"Seandainya Tuhan memberiku kesempatan untuk bisa melihat, aku ingin melihat wajahmu walau itu hanya satu hari saja," ucap Safira.
Demir yang dari kecil hidup tanpa cinta, membuatnya menjadi sosok yang dingin dan tidak percaya akan adanya cinta, tapi kehadiran seorang wanita bernama Safira bisa membuat Demir merasakan cinta yang selama ini dia rindukan.
Akankah Demir bisa menemukan cintanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Safira Sakit
🌻
🌻
🌻
🌻
🌻
Waktu pulang pun tiba...
Seperti biasa, Demir dengan cepat merapikan alat-alat tulisnya dan segera keluar dari kelas tanpa memperdulikan Katty. Katty hanya bisa cemberut karena lagi-lagi Demir meninggalkannya.
Demir dengan cepat melajukan mobilnya menuju sekolah Safira, sesampainya di sana Demir kembali menunggu dengan senyuman yang terus mengembang di wajah tampannya itu.
Sudah setengah jam berlalu, Demir merasa bingung karena Safira tidak terlihat juga keuar dari sekolahannya, padahal ini sudah melewati jam pulang sekolah.
"Fira ke mana, kok belum keluar juga?" gumamnya.
Demir melihat pintu gerbang sekolah Safira sudah di tutup oleh Satpam, Demir dengan cepat berlari dan menghampiri Satpam itu.
"Maaf Pak, mau tanya kalau siswi yang bernama Safira ke mana ya? Kok gak kelihatan?" tanya Demir.
"Oh, Safira tapi pulang lebih awal karena dia demam dan tadi dia di jemput oleh Mamanya."
"Apa, sakit? Kalau begitu, terima kasih Pak."
Demir pun segera berlari dan masuk ke dalam mobilnya, Demir menuju sebuah restoran untuk membeli bubur dan makanan lainnya untuk Safira, tidak lupa Demir pun membeli buah-buahan.
Setelah semuanya dibeli, Demir pun segera melajukan mobilnya kembali menuju rumah Safira. Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya Demir pun sampai di depan rumah Safira.
Demir berdiri di depan pintu rumah Safira dengan membawa dua kantong kresek, tapi Demir merasa ragu-ragu untuk mengetuk pintu rumah Safira.
"Apa aku pulang saja ya?" gumamnya.
Tapi di saat Demir membalikan tubuhnya hendak pulang, tiba-tiba pintu rumah Safira terbuka dan Demir kembali membalikan tubuhnya.
"Tante."
"Ada apa Dek? Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Mama Safira.
"Kenalkan Tante, aku Demir temannya Safira. Katanya Safira sedang sakit, jadi aku ingin menjenguknya."
Mama Safira mengerutkan keningnya, pasalnya Safira selama ini tidak mempunyai teman apalagi teman laki-laki.
Mama Safira memperhatikan Demir, dan kemudian mempersilakan masuk ke dalam rumahnya.
"Silakan Nak Demir, masuk!"
"Terima kasih, Tante."
Mama Safira pun membawa Demir masuk ke dalam kamar Safira, terlihat Safira terbaring di atas tempat tidurnya dengan kening yang ditempel handuk kecil.
"Safira demam, tadi katanya dia pingsan di sekolah."
"Apa Fira sudah minun obat, Tante?"
"Sudah barusan."
"Ini Demir, bawakan bubur dan juga buah-buahan untuk Fira."
"Terima kasih Nak, padahal kamu tidak usah repot-repot bawakan semua ini untuk Safira."
"Tidak apa-apa, Tante."
"Oh iya, apa kamu sudah makan siang?" tanya Mama Safira.
"Belum, Tante."
"Kebetulan sekali, Tante baru saja selesai masak, apa kamu mau makan di sini?"
"Memangnya boleh, Tante?"
"Boleh dong, ayo kita makan siang bersama."
Demir pun dengan senyumannya mengikuti Mama Safira menuju meja makan.
"Maaf ya, Nak Demir, Tante hanya masak masakan yang sederhana."
"Tidak apa-apa Tante, Demir suka kok."
"Ayo silakan makan, ambil saja jangan malu-malu."
"Iya Tante."
Demir pun dengan semangat mengambil nasi dan lauk pauk, lalu menyantapnya dengan lahap, membuat Mama Safira tersenyum. Mama Safira tahu kalau Demir bukan anak biasa-biasa, karena dilihat dari mobil yang Demir pakai pun, sudah ketahuan kalau Demir anak orang kaya.
"Oh iya, Nak Demir kenal di mana dengan Safira?"
"Aku waktu itu tidak sengaja bertemu Safira, bahkan dulu Safira hampir jadi korban kejahatan oleh anak-anak brandalan, untung ada aku."
"Owalah, terima kasih Nak Demir, sudah menyelamatkan Safira."
"Sama-sama, Tante."
Demir lahap sekali makan, sampai-sampai Demir menambah lagi makan membuat Mama Safira tersenyum. Saat ini Demir duduk di sofa saking kenyangnya.
"Tante, terima kasih ya, masakan Tante enak banget."
"Sama-sama. Oh iya Nak Demir, tadi Tante ingin pergi ke rumah majikan Tante untuk meminta izin mau libur dulu bekerja karena Safira sakit, tapi Tante bingung gak ada yang jagain Safira, Tante boleh minta tolong tidak, nitip Safira sebentar, Tante gak bakalan lama kok."
"Tentu saja Tante, Tante pergi saja jangan khawatir, aku akan jagain Fira selama Tante pergi."
"Terima kasih Nak, kalau begitu Tante pergi dulu."
"Iya Tante."
Mama Safira pun akhirnya pergi, Demir beranjak dari duduknya dan menghampiri Safira ke dalam kamarnya. Pintu kamar Safira terbuka, Demir duduk di samping Safira dan menyentuh kening Safira yang masih terasa panas.
Dengan telaten, Demir mengompres kening Safira. Demir memperhatikan wajah Safira yang terlihat pucat itu dan masih terlihat cantik di mata Demir.
Demir terus saja menguap, hingga tanpa terasa, Demir pun tertidur di samping Safira dengan posisi terduduk.
***
1 jam kemudian...
Mama Safira pun datang, dan terkejut kala melihat Demir sudah tertidur di samping Safira. Perlahan, Mama Safira menghampiri Demir dan menyentuh pundak Demir dengan lembut.
"Nak Demir, Tante sudah pulang," seru Mama Safira.
Demir menggerakan tubuhnya dan tersenyum. "Maaf Tante, Demir ketiduran."
"Tante yang minta maaf karena kelamaan."
"Tidak apa-apa, Tante."
Demir melihat jam tangannya dan ternyata waktu sudah menunjukan pukul 15.00 sore.
"Ah, ternyata sudah sore. Tante, kalau begitu Demir pulang dulu ya, sudah sore."
"Iya, terima kasih ya Nak Demir."
"Tante, Demir boleh kan kalau kapan-kapan main ke sini?"
"Boleh dong, lagipula Tante senang kalau Safira punya teman perhatian seperti kamu, soalnya selama ini Safira tidak mempunyai teman karena tidak mau ada yang berteman dengan anak buta."
"Terima kasih, Tante. Demir pulang dulu."
Demir pun mencium punggung tangan Mama Safira, kemudian pergi dan masuk ke dalam mobilnya. Demir segera melajukan mobilnya menuju rumahnya.
Beberapa saat kemudian, mobil Demir pun sampai di halaman rumahnya, Demir dengan bersiul bahagia masuk ke dalam rumahnya.
Buggg...
Baru saja Demir membuka pintu, Kakeknya langsung memukul Demir sampai Demir tersungkur ke lantai.
"Dasar anak tidak tahu di untung, kenapa kamu meninggalkan Katty? Orangtuanya kan, sudah menitipkan Katty kepada kamu tapi kenapa kamu malah mengacuhkannya!" bentak Kakek Demir.
Demir memegang pipinya yang terasa berdenyut itu, kemudian berdiri di hadapan Kakeknya dengan tatapan tajamnya.
"Yang menyetujui itu Kakek, jadi Kakek saja yang antar jemput dia," sahut Demir.
"Kamu----"
Kakeknya sudah kembali melayangkan tangannya hendak memukul Demir kembali, tapi tertahan dan Demir kembali menepuk pipinya yang satu lagi.
"Kenapa Kakek diam? Pipi satu lagi belum kena pukul, ayo pukul lagi," tantang Demir.
Kakek Demir menurunkan tangannya dengan wajah yang memerah.
"Dulu Papa kamu adalah anak yang penurut, tidak seperti kamu yang pembangkang, itu karena kamu keturunan Monika, wanita gila yang sudah merusak keluargaku!" bentak Kakek Demir.
Mata Demir tersorot perasaan marah, Demir semakin membenci Kakeknya itu, akhirnya tanpa bicara sepatah kata pun, Demir pergi menuju kamarnya.