" Kamu darimana saja Alena, jam pulang kamu sudah lewat 10 menit?"
"Kakak dengar kamu gak masuk kerja hari ini, pergi kemana tadi?"
"Kenapa lama banget di kamarnya? kamu sakit?"
" Pacar kamu gak jelas Alena, putusin aja ya?"
Sean Luther, Dia kakak iparku sejak 2 tahun yang lalu. Perhatiannya kepadaku terlampau berlebihan, awalnya kukira itu memang caranya mengungkapkan perhatian pada adik iparnya.
Sampai puncaknya, aku mengerti segala maksud tersembunyi dibalik perhatiannya.
"Nikah sama saya Alena atau kamu saya buat hamil sekarang juga."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Banana Mango, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pemaksaan
“ Kita bertemu lagi sayang.” Ujar Sean.
Lelaki yang menjadi alasan ia pergi minggat dari rumah kediaman kakaknya, saat ini berada didepan pintu apartemen miliknya.
Alena buru-buru menutup pintu sekuat tenaganya, namun Alena kalah cepat, Sean sudah lebih dulu menyelipkan salah satu kakinya di pembatas pintu.
Dalam satu dorongan, keadaan pun berbalik. Sean sudah masuk ke dalam apartemen Alena, membuat mereka kembali berdua dalam satu atap.
Alena menatap was-was.
Ia terus menerus berjalan mundur ketika Sean berjalan menghampirinya dengan senyuman culasnya.
Raut mukanya begitu menyeramkan, Sean seolah olah menemukan sebuah bongkahan emas di tengah reruntuhan.
“ Kenapa kabur, Hem?” Tanya Sean, mengelus lembut rambut Alena.
“Jangan pegang-pegang!” Alena mendesis marah, tangan besar milik Sean dengan kasar ia hempaskan.
Sean terkekeh mendapat balasan kasar dari gadisnya. Hanya dalam kurun waktu tiga hari, wanitanya telah menjadi ganas.
“LEPAS!” Alena berteriak kala tangannya ditarik dengan cepat oleh Sean menuju sofa di ruang tamunya.
Dirinya didudukkan dengan paksa.
Setelahnya Sean duduk tepat di sebelah Alena, mengunci segala pergerakan Alena.
Tangannya yang bebas menyentil dahi Alena ketika mendapati tatapan benci yang dilayangkan gadisnya.
“ Jangan menatap dengan tatapan itu Alena, saya enggak suka.” Ucapnya pelan dengan suaranya yang berat. Matanya terus menjelajah, memandang wajah yang ia rindukan selama ini.
“Suka suka saya, anda tidak berhak memerintah saya!” balas Alena formal. Sean tidak suka balasan yang ia dapatkan, Alena menetapkan batasan yang teramat jelas dengan berbicara bahasa yang amat baku dengannya.
Alisnya menukik tajam, “ Anda? Saya?” suaranya terdengar semakin memberat, tangannya mengepal memperlihatkan uratnya.
“ Tolong keluar dari sini sekarang juga, saya tidak mau bertemu dengan anda, urusan kita sudah selesai !” tegas Alena, ia dengan cepat berdiri, menjauh dari jangkauan Sean yang masih duduk mencerna tata bahasa baru yang Alena gunakan untuk berbicara dengannya.
Gadisnya ingin mengakhiri hubungan yang ada di antara mereka.
Gadisnya tidak lagi ingin berurusan dengannya.
Alena Arthur, gadis pujaannya tidak lagi ingin bertemu dengannya.
Pikiran pikiran itu membuat Sean marah besar, dalam sekejap mata ia sudah kembali berdiri menjulang di depan Alena.
“ Kamu gak akan bisa menjauh dariku sayang.” Suaranya memang terdengar lembut, namun kontras dengan ekspresi dan perlakukan yang ia berikan.
Alena lagi lagi terhimpit di dinding, dagunya dicengkeram erat, mengakibatkan Alena tidak dapat mengalihkan pandangannya.
“ Bersiaplah! Besok siang kita menikah!” lanjut Sean.
Mata Alena membelalak, pernyataan gila macam apa lagi yang ia dengar.
“Tidak mau! Dan itu tidak akan pernah terjadi, saya akan memastikan bahwa pernikahan antara kita tidak akan terjadi!” Alena berteriak marah, ia benar benar tidak bisa menahan diri lagi.
Laki-laki di depannya terlalu gila.
“Aku tidak menerima penolakan, Amore.” Ujarnya berjalan melewati Alena, dirinya hendak pergi meninggalkan Alena sendiri kembali, tentu dengan mengambil alih kunci rumah alena, agar perempuan itu tidak kabur kembali.
“Coba saja. Paksa saya menikah, besok saya pastikan anda akan menikah dengan tubuh yang tidak lagi bernyawa.” Matanya tegas menyiratkan sebuah keyakinan akan ucapannya.
Ancaman yang ia dapatkan dari Alena sangat membangkitkan rasa takutnya akan kehilangan Alena.
Mengakibatkan dia bertindak impulsif.
Sean melangkah cepat, menerjang tubuh Alena yang ringkih. Mereka berdua terjatuh terlentang di sofa milik Alena.
“MENJAUH DARIKU!” Alena berteriak, tubuhnya terus menerus memberontak terhadap sentuhan yang Sean berikan. Tangannya ia rentangkan ke atas mendorong bahu Sean menjauh darinya.
Sean terus menerus mencumbu Alena dengan paksa, mengakibatkan empunya hampir meneteskan air matanya kalau saja ia tidak berhenti.
“Nikah denganku Alena atau besok kupastikan kau sudah mengandung anakku!” Sean mengancamnya, tubuhnya mengukung dari atas.
Matanya menyorot dingin pada gadis di bawahnya. Tidak ada kehangatan di sana, Sean fokus pada jawaban yang akan diberikan Alena untuknya.
“ Teruslah berharap! Saya tidak akan Sudi menikah dengan pria tak bermoral seperti anda! Cuih.” Alena meludah tepat ke wajah Sean, ia berharap lelaki itu jijik atau setidaknya lelaki itu akan mengusap hilanhkan ludahnya sehingga Alena mendapatkan sedikit peluang untuk bebas dari kukungan ini.
Sean tertawa, amat menyeramkan, matanya berubah sorot, dengan kasar ia mengusap ludah yang Alena berikan.
“ Kau yang memilih cara ini Alena, bukan aku.” Ucapnya dengan wajah datar.
“Aaa! Lepas, si*l!” Kakinya ditarik mendekat pada tubuh bagian bawah Sean.
Sedari tadi laki-laki itu sudah siap di posisi berlututnya.
Alena kembali memencak bak kesetanan ketika Sean melepaskan ikat pinggang kulitnya. Ia bisa dengan mudah bangkit dari posisi memalukan ini karena Sean tidak menahannya dengan benar.
Selagi Sean melepaskan sabuknya, Alena dengan cepat bangun, berlari menuju pintu keluar.
Belum ada tiga langkah dari sofa, ia merasakan ada tangan kokoh yang menangkup perutnya, detik selanjutnya ia terbanting dan sudah kembali terlentang di posisi semula.
Sebelum Alena sempat bangun lagi, Sean dengan cepat mengikatkan ikat pinggangnya pada kedua tangan Alena.
“ Lepasin saya, cepat! Jangan kurang ajar ya!” Alena menatapnya nyalang.
Segala sumpah serapah sudah ia lontarkan pada laki-laki itu. Ia juga menyesali keputusannya untuk menggunakan gaun kuning ini, karena memudahkan Sean untuk menjamah tubuhnya.
Bahkan sekarang, setengah dari gaun kuningnya sudah tersingkap ke atas, memperlihatkan pinggangnya yang ramping hingga ke bawah.
Sean meneguk ludahnya keras, ia baru menyingkap setengah gaun Alena, belum melepaskan kain segitiga yang merupakan pelindung lembah surgawi milik Alena.
Di bawah sana miliknya sudah berdiri tegak, Sean berdecak, bagaimana bisa ia terangs*ng hanya karena melihat pinggang ramping Alena.
“Ssstt... Kau benar-benar mengujiku Alena!” Sean menggeram kesakitan ketika Alena yang sedari tadi bergerak asal guna bebas dari Sean, malah tak sengaja menyenggol sesuatu.
Alena yang sadar sudah secara tidak sengaja memulai bahaya, dibuat terpaku.
“I-itu gak sengaja! Sumpah de- Argh!” pembelaannya terputus begitu saja, digantikan dengan jeritan kaget ketika Sean beraksi.
Sean bisa leluasa melihat tanpa halangan apa pun, lelaki itu sudah menyeringai lebar sejak tadi.
Tangannya dengan cepat melepaskan pakaiannya.
Alena?
Ia menangis tersedu-sedu menyadari kejadian mengenaskan yang menimpanya beberapa malam lalu akan kembali terulang lagi, menimpanya lagi.
“Sudah siap Alena? “ Tanya Sean dengan santai.