Hai All, ini adalah karya keduaku.
Sesuai sama judul di atas kali ini aku akan membuat karya tentang dunia permantanan.
Willo, gadis pendiam dan terkesan cuek dan aromantis terkejut saat dia tau ternyata bos di tempatnya bekerja adalah Mantan "Pacarnya" yang super ngeselin.
Willo ingin menghindar dan resign dari tempatnya bekerja namun dirinya tak bisa lepas dari jeratan mantan.
So this is it , Willo story : Hi, Ex - Boyfriend ! 😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SheisUgly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EX or BOSS ?????
Putus cinta itu enggak sakit.
Yang sakit itu udah putus tapi masih cinta.
Awokwok......!!
❄JeritanPegawaiFlowchart❄
🌿🌿🌿🌿🌿
Hari yang aku tunggu tiba juga saatnya.
Aku akan mempresentasikan hasil karyaku kepada Bos ku yang super nyebelin ini. Dia memberikan kami tantangan selama tiga hari dan kelima team sudah siap dengan hasil masing-masing.
Kami berlima sudah berkumpul di ruang meeting menunggu Bos Kai. Di ruangan juga ada salah satu staff yang menggantikan tugas Nancy.
Aku sedikit bersyukur, Kai tidak mengangguku lagi.
Dan sesuai perintah Bos, kini aku mengganti style berpakaianku. Aku yang biasanya pakai hoodie atau jaket bomber, atau model parka sekarang mengenakan kemeja warna pink dengan rambut di kuncir.
Sekalian kupingku bisa dengar kalau si Bos yang mood nya suka berubah itu memerintah sesuka hati.
Minta A, di kerjain minta B.
Emangnya aku Jinny Oh Jinny yang bisa ngabulin segala permintaan dalam waktu cepat.
Si Bos besar nyebelin yang dari tadi di tunggu datang juga.
"Selamat pagi Bos..." Ucap Staff yang ku ketahui bernama Nina.
Bos langsung duduk di sisi ujung meja meeting itu. Di belakang dia duduk ada monitor LCD besar.
"Ok, gimana ? Siapa yang mau maju lebih dulu?? Ini masih pagi, otak kalian juga masih jernih kan???" Tanpa basa basi bosku yang tampil swag dengan gaya mirip rocker dengan rambut sedikit klimis ini membuka meeting.
Gayanya ngomong seperti guru matematika yang nyuruh muridnya ulangan dadakan.
Jelita yang percaya diri berdiri dan maju ke depan.
"Saya Bos..."
"Ok, will see...!" Di memutar kursi ergonomisnya menghadap layar. Akupun memberi semangat pada Jelita.
.
.
.
Jelita, Gading, Satria, dan Irfan sudah selesai presentasi dan kini giliranku.
"Ok Willo saya mau liat hasil kerja keras team kamu. Soalnya cuma team kamu yang saya liat enggak serius kerja.."
Bisa enggak sih, jangan bikin statement yang membuat aku menyerah sebelum berperang??
Agaknya dia tau kelemahanku. Dulu saat dia meremehkanku, aku hanya diam dan tak berani menunjukkan kegigihanku untuk melawannya.
Mungkin juga ini hasil didikan ortu yang men setting aku jadi anak penurut.
Aku hanya diam malas meladeni omongannya.
Aku ingat pesan teman se team ku kalau aku harus fokus.
"Baik Bos, bisa dilihat di layar. Kami dari team kelima yang sudah di bentuk, telah menyelasaikan satu project. Ini adalah sebuah aplikasi game online berbasis sains dan matematika. Meskipun ini terlihat membosankan, tapi kami melengkapinya dengan fitur kekinian dan menampilkan karakter lucu. Game ini bisa di mainkan oleh segala usia, baik anak TK, SD, bahkan SMP juga bisa. Orang tua juga tidak perlu risau anaknya hanya bermain game. Karena di game ini terdapat nilai edukasi...."
"Apa ini akan laku di pasaran??" Kai memotong penjelasanku. Tentu saja, cashflow perusahaan nya juga lebih penting.
Tapi aku punya jawaban.
"Mengenai hal itu kami sudah berdiskusi dengan team jika game ini akan laku karena sebentar lagi liburan panjang akan dimulai. Kami mendesain game ini untuk anak-anak yang bosan bermain di luar rumah. Dan juga agar mereka selalu mengingat pelajaran di sekolah.."
"Apa yang melandasi terciptanya game ini??"
"Saat saya libur semester dulu, saya pernah bosan karena tak ada kegiatan. Jika saya berdiam diri di rumah saya hanya akan mengingat hal yang ingin saya lupakan. Jadi saya dulu suka bermain game." Kataku selanjutnya.
Dia hanya terdiam setelah mendengar kalimat terakhir dariku. Aku tak menyindirnya, itu memang fakta. Tadi kan dia nanya alasan kami membuat game ini.
Aku mengakhiri presentasi dan segera kembali ke kursiku lagi.
"Ok, project kalian semua kali ini aku terima. Tapi membuat aplikasi game online menurutku terlalu mudah. Apa kalian bisa membuat yang lebih menantang dari ini??"
Kami kompak menerima tantangan dari bos.
"Kalian harus tau saat aku melakukan recruitment melalui internet. Aku hanya akan menerima karyawan yang kreatif, punya mimpi besar, membuat sesuatu yang mustahil menjadi mungkin. Gaji besar dan fasilitas yang kalian terima akan sepadan dengan mimpi yang kalian wujudkan disini." Dia berbicara seraya mondar mandir di depan layar besar yang menyala menampilkan logo Flowchart.
" So, im waiting your dream come true.. Yes?? Tanyanya memberi semangat.
"Yess Boss !!" Jawab kami serempak.
Aku sangat lega bisa keluar dari ruang meeting dengan nafas yang masih berhembus teratur.
Aku dan team akan memikirkan lagi sebuah inovasi baru.
Teman-teman yang antusias menunggu kami di ruang kerja buru-buru menghampiri para leader setelah presentasi.
"Gimana Will?? Sukses...??" Tanya Sandy, Iqbal, Gina dan Kemal bersamaan.
Aku mamasang wajah cemberut dan merekapun ikut sendu.
"Suksesss!!!" Aku memekik.
Mereka semua terlihat sumringah setelah mendapat kabar dariku.
"Jangan senang dulu, karena bos memberi kita tantangan yg lebih berat dari ini...." Kataku meyakinkan.
"Dia enggak mungkin biarin kita santay leha-leha enggak kerja tp makan gaji buta..!" Kemal menimpali.
"Nah gitu dong pinterrr...." Sandy pun menimpali.
Semua temanku paham tentang attitude bosnya ini.
Aku kembali duduk di meja kerja. Mengechat Yessy dan Nitha sebentar, menanyakan tentang tekonologi apa yang mereka inginkan.
Kali aja aku dapat pencerahan dari mereka.
Alih-alih menjawab pertanyaanku mereka malah nanyain Bang Kai. Emang setan sahabatku ini !
Aku menaruh ponsel di meja. Punya teman cuma dua, satupun enggak ada yang bener.
Kami memutuskan untuk mencari inspirasi sendiri-sendiri. Aku di Flowchart Library.
Gina dan Iqbal memilih untuk ke tempat fittnes.
Sandy ke tempat arena game virtual.
Dan Kemal memilih duduk santai di garden yang ada di rooftop dekat cafetaria.
Saat aku ke library alias perpustakaan, aku melihat beberapa majalah yang terpampang nyata di sana. Ada majalah Time, Forbes , dan Prestige Magazine. Foto Kaisang Bayu Asmoro berada di sampul depan. Bahkan dia di sejajarkan dengan CEO Facebook Mark Zuckenberg.
Aku mengambil salah satu majalah tersebut untuk ku baca. Entah aku penasaran tentang apa yang di muat di majalah ini. Kenapa Sampai Forbes menjadikan Kai cover majalah mereka.
Forbes menulis artikel Gebrakan dari Asia.
Kai di kenal pebisnis yang suka mengambil resiko. Dimulai dari sebuah kantor kecil di Massachusetts yang dia rintis bersama temannya, kini perusahaan nya bercabang di mana-mana. Yang terbaru, Kaisang membeli saham perusahaan maskapai yang nyaris pailit. Dan dia mampu mengatasinya dan perusahaan maskapai itu bisa beroperasi lagi.
Kai memang orang yang tak terduga. Aku tau dia pintar, tapi gaya bicaranya yang blak-blakan membuat dia tampil beda. Gayanya cenderung swag kadang seenaknya. Dari dulu tak pernah berubah.
Apa aku harus bangga dan nanti bercerita ke anak cucuku kalau aku pernah berpacaran dengan dia?? Mungkin aku sedikit bangga.
Tapi enggak mungkin Kai mengakui ku kalau aku pernah ada di kehidupannya.
Dia memang pernah bilang agar aku tak melupakannya. Itu kan aku.
Apaitu juga berlaku buat dia???
Rasanya tak mungkin.
Aku yang serius membaca artikel tentang dia di suasana perpustakaan yang hening tiba-tiba di kejutkan oleh suara terhoror di Kantor.
Si empunya suara berdehem dan aku hampir berjingkat karena kaget.
Aku melihat wajah Kai sebentar di majalah dan bergantian melihat wajah orang yang mengagetkanku.
Dan wajah mereka sama.
"Maaf bos....." ucapku gugup.
"Lagi baca apa lo???" tanyanya dengan senyum di kulum.
Ya Tuhan.... Jangan goyahkan imanku untuk melupakannya.
"Lagi baca ini bos..." Jawabku songong dengan menunjuk majalah itu.
"Apa lo enggak mulai action sama temen se team. Kenapa malah baca artikel orang ganteng??"
Aku yang duduk di sebelahnya dan di tatap intens jadi kikuk dan salting sendiri.
"Gue lagi mencari inspirasi, tapi gue liat ini..." Kataku seraya menutup majalah itu.
"Apa lo enggak takut kalau harus berhenti dari sini?" Nada nya sedikit mengancam.
"Kenapa gue harus takut ? Gue adalah leader yang harus membawa anak buah gue yaa setidaknya aman kali ini. Bentar lagi kalau tugas gue jadi leader dah selesai, gue bakalan resign kok. Perasaan gue lebih penting dari gaji yang lo tawarin. Gue emang butuh duit buat nyambung hidup bang, tapi.... ada hal lain yang buat gue harus resign dari tempat lo...." Aku memberanikan diri mengatakan uneg-uneg padanya.
"Maaf bos, permisi...." Aku pun berdiri dari hadapannya dan keluar dari perpustakaan. Dia yang ku tinggalkan hanya terdiam terpaku memandangi kepergianku.
Aku masuk lift dengan cepat untuk menuju lantai teratas. Aku mau bertemu temanku di cafe untuk membahas proyek kita yang selanjutnya.
Saat pintu lift akan tertutup, Kai keburu masuk dan jadilah aku dan dia terkurung di lift berdua.
Suasana hening sebentar hingga Kai menarik pergelangan tanganku dan melihat gelang pemberiannya aku pakai.
Aku yang seketika kaget dan deg-degan di dorong Kai sampai mepet di dinding lift. Nafasnya yang seperti menahan marah berhembus di sekitar wajahku. Kini jarak kami sangat dekat.
"Gue tanya ama lo, apa lo selama ini bisa lupain gue??" tanyanya dengan tegas dan sorot mata tajam.
"Apa maksud lo bang??" Jawabku gemetar dengan mata menunduk. Aku ketakutan kontak mata dengannya.
"Buktinya gelang ini masih ada !" Dia mengacungkan pergelangan tanganku yang sedari tadi di cengkeramnya dan di perlihatkan padaku.
"Apa lo mau ini gue buang??" Tanyaku dengan tatapan terbelalak.
Suara penanda pintu lift terbuka berbunyi dan tanganku satunya melepas paksa gelang itu dan jatuh di lantai lift.
Begitu pintu terbuka lebar, ternyata sudah ada beberapa orang karyawan yang jumlahnya kira-kira 8 orang menunggu di depan lift menatap kami yang tertangkap basah berdekatan di dalam lift yang sempit.
Aku melepaskan diri dari pelukannya dan dengan wajah menunduk aku keluar dari lift. Menghindari tatapan pegawai lain yang penasaran dengan apa yang terjadi.
Dengan mata berkaca-kaca aku masuk ke areal cafetaria dan duduk di salah satu kursi dengan kaki lemas.
Kulihat bekas cengkraman tangan Kai yang membekas merah di pergelangan tanganku.
Dan gelang pemberiannya, sudah aku lepas terjatuh di lantai lift.
Aku tak butuh benda itu lagi.
"Willo....." Gina memanggilku dan kami berlima berkumpul kembali.
Dan aku bisa sejenak melupakan Kai untuk sesaat !!
🌿🌿🌿🌿🌿
tadi diawal juga ada. situasinya lagi tegang/kaget tp tiba tiba ada kata tergelak.
sejauh ini sukaa😍 semangat kakk