Alea sangat membutuhkan biaya operasi untuk Ibunya yang sedang terbaring lemah di rumah sakit, tapi ia tidak tahu darimana mendapatkan uang untuk biaya operasi Ibunya? Hingga ada laki-laki kaya yang mau membiayai operasi Ibunya tapi dengan syarat Alea harus mau melakukan pernikahan kontrak dengan laki-laki itu, akan seperti apa cerita mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maisy Asty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7. Makan Di Pinggir Jalan
Malam yang cerah bintang yang gemerlap menghiasi malam yang sunyi ini, bulan yang begitu terang namun tidak seterang hati Alea yang saat ini penuh dengan kegelapan karena drama konyol yang harus di mainkan dengan baik.
Sean dan Alea berjalan menelusuri pinggiran jalanan yang lumayan rame malam ini, Sean tadinya mengajak Alea makan di restoran yang ada di penginapan tapi Alea menolak, ia ingin jajanan pinggir jalan saja, menurutnya ini jauh lebih enak bagi Alea yang hanya gadis biasa dari keluarga sederhana, entah Sean yang hidupnya bergelimang harta apakah dia mau makan makanan pinggir jalan? Entahlah, kita lihat saja nanti!
Biasanya Sean saat jalan dengan Velin itu ke Mall Elit, beli barang-barang juga harus yang branded, makan juga harus di restoran mewah. Ya liburan mereka juga tidak tanggung-tanggung pergi keluar negeri berdua, pokoknya Velin sangat manja pada Sean ya begitu juga Sean sangat memanjakan Velin, tidak pernah menolak apapun permintaan Velin biarpun itu sulit, pasti Sean akan berusaha untuk menuruti permintaan dari gadis yang sudah beberapa tahun ini ada dalam hatinya dan sampai saat ini Sean masih sangat menyayangi Velin.
Hatinya selalu ia jaga dari banyaknya gadis lain yang mendekati dirinya, Sean laki-laki yang setia, perhatian, baik dan juga penyayang. Beruntunglah gadis yang mendapatkan hatinya, ya seperti Velin, ia sangat beruntung sekali. Tapi akankah ke beruntungan itu bertahan lama? Entahlah, semua itu tergantung takdir.
Lelah mengikuti Alea menelusuri jalanan, Sean tiba-tiba menghentikan langkah kakinya dengan kasar.
"Hey gadis kontrak kita itu mau kemana sih?" tanya Sean, menghentikan langkah kakinya karena sudah terlalu berjalan.
Sedangkan yang ikutin tidak ada capeknya, ia begitu bahagia menelusuri jalanan malam ini, memang menyenangkan apalagi banyak tukang jualan makanan, sungguh membuat Alea lapar mata, tapi harus tetap jaga berat badan. Tapi untuk malam ini tidak usah jaga berat badan, lagian kalau aku pipinya cubby pasti akan sangat mengemaskan.
"Aku mau jajan itu!" Alea menunjuk ke tempat jualan ramen, sepertinya enak aku mau makan itu saja.
Alea menghampiri tukang jualan tujuannya, mau tidak mau Sean kembali mengikuti langkah kaki Alea, daripada hilang nanti nyari susah dan pasti Kakek akan sangat marah jika cucu menantunya itu hilang.
"Bu, mau pesan satu ya, pedas ya Bu," kata Alea pada Ibu penjual.
"Iya Nona, tunggu sebentar ya." Bu penjual melemparkan senyum ramah pada Alea dan Sean. Alea membalas senyum penjual itu, sedangkan Sean hanya diam dengan wajah datarnya.
"Ini makanan apa?" tanya Sean, ia ragu melihat makanan yang di pesan Alea. Kuahnya begitu merah, apa dia tidak sakit perut?
"Ini enak, kamu mau tidak?" Alea duduk, Sean juga ikut duduk.
"Oh iya aku lupa beli minumnya, aku mau es boba, kamu mau tidak?" tanya Alea sebelum beranjak dari tempat duduk.
"Es boba apaan lagi?" Sean tampak binggung, aduh anak Sultan diajak makan di makanan pinggir jalan, kasiankan banyak yang tidak ia tahu.
"Enak pokoknya, aku belikan," kata Alea lalu berlalu pergi membeli es boba yang tempat jualannya tak terlalu jauh dari tukang ramen.
Alea memesan 2 es boba untuk dirinya dan juga Sean, entahlah Sean akan doyan atau tidak? Jika tidak ya biar aku yang menghabiskan semuanya.
***
Kini Alea kembali ke tempat duduk dengan es cup es boba di tangan kiri dan tangan kanannya. Alea tersenyum senang saat melihat pesanan ramenya ternyata sudah datang.
"Ini es mu," satu es di berikan pada Sean. Tapi Sean malah menatapnya ragu-ragu, ini minuman apa, apa ini enak? Aku tidak yakin.
Alea mengaduk-aduk ramen pesannya, lalu menikmatinya dengan lahap. Melihat Alea makan Sean menelan ludahnya dengan kasar. "Seperti sangat enak," batinnya dalam hati.
"Aku tahu kamu pingin, cobalah! Ini enak," cetus Alea dan Sean menggelengkan kepalanya. "Aku tidak yakin dengan rasanya," kata Sean dengan suara lirih.
"Ini lebih enak daripada makanan di restoran mewah, di tambah minumnya es boba, nikmat sekali." Alea menyedot es miliknya, seger rasanya dahagaku hilang seketika.
Sean semakin menelan ludahnya dengan kasar, ia ternyata tidak tahan juga ingin mencoba makanan milik Alea yang menurutnya aneh itu, wajar Sean tidak pernah jajan sembarangan sebelumnya.
"Aku minta!"
Sean mengambil mangkok berisi ramen yang ada di hadapan Alea, lalu mengambil sumpit yang ada di tangan Alea.
"Dasar manusia aneh," cetus Alea dengan suara pelan.
Awalnya Sean hanya menyendok kuahnya. "Agak pedas, tapi ini kok enak," dalam hatinya berbicara. Sean melanjutkan mengambil mienya dengan sumpit lalu mencobanya. "Rasanya sangat enak ternyata," lanjutnya dalam hati.
Alea hanya diam sambil meminum es bobanya dan melihat Sean menikmati ramennya dengan lahap.
"Tadi katanya tidak doyan, eh sudah mau habis," sindir Alea dengan nada lembut.
"Itu karena aku lapar," sahut Sean yang masih tetap tidak mau mengakui kalau ramen ternyata enak, tidak seperti yang di pikirkan.
Setelah ramennya habis, Sean meminum es bobanya dan lagi-lagi ia kaget karena rasanya sangat enak juga.
Akhirnya makan ramen di bagi dua, ya karena gengsi laki-laki aneh ini. Coba dia pesan sendiri tidak mengganggu makanku, tapi sudahlah aku juga sudah kenyang.
Setelah selesai makan Sean membayar ramennya, lalu dua sejoli itu kembali melanjutkan jalan-jalan mereka.
Mereka berjalan dengan posisi berdampingan tapi berjarak.
"Enak kan ramennya," sindir Alea jail.
"Karena aku lapar, jadi ya terpaksa aku habiskan," sahut Sean masih tidak mau mengakuinya kalau ramennya tadi enak.
"Bilang saja malu mengakuinya," ledek Alea dengan jail.
Sean tiba-tiba menarik tangan Alea saat Alea menlangkahkan kakinya ke penjual gorengan, Sean tampak bingung, ini makanan apalagi?
Itu di gorengnya pakai minyak, pasti membuat kolesterol. Apa gadis ini mau makan makanan ini juga? Kenapa aku bisa menikahi gadis aneh seperti ini? Coba kalau jalan-jalannya sama Velin, pasti ia akan mengajak aku ke tempat makanan yang aku suka. Bukan makanan pinggir jalan seperti ini, wajarlah gadis inikan dari kalangan sederhana jadi tahunya jajanan pinggir jalan saja.
"Lepaskan tanganku!"
"Kamu mau beli apalagi?"
"Aku mau gorengan, itu enak, apalagi makannya pakai saos kalau tidak cabe."
Astaga, Sean menepuk jidatnya dengan kasar, makanan pedas, kalorinya tinggi, gadis ini apa tidak bisa hidup sehat? Makan salad gitu, buah-buahan, ini yang dibeli makanan aneh semua yang baru pertama kali aku temui.
"Itu tidak sehat, minyaknya sangat banyak Lea," protes Sean, ia tidak memperbolehkan Alea untuk membeli gorengan.
"Tapi ini enak," sergah Alea tak mau mendengarkan kata Sean.
"Nanti kamu kolesterol," kekeh Sean.
"Nanti tinggal minum obat," sahut Alea yang kekeh juga tetap ingin beli.
Akhirnya Alea membeli gorengan itu, saat Alea makan lagi-lagi Sean menelan ludahnya dengan kasar dan akhirnya tertarik untuk mencobanya juga. Ya seperti tadi, bukan Alea yang banyak menghabiskan gorengannya tapi malah Sean. Alea hanya makan dua biji saja, melihat Sean makan dengan lahap gorengan itu Alea hanya tersenyum kecil. "Anak Sultan yang cukup lucu, katanya nanti kolesterol, tapi sendirinya makan banyak," tawa Alea dalam hati cukup bahagia.
Tak terasa dua jam telah berlalu, perut keduanya juga sudah sama-sama kenyang. Akhirnya mereka kembali ke penginapan untuk istirahat, sudah lelah sekali rasanya.
Sesampainya di penginapan, entah apa yang akan terjadi selanjutnya?
Bersambung
Terimakasih para pembaca setia
bacanya jd setengah-setengah 💪🏻
lanjut thor,,,,
lanjut thor,,,
alur cerita nya sangat bagus...
lanjut thor,,,,