat saat tangki raksasa di ruangan itu meledak. Gelombang panas dan uap kimia menyapu tempat mereka berdiri sedetik yang lalu, melarutkan segala sesuatu yang tersisa menjadi bubur tak berbentuk.
Perjalanan di dalam pipa itu panjang dan menderita. Tubuh mereka meluncur licin di dinding logam yang berkarat, berputar dan membalik tanpa kendali. Hingga akhirnya, mereka terlempar keluar ke sebuah ruangan yang luas dan pengap, mendarat di atas tumpukan karung-karung besar berisi bubuk kimia kering.
Arga segera memeriksa kondisi Raka. Kakaknya masih bernapas, namun kulitnya mulai menunjukkan reaksi aneh. Bercak-bercak warna hijau transparan muncul di lengan dan leher Raka, seolah-olah sisa-sisa cairan dari tabung itu masih berusaha beregenerasi di dalam sel-sel tubuhnya.
"Apa yang terjadi..." gumam Arga panik. Ia menyadari formula emas yang ia gunakan tadi hanya cukup untuk memutus ikatan, namun belum sepenuhnya membersihkan racun dari darah kakaknya.
Pandangannya beralih ke tengah ruangan. Mereka berada di Ruang Distribusi Utama. Di sana berdiri sebuah tabung reaksi raksasa setinggi tiga meter yang terhubung dengan ribuan pipa kecil menjalar ke seluruh dinding, seolah menjadi pembuluh darah bagi seluruh gedung sekolah. Di dalam tabung itu, cairan hijau berputar-putar membentuk pusaran badai yang gelap. Ini adalah jantung dari seluruh sistem kimia di SMA Nusantara.
"Arga... lihat..." suara Raka lemah menunjuk ke arah dasar tabung.
Di dalam pusaran cairan itu, pemandangan yang mengerikan dan memuakkan terbentang. Terdapat puluhan bentuk janin manusia yang sedang tumbuh dan berkembang di dalam cairan itu. Wajah-wajah mereka semuanya identik, sangat mirip dengan wajah Raka.
Mereka bukan janin biasa. Mereka adalah kloningan, replika-replika yang diciptakan untuk menyalin potensi Indigo Raka, menjadi pasukan Siswa Abadi yang siap pakai dan mudah dikendalikan.
"Jadi ini tujuannya..." Arga menelan ludah, perutnya terasa mual. "Mereka ingin mengganti setiap murid di sini dengan boneka buatan mereka sendiri."
Tiba-tiba, cairan di dalam tabung berubah warna menjadi merah darah. Dari tengah pusaran itu, sesosok makhluk muncul dan melayang turun ke lantai. Wujudnya menyeramkan; ia tidak memiliki kulit luar, hanya tumpukan otot merah yang dilapisi kaca tebal transparan. Di dalam dadanya, cairan hijau berdenyut kencang menjadi sumber nyawanya. Ini adalah The Alchemist’s Failure, penjaga terakhir yang gagal disempurnakan namun memiliki kekuatan destruktif yang besar.
"Jangan... biarkan... mereka... hidup..." Raka mencoba bangkit namun tak mampu.
Arga berdiri tegak di depan kakaknya, siap menghadang. Ia tahu serangan fisik tidak akan mempan pada musuh yang tubuhnya bisa berubah dari padat menjadi cair seketika. Ia harus menggunakan apa yang ada di tangannya. Tinta hitam itu bukan lagi sekadar tanda kutukan, itu adalah akses kode ke sistem sekolah ini.
Arga menggoreskan jarinya yang bercahaya ke lantai logam, menuliskan rumus-rumus kimia terbalik yang ia ingat dari catatan tahun 1970. Ia menciptakan reaksi dekomposisi secara paksa.
"Kau ingin cairan ini? Makanlah reaksinya!" teriak Arga.
Dengan satu hentakan tangan ke atas, ia menyalurkan seluruh sisa energinya ke dalam simbol-simbol itu. Lantai bergetar hebat. Cairan di dalam tabung raksasa bereaksi keras terhadap energi Indigo yang memancar dari tubuh Arga. Tekanan di dalam tabung meningkat tak terkendali.
Makhluk kaca itu menerjang, namun terlambat.
Tabung raksasa itu pecah dengan suara yang memekakkan telinga. Cairan hijau meluap deras, namun berkat rumus yang ditulis Arga, cairan itu langsung bereaksi dan berubah menjadi gas netral yang menyebar ke seluruh ruangan. Gas itu bukan racun bagi manusia, namun mematikan bagi segala bentuk kehidupan buatan dan sintetis.
Makhluk penjaga itu menjerit tanpa suara saat tubuh kaca dan dagingnya retak, hancur menjadi debu halus. Janin-janin replika di dalam cairan itu pun layu dan menghitam, musnah sebelum sempat memiliki kesadaran.
Ledakan itu mementalkan tubuh Arga hingga menghantam dinding beton. Pandangannya mulai kabur dan gelap. Namun samar-samar ia melihat pintu darurat terbuka, dan sosok Lintang berlari masuk diikuti oleh beberapa bayangan lain yang tampak seperti murid yang berhasil selamat dari area lain.
"Arga! Raka!" seru Lintang.
Bercak hijau di tubuh Raka perlahan memudar dan hilang, kulitnya kembali normal. Namun sebaliknya, tinta hitam di tubuh Arga justru menyebar semakin luas, kini sudah menutupi separuh dadanya. Harga yang harus dibayar untuk menyelamatkan kakaknya sangatlah mahal.
Saat kesadaran Arga mulai memudar, ia mendengar bisikan samar yang bergema dari pipa-pipa yang rusak. Itu suara Dr. Elena, namun kini terdengar lebih datar dan mekanis.
"Kau pikir kau menang... Kau hanya menghancurkan lab-ku... Tapi kau telah menyerap terlalu banyak dari formula kami... Kau tidak lagi menjadi penyelamat... Kau sedang menjadi pengganti yang sempurna untuk Raka..."
Kegelapan akhirnya menutupi mata Arga. Ia tidak sadar bahwa kehancuran Laboratorium Kimia ini justru menjadi pemicu bagi fase berikutnya yang jauh lebih berbahaya, dan tubuhnya kini sedang berubah menjadi sesuatu yang bahkan Sang Arsitek pun tidak pernah bayangkan.