Alfarizqi, putra Kyai pemilik Pesantren Bustanul Huffazh, kembali ke Indonesia setelah menamatkan studi di Madinah. Ia membawa serta janji suci yang terlanjur ia berikan pada wanita asal Maroko yaitu Sarah, seorang perempuan yatim piatu korban pemerkosaan yang kini tengah mengandung. Meskipun tidak ada cinta di hatinya, Alfa merasa bertanggung jawab penuh untuk menikahi dan melindungi Sarah, sebagai wujud pengorbanan dan rasa kemanusiaannya. Namun, janji itu terbentur takdir ketika ayahnya menjodohkannya dengan Rayya, demi keberlangsungan pesantren. Rayya, seorang mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan di Belanda, memiliki mimpi dan masa depan yang telah ia rencanakan bersama Adam, teman sekaligus cinta pertamanya semasa SMA. Mereka berjanji akan menikah setelah Rayya kembali ke Tanah Air. Hidup Rayya yang bebas dan penuh ambisi seketika hancur saat ayahnya memaksanya pulang untuk sebuah perjodohan. Ada lagi Rumanah, santri pintar berprestasi yang sejak dulu sudah diam-diam menaruh hati pada Alfarizqy. Di bawah langit yang sama, dua insan yang tidak saling mengenal, dengan janji dan cinta yang berbeda, kini terpaksa berada di persimpangan takdir. Alfa terhimpit antara janji yang harus ia tepati dan kewajiban keluarga yang tak bisa ia tolak. Sementara Rayya, harus memilih antara cintanya pada Adam atau menuruti permintaan orang tua. "Ada Cinta di Langit Madinah" adalah kisah tentang perjuangan, pengorbanan, dan pencarian makna cinta sejati. Akankah Alfa dan Rayya menemukan cinta di antara ikatan yang tak mereka inginkan, atau akankah mereka tetap berpegang teguh pada janji yang telah terucap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alana alisha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Ia Bukan Pilihan
Rayya diam-diam berjalan ke kediaman utama Kiai Ishak. Ia penasaran siapa sosok wanita Timur Tengah yang dibawa Alfarizqi. Perasaannya campur aduk. Perlahan Rayya berdiri dibalik tembok. Mencoba mendengarkan percakapan.
Sementara itu, di dalam rumah utama, suasana hangat menyambut kedatangan Sarah. Ummi Maryam dan Abah Ishak, orang tua Alfarizqi, tersenyum ramah.
"Ahlan wa sahlan, Nona Sarah," sambut Abah Ishak, suaranya lembut dan berwibawa. "Senang sekali Anda tiba di Indonesia dengan sehat dan tiada kurang sesuatu apapun.
"Terima kasih atas kebaikan Anda," jawab Sarah, berusaha menyembunyikan kegugupannya. Ia melirik ke arah Alfarizqi yang berdiri di sampingnya, lalu menunduk.
"Silakan duduk, nak," ajak Ummi Maryam.
"Alfarizqi sudah banyak bercerita tentangmu."
Mereka duduk bersama di ruang tamu. Ummi Maryam menuangkan teh ke dalam cangkir dan menyajikannya untuk Sarah.
"Bagaimana kabarmu di Maroko, nak?"
“Alhamdulillah saya baik-baik saja nyonya!"
“Ummi, panggil Ummi saja nak., untuk kedepan, Ummi akan menjadi ibumu… Sarah tidak usah sungkan!” Sahut Ummi Maryam ramah. Mata Sarah berkaca-kaca. Ia memang masih mencerna perkataan berbahasa Arab dan Inggris yang di lontarkan oleh penghuni Bustanul Huffazh karena perbedaan dialek. Namun ia bisa merasakan kehangatan, keramahan dan penerimaan orang tua Alfarizqi yang menyejukkan.
“Nak, sekali lagi Ummi katakan bahwa Sarah akan dilindungi di sini. Sarah bebas menimba ilmu di Ma’had Bustanul Huffazh ini. Sarah dalam bimbingan Ummi. Dan Alfarizqi….” Ummi Maryam memjeda kalimatnya. Beliau menatap Alfarizqi sejenak.
“Sarah dan Alfarizqi selamanya bukan mahram. Alfarizqi akan menikah dengan gadis pilihan Abah!”
Deg. Jantung Sarah berdegup kencang. Ia memang telah mengetahui bahwa Alfarizqi tidak akan menikahinya. Semua rencana dan janji yang pernah terucap sirna. Namun entah mengapa perkataan Ummi Maryam yang spontan dan terang-terangan itu membuat hatinya serasa diremas. Ia seperti tidak diinginkan. Dan tentu, kehadiran nya di sini sebagai beban.
Aku bersumpah, jika bukan karena Ummi Maryam menangis membujukku dan beliau ingin berlutut agar aku kesini, aku bersumpah tidak ingin ke sini. Perasaan harunya lenyap seketika.
Sarah masih menunduk, tidak berani menatap mata Ummi Maryam. Alfarizqi hanya bisa menelan ludah. Ia tahu betul bagaimana perasaan Sarah saat ini atas apa yang Umminya katakan.
Tak lama, seorang gadis cantik masuk ke dalam ruangan. Ia mengenakan hijab bermotif bunga dan tersenyum ramah. Ia adalah Ning Kamila, adik dari Alfarizqi.
"Assalamualaikum," sapa Ning Kamila.
“Oh, ini Nona Sarah ya? Kakakku tidak salah bilang, Nona memang cantik sekali."
"Waalaikumsalam," jawab Sarah, sedikit banyaknya ia tersipu.
Alfarizqi mengatakannya cantik? Benarkah? Sarah tidak percaya.
"Aku Ning Kamila, adiknya Gus Alfarizqi," lanjut Ning Kamila.
"Aku sudah banyak mendengar tentangmu dari Kakak."
Ning Kamila duduk di samping Sarah, ia menatapnya dari ujung kaki hingga ujung rambut. Ia memang mengagumi Sarah. Alfarizqi mendelikkan mata menatap Ning Kamila. Adiknya itu sungguh berbicara sembarangan. Pada ia tidak pernah cerita atau curhat apapun mengenai Sarah.
"Aku rasa, kau jauh lebih baik untuk Kakakku, Nona Sarah," bisik Ning Kamila, tidak peduli dengan kehadiran orang tuanya.
"Kau lebih cantik dan kau pasti bisa membuat Kakakku bahagia."
Sarah terkejut dengan ucapan Ning Kamila. Ia melirik ke arah Alfarizqi, tetapi Alfarizqi hanya diam. Ummi Maryam yang melihat itu, langsung menegur putrinya.
"Ning Kamila, jaga ucapanmu," tegur Ummi Maryam.
"Bagaimanapun, Alfarizqi akan menikah dengan Rayya."
"Tapi, Ummi..." Ning Kamila tidak melanjutkan ucapannya. Ia tahu jika ia berbicara lebih lanjut, Ummi Maryam akan marah.
"Sudah, jangan dibahas lagi," kata Ummi Maryam, suaranya terdengar tegas.
“Takdir Alfarizqi sudah ditetapkan. Rayya adalah takdirnya. Kau tidak bisa membantahnya."
Ummi Maryam melirik Sarah.
"Nona Sarah, Ummi mohon maaf atas ucapan Ning Kamila. Nona Sarah memang wanita yang baik dan cantik, tapi takdir sudah menuliskan kisah lain untuk kalian berdua." Sarah hanya bisa tersenyum masam. Ia merasa sedih, tapi juga merasa lega. Ia tahu jika ia melanjutkan perasaannya pada Alfarizqi, ia hanya akan menyakiti banyak orang. Ia tidak ingin menjadi penghalang kebahagiaan Alfarizqi.
“Siapa bilang begitu Ummi? Dalam Islam laki-laki bisa memperistri lebih dari satu asal bisa berlaku adil! Laki-laki sekaliber Alfarizqi tentu mampu melakukannya ” Tiba-tiba Abah Ishak angkat bicara. Sarah spontan mendongak. Abah Ishak mengatakan hal tersebut dengan bahasa Arab yang fasih.
Abah merestuinya menikahi Sarah? Alfarizqi tak kalah terkejut. Ning Kamila tersenyum mengangguk.
Sementara itu, dari balik tembok. Airmata Rayya menetes. Ia memang tidak sepenuhnya mendengar semua percakapan itu karena keterbatasan ruangan juga bahasa yang digunakan. Namun ia bisa menarik jawaban kesimpulan.
Pernikahan jenis apa yang nanti akan ia jalani? Kenapa harus dia? Kini Rayya tahu bahwa dirinya bukanlah pilihan. Perasaannya sama sekali tidak diperhitungkan.
Oh Allah, Mengapa ini bisa terjadi? Rayya memegang pelipis nya. Ia merasa pusing. Dengan cepat ia pergi dari sana. Alfarizqi tidak sengaja melihat pergerakan Rayya. Keningnya mengkerut.
Rayya berjalan cepat. Ia keluar dari area rumah utama. Rayya kebingungan setelah sebelumnya bisa membaca keadaan dengan tepat. Sekarang ia bingung harus melakukan apa.
Braaakkk
Rayya tidak sengaja menabrak Rumanah.
“Rayya, kau kenapa? Apa kau baik-baik saja?”
“Aku sedikit pusing” sahut Rayya.
“Ayo kita ke klinik pesantren!”
“Ti… tidak usah… aku hanya sedikit pusing”
“Baiklah. Aku akan mengantarmu ke asrama” Dengan perlahan Rumanah menuntun Rayya kembali ke kamar. Ia membantunya mengoleskan minyak kayu putih dan sesekali memijat pundaknya.
...****************...
IG: @alana.alisha
Si alfa juga salham, kayaknya doi mkir si Rayya masih suka ma Adam
Kayaknya Sarah n Emak mmg tulus ya… cuma yaaitu, ngeselin beuudddd 💔
Rayya jd mau ceraikan suaminya, klo bgtu…. Yaaa Adam udah siap untuk nampung wkwkwkwk💔🤣