Alone Claney hidup dalam kesendirian seperti namanya. Ibu suri yang terpikat padanya pun menjodohkan Alone dengan putra mahkota, calon pewaris tahta. Tak seperti cerita Cinderella yang bahagia bertemu pangeran, nestapa justru menghampirinya ketika mengetahui sifat pangeran yang akan menikahinya ternyata kejam dan kasar.
Karena suatu kejadian, seseorang datang menggantikan posisi pangeran sebagai putra mahkota sekaligus suaminya. Berbeda dengan pangeran yang asli, pria ini sungguh lembut dan penuh rasa keadilan yang tinggi. Sayangnya, pria itu hanyalah sesosok yang menyelusup masuk ke dalam istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yu aotian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 : Pria yang Sulit Ditebak
Untuk sesaat pria itu hanya menatapku dengan lamat, seolah tengah menyelami bola mataku. Ini sedikit membuatku kikuk. Kucoba memalingkan muka agar tak bersirobok dengannya. Namun, saat mata ini turun ke bawah, aku baru menyadari jika sepatuku sudah terlepas dari kakiku.
"Sepatuku ...."
Matanya kini malah tertuju pada kaki yang tak beralas apa pun. Hawa dingin membuat ujung-ujung jariku mengerucut. Jujur, aku merasa tak nyaman saat betis dan kaki terekspos di hadapannya. Kucoba mencari sepasang sepatuku yang terlepas.
Saat mataku sibuk menelisik, tiba-tiba kurasakan sesuatu yang hangat membungkus kakiku. Ternyata, dia melilitkan sobekan gaun tadi ke kaki hingga betisku.
"Udara semakin dingin," ucapnya sambil terus melilitkan kain tersebut hingga menyerupai kaus kaki.
Entah kenapa aku seperti diserang kegugupan. Tubuhku serasa membeku. Apa mungkin karena terlalu dingin?
"Namamu?"
"Eh?" Aku terkejut ketika dia mendadak menanyakan namaku.
"Tidak adil rasanya jika hanya kau yang tahu namaku."
"Alone," jawabku pelan.
Matanya langsung mengerjap ke arahku. "Putri Alone? Nama yang unik."
"Apa itu pujian? Ataukah hinaan?" Aku mencebikkan bibir.
"Tergantung sudut pandangmu," ucapnya sambil tersenyum hingga matanya menyipit. Entah sejak kapan mata tegas itu mendadak terlihat meneduhkan.
"Di mana pengawalmu? Kenapa mereka tidak mengawalmu."
"Tidak tahu," balasku sambil kembali memalingkan muka.
Detik berikutnya, kembali kurasakan kehangatan di punggung badanku. Ternyata dia membungkus tubuhku dengan jubah panjangnya menggantikan mantel bulu panjang milikku yang telah jatuh.
Belum habis kegugupan yang kurasakan, kini dia menyodorkan punggungnya di hadapanku. "Naiklah! Mari kita cari pengawalmu."
Aku bergeming seraya memandang punggung lebar pria itu. Dia benar-benar pria yang tak tertebak. Sebelum bertemu dengannya, aku berpikir dia lebih buruk dari pangeran Julian. Beberapa saat yang lalu aku malah berpikir baik dia maupun pangeran Julian tak ada bedanya. Mereka sama-sama tak berperasaan. Namun, pada saat ini, penilaianku kembali berubah.
Karena cukup lama aku mematung sambil memandang punggungnya, dia lantas menoleh ke arahku.
"Apa ini tindakan yang tidak sopan untuk tuan putri?"
Tersadar dari lamunanku, aku lantas menggeleng. Tanpa ragu, aku langsung menaiki punggungnya melingkarkan kedua tanganku di bahunya.
"Aku sudah sangat lelah. Bawa aku ke tempat yang bisa kupakai beristirahat."
"Di sini tidak ada penginapan!"
"Kalau begitu biarkan aku menginap di rumahmu."
"Rumahku tidak menerima tamu."
Kepalaku langsung terantuk di atas bahunya, sengaja berpura-pura tertidur. Aku mendengar suara tarikan napasnya, sebelum akhirnya mulai berjalan sambil menggendongku. Sapuan angin di kulitku sudah tak sedingin tadi. Seolah takut terjatuh, aku meremas kerah bajunya saat ia mulai menapaki bebatuan. Entah ke mana dia akan membawaku. Yang pasti, ini membuatku memiliki kesempatan untuk mencari cara agar dia mau bekerja sama denganku.
Sekitar setengah jam kemudian, aku membuka sedikit mataku, mencoba mengintip di mana kami berada saat ini. Sepertinya telah sampai di desa Albagard. Terlihat dari banyaknya pemukiman warga di kiri kanan jalan.
Tak seperti yang dikatakan ketiga pengawal, desa ini jauh dari kesan mencekam. Justru terlihat damai, makmur dan maju. Itu terlihat dari rumah-rumah penduduk dan juga sistem irigasinya. Ini membuktikan bahwa kelompok yang dipimpin oleh Bright itu, memang menjalankan aksi mereka untuk memajukan desa itu dan wilayah sekitarnya.
Aku buru-buru menutup mata saat Bright mendadak berhenti melangkah.
"Apa mau terus berpura-pura tidur?"
Suara dari pria itu membuatku terkejut. Aku membuka sebelah mataku. Sialnya, netraku langsung bersirobok dengan maniknya yang legam. Terpergok seperti ini, lantas membuatku tersenyum bodoh sambil menunjukkan deretan gigi depan.
"Kita sudah di mana?"
Ia tak menjawab apa pun, tapi langsung membuka gembok sebuah rumah. Begitu pintu terbuka, mataku memandang takjub isi rumah yang berukuran mini tersebut. Pasalnya, rumah mungil tanpa sekat itu seperti sebuah pameran seni. Di mana ada banyak lukisan dan patung pahatan, aneka macam topeng kulit digantung di dinding, serta beberapa alat musik seperti biola, gitar, dan harpa yang dipajang dengan rapi.
"Kau tinggal di sini?"
Bukannya menjawab, ia malah berkata, "Kau boleh tinggal di sini malam ini. Begitu hari mulai cerah, kembalilah ke tempat asalmu!" ucapnya sambil menurunkan aku di atas tempat tidur kayu yang mungil.
Aku terkejut. Sudah membawaku sejauh ini, kupikir dia akan melunak dan mau bekerja sama denganku. Namun, aku juga tak bisa memaksanya sekarang. Kurasa aku perlu strategi untuk menaklukkannya.
Ia mengambil sesuatu dari dalam lemari pakaian kemudian memberikannya padaku. "Kau bisa pakai ini dulu!"
Ia memberiku sebuah baju terusan lusuh yang tampak sudah cukup lama tersimpan di lemari. Dia juga menyiapkan selimut tebal dan meletakkannya di sampingku.
"Terima kasih, kau sangat baik."
"Jangan salah paham. Aku baik karena mempertimbangkan kau istri saudaraku."
"Aku dan dia belum menikah!"
Aku bisa melihat pupil matanya membesar.
"Pernikahan kami ... akan berlangsung sebulan lagi. Tapi ... karena dia mendadak tak sadarkan diri ... dia tidak bisa melakukannya. Itulah kenapa aku memintamu—"
Lagi-lagi dia langsung memotong. "Masalah kalian bukan urusanku. Ganti bajumu dan beristirahatlah!"
Dia buru-buru keluar dari ruangan itu seolah memberiku kesempatan untuk berganti pakaian. Karena kakiku masih sakit, gerakku menjadi terbatas. Sekitar lima belas menit kemudian, terdengar suara ketukan pintu dari arah luar.
"Apa kau sudah selesai berganti pakaian?" teriaknya.
Sengaja tak kujawab dan membiarkan ia terus menggedor-gedor. Seolah tak sabar, ia langsung membuka pintu sambil memasang ekspresi geram. Namun, hanya satu detik air mukanya langsung berubah ketika melihatku duduk di tempat tidur, dengan gaun yang baru saja ia berikan sambil mengepang rambutku yang sempat berantakan.
.
.
like dan komeng di
dan selanjutnya apa yang akan terjadi...Kooong
Pangeran bright.....,, waspada,, hati2 jangan smpe si batubara mencurigaimu....
segala kebutuhan terpenuhi kog sama dia, kebutuhan perut dan bawah perut wkwkwk
semua serba baru
ada makhluk paling seksi yg siap melayani wkkk
bisa juga dibilang musuh dalam selimut
dan dapat dipastikan akan lebih sulit dihadapi drpd musuh di Medan tempur
selamat memeras otak untuk meladeni makhluk di hadapanmu pangeran
ketauan banged galau gegara mikirin sang pencuri hati iyalah ga semangat kan belum dapet imun
matsuya up nya Kong 💖 💖 💖