Menjadi orang ketiga di dalam rumah tangga orang lain. Tentu bukanlah hal yang di inginkan oleh wanita baik-baik, bukan?
Tapi bagaimana? Jika semua itu sudah bagian dari takdir seseorang? Seperti takdir dari gadis cantik yang bernama Farida Pasha (23 tahun) pelayan di salah satu hotel bintang lima di kota besar itu.
Karena tragedi satu malam yang merenggut kehormatan nya, membuat ia terpaksa menikah dengan Aditia Putra Aditama (32 tahun) pria yang sudah memiliki istri.
Akankah Farida bahagia menjadi istri simpanan? Atau ia akan berakhir menyedihkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neng Syantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AKU GAK TERTARIK
Karina menangis, wanita gila itu benar-benar tidak tahu malu. Ia mengejar Aditia yang memasuki ruang kerjanya.
"Mas Adi, tolong cabut semua kata-kata mas barusan," pinta Karina. Wanita itu memohon-mohon pada Aditia.
"Kata-kata yang keluar dari mulut aku, gak akan aku cabut," balas Aditia sembari membuka brankas nya dan mengeluarkan isi yang ada di dalamnya.
"Kamu gak bisa ceraikan aku, mas. Kamu itu mencintai aku! Dan selamanya akan begitu!" Dengan percaya dirinya, Karina berbicara akan perasaan pada Aditia.
"Hahaha!" Aditia tertawa dengan keras. "Yakin? Kamu yakin bahwa aku mencintai kamu?" pria itu menatap wajah Karina dengan intens.
"Aku yakin, mas. Buktinya aja, selama dua tahun kita menikah. Kamu selalu manjain aku dan selalu kasih apa yang aku mau," kata Karina.
"Awal nya aku gak pernah mencintai kamu, tapi setahun terakhir jujur aja, perasaan cinta mulai tumbuh. Aku mulai bisa menerima kamu yang kotor dan gak suci lagi, tapi setelah kejadian tempo hari, kayak nya aku sadar kalau perasan yang ada di dalam diri aku itu, bukanlah cinta tapi rasa tanggung jawab yang memang harus penuhi karena kamu istriku!" terang Aditia. "Buktinya sekarang, aku udah gak punya perasaan apapun ke kamu! Lihat kamu sama Bara, aku pun gak cemburu lagi. Karena pada dasarnya, kita memang gak pernah saling menginginkan dan juga mengharapkan!"
"Kamu jangan ngomong kayak gitu, mas. Kamu ngomong kayak gini, karena kamu khilaf. Iya kan? Karena kamu masih kesel dan cemburu liat aku sama Bara?" Lagi! Dengan tidak tahu malu nya, Karina terus bersikap manja dan menujukan kesedihannya pada Aditia.
"Kamu pengen aku puasin? Aku bakal puasin kamu, mas," ucap Karina sembari menurunkan tali dress yang ia kenakan di hadapan pria yang masih berstatus sebagai suaminya itu.
"Aku gak tertarik!" tolak Aditia. Setelah merasakan milik Farida yang sempit dan tersegel, Aditia tidak tertarik lagi pada tubuh Karina ataupun tubuh orang lain. Lagi pula, ia sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan menjaga hatinya untuk Farida, bahkan belajar untuk mencintai istri mudanya itu dan juga akan menjadikannya wanita satu-satunya.
"Kamu bohong!" pekik Karina. "Kamu lihat aku dong, mas." Karina menarik tangan Aditia dan meminta Aditia untuk melihat tubuhnya yang sudah separuh polos.
"Apa yang harus di lihat?" Aditia mendekati Karina sembari tersenyum smirk. Ia memajukan tangannya pada tubuh itu.
"Kena kamu, mas. Aku gak akan biarkan kamu ninggalin aku, aku tau kamu masih mencintai dan menginginkan tubuh aku." batin Karina dengan girang.
"Emmm.. Setiap tubuh ini, aku dapat dari sisa sahabatku sendiri," ucap Aditia sembari menjengkali tubuh polos istrinya itu dengan tangan kirinya. "Dan sekarang, aku gak mau lagi menyentuh dan menikmati bekas orang. Aku lebih suka daun muda yang masih baru dan segar!" Aditia menghentikan jengkalan jarinya tepat di pusat Karina. Setelah itu, ia kembali berdiri tegap dan mengambil serta menjinjing koper kerjanya.
"Ayolah, mas," ucap Karina dengan manja.
"Waktu ku udah mepet, aku harus pergi sekarang." Aditia melangkah keluar dan meninggalkan Karina yang kembali menangis sembari menaikan dress nya.
"Mas Adi!" pekik Karina dengan derai airmata yang tak ada arti dan gunanya.
Bertepatan dengan keluarnya Aditia dari rumah itu, Bara tiba dan menghampiri Aditia.
"Adi, kamu pulang?" tegur Bara. "Aku mau ngomong sesuatu sama kamu, penting!"
"Lain kali aja, ada hal yang lebih penting dan harus aku urus sekarang!" timbal Aditia. Pria itu membuka garasi dan mengeluarkan mobil Ferrari hitam nya dari dalam garasi rumah itu. "Pinggirkan mobil kamu, atau ku tabrak!" Aditia berbicara datar kepada pria yang sejak sekolah sudah menjalin pertemanan serta persahabatan dengannya. Teman yang seakan menjadi pelindung dan ternyata di belakang lebih jahat dan kejam dari seorang musuh. Pengkhianat! Itulah sebutan yang pantas untuk Bara.
Mendengar perkataan Aditia yang tidak main-main, Bara pun segera menyingkirkan mobilnya.
Mobil Aditia keluar dari garasi itu dan segera keluar dari pekarangan rumah.
"Aditia.. Aku mau ngomong serius sama kamu!" teriak Bara pada mobil Aditia yang sudah melaju meninggalkan rumah itu.
"Mas Adi!" pekik Karina dari dalam rumah itu. "Jangan tinggalin Arin.."
Bara yang mendengar tangisan Karina, segera berlari memasuki rumah itu. Bara mendekati dan merengkuh tubuh Karina yang terduduk di lantai tanpa alas.
"Yank, jangan nangis," ucap Bara.
"Mas Adi pergi lagi!" tunjuk Karina. "Dia juga nolak aku." adu Karina pada Bara.
"Meskipun dia nolak kamu, tapi aku gak akan pernah lakuin itu ke kamu," ucap Bara sembari menyeka airmata Karina. Wanita yang sedari dulu ia cintai, wanita pertama yang ia miliki bahkan cinta pertamanya. Yang ternyata di jodohkan dengan sahabatnya sendiri pula.
"Dia bilang, dia mau ceraikan aku. Aku gak mau, mas. Aku gak mau cerai sama dia," rengek Karina. Wanita manja dan tidak tahu malu itu benar-benar sudah tidak waras, sepertinya otak wanita itu tinggal separuh lagi.
"Jika Aditia benar-benar menceraikan Karina, maka aku bisa segera menikahinya dan memperbaiki semuanya seperti dulu. Seperti saat Aditia dan Karina belum saling mengenal." batin Bara. Pria itu masih saja bertahan untuk Karina yang notabe nya bukan wanita baik-baik.
"Bantuin aku, mas. Aku gak mau kehilangan kalian. Aku cinta sama kamu, tapi aku juga gak mau kehilangan Mas Adi." serakah, itulah Karina. Adakah wanita modelan tidak tahu malu sepertinya? Membuat kaum wanita menjadi malu saja karena tingkah nya itu.
"Udah, diem. Aku antar ke kamar sekarang," kata Bara sembari nenuntun Karina menaiki anak tangga rumah itu.
Sedangkan Aditia, kini pria itu pergi ke pusat perbelanjaan untuk memilihkan dan membelikan pakaian bagus dan juga barang-barang mewah untuk istri muda nya.
Tak tanggung-tanggung, pria itu berbelanja begitu banyak. Hanya untuk Farida, Farida yang sudah mampu memberikan kepuasan untuknya dengan cara memaksa wanita itu.
Setelah memilihkan pakaian dan juga barang-barang, Aditia pun pergi ke supermarket untuk berbelanja keperluan dapur. Tampak nya, pria itu benar-benar perduli dan akan menjadikan Farida nomor satu dan prioritas dalam hidupnya.
Merasa cukup, Aditia pun segera menghubungi Adam dan mengatakan pada Adam. Bahwa ia kembali lebih dulu ke Villa, ia tidak ingin membuat Farida merasa kesepian lantaran di tinggal sendirian di Villa yang begitu besar itu sendirian.
"Semoga aja, Farida suka sama semua barang-barang yang aku belikan untuk dia," Aditia berguman kecil sembari memasukan belanjaannya ke dalam mobil.
Entah kenapa? Rasa sakit dan sedih nya yang di torehkan oleh sahabat dan juga istrinya, seperti terlupakan karena kehadiran sosok Farida. Ia terlihat jauh lebih bahagia jika di bandingkan saat ia bersama Karina.
Apakah Aditia sudah terpikat dan tertarik pada Farida? Atau hanya rasa iba dan simpati saja karena ia telah melecehkan wanita itu?