NovelToon NovelToon
Gu Jia

Gu Jia

Status: tamat
Genre:Fantasi Timur / Spiritual / Time Travel / Fantasi Wanita / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:28.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ex_yu

Kehidupan dipenuhi dengan ketidakadilan. Pahlawan wanita yang seharusnya bahagia dengan pernikahannya harus mati dengan tragis akibat sebuah fitnah.

"Aku tidak membunuhnya! Sungguh!" Ini adalah kata-kata terakhir Gu Jia sebelum puluhan panah menancap di tubuhnya yang tak berdaya.

Gu Jia dan seluruh keluarganya dihukum mati tanpa bisa membela diri.

Apa yang sebenarnya terjadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ex_yu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 07. Kekesalan Shiena.

Bab 07. Kekesalan Shiena.

Shiena tidak segera pulang ke rumahnya. Sudah lama dia tidak mengunjungi Yushi. Pelayan setianya itu sudah berusia lanjut saat ini. Meskipun dia bisa bertahan hidup tetapi raganya sudah tidak bisa terlihat muda seperti Gu Jia yang tetap awet muda.

Jarak tempatnya saat ini dengan tempat tinggal Yushi masih cukup jauh tetapi Shiena tidak ingin mencari taksi. Sudah lama dia tidak berjalan kaki. Langkahnya terlihat biasa tetapi melampaui kecepatan kereta listrik ciptaan tercanggih.

Hanya butuh waktu sekitar sepuluh menit saja dia bisa mencapai tempat yang ditujunya.

Di depan pintu gerbang dia disambut oleh penjaga keamanan di sana. Mereka masih merupakan keturunan Yushi sehingga tidak merasa heran dengan kedatangan Shiena yang tiba-tiba.

"Selamat malam, Nona!" sapa mereka.

"Selamat malam. Apakah Yushi sudah tertidur?" tanya Shiena.

Pandangannya mengedar ke sekeliling dan mendapati keadaan rumah itu tidak banyak berubah. Hampir dua puluh tahun Yushi menempatinya di negara ini. Mereka cukup betah mengingat lingkungan dan cuaca yang baik.

"Biasanya belum, Nona. Nenek masih terjaga meskipun sedang berada di kamarnya!" jelas salah satu pria itu.

"Hmm." Shiena mengangguk lalu berjalan meninggalkan kedua penjaga gerbang.

Tempat tinggal Yushi cukup luas. Mereka mengambil konsep natural dengan memperluas area hijau dan taman yang indah di sekeliling rumah. Namun, Shiena tidak mengijinkan mereka untuk memelihara binatang jenis apapun di sini.

Rumah Yushi tampak lengang. Para pelayan mungkin sudah tertidur saat ini mengingat hari sudah larut malam. Shiena tidak memanggil siapapun untuk menyambutnya dan berjalan seorang diri menuju ke kamar Yushi.

Wanita tua itu terlihat sedang duduk ketika Shiena datang. Meskipun ratusan kali Gu Jia merubah nama dan penampilannya dia tetap mengenalinya dengan baik. Yushi berusaha bangkit dari duduknya untuk menyambut Gu Jia.

"Diamlah di situ! Biar aku saja yang datang." Shiena merasa iba melihat tubuh renta Yushi.

Yushi tersenyum senang.

"Nona Gu memang tidak pernah berubah. Kebaikan hatimu membuatku tersanjung. Salam hormat, Yang Mulia!" Yushi menyatukan kedua tangannya di depan wajahnya.

"Kamu terlalu berlebihan memujiku. Bagaimana keadaanmu? Apakah kamu baik-baik saja?" tanya Shiena.

"Aku baik-baik saja, Nona." Wajah Yushi terlihat sedih. Dia seperti sedang menyembunyikan sesuatu.

Shiena sangat mengenal Yushi. Dia lebih senang memendam masalahnya ketimbang mengungkapkannya pada siapapun. Namun, sedikit saja perubahan ekspresi di wajahnya mampu ditangkap oleh Shiena.

"Kamu tidak baik-baik saja. Apa yang kamu pikirkan? Apakah cucu-cucumu tidak memperlakukanmu dengan baik?" selidik Shiena.

Yushi buru-buru menggeleng. Dia tidak ingin Shiena salah paham dan menyalahkan cucu-cucunya.

"Lalu?" Shiena masih mengejarnya dengan pertanyaan.

Yushi menundukkan kepalanya. Beberapa hari ini pikirannya memang merasa terganggu. Dia merasa sudah terlalu tua dan lelah dengan kondisi tubuhnya.

"Hmmh!" Shiena mendengus.

"Katakan saja apa masalahmu. Aku akan memakluminya meskipun itu tentang aku!" ucap Shiena menatap wajah Yushi dengan serius.

Sebagai seorang panglima di masa lalu, sikap tegasnya masih mendominasi hingga saat ini. Dia tidak suka dengan hal yang berbelit-belit. Kesabarannya sangat tipis.

"Ampun, Nona. Tidak ada hal yang kurang dari Anda. Aku hanya memikirkan tentang diriku sendiri!" Yushi kembali membuat teka-teki.

"Dirimu? Ada apa dengan dirimu?" sorot mata Shiena menatap tajam Yushi.

Siapapun akan menciut ketika melihatnya seperti ini. Shiena seperti seekor elang yang bersiap untuk menerkam mangsanya. Tidak ada yang bisa menghindari tatapan matanya.

Tidak ada celah lagi bagi Yushi untuk menyembunyikan keinginannya. Berbohong pun tidak ada guna karena Shiena dengan mudah akan mengetahuinya.

"Ampun, Nona. Sepertinya tubuhku ini sudah terlalu tua. Meskipun aku bertahan hidup tetapi aku sangat tidak berguna. Aku hanya akan menjadi beban orang-orang terdekatku saja."

Akhirnya Yushi mengatakan apa yang ada di dalam pikirannya. Dia berharap Shiena akan mengerti dan membiarkan mati secepatnya. Yushi tidak sanggup lagi menahan ketidakberdayaannya.

Shiena terdiam mendengar perkataan Yushi. Hatinya merasa sedih saat mengingat jika hanya Yushi yang dimilikinya saat ini. Setelah kematiannya tidak ada yang peduli padanya selain Yushi.

Momen yang sangat langka pun terjadi. Saat Shiena sedang bersedih, akan membawa dampak yang buruk bagi dunia. Di malam yang cerah tiba-tiba terdengar suara petir yang menggelegar karena kesedihannya.

Awan-awan mulai berkumpul dan mendatangkan badai. Dalam waktu sekejap saja hujan turun dengan derasnya disertai angin dan petir. Badai ini memberikan dampak yang sangat buruk dan menimbulkan banyak kerusakan.

Yushi terlihat sangat khawatir. Sebelum ini hal yang sama pernah terjadi beberapa ratus tahun yang lalu, dan jika tidak segera dihentikan maka seluruh kota benar-benar akan hancur.

Tubuh Shiena berdiri mematung dengan wajahnya yang terlihat dingin. Matanya menatap kosong ke depan dengan butir-butir air mata yang menetes di pipi. Kehilangan Yushi sama artinya kehilangan separuh hidupnya.

Dengan wajah ketakutan dan perasaan bersalah Yushi turun perlahan dari kursinya. Dia lalu menjatuhkan tubuhnya di lantai dan berlutut di kaki Shiena. Rasa sesal membuat Yushi ikut menangis karena dia tidak tahu lagi bagaimana cara untuk menenangkan Shiena.

"Ampuni aku, Nona. Aku tidak bermaksud untuk meninggalkanmu. Aku bersalah telah menginginkan kematian. Aku mengaku salah, Nona. Aku ... aku rela hidup seribu tahun lagi untukmu." Yushi menangis sejadi-jadinya, dia tidak tahu lagi harus berkata apa.

Shiena mulai bergeming. Dia menatap Yushi penuh perasaan. Masih dengan sikap dinginnya dia membantu Yushi untuk bangun dan membawanya duduk di tepi ranjang.

Kesedihan Shiena masih terlihat di wajahnya meskipun sudah mulai memudar. Pandangan matanya menjadi sayu dan terlihat lebih lembut.

"Kamu seharusnya tahu jika aku rela mengorbankan apapun untukmu. Bahkan aku rela memberikan darahku untuk membuatmu tetap hidup. Apakah kamu masih ragu jika aku benar-benar takut kehilanganmu? Bersabarlah sebentar, Yushi. Setidaknya sampai aku menemukan jodohku. Saat itu kita akan pergi dari dunia ini dengan tenang dan kembali ke alam surgawi." Shiena berbicara dengan berapi-api.

Yushi hanya bisa mengangguk. Dia tidak sanggup berkata-kata lagi. Baginya yang terpenting Shiena sudah lebih tenang.

Perlahan badai mulai surut seiring dengan suasana hati Shiena yang sudah mulai membaik. Yushi merasa lega.

"Aku berjanji untuk tidak pergi sebelum Nona mendapatkan kesempurnaan. Kita akan pergi bersama-sama ke nirwana!" Yushi berbicara dengan yakin.

Shiena tersenyum senang mendengar ucapan Yushi. Hatinya merasa lebih tenang. Satu-satunya hal yang bisa mewujudkan keinginannya adalah menemukan seorang pria yang tulus mencintainya.

Bagi Shiena lebih sulit menjalin relasi bersama seseorang ketimbang mempertaruhkan nyawanya untuk melawan musuh. Namun, dia harus segera melakukannya karena sejujurnya dia sendiri juga tidak tega melihat tubuh Yushi yang semakin renta.

"Aku berjanji padamu, Yushi. Setelah hari ini aku akan berusaha untuk bersikap lebih lembut pada seorang pria!" Shiena bermonolog dalam hati.

1
Srie Sifa
ya ampun..... cuma smpe sini aja ceritanya !!! padahal bagus tapi GK tamat
SENJA
wakakaka coba Gu Jia hancurkan semua mobil yang bikin macet itu 😶😐
Rikko Nur Bakti
mengaduh kesakitan apa mengadu kesaktian....thor.....?
Rikko Nur Bakti
motornya dimana?
Rahmah Rahmat
thor..belum up lagi...semangat terus...terbaiklah..
Ardi Muhammad
reinkarnasi
Prihariyanto Top
bah,duduk di meja, sungguh terlalu.🤦
ShinRo
keren ya jadi spy punya keahlian mendengar & melihat tanpa terlihat musuh🥸
ShinRo
oic ...shiena menggunakan media kaca sdgkan si Goblin media buka tutup pintu kaya doraemon...🤣
ShinRo
seperti film GOBLIN ( korea) hanya beda gender yg di film cowo sdgkan di cerita cewe..🤣
ShinRo
wkwkwkk😅.. tunggu dulu kak mungkin blum dibaca lanjutannya pasti akan lebih menarik nantinya klo baru baca ampe turun jkt saja uda lemes bgmn bisa bantu Thor yg uda tuang idenya jdi semangat menulis✍️🤗
ShinRo
weh... di jkt...😅
azka aldric Pratama
ceritanya bgus smpe lupa komen di setiap ep 🤭🤭🤭
azka aldric Pratama
berarti itu cinta sejati'nya yg NNT nyabut panah terakhir 🤧🤧🤧
azka aldric Pratama
awal yg sadis 🤧🤧🤧
issei tempes-voldigoad
ah,Thor gw mau nanya soal novel God of the beast,dah lu lanjutin, kalau lanjut lu taruh di mana
zhall
nama pena othor d fizo apa ya lupa??
zhall
Thor Alam tianwu ada lanjutannya gak kok udah tamat aja
Odie
.
nita rohanita
thor lanjut alam tanwu donk.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!