NovelToon NovelToon
Teror Maut Di Pabrik Karet

Teror Maut Di Pabrik Karet

Status: sedang berlangsung
Genre:Kumpulan Cerita Horror / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / Hantu / Horor
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: UncleHoon

Bambang, pengangguran yang jadi bulan-bulanan tetangganya, nekat tanda tangan kontrak satpam di pabrik karet Kalimantan. Gaji lima belas juta. Kamar mewah. Tapi denda lima ratus juta jika berhenti sebelum setahun. Malam pertama ia dengar suara karet diregangkan dari gudang produksi.

Malam kedua ia lihat bayangan tanpa tubuh di dinding pos satpam. Malam ketiga ia sadar: pabrik ini tak pernah menghasilkan karet. Yang keluar dari gerbang setiap subuh adalah sesuatu yang meniru wajah manusia. Dan kontrak yang ia tanda tangan bukan kontrak kerja. Tapi daftar korban berikutnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UncleHoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Titik Terendah

Bab 28

Tiga hari setelah kabar kecelakaan Profesor Rahman, Bambang merasa seperti hidup di dalam gua yang gelap tanpa ujung. Setiap pagi dia bangun dengan harapan bahwa hari ini akan ada kabar baik. Setiap malam dia tidur dengan kekecewaan karena tidak ada yang berubah. Dewi semakin pendiam. Ucok semakin banyak merokok. Pak Heru hanya bisa diam dan sesekali mengelus punggung mereka seperti anak kecil yang sedang sedih.

Bambang duduk di teras rumah Pak Heru pada sore hari keempat. Hujan gerimis turun sejak pagi dan belum berhenti sampai sekarang. Udara dingin menusuk tulang, tapi Bambang tidak masuk ke dalam. Dia lebih suka duduk di sini, menatap hujan, membiarkan pikirannya melayang ke mana saja.

Dewi keluar dari rumah. Dia membawa dua cangkir kopi panas. Satu untuk Bambang, satu untuk dirinya sendiri. Dia duduk di kursi kayu di samping Bambang.

"Kamu tidak masuk?" tanya Dewi.

"Belum. Nanti."

Dewi menyesap kopinya. Matanya menatap ke arah yang sama dengan Bambang. Ke arah hujan. Ke arah langit kelabu.

"Aku dapat kabar dari temanku di Jakarta," kata Dewi pelan.

"Apa?"

"Profesor Rahman sadar. Tapi... dia tidak ingat apa-apa. Dokter bilang ada trauma di kepalanya. Mungkin permanen. Mungkin sementara. Mereka belum tahu."

Bambang memejamkan mata. "Dia lupa tentang kita?"

"Lupa tentang semuanya. Tentang video. Tentang pabrik. Tentang kolam. Bahkan tentang namanya sendiri. Dia tidak kenal siapa pun."

"Mungkin itu yang perusahaan inginkan."

"Atau mungkin ini memang kecelakaan. Kita tidak tahu."

Bambang membuka matanya. "Kamu percaya itu kecelakaan?"

Dewi tidak menjawab. Dia hanya menyesap kopinya lagi.

Mereka berdua terdiam. Hujan terus turun. Suaranya seperti tangisan. Seperti ratapan. Seperti doa yang tidak dijawab.

Ucok keluar dari rumah. Wajahnya lebih buruk dari kemarin. Lingkar hitam di bawah matanya tebal. Bibirnya pecah-pecah. Jenggotnya tumbuh tidak rapi. Dia duduk di kursi di sebelah Dewi, tanpa bicara.

"Ucok, kamu makan belum?" tanya Dewi.

"Tidak lapar."

"Kamu harus makan."

"Buat apa? Kita sudah kalah."

"Kita belum kalah."

"Belum kalah? Bukti kita hilang. Saksi kita lupa. Kita tidak punya apa-apa. Hanya cerita. Dan tidak ada yang percaya cerita."

Dewi tidak bisa menjawab. Bambang juga tidak. Ucok benar. Mereka sudah di titik terendah. Tidak ada yang tersisa kecuali keputusasaan.

Malam tiba. Mereka makan malam dalam diam. Pak Heru memasak sayur bening dan tempe goreng. Sederhana. Tapi tidak ada yang selera. Bambang hanya makan setengah porsi. Ucok hanya makan tiga suap. Dewi bahkan tidak menyentuh makanannya.

"Anak-anak," kata Pak Heru setelah mereka selesai makan. "Saya sudah tua. Saya sudah lihat banyak hal dalam hidup saya. Saya sudah lihat orang kaya raya jatuh miskin dalam semalam. Saya sudah lihat orang sehat menjadi lumpuh karena kecelakaan. Saya sudah lihat orang baik diperlakukan jahat. Tapi saya juga sudah lihat keajaiban. Keajaiban itu nyata. Datangnya tidak pernah tepat waktu. Tapi selalu datang pada saat yang paling tidak terduga."

"Kami butuh keajaiban sekarang, Pak," kata Bambang.

"Keajaiban tidak bisa dipaksa, Nak. Keajaiban datang ketika kita sudah tidak berusaha memaksanya."

Bambang tidak mengerti maksud Pak Heru. Mungkin dia terlalu lelah untuk mengerti. Yang dia tahu, dia ingin tidur. Tidur yang panjang. Tidur yang tidak akan pernah bangun.

Tapi dia tidak bisa tidur. Pikirannya terlalu sibuk. Setiap kali dia memejamkan mata, yang muncul adalah Profesor Rahman terbaring di rumah sakit. Tubuhnya penuh luka. Matanya kosong. Mulutnya bergumam tidak jelas.

Bambang terbangun tengah malam. Dia tidak sadar kapan tertidur. Yang dia tahu, ada suara dari luar. Suara mobil. Suara orang bicara. Banyak orang.

Dia bangkit dan berjalan ke jendela. Di halaman rumah Pak Heru, beberapa mobil terparkir. Orang-orang dengan jaket hitam turun dari mobil-mobil itu. Mereka membawa senter. Dan senjata. Bambang bisa melihat dengan jelas bentuk pistol di pinggang mereka.

"Ucok! Dewi! Bangun!" teriak Bambang.

Ucok dan Dewi bangun dengan kaget. Mereka berdua berlari ke jendela.

"Itu mereka," bisik Ucok. "Orang-orang perusahaan."

"Bagaimana mereka tahu kita di sini?"

"Tidak tahu. Tapi kita harus pergi. Sekarang."

Mereka berlari ke pintu belakang. Tapi sebelum mereka sampai di pintu, suara ketukan keras terdengar dari pintu depan.

"Buka pintunya! Polisi!" teriak seseorang dari luar.

Bambang tahu itu bukan polisi. Polisi tidak akan datang tengah malam dengan jaket hitam dan senjata. Itu orang-orang bayaran. Orang-orang yang dikirim perusahaan untuk membungkam mereka.

Pak Heru keluar dari kamarnya. Wajahnya tenang. Tidak ada rasa takut di matanya.

"Kalian pergi lewat belakang," bisik Pak Heru. "Saya yang akan urus mereka."

"Pak, mereka berbahaya!" kata Bambang.

"Saya sudah tua. Saya tidak takut mati. Kalian masih muda. Kalian harus hidup."

Pak Heru berjalan ke pintu depan. Bambang, Ucok, dan Dewi berlari ke pintu belakang. Mereka keluar rumah. Halaman belakang gelap. Hujan masih turun gerimis. Tanah becek.

Mereka berlari menembus kebun Pak Heru. Pepohonan pisang di kiri kanan. Genangan air di mana-mana. Kaki Bambang terasa berat. Sepatunya penuh lumpur.

Di belakang mereka, terdengar suara pintu terbuka. Suara orang berteriak. Suara Pak Heru yang tenang.

"Malam-malam, ada apa, Tuan-tuan?"

"Kami mencari dua orang laki-laki dan satu perempuan. Mereka kabur dari perusahaan. Kami tahu mereka di sini."

"Tidak ada siapa-siapa di sini, Tuan. Saya sendiri."

"Jangan bohong, Pak Tua. Mobil mereka terparkir di halaman."

"Itu mobil keponakan saya. Dia sedang tidur di dalam. Mau saya panggilkan?"

Diam sejenak. Bambang tidak bisa mendengar apa yang terjadi setelah itu. Dia terlalu jauh. Yang dia dengar hanya debaran jantungnya sendiri.

Mereka terus berlari sampai ke ujung kebun. Di sana, ada pagar kawat. Di balik pagar, hutan. Hutan yang gelap. Hutan yang sama dengan hutan di sekitar pabrik.

"Kita panjat pagar!" teriak Ucok.

Mereka memanjat pagar kawat. Kawatnya tajam. Bambang merasakan tangannya tergores. Tapi dia tidak peduli. Rasa sakit ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan ketakutan yang dia rasakan.

Mereka mendarat di sisi lain pagar. Hutan menyambut mereka dengan kegelapan dan dingin.

Mereka berlari lagi. Tidak tahu arah. Hanya mengikuti naluri. Hanya berusaha menjauh. Sejauh mungkin dari rumah Pak Heru. Sejauh mungkin dari orang-orang dengan jaket hitam itu.

Setelah berlari sekitar setengah jam, mereka berhenti di bawah pohon besar. Napas mereka tersengal. Tubuh mereka basah oleh hujan dan keringat.

"Dewi, kamu tahu ini hutan apa?" tanya Bambang.

"Tidak tahu. Aku tidak pernah ke sini sebelumnya."

"Kita tersesat."

"Tersesat lebih baik daripada ditangkap."

Mereka beristirahat sejenak. Bambang memeriksa ponselnya. Tidak ada sinyal. Baterai tinggal sedikit. Dewi juga sama. Ucok bahkan tidak membawa ponsel.

"Kita harus cari jalan keluar sebelum pagi," kata Ucok. "Kalau siang, mereka akan lebih mudah menemukan kita."

"Mereka sudah tahu kita lari ke hutan. Mereka akan mencari."

"Maka kita harus lebih cepat."

Mereka berjalan lagi. Tidak berlari. Hanya berjalan cepat. Kaki Bambang sudah tidak terasa. Mati rasa. Yang dia rasakan hanya dingin. Dingin yang menjalar dari telapak kaki sampai ke ubun-ubun.

Mereka berjalan sampai matahari terbit. Cahaya pagi mulai menembus pepohonan. Bambang bisa melihat wajah Dewi dan Ucok. Wajah mereka pucat. Lelah. Tapi masih ada tekad di sana.

"Dewi, lihat itu!" seru Bambang tiba-tiba.

Dewi menoleh ke arah yang ditunjuk Bambang. Di antara pepohonan, terlihat sebuah sungai. Sungai yang lebar. Airnya mengalir deras.

"Itu sungai yang sama?" tanya Dewi.

"Mungkin. Atau sungai lain. Tapi sungai selalu bermuara ke pemukiman. Kita ikuti sungai ini."

Mereka berjalan menyusuri tepian sungai. Tanahnya berlumpur. Bekas-bekas binatang liar terlihat di beberapa tempat. Tapi tidak ada tanda-tanda manusia.

Setelah berjalan sekitar dua jam, mereka mulai melihat sesuatu di kejauhan. Bukan pohon. Bukan semak. Tapi atap. Atap seng. Banyak atap.

"Itu desa!" seru Dewi.

Mereka mempercepat langkah. Bambang hampir tersandung beberapa kali. Tapi dia terus berjalan. Tidak berhenti.

Desa itu ternyata cukup besar. Ada jalan aspal. Ada warung-warung. Ada orang-orang yang lalu lalang dengan sepeda motor.

Mereka berjalan ke warung pertama yang mereka lihat. Seorang ibu setengah baya berdiri di belakang meja.

"Bu, kami mau minum," kata Bambang dengan suara serak.

Ibu itu menatap mereka dengan tatapan heran. Tiga orang dewasa dengan pakaian lusuh, wajah pucat, luka-luka di tangan, muncul dari hutan. Tentu dia heran.

"Kalian dari mana?" tanya ibu itu.

"Kami dari... dari pabrik karet," jawab Bambang jujur.

Wajah ibu itu berubah. Tidak lagi heran. Tapi takut. "Kalian dari pabrik karet? Pabrik yang terbakar?"

Bambang terkejut. "Bapak Ibu tahu?"

"Semua orang tahu. Pabrik itu terbakar empat hari lalu. Kata orang, apinya besar. Sampai ke langit."

"Ada korban?"

"Tidak tahu. Belum ada kabar. Tapi polisi sudah ke sana. Katanya tidak ada yang tewas. Tapi juga tidak ada yang selamat."

Bambang tidak mengerti. Tidak ada yang tewas. Tidak ada yang selamat. Apa maksudnya?

"Bu, boleh kami pinjam telepon?" tanya Dewi.

Ibu itu mengangguk. Dia mengeluarkan ponsel dari sakunya dan memberikannya pada Dewi.

Dewi menekan nomor. Menunggu. Tidak ada yang mengangkat. Dia menekan nomor lain. Masih tidak ada yang mengangkat.

"Tidak bisa," kata Dewi. "Mungkin sinyalnya jelek di sini."

Atau mungkin nomor-nomor itu sudah tidak aktif. Mungkin perusahaan sudah memblokir semua akses mereka ke dunia luar.

Mereka membeli makan dan minum di warung itu. Bambang makan dengan lahap meskipun perutnya mual. Tubuhnya butuh energi. Pikirannya butuh tenaga.

Setelah makan, mereka berjalan ke kantor polisi desa itu. Kecil. Hanya satu ruangan. Seorang polisi muda duduk di belakang meja.

"Pak, kami mau lapor," kata Bambang.

"Lapor apa?"

"Kami dari pabrik karet yang terbakar. Kami selamat. Kami punya informasi penting tentang pabrik itu."

Polisi muda itu menatap mereka dengan mata terbelalak. "Kalian dari pabrik karet? Tunggu di sini. Saya panggil komandan."

Polisi itu pergi ke ruangan belakang. Beberapa saat kemudian, dia keluar dengan seorang pria paruh baya berseragam polisi dengan pangkat lebih tinggi.

"Saya Ipda Bambang, kepala polisi sektor ini," kata pria itu. "Kalian bilang kalian dari pabrik karet?"

"Iya, Pak. Saya Bambang. Ini Ucok. Ini Dewi. Kami selamat dari api."

Ipda Bambang mengernyit. "Namamu Bambang juga?"

"Iya, Pak."

"Kebetulan. Tapi itu tidak penting. Yang penting, kalian harus segera ke rumah sakit. Kalian terlihat sangat lelah."

"Pak, kami tidak butuh rumah sakit. Kami butuh bantuan. Pabrik itu... pabrik itu bukan pabrik biasa. Ada proyek rahasia di sana. Proyek ilegal. Banyak orang mati. Banyak orang hilang."

Ipda Bambang terdiam. Wajahnya berubah serius. "Kamu punya bukti?"

"Kami punya video. Tapi video itu hilang dalam kecelakaan. Kami punya saksi. Kami sendiri. Kami yang mengalaminya."

"Kesaksian kalian saja tidak cukup. Kalian harus punya bukti fisik. Sampel. Dokumen. Sesuatu yang bisa kami pegang."

Bambang meraba tas ranselnya. Buku harian Dul. Kontrak kerja. Itu satu-satunya bukti yang tersisa.

Dia mengeluarkan buku harian Dul dan memberikannya pada Ipda Bambang. "Ini, Pak. Buku harian teman saya. Dia menulis semua yang terjadi di pabrik itu. Dari awal sampai dia mencoba melawan."

Ipda Bambang mengambil buku itu. Dia membuka halaman demi halaman. Matanya membaca cepat. Wajahnya berubah dari serius menjadi terkejut, lalu menjadi pucat.

"Ini... ini ditulis oleh Dul?"

"Iya, Pak. Dul sudah berubah. Dia jadi makhluk. Berdiri di tepi hutan bersama yang lain."

Ipda Bambang menutup buku itu. Tangannya gemetar. "Saya akan bawa ini ke atas. Tapi kalian harus tetap di sini. Jangan ke mana-mana."

"Kami akan ditangkap, Pak?"

"Tidak. Kalian akan dilindungi. Tapi saya tidak bisa janji apa-apa. Ini masalah besar. Lebih besar dari saya. Lebih besar dari kantor polisi ini."

Ipda Bambang pergi ke ruangan belakang. Bambang, Ucok, dan Dewi duduk di kursi plastik di ruang depan. Mereka menunggu. Tidak tahu akan dibawa ke mana. Tidak tahu akan jadi apa.

Tapi setidaknya, mereka tidak sendirian. Setidaknya, ada yang mendengar. Setidaknya, ada yang percaya.

Dan untuk saat ini, itu sudah cukup.

1
Mega Arum
semoga segare terpecahkan misteri apa sbnrnya yg ada di pabrik karet,
Mega Arum
lanjut kak...
Astuti Puspitasari
jangan lupa sholat nak 👍
Astuti Puspitasari
Hati2 mbang, kamu hanyalah anak yang ingin berbakti/Whimper/
Mega Arum
sereem
Mega Arum
mampir thor.. semoga cerita nya bagus
Ma Vin
seru,,,, bikin deg_deg'n tpi pnasaran
Seindah Senja
lanjut Thor,ceritanya seruu bangeet,😍ikut deg² kan bacanya😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!