Demi terbebas dari tekanan Melia—ibunya, Olla memutuskan menikah dengan pria pilihan Melia bernama Alvin. Seorang pengusaha muda yang begitu kaku dan sombong.
Ia memberikan semuanya, agar di hari yang sama dia bisa melarikan diri dan hidup bebas.
Namun, kaburnya Olla setelah malam pertama, justru membawa petaka bagi Alvin Perkasa. Bagi Alvin, Olla adalah syarat mutlak agar dia bisa merebut kembali perusahaan warisan milik ibunya yang kini dikuasai oleh ayah dan kakak tirinya.
Bermacam cara Alvin lakukan, hingga akhirnya dia berhasil menemukan Olla, tetapi wanita itu justru selalu berhasil kabur setiap kali Alvin berusaha membawanya kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon misshel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Istri Yang Berbakti Part 3; Pikirmu, Kamu Sudah Menang
Apa yang Olla pikirkan semalaman? Sudah tahu kan, kalau berjongkok tidak akan membuat apapun yang dimasukkan Alvin ke kedalaman dirinya itu akan bisa keluar semuanya? Dia sudah mempelajarinya saat masih jadi mahasiswa dulu.
Pasti ada satu dua yang berhasil berenang menuju sel telur. Morning-after-pill solusinya.
Kontrasepsi darurat itu pasti bisa digunakan lagi. Ya ... itu dia!
Sudah pagi, dan Olla tidak tidur semalaman memikirkan apa yang akan dilakukan selanjutnya. Menggedor dan berteriak hingga suaranya nyaris hilang, bahkan terasa perih di tenggorokan sudah ia lakukan, tapi Alvin tampaknya masih setia pada permintaannya. Apa mau bangsat itu sebenarnya?
Wanita itu terhuyung mendekati meja dimana tasnya berada. Ia menghamburkan semua isinya hingga bertemu beberapa tablet berisikan pil kontrasepsi darurat. Tangan Olla gemetaran menyambar pil tersebut.
Ia membukanya dengan napas tegang. Lalu tanpa air, ia menelan pil tersebut. Astaga, ini menyakitkan.
Beberapa saat kemudian, Olla mulai tenang dan menata tasnya kembali. Saat memasukkan tablet sisa, ia tertegun.
"Kenapa aku beli sebanyak ini?"
Sepertinya, dia tahu kalau Alvin akan datang dan menidurinya lagi. Dan lagi—jumlah pil itu tidak sedikit.
Dengan gugup, Olla melemparkan pil tersebut ke lantai dan dia sendiri berdiri menjauh. "Kek gue ngarep banget ditiduri dia lagi?!"
Sedang berusaha menggali ingatan seminggu lalu kenapa dia memutuskan membeli sebanyak ini, di luar terdengar suara berisik.
Olla berpaling dari pil yang berserakan itu juga pikiran gila soal ditiduri Alvin, menuju pintu dan menguping.
Suara diluar sangat pelan dan teredam. Tapi Olla tahu siapa yang berbicara.
"Mampus kamu, Al—eh, kenapa terus sebut pake Al sih?!" Olla menampar mulutnya sendiri. "Maksudnya, mampus kamu Vin, gimana kamu cari alasan ke perangkat desa sekarang?"
Olla menaikkan sudut bibirnya. Ia hanya perlu duduk di ranjang dengan aman dan tenang. Yang baik akan datang sesaat lagi.
"Haha, Alvin-Alvin ... di sini wilayahku, kamu nggak bakal bisa semena-mena sama aku!"
Olla sudah berjanji akan memulai programnya hari ini, jadi Alvin tidak bisa mengurungnya seharian di sini. Bahkan jika dia ingin mengawasi, Alvin tidak akan punya alasan. Ini seperti antiklimaks. Alvin terpaksa memupus harapan untuk bisa membawanya kembali ke kota.
Sayangnya ....
Yang Olla tidak pernah bayangkan adalah bahwa Alvin telah melakukan sesuatu. Seperti ketika kembali lagi ke sini, dia menemui kepala desa dan bupati langsung. Mengatakan kalau dia baru saja menikah dengan Olla dan akan berbulan madu.
Jadi ketika Olla minta izin akan urusannya, diperbolehkan begitu saja tanpa banyak alasan. Alvin juga bertanya semua hal terkait dengan apa yang dilakukan Olla, hingga Alvin mengetahui semuanya.
Berbekal informasi dari pihak terkait, Alvin bisa dengan tenang meninggalkan Sony di sini untuk—sekali lagi, berkorban demi terlihat mereka sungguhan pasangan penuh cinta. Membangun kepercayaan warga di sini, sehingga Alvin tidak menemukan kesulitan nantinya.
Yang datang pagi buta begini adalah Sekdes atau akrab disapa Pak Carik. Beliau datang untuk membawa Olla mengunjungi sekolah dasar yang paling jauh lokasinya dari tempat ini.
Meski memakai mobil atau motor, tetap saja akan memakan waktu. Terlebih semalam hujan sedikit deras. Ia khawatir kalau jalanan licin, atau kena longsor, jadi mereka harus berangkat lebih pagi agar sampai tepat waktu.
"Mas Alvin nyenyak tidurnya?" Pak Carik menyapa dengan tangan terulur untuk bersalaman. "Ndak terasa udah seminggu ndak jumpa, ya, Mas."
Alvin begitu gembira menyambut Pak Carik yang sudah banyak membantunya. "Tidak sebaik sebelumnya, Pak! Semalam saya tidur sangat nyenyak."
Pak Carik tertawa. "Katanya bulan madu itu ya, ndak tidur... orang bikin anak terus kok."
Alvin terbahak. "Bapak benar!"
"Jadi mana Bu Dokternya?" Pak Carik melongok ke belakang Alvin yang berdiri memenuhi pintu. "Masih kecapekan, ya, Mas?"
"Iya, Pak ... kalau boleh, ke sekolahnya besok saja, Pak. Biar acara hari ini ke tempat yang dekat saja." Alvin memberi saran. Olla masih harus dilumpuhkan sekali lagi hari ini.
Pak Carik tampak berpikir sejenak. "Bolehlah, Mas ... kebetulan hari ini acaranya di sini. Ada warga yang kena gatal-gatal, biar diperiksa Bu Dokter sore nanti."
Alvin tersenyum senang. "Saya pastikan, Istri saya siap sore nanti, Pak."
Pak Carik terkekeh. "Mumpung suasana mendung dan mendukung, boleh loh, Mas lanjut buat bayinya. Di sini sepi kalau pagi. Warga pada ke sawah dan ladang di hutan sana!"
Pak Carik menunjuk perbukitan yang tampak ditanami padi dan jagung. "Baru balik sore nanti, Mas."
"Makasih sarannya, Pak. Tapi kayaknya, istri saya sudah kecapekan, jadi akan saya biarkan istirahat." Alvin menunjukkan sikap yang baik dan penuh kasih pada Pak Carik. Ini langkah selanjutnya setelah ia merapikan rumah ini dan menatanya agar bisa dipakai sebagai tempat tinggal dan juga klinik dadakan.
Alvin memikirkannya sendiri. Dia harus berusaha sebaik mungkin dan Sony yang menjalankan hingga kemarin ketika Olla kembali ke sini sendirian. Alvin sudah menghubungi orang tertentu dan mengatakan dia masih ada urusan di kota. Mereka percaya. Sangat percaya dengan sebuah APV yang disulap sebagai ambulans demi mendukung pekerjaan Olla.
Alvin baru datang malam sebelum Olla pulang. Dia harus tetap bekerja dan terlihat bodoh di depan ayah dan Demian. Sumpah demi apapun, Alvin ingin menonjok setiap kali Demian melintas di depannya dengan senyum mengejek yang tersamarkan.
Alvin bekerja di bagian keuangan sebagai staf rendahan. Sudah 10 tahun dia di posisi itu dan tidak ada yang tahu kalau dia adalah anak bos. Alvin sungguh dilumpuhkan dan tidak diberi kesempatan berkembang. Licik sekali Demian itu.
Begitu Pak Carik meninggalkan pekarangan, Alvin masuk untuk melihat Sony yang sedang memasak.
"Sarapan Bos." Ia menyodorkan semangkok mi instan kuah dan sepiring nasi ke meja makan di dapur.
Alvin mengambilnya. "Buatkan satu untuk Olla!"
"Siap, Bos!" Sony terkekeh lalu melangkah ke depan kompor lagi. Ia menyiapkan sendiri peralatan rumah tangga dan kompor di sini. Sesuai permintaan Alvin, Olla harus merasa berhutang padanya.
"Dia pasti nggak bisa tidur semalam. Siapkan juga teh hangat dan madu. Nanti aku antar kesana!" Alvin mengambil ponsel dan menghubungi Devon. Ia harus melihat banyak hal hari ini, termasuk usahanya yang sekarang harus diurus Devon seorang.
Dia izin dua hari dengan alasan sakit. Minggu lalu dia izin juga mengatakan sakit dan harus melakukan pengobatan setiap minggu. Dan ia harus membeli surat keterangan dokter palsu karena Andika Utama dan Demian, akan memotong gajinya tanpa ampun jika hanya beralasan asal saja.
Sekitar lima menit kemudian, Sony datang dengan nampan. "Saya bawa sampai ke depan pintu, Bos, eh Pak!"
Alvin mendesah pelan lalu berdiri mengikuti Sony ke kamar Olla.
Begitu dia masuk, Alvin dibuat kaget melihat Olla yang duduk tenang di ranjang.
Ia duduk menyangga tubuh, menggerakkan badannya sensual.
"Apa kau sudah rindu padaku, Suamiku?!"
ada apa dengan kak misshel?
tumben2an ini
Hanya karena wasiat harus memiliki pasangan baru dapat mewarisi bisnis tersebut, bukti nyata seperti buku nikah sudah cukup untuk memenuhi syarat. Hal seperti cinta tidak dapat dijadikan syarat karena sesungguhnya perasaan adalah suatu hal yg tak bisa di lihat, bisa dibuktikan tapi tetap tidak diketahui bukti tersebut tulus atau tidak.
Jadi, si tua Andika dan Damian kalian yg tidak memiliki perasaan dan hanya dibutakan harta harusnya lebih paham hal tersebut tapi malah sok² bijak/baik + sok tau menilai pernikahan seseorang demi mempertahankan yg bukan milik kalian. Sudah Jelas Tololnya + tak Tau malunya deh😏