Nena Layla (20 tahun) yang harus pindah ke Jakarta dan hidup bersama Malik (29 tahun) sang Kakak. Nena harus terlibat dengan Janu Arsana (32 tahun), seorang duda yang berprofesi sebagai pejabat pemerintah dan terlahir di keluarga mapan. Sebagai asisten rumah tangga di apartemen Janu, akhirnya mereka saling tertarik dan muncullah benih-benih cinta. Namun, prasangka mengalahkan logika Janu hingga ia melukai Nena. Nena akhirnya hamil. Berbagai polemik dan intrik yang terjadi diantara kisah cinta keduanya, mengingat perbedaan, usia, status sosial juga gaya hidup. Tanpa mereka ketahui ada keterkaitan antara orangtua Janu dan Nena. Bagaimana kelanjutan kisah cinta Janu dan Nena?
18++
=======
Instagram : dtyas_dtyas
Facebook : dtyas auliah
Murni hasil imajinasi author
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kekacauan
Nena bergegas meninggalkan mall, mengendarai motornya menuju lokasi yang sudah dikirim oleh seseorang. Akan bertemu dengan asisten rumah tangga Janu, dengan alasan cuti maka Nena diminta menggantikannya sementara.
Melaju dengan agak cepat, walau hatinya melakukan sumpah serapah karena perlakuan Janu padanya. "Gue sumpahin si Janu itu makin sukses, jadi makin sibuk dan enggak ada waktu buat keluarga. Yang ada tersiksa, huhhh,” ujar Nena dalam hati.
Memarkirakan motornya pada parkiran motor yang ada di basement. Nena menatap sekeliling dengan takjub saat berada di loby apartement.
Yang tinggal di sini Sultan semua kali.
Menuju resepsionis mengatakan bahwa ia tamu Janu Arsana. Setelah dicek memang nama Nena oleh Janu sudah didaftarkan sebagai tamu khusus unitnya, Nena pun mendapatkan access card untuk menggunakan lift.
Saat berada di depan unit apartement Janu, Nena menekan bel tidak lama pintu terbuka. “Kamu Nena?” tanya wanita paruh baya namun berpakaian rapih. “Iya, Bu,” jawabnya. “Saya Ida, kamu bisa panggil saya Bu Ida.” Nena mengangguk lalu melangkah masuk saat Bu Ida bergeser memberinya jalan.
Bu Ida menjelaskan apa yang harus Nena lakukan saat berada di apartement Janu, walaupun sebuah apartement namun unit itu terdiri dari dua lantai. Bu Ida juga menjelaskan bagaimana menggunakan perkakas rumah tangga yang ada pada unit apartement Janu. “Karena apartement ini termasuk pemukiman elite maka perkakas yang digunakan juga peralatan premium, agak berbeda dari yang biasa digunakan. Kamu tau pekerjaan Pak Janu?”
Nena sejak tadi menyimak penjelasan Bu Ida, namun saat ditanya mengenai pekerjaan Pak Janu dia tidak paham, “Tidak tau Bu, tapi teman saya pernah bilang Pak Janu itu pejabat dan sering tampil d TV.”
Bu Ida mengangguk, “Tidak sembarangan masuk apartement ini, access card yang kamu miliki simpan baik-baik. Saya akan sampaikan password untuk membuka pintu, tapi biasanya akan dirubah sebulan sekali.”
Sore itu, Nena langsung praktekan apa yang di sampaikan Bu Ida, tentu saja dengan di awasi oleh Bu Ida langsung. Pada dasarnya Nena termasuk orang yang cerdas, makanya saat lulus SMK Abahnya siap mendukung Nena untuk melanjutkan kuliahnya. Namun sayang takdir berkata lain, bahkan saat ini Nena bekerja sebagai asisten rumah tangga.
Nena merebahkan tubuhnya di ranjang kamarnya, tubuhnya terasa sangat lelah. Setelah hampir seharian berdiri di apotik lalu lanjut ke apartemen Janu untuk membersihkan dan merapihkan kamar pria itu.
“Nena,” panggil Malik. Nena tau kakaknya ada di rumah karena melihat motornya. “Iya,” jawab Nena sambil beranjak malas. “Lo enggak masak? Gue laper nih.”
“Enggak Bang, aku baru pulang,” jawab Nena sambil mengambil gelas dan mengisinya dengan air lalu disodorkan pada Malik. Malik menerimanya langsung menenggak habis. “Beliin apa kek, gue laper banget.” Lalu membuka dompetnya mengeluarkan satu lembar uang berwarna merah.
“Bang Malik mau makan apa?”
“Apa aja yang penting bisa dimakan,” jawab Malik lalu kembali ke kamarnya.
Nena tanpa mengganti pakaiannya, meninggalkan rumah menuju ujung gang tempat tinggalnya saat ini. Banyak warung tenda yang berjejer setiap sore sampai malam hari. “Nena,” panggil tetangganya. “Iya mpok,” jawab Nena.
“Abang lo ada di rumah?” tanya tetangganya lagi, Nena hanya mengangguk. “Gue mau kenalin sama ade gue, masih perawan kira-kira mau engga ye. Sape tau berjodo.”
“Kalau itu tanya langsung Bang Malik aja, aku enggak berani,” sahut Nena. Terdengar deru motor yang sangat familiar di telinganya. “Mau kemana?” tanya Ajat pada Nena sambil menghentikan motornya.
“Ujung gang, warung tenda.”
“Mau bareng enggak,” ajak Ajat. Nena mengangguk lalu membonceng motor Ajat.
.
.
.
Setelah selesai makan, Nena sedang mencuci semua perabotan yang kotor. Malik duduk di sofa yang sudah kusam sambil merokok. Nena kemudian membersihkan dirinya, saat hendak kembali ke kamar, “Nena, kemari, ada yang mau gue omongin,” ucap Malik. “Iya Bang, aku ganti baju dulu.”
Kini Nena dan Malik duduk berhadapan di sofa, Malik masih dengan asyik menghisap rokoknya. “Lo pacaran sama anaknya Haji Soleh?” tanya Malik sambil menekan puntung rokok pada asbak. “Maksudnya Ajat? Enggak, kok,” ucap Nena.
“Jangan enggak-enggak,” sahut Malik.
“Beneran enggak, Bang,” jawab Nena. “Kalau memang enggak suka jangan kasih harapan dan kalau suka baiknya coba hilangkan dari pada nanti lo yang sakit hati. Keluarganya enggak mungkin mau terima kita yang begini,” ujar Malik, “jadi kita harus sadar diri.” Nena sudah menundukkan wajahnya, cita-cita ingin mengangkat derajat keluarga rasanya pupus sudah. Yang ada kini hidupnya semakin terasa berat, apa yang disampaikan Malik adalah benar. Pasti itu berlaku untuk semua laki-laki yang nanti akan dekat denganya, belum tentu akan menerima Nena yang tau sudah tidak ada orangtua dan hidup mereka yang bukan keluarga berada.
...~ *** ~...
“Kenapa sih, muka lo lecek banget?” tanya Tata melihat Nena yang sejak awal bertemu hari ini terlihat tidak semangat. Nena masih memikirkan apa yang Malik sampaikan, semoga saja akan ada laki-laki yang benar-benar mencintai Nena dan menerima Nena apa adanya.
“Enggak apa-apa, cuma ada sesuatu yang jadi pikiran aja. Kita makan dimana ya? Aku laper, tadi pagi belum sarapan,” ujar Nena.
Saat jam istirahat, Nena dan Tata menuju food court. Ia makan sambil sesekali tertawa karena Tata yang mengomentari pengunjung lain. Ponsel Nena bergetar, ternyata pesan dari Janu.
Bu Sri sudah menjelaskan tugas kamu kan? Berlaku mulai hari ini.
Nena hanya menghela nafas membaca pesan yang ia terima. Sedangkan Janu merasa kesal, karena pesannya hanya dibaca tidak dijawab oleh Nena. Ia pun kembali mengirimkan pesan pada Nena.
Tidak ada alasan, aku ingin saat pulang semua sudah bersih. Ingat, BERSIH.
“Aishhh,” ujar Nena lalu meletakan kembali ponselnya di meja. “Kenapa?” tanya Tata karena Nena tiba-tiba marah.
“Ada orang gila, kirim pesan enggak jelas,” ucap Nena.
“Siapa? Cowok lo ya?”
"Ogah amat aku pacaran sama cowok kayak gitu, ganteng tapi nyebelin," ujar Nena. "Berarti bener cowok yang kirim pesan,” sahut Tata, Nena hanya mengangguk.
Sepulang dari Apotik Nena menuju apartement Janu, ia tersenyum saat sudah berhasil masuk. Ide usil yang sudah direncanakan akan ia realisasikan hari ini. Menuju wastafel Nena menutup lubang pembuangan hingga air tergenang ditumpukan perabot kotor, Nena pun menuangkan sabun cuci piring sehingga semua perabot berbusa dan licin.
Nena juga menekan tombol vacum Cleaner untuk mengeluarkan kotoran dan debu yang berhasil dihisap oleh alar tersebut dan menumpahkannya di karpet ruang tamu Juna. Nena langsung mengirimkan pesan pada Janu mengenai kekacauan di unit milik pria tersebut
______
Jangan lupa jejaks 🥰