Novelia hidup berdua dengan adiknya Milea, Novelia sangat menyayangi adiknya itu hingga sesuatu yang menyakitkan menimpa adiknya. Adiknya dinyatakan defresi dan harus dirawat di rumah sakit jiwa dan itu membuat hati Novelia sangat hancur.
Novelia curiga kalau defresinya adiknya ada hubungannya dengan lingkungan sekolah, maka dari itu Novelia bekerja sebagai penjaga kantin untuk menyelidiki siapa orang-orang yang berada dibalik kejadian yang menimpa adiknya itu.
Akankah Novelia bisa menemukan pelakunya atau justru nyawa Novelia yang akan terancam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Angkasa Yang Angkuh
🍃
🍃
🍃
🍃
🍃
Pria tampan itu bernama Angkasa Razaksman, putra tunggal dari pemilik sekolah itu.
Angkasa pun masuk ke dalam ruangan kepala sekolah, Pak Prima yang merupakan kepala sekolah di sana langsung bangkit dari duduknya dan menyambut Angkasa dengan perasaan segan.
Angkasa memperhatikan setiap sudut ruangan kepala sekolah yang dirasa lengkap itu, ada tv, sofa, AC, bahkan tempat tidur untuk dia beristirahat. Sekolah itu memang memfasilitasi setiap ruangan dengan alat-alat elektronik mewah maka tidak heran kalau semua guru di sana pun merasa nyaman dan senang.
"Selamat siang, Tuan Angkasa!"
Angkasa duduk di sofa dengan angkuhnya membuat Pak Prima merasa sangat canggung.
"Bagaimana kondisi sekolahan ini? menurut kabar yang aku dengar, ada salah satu siswa beasiswa yang keluar dari sekolah ini dan menjadi gila, apa semua itu ada hubungannya dengan sekolah?" tanya Angkasa dingin.
"Ah, tidak Tuan, sekolah ini tidak terlibat dengan kasus siswa itu," sahut Pak Prima santai.
"Jangan sampai, sekolah ini di cap buruk oleh orang-orang di luar sana. Bungkam semua siswa, jangan sampai ada yang tahu kalau salah satu siswa di sini keluar dan menjadi gila."
"Baik Tuan."
Angkasa pun kembali bangkit dari duduknya, dan meminta Pak Prima untuk menemaninya melihat-lihat kondisi sekolah.
Semua siswa yang memang sudah masuk ke kelas masing-masing terlihat histeris saat melihat Angkasa lewat ke depan kelas mereka, tapi Angkasa terlihat dingin.
Di saat Angkasa melewati kantin, dia melihat Novelia sedang membereskan kantin.
"Wanita itu sudah berapa lama kerja di sini?" tanya Angkasa dengan menunjuk ke arah Novelia.
Pak Prima terlihat mengerutkan keningnya, pasalnya, dia pun tidak tahu sejak kapan dia bekerja di sini, setahu dia, yang kerja di kantin itu Bu Ningsih dan keponakannya tapi Pak Prima tidak mengenal wanita itu.
"Maaf Tuan, saya pun baru tahu kalau ada wanita itu kerja di sekolah ini," sahut Pak Prima.
Angkasa pun menghampiri Novelia dan diikuti oleh pengawal dan Pak Prima. Bu Ningsih merasa terkejut dengan kedatangan Angkasa karena setahu Bu Ningsih, Angkasa hanya baru dua kali datang ke sekolah.
"Kamu siapa?" tanya Pak Prima.
"Maaf Pak Prima, ini orang yang membantu saya di sini soalnya keponakan saya sudah pulang kampung jadi saya tidak ada yang bantu-bantu dan maaf saya belum sempat memberi tahukan kepada Pak Prima," seru Bu Ningsih.
"Siapa nama kamu?" tanya Angkasa.
"Lia, Tuan."
"Apa keahlian kamu?"
"Saya hanya bisa masak, Tuan."
"Sekolah lulusan apa?"
"SMA."
"Pak Prima, tolong beri tahu mereka mengenai siswa itu," seru Angkasa.
"Bu Ningsih, Lia, kemarin-kemarin ada seorang siswi yang mendapat beasiswa yang dikeluarkan dari sekolah ini karena gila, jadi saya mohon berita ini jangan sampai bocor keluaran sana, karena akan berakibat buruk untuk sekolah ini, kalau di luaran sana tahu ada siswa yang gila ditakutkan mereka akan berpikiran kalau sekolah ini adalah sekolah buruk sampai menyebabkan siswanya gila, jadi diharapkan kalian diam saja jangan bicara apa-apa mengenai kasus itu," seru Pak Prima.
Bu Ningsih menoleh ke arah Novelia, dia tahu betul, siswi yang dibicarakan Pak Prima itu adalah Milea adiknya Novelia. Sementara itu, Novelia tampak mengepalkan tangannya dengan masih menundukan kepalanya, dia berusaha menahan airmatanya supaya tidak jatuh.
"Kalian mengerti!"
"Iya Pak."
Angkasa dan Pak Prima pun kembali melangkahkan kakinya meninggalkan kantin itu, Bu Ningsih langsung menghampiri Novelia dan memeluknya.
"Kamu yang sabar ya, Novel. Ibu yakin, keadilan akan terungkap."
"Iya Bu."
Novelia mengangkat wajahnya, kemudian memperhatikan punggung Angkasa dan Pak Prima dengan tatapan penuh kebencian.
"Lihat saja, aku akan menemukan siapa orang-orang yang sudah membuat adikku seperti itu," batin Novelia.
Setelah sekian lama berkeliling, Angkasa pun memutuskan untuk pulang dan Pak Prima mengantarkan Angkasa sampai ke parkiran.
"Tuan, nanti malam saya dan putri saya akan datang ke rumah Tuan," seru Pak Prima.
Angkasa hanya menganggukan kepalanya, lalu masuk ke dalam mobilnya dan langsung pergi dari sekolahan itu.
Pak Prima merupakan Papa dari Patricia dan Patricia adalah kekasih dari Angkasa. Angkasa dan Patricia sudah lama berpacaran, maka dari itu Tuan Hartawan yang merupakan pemilik sekolah sekaligus Papa Angkasa, mempercayakan Pak Prima untuk memimpin sekolah itu.
Pak Prima tampak menyunggingkan senyumannya. "Putriku pokoknya harus segera menikah dengan Angkasa, bagaimana pun caranya," batin Pak Prima.
🍃
🍃
🍃
🍃
🍃
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
TERIMA KASIH
LOVE YOU
semangat buat Novelia,,😉😉
buat Authornya semangat juga,,🙂🙂
mksh k popy untuk sajisn yg bagus maaf lama nggak baca lg sibuk di rl... 🙏🙏🙏