Kisah ini berawal sejak 5 tahun lalu, sang mafia sangat mengagumi sosok sederhana dan baik hati bernama Brenda Marvina, berulang kali dia mendatangi rumah sang gadis untuk melamar.
Namun, penolakan demi penolakan selalu ia dapatkan.
Penolakan terakhir ayah Brenda, terasa begitu menyakitkan hatinya, membuat amarahnya memuncak dan menghabisi seluruh anggota keluarga Brenda, lalu menjadikan gadis itu pengantinnya meskipun Brenda tak ingin.
Sang mafia, tak peduli apapun!
Pada intinya, dia mencintai Brenda dengan segala kegilaan yang ada dalam dirinya.
Bagaimana kisah Brenda selanjutnya?
Akankah dia bisa lepas dari sang mafia dan hidup normal seperti sebelumnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kumi Kimut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tak bisa lepas
Sang mafia berjalan masuk ke dalam ruangan itu dan meminta beberapa anak buah membantu kakaknya untuk mengurus si gadis keras kepala itu dan membawanya menuju rumah pribadinya yang berada cukup jauh dari markas utamanya.
Sebuah tempat dengan dekorasi super alami, warna hijau adalah warna yang dia sukai.
Warna-warna yang begitu mendominasi rumah pribadinya yang memang sudah ia bangun bersama cintanya yang tak pernah mati untuk Brenda.
Dia sengaja membangun rumah itu sebagai bentuk perlindungannya terhadap Brenda.
Sebenarnya bukan tempat untuk berlindung sih, lebih tepatnya penjara mewah, karena selain untuk mengurung Brenda, dia juga ingin bercocok tanam di sana.
Dia ingin lima anak, jadi dia harus berusaha keras.
"Bos, apa kau tidak ingin tinggal di sini saja? kasihan Tuan Faldin, dia jomblo sendirian. Apalagi gadis yang dia suka lebih memilih adik dari sepupu Tuan Barav."
Sang anak buah yang sering dijadikan teman curhat, justru ember, membuat sang mafia benar-benar tak bisa menahan tawa.
Dia ingin segera mengerjai sang adik.
"Jangan katakan apapun bos, nanti Tuan Faldin marah, aku hanya bercanda, oke?" ucap sang anak buah.
Faldin sepertinya malas berurusan dengan seorang adik dari mafia lumayan berpengaruh di kota itu.
Sebenarnya dia tidak begitu saja melakukan hal yang membuat orang lain terluka, pasti selalu ada sebab di balik semua yang terjadi padanya.
"Faldin tidak melakukan bunuh diri, kenapa harus kau khawatirkan? dia hanya malas bertemu Vanya, jadi kau tidak perlu merasa takut untuk mengungkapkan apa yang terjadi, kau ceritakan semuanya padaku dan lebih baik lagi kau ikut aku ke rumah pribadi, Aku membutuhkan bantuan."
"Oke bos, begini lebih baik!"
"Ya, tugasmu adalah menyiapkan mobil untukku, karena aku ingin bersiap-siap."
"Oke!"
Sang anak buah terlihat berjalanan menuju garasi, sedangkan sang mafia tetap fokus ke arah depan, dia menatap masa depannya yang sangat cerah bersama Brenda.
"Faldin!" panggil sang mafia.
"Hm, ada apa?" jawab Faldin sambil berjalan menuju sang kakak.
Kini dua orang kakak beradik dengan wajah yang sangat tampan itu saling beradu pandang.
"Apa?"
"Aku ingin membawamu ke rumah pribadiku, Apa kau mau ikut?"
"Cih, untuk apa aku ikut ke sana? bukannya sudah ada Kak Yanov, dia kan sama-sama wanita, lebih baik Kak Yanov saja yang melakukan tugasnya menjaga istrimu, Aku malas bertemu dengan seorang wanita! semuanya Sama saja!" Sang adik sepertinya sedang merasa gundah gulana.
"Ehm, Aku tidak pernah menyangka jika kau mampu mengatakan itu semua, aku tahu kau sangat kecewa dengan kekasihmu itu tetapi tidak perlu diperbesar urusannya. Kau hanya perlu melupakan dan segera move on," ungkap sang mafia sambil menepuk pundak sang adik.
"Iya aku tahu, tapi aku memang sedang anti wanita, Jangan pernah memaksaku jika aku tak ingin!" cetus Faldin sambil tersenyum ke arah sang kakak, dia menyembunyikan segalanya, segera perasaanku dan sedihnya akibat penghianatan.
"Dia itu tidak pantas kau pikirkan, aku akan mencarikanmu jodoh yang baru, ada seorang gadis cantik bekerja sebagai pelayan restoran, Dia sangat baik dan tidak banyak bicara. Aku rasa, Gadis itu sangat cocok denganmu yang cerewet," ujar sang kakak yang tak henti mengejek sang adik.
"Aku masih senang menjadi seorang jomblo karena lebih baik seperti ini."
Faldin kalau pergi begitu saja, entah mau pergi ke mana dia.
Sang kakak yang penasaran dengan kepergian sang adik, lalu menanyakan kepada Faldin.
"Mau kemana?"
"Kabur."
"Kemana?!"
"Neraka!"
"Haha, ya, memang tempatmu di sana!"
...
Sang mafia membiarkan adiknya pergi dan dia tiba-tiba teringat akan sang istri, dia ingin tahu bagaimana keadaannya.
Maraville terlihat begitu bahagia karena kini bisa memandang wajah pujaan secara langsung tanpa adanya penghalang.
Tap ... tap ... tap ....
Terdengar langkah kaki seorang yang sangat ia inginkan kehadirannya, siapa lagi kalau bukan istri yang baru saja ia nikahi.
"Baby, Kau cantik sekali menggunakan baju rumahan!" ucap sang mafia dengan tatapan penuh cinta dan gairah yang sangat besar.
"Hm, aku sudah membuat istrimu patuh meskipun harus kupukul terlebih dahulu, dia berdarah kepalanya tapi langsung aku obati!" jawab sang kakak yang mendampingi gadis itu, gadis yang sudah tidak memiliki semangat untuk hidup lagi dan tatapannya masih saja kosong.
"Tak masalah, pada intinya dia mau bersamaku untuk pulang ke rumah pribadi, tak masalah kau nanti melukainya ataupun memukulnya. Aku hanya ingin dia bersamaku menuju tempat yang paling indah yaitu rumah idaman kita bersama, benarkan sayang?"
Sang mafia begitu dekat dengan istri tercintanya dan membelai wajah itu.
"Jangan sentuh aku," ucap sang istri tanpa menatap wajah sang suami.
"Cih, bagaimana bisa kau mengatakan itu padaku? padahal aku sudah memberikan segalanya untukmu, Hm ... Aku tidak terlalu memperdulikannya. Kau mau menolakku pun sudah terlambat, bawa dia kakak aku ingin ganti baju dulu!" cetus sang mafia yang mendapatkan penolakan dari sang istri, tangannya dihempaskan begitu saja dan istri pergi bersama sang kakak menuju depan markas, tempat di mana mobil sudah siap untuk melaju ke rumah pribadi sang mafia.
Sedangkan Maraville menuju sebuah tempat yang ia gunakan untuk mengganti bajunya dengan baju yang lebih sederhana seperti baju rumahan sama dengan sang istri.
Tidak memakan waktu lama untuknya mengganti baju, setelah usai dengan urusannya, sama via langsung menatap dirinya di depan cermin.
"Aku sudah sangat siap untuk menjadi seorang ayah dan suami untuk anakku serta istri tercintaku, Aku berjanji akan melindunginya tanpa membiarkan istri dan calon anakku kelak teraniaya ataupun disakiti oleh musuh-musuhku. Aku akan tetap melindunginya sampai darah penghabisan!"
Sang mafia sudah cinta mati dan tidak akan pernah berpaling kepada gadis lain, dia sebenarnya bukan orang yang memiliki sifat menyiksa hanya saja 5 tahun itu bukanlah waktu yang sebentar, dia sudah terobsesi terlalu dalam dengan seorang gadis yang kini menjadi istrinya.
Saat dia sudah siap dan keluar dari ruangan itu, tiba-tiba saja ponsel miliknya berdering.
Sang mafia segera menjawab panggilan telepon itu.
"Halo Kaka Barav? ada apa?" tanya sang mafia.
"Aku menunda pertemuan kita hari ini, biarkan aku yang mengurus segalanya, aku tahu kau sedang ingin bersenang-senang bersama istrimu," jawab Barav, sang kakak ipar.
Pria itu dan sang mafia sebenarnya ada urusan hari ini mengenai beberapa pekerjaan namun, agaknya rayuan maut Yanov, mampu membuat situasi menjadi lebih kondusif.
"Apa yang kakak berikan padamu, hingga kau mau memberikan izin semacam ini?" cetus sang adik ipar.
Maraville merasa curiga dengan apa yang terjadi karena biasanya sang kakak ipar tidak akan pernah menunda apa yang sudah dijanjikan.
"Dia setuju memberikanku anak, aku cukup senang akan hal ini dan memberikanmu keringanan."
Barav yang terlihat sangat terobsesi terhadap Yanov, cukup memahami perasaan adik iparnya.
"Oh, kakakku akan memberikan jatah yang lebih?"
"Ya, kurang lebihnya begitu."
Sang kakak ipar terdengar cukup bahagia karena selama ini sang istri belum mau menerimanya sebagai suami tetapi tiba-tiba saja menginginkan kebersamaan yang cukup intens, Barav tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.
*****