Glenca Lysandra, seorang gadis yang terkenal di desanya sebagai penakluk hutan yang tak seorang pun berani memasukinya. Dia lah satu-satunya gadis yang berhasil keluar masuk hutan dalam keadaan selamat, berbeda dengan beberapa orang desa lainnya.
Namun, apa jadinya ketika dia bertemu seorang pemimpin mafia, Ethan Frederick Denaro, di sebuah villa kosong yang terkenal angker di dalam hutan yang ia jelajahi. Pertemuan tak sengaja yang membawanya menyaksikan kekejaman dan transaksi gelap seorang Ethan, juga menjadi awal hidup rumit nya.
Ethan tidak pernah membiarkan saksi mata transaksi terlarang nya hidup. Tapi, Glenca adalah pengecualian. Membawanya ke Mansion dan dijadikan mainan, cukup menghibur dirinya yang penuh dengan keseriusan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aquilaliza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Scar
Glenca pikir, hukuman atas kekacauan siang tadi hanya berakhir dengan dirinya yang tidak diperbolehkan untuk makan hingga besok pagi. Tapi, hukuman tak terduga pun Glenca dapatkan juga dari Ethan.
Awalnya, setelah ia diputuskan untuk tidak boleh makan hingga pagi besok hari, Glenca kembali ke kamarnya untuk mengobati kakinya yang sedikit melepuh. Tapi, baru sepuluh menit dia berada di kamar, ketukan kembali terdengar dari luar. Dan ketika pintu dibuka, Martin berdiri dengan cengiran lebarnya.
"Ethan meminta kau untuk menemuinya," ujar Martin.
Seperti biasa, Glenca menurut meski hatinya merasa sangat kesal. Setelah menutup pintu kamar, ia mengikuti Martin yang kembali ke lantai bawah, berjalan sedikit terpincang sambil menahan rasa sakit di kakinya.
"Boleh aku tanya sesuatu?" ucap Glenca tiba-tiba.
"Tanyakan saja." Tidak menoleh atau pun berhenti, Martin tetap mendengarkan apa yang akan Glenca tanyakan.
"Kenapa semua orang terlihat sangat patuh dan takut pada Tuan Ethan?"
"Dia pemimpin klan Denaro. Kau tidak pernah mendengar nama Denaro?"
Glenca menggeleng. "Tidak pernah."
"Kalau Dark Wolf, kau pernah mendengarnya?"
"Tidak juga."
"Kalau begitu, lupakan saja. Silahkan masuk."
Kalimat yang hendak Glenca lontarkan hanya bisa tertahan di bibir. Martin sudah lebih dahulu membukakan pintu ruangan, dimana di dalam sana sudah ada Ethan, Lucas, dan juga Zack.
Glenca berjalan pelan memasuki ruangan tersebut. Matanya langsung tertuju pada Ethan, namun hanya sekejap sebab ia dengan cepat mengalihkan tatapannya ke lantai.
Mata tajam Ethan yang juga menatap ke arahnya membuatnya tak nyaman. Di tambah lagi ia mendengar suara pintu yang ditutup, juga dirinya yang berada dalam satu ruangan yang sama dengan orang-orang yang berkepribadian kejam, membuatnya semakin gelisah dan terus waspada.
"Ambilkan minum."
Wajah Glenca langsung terangkat. Ia merasa Ethan sengaja menyuruhnya. Pria itu sepertinya ingin menyiksanya dengan rasa perih di kaki yang selalu ia rasakan setiap kali memaksa untuk berjalan.
"Akan saya ambilkan." Glenca berbalik, lalu berjalan sedikit pincang menuju sudut paling belakang ruangan, dimana ada tempat untuk ia mengambil minum.
"Silakan Tuan." Glenca meletakkan minuman tersebut tepat di depan Ethan.
"Sepertinya hukuman itu belum cukup untukmu." Ethan meraih gelas tersebut lalu meneguk isinya. "Selama tiga bulan ke depan, pekerjaan tambahan mu adalah memberi makan Scar. Pengasuh Scar akan menjelaskan semuanya padamu."
Glenca terdiam. Scar? Siapa Scar? Kenapa di Mansion ini banyak sekali orang-orang aneh?
"Pergilah! Hukuman mu dimulai hari ini."
"Ayo, ikut bersamaku."
Lagi-lagi Martin yang akan mengantarnya. Jujur, dia tidak ingin berjalan lagi. Rasa perih di kakinya semakin terasa saja. Tapi, jika ia berhenti, Martin akan melapor atau mungkin akan langsung memberi hukuman padanya. Orang-orang di Mansion ini tidak bisa ditebak.
Lucas menatap Ethan yang bersandar santai di kursinya sambil menatap lurus ke arah pintu. Bukan sekali dua kali ia atau yang lain melihat Ethan meloloskan Julie dari hukuman, padahal jelas-jelas kesalahan itu Julie lakukan. Ethan juga yang melihatnya dengan mata kepala sendiri.
"Kau ingin bertanya sesuatu?" Tanpa melihat ke arah Lucas pun, ia tahu jika putra angkat pertama sang ayah itu sedang menatap ke arahnya.
Lucas menarik nafas dan menghembuskan nya. "Ku rasa kau melihat apa yang sebenarnya terjadi."
"Ya, aku melihatnya." Ethan menjawab santai. Ia meraih bungkus rokok kemudian mengeluarkan satu batang dari bungkusannya.
"Lalu?"
"Aku hanya ingin bermain-main." Ethan menyalakan rokok lalu menghisap nya. Lucas tersenyum tipis lalu menggeleng pelan. Main-main? Kata keramat itu selalu memiliki akhir baik dan buruk, tergantung suasana hati Ethan.
"Zack, minggu depan jemput Adeline kembali."
Pria berparas tampan dan selalu lebih banyak diam itu menatap Ethan. Ia merasa ada yang aneh. Tidak biasanya ia yang diperintahkan menjemput Adeline.
"Harus aku?" Zack bersuara.
"Ya. Adeline hanya akan menurut saat melihatmu nanti. Jika aku atau yang lain yang menjemput, akan ada perdebatan panjang. Aku harus menjanjikan banyak hal untuk nya."
"Termasuk melaporkan kegiatan ku?"
Lucas langsung terdiam, lalu terkekeh. "Hanya sekali. Selama ini dia lebih sering pulang sendiri tanpa dijemput setiap kali mendengar kabar jika kau berada di Mansion."
"Aku akan menjemputnya."
Ethan tersenyum miring, lalu menghembuskan asap rokoknya. Akan ada tantangan baru untuk Glenca nantinya.
Sementara di halaman belakang Mansion megah itu, Glenca kembali di buat terpukau. Halaman belakang yang belum pernah ia datangi selama berasa di Mansion ini ternyata sangat luas.
Semuanya jelas tertata dengan baik. Dia tidak menyangka ada pekerja lain juga di halaman belakang, terutama para pria berbadan kekar dengan stelan jas hitam.
"Mereka para pengawal, bertugas menjaga keamanan Mansion."
Glenca hanya mengangguk mendengar penjelasan Martin. Keduanya berjalan menyusuri setapak kecil menuju pagar tembok yang memiliki satu pintu teralis. Seorang pria segera membukakan pintu teralis untuk keduanya.
Glenca langsung disambut dengan pemandangan sebuah kandang berukuran cukup besar, dan tiga orang pria sedang membersihkan area luarnya. Tapi, fokus Glenca bukan pada kandang atau ketiga orang pria itu, melainkan pada hewan apa yang sedang meringkuk dalam kandang dengan pintu teralis besi.
"Scar ada disana," ucap Martin.
"Scar... Dia seekor hewan?"
"Ya."
"Hewan apa?"
"Kau akan tahu saat melihatnya."
Martin semakin mempercepat langkahnya, begitu juga Glenca. Dia bersemangat untuk melihat hewan seperti apa Scar itu. Tapi, langkahnya tiba-tiba berhenti saat hampir mencapai kandang.
Di sana, di balik pintu teralis besi yang terkunci rapat, seekor singa jantan berdiri gagah, menatap ke arahnya dengan pandangan dingin yang menusuk.
"Dia Scar."
"Menyeramkan."
Persis seperti Ethan. Lanjutnya dalam hati.
***
Semua pasang mata tertuju pada Martin ketika pria itu memasuki ruangan sambil tersenyum lebar.
"Ada apa?" Lucas bertanya—penasaran.
"Aku sedang menertawakan Glenca. Kalian tahu? Dia sangat lucu saat melihat Scar tadi. Wajahnya langsung berubah pucat. Saat dipaksa memberi makan Scar, dia ketakutan dan berlari hingga menabrak ku. Hampir saja dia terjatuh. Beruntung aku cekatan dan memeluknya."
"Kalian tahu, ternyata Glenca selain cantik dia juga—"
"Kau memeluknya?"
Martin seketika meneguk kasar ludahnya. Dia baru sadar bahwa tatapan Ethan sekarang sudah seperti ingin membunuhnya.
"E-Eth, aku tidak sengaja. Aku menyelamatkan nya agar tidak terjatuh."
"Lain kali jangan ulangi."
"Tidak akan. Aku tidak akan ulangi."
"Bagus. Apa reaksi Scar?"
"Dia berdiri dan menatap ke arah Glenca."
Ethan tersenyum tipis. Begitu juga dengan Lucas dan Zack. Scar si pemalas berkenalan dengan orang baru itu sepertinya menyambut kedatangan Glenca.
"Kalian kenapa tersenyum—oh astaga! Aku baru menyadarinya. Scar berdiri, dia menyambut. Hahaha... Luar biasa!" Martin tertawa kegirangan.
Hal langka terjadi pada Scar. Jika tidak malas-malasan saat bertemu orang baru, maka dia akan mengaum dengan keras dan memberontak. Tapi ini? Glenca sungguh luar biasa.
terimakasih ❤️
untung aja glecha bisa kabur 😄
ini glencha beneran mau kabur ?? aduh pasti klo ethan tau bisa ngamuk nih😂🤔