MALAM INI HUJAN MENGGUYUR BUMI
Malam ini hujan mengguyur bumi,
dan suami tercinta tak ada di sini
dia mungkin sedang bercanda dan tertawa
bersama istri yang lain..
aku ingin menangis..
aku ingin sedih..
tapi dia berpesan padaku bila ini terjadi
maka kembalilah kepada cinta pada Allah
gelar lagi sajadah dan bersujudlah
baca lagi Al Quran penuh kecintaan
dan tetap genggam bahwa Allah adalah cinta teragung..
lalu kulakukan semua nasehatnya
hingga kudengar langkah kaki syaitan menjauh
syaitan itu sangat-sangat kecewa padaku
sebab tetap Allah tujuanku
di saat penuh rindu seperti malam ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Humairah_bidadarisurga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7
Setelah mendapatkan penjelasan dari Kyai Ubed sebagai sesepuh yang disegani di kampung sebelah. Syakir dan Kirana berpamitan dan pergi menuju kantor polisi yang ditunjuk oleh Kyai Ubed, dimana Pak Arif dibawa dan dimasukkan ke sel hingga kasusnya naik ke persidangan dengan berkas yang sudah P21 untuk siap disidangkan.
Syakir dan Kirana pergi ke kantor polisi dengan sebuah motor matic. Syakir menghentikan laju motornya tepat didepan warung nasi di pinggir jalan. Syakir mengambil dompet yang ada dikantong celananya dan memberikan satu lembar uang merah untuk Kirana.
"Kirana, belilah makanan dan minuman untuk Pak Arif, suapi Bapak sebagai anak yang berbakti, kehidupan dipenjara itu tidak mudah dan menyakitkan," ucap Syakir pelan dan lembut.
Kirana turun dari motor matic itu dan menerkam uang yang diberikan oleh Syakir, lalu pergi ke warung makan untuk membungkus nasi dengan sayur dan lauk kesukaan Bapak. Tidak lupa Kirana membelikan minuman dan beberapa cemilan untuk Bapak selama berada di penjara.
Hati Kirana terasa sakit dan kecewa namun Kirana tidak bisa menangis, air matanya sudah habis menangis setiap malam. Mendengar kabar Pak Arif saja hati Kirana sudah senang walaupun kabar itu kabar yang mengecewakan bagi Kirana.
Kirana kembali menghampiri Syakir dengan membawa satu kantong plastik berisi makanan dan minuman, lalu memberikan sisa kembalian itu kepada Syakir.
"Ini kembaliannya, terima kasih sudah perduli dengan Bapak Kiran," ucap Kiran pelan dengan menatap lembut wajah Syakir.
"Simpanlah kembaliannya Kiran, belajar menerima apa yang Syakir berikan untukmu. Kepada sesama umat muslim kita harus perduli, apalagi ini untuk Pak Arif, yang juga akan menjadi Bapakku, bukan begitu Kiran? " ucap Syakir pelan menjelaskan.
Kirana tersenyum manis, hatinya berbunga-bunga melihat senyum Syakir yang seolah menyihir hatinya untuk selalu bisa tersenyum dan berbahagia.
"Ayok naik, nanti keburu sore," ucap Syakir dengan suara lembut.
Kirana naik ke atas motor. Syakir mulai melajukan motornya dengan pelan menuju kantor polisi di kota.
Perjalanan memakan waktu sekitar setengah jam. Selama dalam perjalanan, Kiran dan Syakir saling bercerita dan berbagi pengalaman hidup yang mereka miliki. Ini adalah cara pengenalan mereka mengenali calon pasangannya satu sama lain dengan baik.
Mereka berdua saling bercanda dan saling memuji satu sama lain. Perkenalan yang singkat tidak mengubah takdir ketetapan Allah SWT untuk tetap menyatukan mereka berdua dalam ikatan yang SAH.
Motor matic itu sudah terparkir di halaman kantor polisi. Syakir dan Kirana masuk ke dalam kantor polisi itu dan mendatangi bagian piket penjagaan sel tahanan.
Jam besuk sore hari dimulai jam tiga sore hingga jam lima sore. Sedangkan waktu saat ini menunjukkan pukul setengah tiga sore, itu tandanya masih ada waktu setengah jam untuk menunggu waktu besuk.
"Kita ke masjid dulu, kita sholat ashar berjamaah, biar tenang nanti membesuk Bapak," ucap Syakir pelan mengajak Kirana.
Kirana menganggukkan kepalanya pelan tanda setuju dengan permintaan Syakir.
"Iya Syakir," ucap Kirana pelan menyetujui permintaan Syakir.
Kirana keluar dari kantor polisi menuju masjid disekitar area kantor polisi itu mengikuti langkah syakir yang sudah berada didepannya.
Mereka masuk ke dalam masjid sederhana setelah berwudhu untuk menunggu waktu adzan ashar.
"Kita sholat ashar berjamaah Kiran, Syakir akan menjadi imam untukmu mulai dari sekarang dan selamanya," ucap Syakir pelan.
Kiran menatap Syakir dengan wajah penuh kebahagian. Setelah kesedihannya beberapa waktu lalu membuat Kiran terpuruk kini Allah SWT menghadirkan sosok Syakir yang baik hati dan lembut untuk dirinya.
Waktu sudah memasuki waktu adzan ashar, Syakir berdiri berjalan ke depan untuk melaksanakan adzan ashar.
Suara Syakir yang sedang melakukan adzan ashar menggema di seluruh ruangan masjid itu. Kirana menatap punggung Syakir yang berdiri di depan dengan takjub. Suara adzan Syakir yang indah membuat orang-orang tergerak hatinya untuk datang ke masjid untuk melaksanakan sholat ashar berjamaah.
Satu per satu orang-orang masuk ke dalam masjid dan bersiap melaksanakan sholat ashar berjamaah. Masjid yang biasanya sepi tidak ada pengunjung, namun kini ramai karena hatinya tergerak dengan suara adzan Syakir yang menyihir semua orang untuk menghentikan aktivitasnya dan melaksanakan sholat ashar.
Syakir menjadi imam bagi banyak orang yang hadir. Suaranya dalam membaca bacaan surah yang ada dalam Al-Quran sungguh indah dan fasih, tidak ada kesalahan dalam membaca secara tajwidnya. Ibadah sholat ashar dilaksanakan secara khusyuk.
"Sudah selesai?" tanya Syakir saat hendak ke luar masjid melihat Kirana masih lengkap dengan mukena yang dipakainya.
Kirana menoleh asal suara dan menatap Syakir dengan senyuman terbaik, lalu mengulurkan tangannya untuk mencium punggung tangan Syakir dengan penuh hormat.
Syakir memberikan tangannya dengan ikhlas untuk dicium oleh Kirana.
"Mulai sekarang Kiran akan menjadi makmum Syakir, makanya Kiran menunggu Syakir untuk bisa mencium punggung tangan Syakir agar mendapat ridho dari Syakir," ucap Kiran dengan pelan lalu mencium punggung tangan Syakir dengan penuh hormat.
Syakir tersenyum dan terkekeh pelan.
"Syakir bangga denganmu Kiran, kamu memang perempuan terbaik yang di berikan Allah SWT untukku, Kiran," ucap Kiran pelan.
Kirana membuka mukenanya dan melipat mukena itu dengan rapi. Lalu berjalan keluar masjid mengikuti Syakir menuju ruang tunggu sel tahanan untuk membesuk Bapak Arif.
Kirana dan Syakir sudah berada di ruang tunggu sel tahanan dan menunggu kedatangan Bapak Arif yang sedang dipanggilkan oleh petugas piket penjaga sel tahanan.
Jantung Kirana berdegup dengan keras dan letaknya begitu kentara kencang. Rasa panik dan cemasnya semakin membuat sesak di dada, aliran napasnya seolah terhambat oleh batu besar yang menghujam hati Kiran.
Suara pintu besi terdengar dibuka, terdengar anak kunci yang diputar untuk membuka gembok pintu besi itu hingga gesekanny terdengar sangat nyaring.
Satu orang petugas piket penjaga sel tahanan mengantar seorang laki-laki paruh baya yang semakin terlihat tua dan tidak terurus. Ini baru dua hari bagaimana bila hukuman itu lama dan bertahun-tahun, akan seperti apa nasib Baoaka Arif nantinya.
Suara langkah derap sepatu terdengar mendekat, Kirana mendongak dan menatap Bapak Arif yang sudah berdiri di hadapannya.
Kirana beranjak berdiri dan berlari menubruk tubuh kurus yang terlihat kacau dan terpuruk.
"Bapak ..." teriak Kirana dengan suara keras.
Tangisannya langsung pecah dan air matanya seolah sudah terproduksi kembali langsung luruh deras membasahi kedua matanya hingga mengalir ke pipi Kirana.
Kirana memeluk erat tubuh Bapak Arif dan menyandarkan kepalanya pada dada dan Ayah yang hanya bisa terdiam dan terhenyak kaget melihat putrinya mengetahui kondisinya saat ini.
"Kenapa Pak, ceritakan pada Kirana, apa yang sebenarnya terjadi pada Bapak. Kirana tidak percaya pada orang-orang diluar sana yang mengatakan Bapak seorang pembunuh," ucap Kirana pelan dan lirih. Suaranya serak dan terbata-bata.
Syakir beranjak berdiri dan menghampiri Bapak Arif lalu mencium punggung tangan Bapak Arif penuh hormat.
Bapak Arif menatap ke arah Syakir yang begitu ikhlas dan tulus. Dalam hati Bapak Arif, siapa gerangan pria yang bersama Kirana, yang begitu baik dan terlihat sopan.
miris pola pikir mu thor
belajar lagi ajaran islam
*islam melaknat pelakor dan pebinor
*islam melaknat lelaki mendekati istri orang
*islam melaknat istri mencerita masalah rumah tangganya pada lelaki lain
*islam melaknat istri yang dekat dengan pria lain
*islam melaknat istri yang membela pria lain didepan suaminya
*islam melaknat istri menjatuh kan kehormatan suaminya didepan pria lain
*islam melaknat istri yang tidak bisa menjaga kehormatan suaminya
*islam melaknat istri yang bisa membuat fitnah dengan dekat dengan pria lain
belajar agama lagi dengan benar, ingat thor walaupun ini hanya novel tapi cara kau membenarkan sebuah kesalahan niscaya kau akan diminta pertanghunh jawaban
renungkan lah
kelakuan Kirana lebih menjijikan dari seorang pelacur sekalipun, tapi miris, tidak bermoral nya, munafik nya novel ini dan pemikiran author malah membenarkan semua kelakuan Kirana
mudah mudahan saja author punya suami yang sifatnya kayak Kirana dan punya teman wanita yang baiknya kayak fahad, amin
*melaknat kelakuan pelakor fatma tapi kalian memuja kelakuan pebinor fahad
*kalian melaknat intrkasi syakir dan fatma tapi kalian malah membenarkan intrkasi Kirana dan fahad
Orang lelaki ketika kamu menikah keluarga kecilmu adalah tanggungjawab utama , Anak-anak boleh patuh pada orang tua tapi itu berlaku kalau orang tua masih hidup berlandaskan syariat agama , Ini orang tua seperti ibu bapa Syakir tak wajib ditaati lelaki itu boleh bersikap keras kerana mereka nakhoda setiap bahtera rumah tangga .
ibu ayu terlalu memaksakan dan telah memisahkan antara Syakir dan Kirana