~NOVEL KE 15~
Nama ku Myrtle. Aku telah jadi yatim piatu sejak masih bayi. Kemudian aku ikut tinggal di rumah sepupu ibu ku dan menjadi bagian dalam keluarga nya.
Sebuah tragedi kemudian terjadi pada keluarga sepupu ibu ku itu. Hampir semua anggota keluarganya meninggal dalam kecelakaan pesawat. Hanya menyisakan Sang Sulung, Rayn Millard seorang saja.
Sejak itulah Aku tinggal berdua dalam asuhan Kak Rayn. Sampai kemudian aku menyadari rahasia tersembunyi terkait Rayn.
Bahwa sebenarnya, kakak sepupu ku itu ternyata adalah vampir!
Bagaimana kelanjutan hidup ku setelahnya?
Haruskah aku tetap hidup bersama Rayn, atau pergi sejauh-jauhnya?
Bagaimana juga kehidupan ku bersama Ray nanti, bila sosok wanita vampir lain muncul dan mengaku sebagai pemilik Rayn? Wanita yang telah mengubah Rayn menjadi seorang vampir..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meli meilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Andrew, Si Murid Baru
Beberapa hari berikutnya aku melalui hari-hari ku seperti biasanya. Kak Rayn juga bersikap cool dan normal seperti biasanya ia.
Sejak hari pertama aku melihatnya, aku tak pernah lagi melihat Kak Cella. Dan aku juga selalu berusaha menghindari topik tentang wanita itu lagi.
Maksud ku, hubungannya dengan Kak Rayn jelas masih cukup mengganggu pikiran ku.
"Myr? Hey, Myrtle! Kamu lagi bengongin apa sih?" ku dengar suara Miranda menegur ku.
Saat ini adalah jam istirahat. Kami berdua sednag duduk bersama di kantin.
"Eh.. Enggak. gak apa-apa. Kamu ngomong apa tadi, Nda?"
"Dengar-dengar sih katanya nanti bakal ada guru dan murid baru lho! Udah dengar belum?"
"Serius? Kok bisa barengan gitu sih?"
"Gak tahu juga deh. Kebetulan aja kali!"
"Guru barunya mau ngajar apa nanti?"
"Bahasa Inggris sih katanya.. Kalau murid nya, katanya pindahan dari Aussy gitu. Pasti ganteng deh!"
"Tahu dari mana kalau murid baru nya ganteng? Gimana kalau cewek?"
"Cowok dong! aku kan dengar langsung dari si Sisil.."
"Serius KetOs bilang kalau murid nya cowok?"
"Iya. Dia diminta Bu Dara untuk assist murid baru nya itu nanti. Katanya sih memang cowok!"
"Yah.. padahal ngarep banget murid pindahan nya cewek."
"Kenapa gitu, Myr?"
"Ya kan kita bis sajak ngerumpi bareng kalau cewek. Kalau cowok? mana bisa?"
"Kalau cuma sekedar ngobrol ya ngobrol aja lah, Myr. Jangan pakai beda-bedain gender segala lah.."
"Bukan gitu, Nda. Tahu sendiri lah anak cowok mana bisa diajak curhat heart to heart? Sering nya kan kalau gak ngajak bercanda malah doyan ngegombal!"
"Hihihi.. Benar juga sih, Myr.. Tapi kan diajak bercanda atau digombalin juga gak ngerugiin kita, Myr?"
"Ya rugi lah! Kan kita tuh cewek. Makhluk yang tercipta untuk sering baperan!"
"Hihihi.. Kamu aja kali, Myr, yang baperan. Aku sih enggak ya!"
"Eh, udah yuk balik! Bentar lagi bel masuk nih!"
Aku pun kemudian berdiri dan langsung berbalik. Naas, dari arah belakang juga ada seseorang yang hendak berjalan ke arah ku. Sehingga mau tak mau kami pun selain bertubrukan.
Bruk!
"Aduh!"
"Sorry.. are you okay?"
Sebuah suara Barito menyapa ku dengan nada khawatir. Aku pun langsung mengangkat pandangan ku ke depan. Dan netra ku seketika beradu pandang dengan sepasang mata indah berwarna biru langit.
'Iih.. Matanya cantik banget..' puji ku tulus dalam hati.
Setelah mata, pandangan ku juga menyapu keseluruhan area wajah milik lelaki yang baru saja bertabrakan dengan ku sesaat tadi. Dan ternyata, lelak di depan ku itu nyatanya cukup tampan juga untuk ukuran pria bule lainnya.
Ya. Dengan rambut piring, mata biru, serta tubuh yang tinggi nan atletis, lelaki di depan ku itu bisa saja disangka sebagai model majalah remaja terkenal.
"Hey.. Are you okay? Sorry.. I didn't Saw you just now.. (Hey.. kamu gak apa-apa? Maaf.. aku gak lihat kamu sewaktu tadi..)" ucap lelaki itu kembali.
Sesaat kemudian aku merasakan sebuah sikutan mengenai pinggang kiri ku. Aku pun melirik ke samping, ke Miranda yang tadi menegur ku lagi untuk ke sekian kalinya.
Sedikit malu karena Ketahun menatap lelaki bule itu lama-lama, akhirnya aku pun hanya menyahut singkat.
"Oh.. never mind. i'm okay! (Oh.. gak apa-apa.. aku baik-baik saja)"
"That's good. well, My name ia Andrew," ujar lelaki bule itu kembali seraya mengulurkan tangan kanan nya kepada ku.
"Uuh..?" Aku menatap bingung ke arah tangan putih yang terjulur di depan ku itu.
Selanjutnya ku lirik Miranda yang tampak lebih antusias untuk berbincang dengan lelaki bule yang memperkenalkan dirinya sebagai Andrew itu.
'Apa memang orang bule tuh gampang ngajak kenalan gini ya? Ini bukan flirting kan?' hati ku sibuk menduga-duga.
Teeeeetttt.. Teeeeettt..
Bel masuk kembali berdering nyaring. Akhirnya tanpa menjawab pertanyaan Andrew, aku pun langsung saja berpamitan padanya.
"Uuhh.. the bel is ring. So, we have to go. Excuse me!" ucap ku sambil berlalu meninggalkan Andrew.
Sementara Miranda masih sempat-sempatnya menyapa lelaki bule itu sebelum kepergian kami.
"Bye, Andrew.. My name is Miranda. And her name is Myrtle!!"
Lama setelah posisi kami jauh dari Andrew, aku langsung saja mencubit pinggang Miranda dengan gemas.
"Aduh! Kenapa sih, Myr?" protes Miranda sambil mengusap pinggang nya yang barusan ku cubit.
"Kamu yang ngapain coba itu tadi? Tiap ada cowok ganteng aja, langsung deh mata jadi bling-bling!" Aku meledek Miranda habis-habisan.
"Lho? wajar kan? Cowok cakep ini.. justru kalau aku nge hore-hore in cowok yang tampangnya pas-pas an kan aneh. Ya kan?"
"Tahu ah! Pintar banget kalau udah cari alasan.."
"Eh, Myr.. cowok bule tadi tuh kok bisa ada di kantin kita ya?"
"Mene keteheng.. Kenapa gak tanya aja tadi sekalian ke dia..? Aku mana tahu lah, Nda.."
"Irish.. rese kamu, Myr!"
Biarin Wee.. Lagian, kamu tuh, Nda. Jangan terlalu hurra deh please kalau ngelihat cowok ganteng. Aku nya kan jadi malu tau.."
"Malu kenapa sih, Myr? Kan aku gak buat yang aneh-aneh!" protes Miranda tak terima.
"Lha itu tadi bukannya konyol ya? Mana ada cewek yang ngenalin diri sendiri sambil berteriak di tengah-tengah kantin? Cuma kamu doang deh kayaknya!" tukas ku meledek lagi.
"Yee.. itu kan karena kamu nya yang buru-buru ngajak pergi, Myr. Gimana sih? Kok malah aku yang disalahin?" protes Miranda tak terima.
"Eh, Myr.. Tapi setelah ku ingat-inga lagi, si Andrew yang tadi itu tuh pakai seragam sekolah kita juga kan ya?"
Aku segera mengingat penampilan Andrew tadi.
"Iya deh kayaknya.."
"Bukan iya, deh, Myr! Tapi emang iya kok!"
"Terus memangnya kenapa kalau dia pakai seragam sekolah kita?"
"Itu berarti dia sekolah di sini juga dong?! Tapi.. kayaknya aku gak pernah lihat dia deh sebelumnya.. Oh! Aku tahu!"
"Aduh! Miranda..! Jangan suka tepok tangan ku kencang-kencang gitu dong! Kaget tahu!" aku mendumel sambil mengusap lengan ku yang sedikit peras usai ditepuk oleh kawan ku itu.
"Sorry.. sorry.. aku soalnya baru kepikiran nih, Myr!"
"Kepikiran apa?"
"Jangan-jabgan si Andrew itu tuh murid baur yang diomongin sama si Ketos ya, Myr?"
"Eh.. bisa jadi juga tuh!"
"Kalau gitu.."
Ucapan Miranda selanjutnya harus dihentikan oleh kedatangan guru wali kelas mereka, Bu Diana.
"Anak-anak! Ibu membawa kabar menyenangkan untuk kita semua. Mulai hari ini, kalian akan mempunyai teman baru ya di kelas ini... Ayo Andrew, silahkan masuk!" ucap Bu Diana kemudian.
Selanjutnya pandangan ku dan Miranda langsung beradu. Kami sama-sama memikirkan hal yang sama saat ini.
'Sepertinya murid baru itu memang Andrew yang kami temui di kantin tadi deh..' pikir ku tanpa suara.
***
PaMud Mampir
PaMud Papa Muda mampir
Ry Benci Pakpol Mampir