NovelToon NovelToon
CINTA KANAYA

CINTA KANAYA

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Tamat
Popularitas:17.2k
Nilai: 5
Nama Author: ridwan jujun

"selamat pagi, yah, Bun." sapa Naya.
"pagi, sayang," balas lina Bunda naya.
" pagi,princess,"faizal ayah Naya, tersenyum ke arah putrinya.
"mau sarapan apa sayang."
"roti kacang, Bunda."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ridwan jujun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

part 7

"Non Naya?" panggil Bi Sumi dari arah dapur.

"Iya, Bi?" sahut Naya saat mendengar namanya dipanggil. "Ada apa, Bi?"

Bi Sumi berjalan kearah dimana Naya sedang menonton tv sambil ngemil. "Non Naya, makan dulu. Bibi sudah masak makan siang."

"Tunggu mas Keenan, Bi," jawab Naya. "Bi, mas Keenan biasanya pulang makan siang gak?"

Bi Sumi tersenyum kaku. "Bibi gak tau non."

Naya membuang nafasnya.

"Tapi, den Keenan sering pulang ke pesantren kalau waktunya makan siang, Non," lanjut Bi Sumi.

"Ya udah, Naya tunggu mas Keenan aja." Naya duduk di kursi meja makan.

"Lebih baik, Non maka—" perkataan Bi Sumi terpotong saat seseorang mengucapkan salam dari luar.

"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."

Mata Naya langsung berbinar saat mengetahui itu suara Suaminya. "Mas Keenan pulang."

Dengan cepat Naya berjalan kearah luar untuk menyambut kedatangan Suaminya. "Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh."

Keenan mengerutkan dahinya saat melihat tangan kanan Naya ada didepannya.

"Salim," ucap Naya.

Keenan hanya terdiam, tidak ada niatan untuk menyambut uluran tangan itu.

Naya langsung menarik tangan Keenan untuk menyalaminya. "Naya ingin jadi istri yang baik sebelum mas Keenan menceriakan Naya."

Keenan hanya terdiam, lalu menatap kearah Naya. "Saya sudah menghubungi Arkan."

Deg ....

"K–kapang, kapang kak Arkan pulang?" tanya Naya dengan gelisah. Dia tidak bisa membayangkan jika Arkan datang.

"Dia tidak menjawab panggilan saya."

Naya menghela nafasnya dengan lega. Dia sangat bersyukur karena Arkan tidak menjawab panggilan Keenan.

"Gak usah dipikirk—" perkataan terpotong saat melihat mata Keenan menatapnya dengan tatapan tajam.

"Tanpa Arkan, pernikahan ini tidak akan pernah selesai."

"Hehehehe, benar juga, tanpa Arkan pernikahan ini tidak akan selesai," kata Naya membenarkan perkataan Keenan dengan hati yang hancur.

"Mas mau makan siang atau istirahat dulu?" tanya Naya mengalihkan pembicaraan.

Keenan tidak menjawab. Dia meninggalkan Naya begitu saja.

"Baiklah, Naya siapin makanannya iy," ucap Naya saat melihat Keenan sudah menaiki anak tangga.

"Semangat." Naya menyemangati dirinya sendiri.

Naya kembali ke dapur dengan wajah tidak bersemangat.

"Eh, Non Naya. Den Keenan mana, non?" tanya Bi Sumi.

"Kayanya, mas Keenan gak lapar deh, Bi." Naya mendudukkan dirinya ke kursi.

"Ya sudah, lebih baik Non Naya makanan."

"Naya gak lapa—" Naya menghentikan ucapannya saat melihat Keenan berjalan kearah meja makan.

Naya langsung berdiri, lalu menarik kursi untuk suaminya. "Mas Keenan mau makan apa? biar Naya ambilin."

"Saya bisa sendiri." jawab Keenan dengan suara yang dingin.

"Sebagai Istri yang baik, Naya harus melayani suami dengan baik." Naya mengisi piring Keenan dengan nasi secukupnya.

Keenan hanya terdiam, dia teringat dengan keinginan Naya sebelum bercerai. Hanya ingin menjadi istri yang baik untuknya.

****

"Mas, boleh Naya ikut?" tanya Naya.

"Gak."

"Kenapa? Naya pengen ketemu Umi sama Abi, Naya juga kangen sama suasana pesantren," ucap Naya. Dirinya benar-benar ingin bertemu dengan Umi Hafizah.

Keenan tidak mendengarkan permintaan Naya yang ingin ikut ke pesantren. Dia tidak mau satu pesantren tau, kalo dirinyalah yang menikahi Naya, bukan Arkan. Itu sebabnya, dia melarang Naya untuk ikut ke pesantren. Dia tidak akan membiarkan Naya bebas kemanapun sebelum pernikahan ini kelar.

Mata Naya bercakap-cakap saat melihat mobil Keenan sudah keluar dari gerbang rumahnya. "Padahal, Naya cuman pengen ketemu sama umi."

Naya masuk kedalam kamarnya dengan kecewa. "Mas Keenan kenapa sih? kenapa Naya gak boleh ikut, Naya bosan di rumah sendirian."

Naya menghapus air matanya, sebelum keluar mencari Bi Sumi, cuman Bi Sumi temannya di rumah ini.

"Bi?" panggil Naya saat melihat Bi Sumi sedang mencuri piring.

"Ya, Non," jawab Bi Sumi.

"Naya boleh bantu gak? Naya bosan gak ada kerjaan." Naya menatap Bi Sumi dengan tatapan memohon. Sejak dia datang di rumah ini, Naya dilarang melakukan pekerjaan rumah, Naya merasa dia tidak dibiarkan menyentuh barang-barang yang ada di rumah ini, bukan karena keenan menyayanginya, tapi Naya merasa keenan tidak memberikan hak didalam rumah ini.

"T–tapi, Non, kalo den Keenan marah, bagaimana?" tanya Bi Sumi dengan cemas.

"Ya, kalo dia tau, tapi kalo gak tau, kan aman. Asal bibi gak ngomong sama mas Keenan." Naya tersenyum. "Boleh ya, Bi."

"Baiklah," sahut Bi Sumi.

"Makasih, Bi." Dengan semangat Naya membantu Bi Sumi cuci piring.

"Hati-hati, Non. Itu licin."

"Ia, Bi." Naya menatap Bi Sumi. "Bi, bibi udah lama kerja disini?"

"Kalo di rumah ini, bibi cuman datang bersih-bersih, Non. Bibi sebenarnya tinggal di kawasan pesantren milik Abi nya den Keenan, bibi jadi tukang masak santriwati di sana," jelas Bi sumi.

Mata Naya melebar saat mendengar perkataan Bi Sumi. "Bi Sumi jadi tukang masak di Asrama santri putri?"

"Ia, Non." Bi Sumi tersenyum saat melihat reaksi majikannya itu. "Kenapa, Non?"

"Kok, Naya gak pernah liat bibi?" tanya Naya dengan heran, soalnya selama dia tinggal di pesantren, dia tidak perna melihat Bi Sumi.

Bi Sumi terkekeh mendengar pertanyaan Naya. "Non Naya terlalu sibuk mengejar cintanya den Keenan, jadi non Naya tidak memperhatikan siapa saja yang ada disekitar Non Naya."

Naya bergidik ngeri mendengar perkataan Bi Sumi tentang dirinya yang tak memperhatikan orang-orang sekitar. Sebucin itu kah dirinya, sampai-sampai tidak memperhatikan orang-orang yang ada disekitarnya?

"Hehehe, iy juga sih, waktu itu, Naya hanya fokus ama mas Keenan. Naya masuk pesantren aja niatnya karena mas Keenan." Naya terkekeh mengingat kebodohannya dulu, rela masuk pesantren demi mengejar Keenan. Akibat dari perbuatannya adalah, dia tidak sepintar santri lainnya. 3 tahun di pesantren, Naya hanya bisa membaca Al-Qur'an, itupun tidak selancar dengan santri lainnya yang sungguh-sungguh ingin belajar, tidak seperti dirinya.

"Bi, mau bantuin Naya gak?" tanya Naya dengan serius.

"Mau bantuin apa, Non?"

"Naya ingin menjadi istri seperti istri yang lainnya, memasak untuk suaminya, membersihkan rumahnya, mencuci pakaian suaminya, pokonya Naya pengen belajar mengurus rumah, Bi." Naya tersenyum saat mengatakan keinginannya.

Bi Sumi tersenyum saat melihat Naya begitu semangat. "Bibi akan bantu non Naya."

"Hmmm, bagaimana iy, cara ngomongnya." Naya menggigit bibir bawahnya karena gugup, dia tidak enak mengatakan ini pada Bi Sumi, tapi ini adalah satu-satunya jalan agar Naya bisa melakukan aktifitasnya sebagai seorang istri.

"A–apa Bi Sumi gak keberadaan, jika Naya minta, bi Sumi untuk kembali ke pesantren, b–biar Naya yang urus semuanya disini." Naya menatap bi Sumi, dia takut Bi Sumi akan tersinggung atau merasa terhina. "B–bukannya Naya t–tidak menyukai Bi Sumi, Naya sangat bahagia karena Bi Sumi disini, tapi ak—"

Bi Sumi memegang lengan Naya. "Bibi gak tersinggung, Non. Bibi mengerti, hubungan den Keenan sama non Naya tidak baik-baik aja."

Mata Naya berkaca-kaca. "Bi."

"Bibi faham."

****

"Alhamdulillah, selesai." Naya menatap meja yang sudah tersedia berbagai macam masakannya sendiri. "Semoga mas Keenan suka."

Naya melepaskan celemek nya, lalu pergi ke kamar Keenan untuk memanggilnya makan malam.

Tok ....

Tok ....

Tok ....

Naya mengetuk pintu kamar Keenan. "Mas Keenan?"

Tidak ada jawaban.

Naya memegang genggaman pintu dan ternyata tidak terkunci.

"Masuk, tidak, masuk, tidak. Ah, masuk aja deh."

Krek ....

Naya membuka pintu kamar Keenan bersama dengan Keenan yang baru saja keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk yang melilit diperut sixpack nya menutupi bagian bawahnya sampai lutut.

"AAAAAAAAAAAAH!" teriak Naya.

Dengan langkah cepat Keenan langsung menutup mulut Naya yang berteriak dengan kencang.

"Jangan berteriak!" bisik Keenan saat sudah berhasil menutup mulut Naya dengan tangannya.

DEG ....

Detak jantung Naya tidak normal seperti biasanya, dia merasa jantungnya akan benar-benar keluar dari tempatnya sekarang.

Matanya melebar saat menyadari Keenan berada di depannya, begitu dekat dengannya. Naya dapat mencium bau sabun yang berasal dari keenan begitu memabukkan.

Wajah Naya memerah saat menyadari betapa dekat dirinya dengan Keenan saat ini.

"Ehmm, hmmm." Naya ingin bicara tapi, mulutnya dibekap telapak tangan Keenan.

Keenan melepaskan bekapannya saat sadar dengan posisi mereka. "Maaf."

Naya langsung memunggungi Keenan.

"Mas, pake bajunya," perintah Naya.

"Sudah."

"A–ayo turun makan," ucap Naya tanpa melihat kearah Keenan yang ada dibelakangnya.

Keenan terkekeh kecil, saat melihat Naya lari terbirit-birit menuruni anak tangga.

"Lucu." Tanpa sadar bibir Keenan melengkung membentuk sebuah senyuman.

1
bunda syifa
cobaan kiyai Ibrahim ada d anak nya, seorang kiyai punya dua putra gc ada yg bener
Muawanah
lanjut kak.....
Muawanah
ko sering ngulang y....???
Muawanah
🤣🤣🤣🤣Kenan dah bucin akut😁😁😁😁🤭
Muawanah
hedeeeh....cinta membuat orang bisa berbuat apapun....😁😁😁🤭
Muawanah
nyesek banget....
Muawanah
dah aku ksh vote nieh kak 😊
Muawanah
asli bcnya mewek kak....
masih bnyk teka teki ...🤔🤔🤔🤔
Muawanah
wuih nyesek g tuh Naya....😔
Muawanah
aku mampir nieh kak 😊
Abdul Razak Al Maliki
seru lanjut thor
Abdul Razak Al Maliki
loh kenapa? jangan2 sudah nikah Arkan ea
Noni hartati
nah itu baik boleh. tp kitanya jg harus melihat siapa yg boleh kita baiki
Noni hartati
Astagfirullah kena syndrom "kamu nenye"
Endang 💖
tambah lagi thor
ridwan jujun
udah up tuh ka
Endang 💖
kok blm up lg thor nungguin ne kelanjutannya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!