Kesalahan di masa remajanya membuat Dewi harus menerima konsekuensi dari semua itu. Memiliki dua orang anak tanpa suami membuat Dewi menjadi bahan pembicaraan di kampungnya. Hingga suatu hari dia menerima lamaran dari saudara ayahnya yang memiliki seorang anak laki laki. Bertahun-tahun berumah tangga Dewi dan Randi belum memiliki anak. Segala cara mereka melakukan, pengobatan tradisional sampai ke dokter kandungan yang terbaik di kota mereka tidak menunjukkan tanda-tanda kehamilan.
Dewi mulai lelah menghadapi tuntutan suami dan keluarga suaminya yang menginginkan keturunan. Hingga semua keluarga besarnya berprasangka buruk pada Dewi, mereka mengatakan kalau Dewi itu mandul karena minum obat ketika belum bersuami.
Suami Dewi juga mulai terpengaruh dengan pembicaraan orang orang. Pertengkaran menjadi hal biasa. Setiap kali ada pertemuan keluarga, mereka selalu mengatakan agar Randi menikah lagi. Agar bisa memiliki anak.
Bagaimana kisah selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elvy Anggreny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
"Kak Dewi, kakak kenapa bisa di hotel ini juga "
"Kak Dewi....."
"Ya dek?"
"Kakak kenapa bisa di hotel ini juga ?" Tanya kekasih Reni curiga
"Lagi ketemu teman, Kamu kenapa di sini ?" Tanya Dewi
"Ah...hum.. Iya kak, lagi ketemu teman juga"
"Oh baiklah..Kakak duluan ya " Kata Dewi begitu lift terbuka
"Iya kak"
Dewi tidak kenal dekat dengan pacar Reni, hanya beberapa kali mereka bertemu kalau ada acara keluarga.
Dewi kembali kerumahnya, Dewi melihat kedua anaknya sedang menonton televisi bersama.
"Ibu.. Ibu udah pulang?' Arumi menyambut Dewi dengan pelukan.
" Iya sayang, Ayah mana ?"
"Ayah ke rumah tante Rani "
"Ya udah, ibu ke dalam dulu "
Ketika memasuki kamarnya, Dewi melihat lemari tempat ijazah dan barang barang penting lainnya sedikit terbuka.
"Kak Randi kebiasaan sekali, kalau ngambil apa apa lemari nggak pernah di tutup rapi, nggak di kunci lagi. selalu di biarkan terbuka ?" Ucap Dewi lirih.
Dewi menutup kembali lemari itu, tanpa melihat atau memeriksa lagi.
Hari Senin yang di tunggu oleh Randi akhirnya tiba juga, Randi akan berangkat kerja hari ini dari rumah dia mampir ke rumah kakaknya.
Hari pertama bekerja Randi pulang jam 4 sore, dia mampir sebentar ke rumah kakaknya.
"Dek, tadi ibu telpon ,calon ibu mertua kamu mau ke sini?"
"Ngapain?"
"Nggak tau, cuman di suruh kasih tau kamu aja"
"Isss ada ada aja"
Sementara di rumah Dewi..
"Kakak, adek.. Ibu keluar sebentar ya.mau ke rumah tante Rani dulu"
"Iya Bu " Jawab mereka bersamaan
Dewi melajukan motornya menuju rumah Rani, ketika sampai Dewi juga melihat motor Randi.
"Ya kalau lamarannya di percepat Dewi bisa curiga kak, apalagi kakak tau dia nggak kasih ijin saya menikah lagi "
Degh...
Dewi mematung, dia mendengar jelas pembicaraan itu. Namanya di sebut.
"Kan lamaran nanti di privasi dek, ibu mertua kamu udah kasih tau. Kalau lamarannya hanya keluarga mereka aja. lagian kan nggak ada nikah gereja juga kalau istri kedua. Makanya lamarannya diam diam aja"
Dewi semakin terkejut...
"Lamaran? Ibu mertua? Istri kedua? Apa maksud mereka?"
"Iya kak, saya tau....saya juga udah punya persiapan tempat tinggal untuk calon istri saya nanti. Saya nggak mau Dewi tau dulu. Kakak kan tau, saya maupun ayah ibu di kampung masih butuh Dewi. Apalagi Dewi. nggak pelit ngasih uang bulanan ke ayah ibu "
"Itu juga yang di katakan ibu, Rahasiakan dulu pernikahan kedua kamu ini dek, jangan sampai Dewi tau alasannya karena itu juga "
"Dan kamu harus tekun dengan pekerjaan kamu, karena kamu tau kan kamu menikah lagi itu mau punya anak " Sambung Johan kakak ipar Randi
"Lagian juga dulu ibu ngapain mau mau aja kamu di nikahkan sama Dewi yang mandul itu. Kakak itu curiga, selama dia nggak bersuami dulu dia pasti udah minum obat anti hamil atau melakukan sesuatu ke rahimnya. Jadi kalau dia tidur sama cowok nggak bakal hamil lagi."
"Emang bisa kayak gitu kak?" Tanya Randi ragu.
"Ya mungkin aja, buktinya udah 4 tahun kalian menikah. Apa hasilnya, nggak ada sama sekali tanda tanda kehamilannya "
Dewi tidak kuat lagi mendengar mereka membicarakan namanya. Perlahan-lahan Dewi mundur, ia mendorong motor hingga ke jalan raya. Dewi melajukan motornya menuju ke rumah Amalia.
Sepanjang perjalanan Dewi menangis.. Menangis bukan karena mereka mengatakan dirinya mandul. Dewi menangis meratapi nasibnya.
"Ya Tuhan, tega sekali mereka...Apa yang sudah saya lakukan sampai mereka seperti itu.?" Batin Dewi.
Dewi merasa tidak beruntung sama sekali dengan hidupnya, Kebahagiaan Dewi hanyalah kedua anaknya, Dewi merasa sepanjang perjalanan hidupnya hanya kecewa dan sakit hati yang dia rasakan.
Dewi sampai di rumah Amalia...
"Loh Wi... "
Dewi langsung memeluk Amalia "Wi kamu kenapa?"
Amalia mendengar Dewi terisak isak " Cerita aja Wi"
Setelah lama membiarkan Dewi menangis, Amalia meraih tangan Dewi.
"Ada apa?"
"Sepertinya wanita yang ingin di nikahi Randi itu adalah salah satu adik tiri saya Lia "
"Apa......?"
"Ya, mereka mau mengadakan lamaran tapi privasi, diam diam dulu dan itu semua saran dari ibu sambung saya "
"Adik kamu yang mana ? ibu sambung kamu yang mana juga ? Kamu punya adik yang belum menikah tu 3 orang kan ?".
Dewi mengangguk "Ya.."
"Terus siapa?"
"Mereka nggak ngomong namanya, saya udah nggak kuat dengerin omongan mereka."
"Jadi kamu nguping pembicaraan mereka?"
"Ya...di rumah kak Rani, Saya mau antar uang arisan keluarga tapi sampai sana saya malah dengar mereka sedang membicarakan lamaran Kak Randi dan di sana juga ada kak Randi "
"Oh ya..?"
"Kamu tau nggak, Mereka nggak mau saya tau rencana mereka karena itu akan berakibat ke uang bulanan untuk orang tua kak Randi. Mereka takut saya nggak kasih uang bulanan ke ayah ibu mertua saya"
"Kamu di manfaatin kayaknya Wi"
"Ya begitulah "
"Terus, gimana ? Diam aja?"
"Nggak, mulai bulan depan saya kirim uang bulanan tapi nggak seperti biasanya, saya kurangi aja"
"Wi...saya kasih kamu saran ya. Gimana kalau gaji kamu yang lain kamu transfer ke rekening kamu yang lain. Dan uang bisnis online kamu juga transfer ke rekening yang lainnya."
"Iya Lia.... udah dari minggu kemarin kayak gitu. sepertinya saya harus pura pura nggak tau rencana mereka "
"Dan kamu nggak usah menangis, di tinggalin Rama aja kamu kuat masa cuman sama Randi anjirrr kayak gitu kamu menangis"
Dewi diam termenung, apa yang di katakan Amalia itu benar sekali. Dia harus kuat, kalau dia tunjukkan sisi lemahnya selama ini itu karena dia selalu ingat pesan Ayahnya. Tapi sepertinya mereka semua hanya memanfaatkan Dewi.
"Saya menangis bukan takut di tinggal sama Randi atau sakit hati karena Randi menikah diam-diam. Saya menangis kok nasip saya gini amat ya. Berusaha menjadi baik malah dapat yang jahat terus"
"Jalani ajalah Wi, Pura pura nggak tau aja dan nggak usah perduli lagi sama urusan keluarga suami kamu itu "
"Baiklah, kayaknya emang harus kayak gitu Lia. Berpura pura nggak tau dan cuek sama semuanya.Ya itu ,yang bikin saya nangis tu kok hidup saya selalu di dekat laki-laki brengsek seperti itu "
"Kamu aja yang terlalu baik dan kamu mau berubah jadi baik. Tapi di mana mana emang kayak gitu. Perempuan baik pasti dikasih cowok yang brengsek "
Dewi diam, ada benarnya kata kata Amalia..
"Thanks ya Lia, duhh.... gila ya rencana mereka. Mereka juga mengira kalau saya minum obat selama saya bergelar janda say .."
"Ha serius? Alasannya?"
"Kalau saya melakukan sex sama cowok biar nggak hamil, gitu "
"Sampai segitunya mereka menilai kamu Wi ?"
"Ya, padahal mereka keluarga saya, tapi kok bisa ya punya pemikiran kayak gitu?"
"Emang keturunan gila ya "
"Sudahlah, setelah ini saya mau bersenang-senang sama anak anak saya. Udah cukup saya menjadi istri dan anak mantu yang baik. Siapa calon istri kak Randi nanti. Ya kita tunggu aja"
*
Pukul 7 malam Dewi pulang ke rumah, Sebelum pulang Dewi membeli lauk untuk mereka makan malam.
Dewi tau Randi sudah pulang, Dewi bersikap santai saat masuk rumah.
"Jam berapa sekarang kamu pulang Wi?"
Dewi menatap Randi lama " Baiklah kak, ayo kita bersandiwara " Batin Dewi
"Oh kak. . Jam 7 kak" Jawab Dewi
"Kamu dari mana? alasan apa lagi sekarang?"
"Dari rumah Amalia, jalan jalan sama Amalia dan anaknya " Jawab Dewi mulai jujur mengatakan dari rumah Amalia.
"Amalia? Kamu masih sering ketemu dia dan kamu jalan jalan sama anak Amalia ?"
"Saya masih sering ketemu Amalia, sebenarnya tadi saya ke rumah kak Rani, cuman tiba tiba aja kangen sama Nora jadi ya saya ke rumah Amalia aja"
"Aa...pa.. kamu tadi ke rumah kak Rani" Tanya Randi kaget, Hilang begitu saja marahnya.
"Hum...udah sampai depan pagar rumah tapi nggak jadi masuk aja "
Dewi bisa melihat tarikan nafas lega dari suaminya, Dewi tersenyum.
"Kamu mau apa ke sana ?" Tanya Randi memastikan lagi
"Mau antar uang arisan, tadi udah saya transfer ke rekening kak Rani."
"Ya udah nggak apa-apa, maaf kalau saya udah mikir yang nggak nggak sama kamu sayang "
Dewi hanya membalas dengan senyuman.
"Sayang...."
Dewi sudah bisa menebak, pasti ada sesuatu yang akan di beritahu yang akan menguntungkan mereka.
"Kenapa kak ?"
"Hum... Tadi ibu telpon ke kak Rani Ibu minta uang mau beli obat herbal untuk ayah tapi kak Rani lagi nggak punya uang sayang "
"Oh ya.... Terus kak?"
Kening Randi berkerut, aneh dengan respon Dewi.
"Kamu kirim uang buat ibu ya, bulan depan kata kak Rani di ganti uangnya "
"Kenapa kak Rani nggak telpon saya aja kalau emang kayak gitu "
"Ya udah sekarang kakak telpon kak Rani ya "
Randi meraih ponselnya dan melakukan panggilan telepon.
"Hallo kak "
"Ya dek, gimana ? Dewi mau nggak kirim uang untuk ibu ?"
"Kakak ngomong sendiri aja sama Dewi ya "
"Ya udah, kasih teleponnya ke Dewi"
Dewi menerima panggilan itu..
"Ya kak"
"Wi.. tolong kirim uang ke ibu ya, Kakak nggak ada uang sama sekali. Kak Johan juga belum gajian Wi."
"Emang ibu minta berapa kak?"
"Satu juta aja...obat herbal ayah harganya kan segitu Wi "
"Hum.. maaf ya kak, Dewi nggak bisa bantu. Sekarang Dewi lagi nggak punya uang sama sekali. "
Randi menatap Dewi dengan tatapan yang tidak percaya, Ini kali pertamanya Dewi mengatakan seperti itu. Biasanya dia akan menjawab" Dewi coba pinjam ke teman dulu ya "
Tapi kali ini Dewi menolak,Rani juga tidak kalah terkejutnya mendengar penolakan Dewi.
"Kamu serius Wi" Tanya Rani tidak percaya
"Iya kak... Dewi nggak ada uang juga sekarang kak. Apalagi pesanan juga sepi"
"Sayang... " Randi mencoba memanggil Dewi
"Kamu nggak bisa pinjam sama teman kamu seperti biasanya ?"
"Udah nggak ada yang mau kasih pinjaman, kenapa nggak kakak aja yang pinjam ke teman teman kakak? ini kan untuk ibu juga " Randi semakin tidak percaya dengan pendengarannya.
Dewi bisa mendengar Rani mendengus di seberang sana.
"Ya udahlah "
Panggilan telepon terputus....
Randi menerima ponselnya, dia terus menatap Dewi.
"Kak... makan yuk, kakak...adek.. ayo makan sayang "
"Sayang, kamu serius nggak bisa bantu uang untuk beli obat ayah ?"
"Nggak bisa kak, Dewi juga malu selalu pinjam uang ke teman teman Dewi"
"Tapi..masa kamu nggak punya simpanan sama sekali sayang?"
"Kak... kenapa harus simpanan saya yang di pakai? Itu untuk Yan sama Arumi. Lagian itu orang tua kalian kan. Kenapa nggak coba pinjam aja, kak Johan juga bisa kan kak ?"
.
.
.
.
Bersambung....
Lanjut ya... Jangan lupa tinggalkan jejak ya readers kesayangan ku 🫰🏼 🫰🏼