Perjuangan seorang wanita sederhana, yang bersuamikan seorang direktur sebuah perusahaan besar, penampilannya yang sangat sederhana dan termasuk ketinggalan jaman, membuat sang suami menjauhinya, sang suami yang selalu menghina dan membanding-bandingkan fisik istrinya dengan pacar-pacar nya yang dulu.
akankan perjuangan seorang Berliantina Febrianti berhasil merebut hati sang suami untuk mencintainya?
kisah yang penuh lika liku dan perjuangan seorang istri yang dianggap hina oleh sang suami.
HAPPY READING💖💖💖
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LichaLika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
gaun berwarna hitam
sesampainya dirumah, Zain langsung masuk kedalam kamarnya, tanpa menghiraukan Lian yang membawa belanjaannya.
"Zain kamu bantu dong istrimu bawa belanjaan ini kekamar kalian" seru Rosa kepada Zain.
"sorry mam, Zain capek banget, Zain mau ke kamar dulu" Zain menolaknya lantas ia langsung naik ke kamarnya sembari membawa undangan pernikahan dari Anita, mantan kekasihnya.
"Zain tunggu, apa yang kau bawa?" tanya Rosa saat melihat Zain membawa sebuah kertas ditanganinya.
Zain turun lagi dari tangga dan memberitahukan undangan itu kepada Rosa.
"ini hanya undangan pernikahan Anita, dia akan segera menikah" seru Zain sambil menyerahkan undangan berwarna merah muda itu.
Rosa membaca undangan itu, senyumnya mulai mengembang.
"Zain ajak istrimu, mami akan sangat senang bila kamu mengajak Lian datang ke acara resepsi pernikahan Anita" seru Rosa
"ah nggak mam, males ajak dia, mau taruh dimana muka Zain nanti " ucap Zain sembari berlalu meninggalkan mereka berdua.
"Zain tunggu, Zain..."
"sudahlah mam, kalau mas Zain nggak mau, nggak usah dipaksa mam, Lian nggak papa kok"ucap Lian tersenyum.
"Lian, mami nggak mau tahu, kamu harus ikut dengan Zain, mami sudah belikan baju dan make up baru untukmu, mami ingin kamu memakainya nanti" seru Rosa
"tapi mam, Lian tidak bisa memakai make up, Lian nggak biasa melakukan itu " jawab Lian merendah.
"dengar sayang, ada banyak cara untuk belajar make up, kamu buka sosial media, kamu cari tutorial bermake up untuk pemula, mami yakin kamu pasti bisa, kamu gadis yang cerdas, apa kamu tidak mau Zain mencintaimu?" ucap Rosa menyemangati.
Lian menunduk dan mengangguk, memahami keinginan Rosa, ini juga kesempatan untuk menunjukkan kepada Zain bahwa dirinya tidak seperti yang ia kira, dia juga bisa cantik seperti mantan-mantan Zain.
"iya mam, Lian akan coba" ucap Lian tersenyum
*******
Lian sudah sampai dikamarnya, ia tidak mendapati keberadaan Zain, kemudian ia membawa masuk belanjaan yang ia bawa, karena penasaran, Lian membuka salah satu isi tas belanjaan itu.
sementara Zain masih berada didalam kamar mandi.
"ini tas gedhe banget isinya? coba kulihat isinya " Lian membuka isi tas itu
"waaahh...bagus banget, tapi apa pantas aku memakainya " seru Lian sembari membuka dress malam berwarna hitam itu, ia memutar-mutar tubuhnya didepan cermin, terlintas dalam pikirnya untuk mencoba gaun itu.
perlahan Lian masuk keruang ganti, kemudian ia mulai melepas bajunya dan memakai gaun berwarna hitam tanpa lengan, yang mengekspos punggung indahnya itu.
"astaga punggungnya kok keliatan banget" seru Lian saat tahu model gaun itu mengekspos bagian punggung yang terbuka, setelah ia mencobanya, kemudian ia mencoba membuka retsleting yang berada dibelakang, namun sia-sia, usahanya untuk membuka retsleting tadi tidak berhasil, karena tangannya tidak bisa menjangkaunya, ia terlihat kesusahan.
"ya ampun, ini gimana sih, susah amat membukanya" Lian berusaha menjangkau retsleting itu.
"aduh gimana nih, terpaksa aku harus minta tolong mas Zain, tapi nanti dia malah ngata-ngatain aku lagi" ucap Lian bimbang.
"ah bodo amat, nggak perduli lagi aku dengan kata-katanya, semakin didengerin semakin bikin kuping panas, mulai saat ini aku harus kuat menghadapi ucapannya yang sok itu" gumamnya menguatkan dirinya sendiri.
Zain sudah selesai dengan ritual mandinya, ia keluar dari kamar mandi, ia terkejut dengan banyaknya tas belanjaan didalam kamar.
"apa ini? kemana gadis itu?" seru Zain sembari mengeringkan rambut basahnya, Zain hanya mengenakan handuk yang dililitkan pada pinggang kuatnya, nampak perut sixpacknya terpampang nyata.
matanya berkeliling, ia tak mendapati Lian, namun matanya tertuju pada ruang ganti yang tertutup.
"apa gadis itu ada didalam?" pikirnya.
tiba-tiba pintu ruang ganti mulai terbuka, mata Zain belum lepas dari ruang ganti itu, dahinya berkerut saat perlahan kaki jenjang Lian mulai nampak, dress yang memiliki belahan di depan itu membuat kaki mulus Lian terlihat ketika berjalan.
Zain menatap kaki indah itu, kemudian matanya pindah keatas, dilihatnya Lian yang sedang memakai gaun malam, terlihat sangat berbeda, meski wajahnya masih polos, sejenak Zain terhipnotis oleh penampilan Lian, namun dengan cepat ia mengerjapkan matanya.
Zain membuang mukanya, seolah -olah tidak memperhatikan Lian tadi.
"sialan ngapain juga gadis itu memakai baju seperti itu" gumamnya yang sempat tergoda dengan penampilan Lian.
perlahan Lian mendekati Zain yang sedang menghadap ke jendela, dengan memberanikan dirinya Lian berusaha menyentuh tangan Zain.
"mas Zain" tangan Lian terasa dingin saat menyentuh kulit Zain, sehingga membuat Zain sedikit kaget, Zain sontak menoleh kearah Lian, dilihatnya gadis yang kini menjadi istrinya itu nampak gugup, Zain menyipitkan matanya.
"ada apa?" tanya Zain sembari memperhatikan penampilan Lian dari atas kebawah.
"nih anak seksi juga" gumamnya lirih.
"mas Zain, maaf Lian hanya minta tolong sebentar saja" ucap Lian sembari menundukkan wajahnya.
"apa?" jawab Zain singkat.
Kemudian Lian membelakangi Zain, tampaklah punggung Lian yang mulus tanpa noda.
"glekk" sejenak Zain menelan salivanya, ia tak bisa memungkiri bahwa kulit Lian benar-benar terlindungi, terlihat sangat putih bercahaya, dibalik penampilannya yang konyol, ternyata tersimpan mutiara yang indah didalamnya.
"mas Zain, Lian minta tolong, lepasin retsleting ini, Lian mau ganti baju, baju ini sangat tidak nyaman" ucapnya pelan.
"hm...tentu saja kamu tidak akan nyaman memakai baju ini, kamu itu masih terlihat norak tahu kamu" ucap Zain sembari membuka Retsleting itu.
"kalau mau buka, buka aja nggak usah pake ngatain orang segala, kebiasaan banget" gumam Lian
Zain membuka retsleting itu perlahan, dilihatnya pemandangan yang sangat indah, hasrat kelelakiannya tak bisa dibohongi, namun Zain masih gengsi untuk mengakuinya.
"sial, kenapa aku ini" umpatnya kesal
meskipun Zain pernah menyentuh gadis itu, namun ia tak pernah melihat dengan sempurna keindahan tubuh Lian, karena waktu itu Zain terpengaruh obat ' laknat ' itu.
setelah retsleting itu terbuka, Lian kemudian pergi.
"terima kasih " ucapnya singkat, kemudian dengan cepat Lian masuk kedalam ruang gantinya.
"hufft...astaga, kenapa perasaanku deg-degan sekali" gumamnya sembari menyandarkan tubuhnya dibalik pintu.
Zain mulai mengganti bajunya dengan piyama tidur, lantas ia segera berbaring diatas tempat tidur.
Lian kemudian keluar dari ruang ganti, ia lantas masuk kedalam kamar mandi dan membersihkan dirinya.
setelah beberapa saat Lian keluar dari kamar mandi, ia hendak berganti baju tidur kesukaannya yaitu daster, namun sejenak ia teringat ucapan Rosa, yang melarangnya untuk memakai daster saat bersama Zain.
"lingerie " ucapnya pelan
"apa aku harus memakai baju itu " Lian mencoba membuka lingerie yang dibelikan Rosa untuknya.
perlahan Lian mencoba baju setipis saringan tahu itu.
"astaga...ini baju model apa sih?" ucapnya sembari bercermin.
"ya ampun, tidur pake baju ginian, bisa-bisa masuk angin aku" gumamnya lirih
BERSAMBUNG
🌹🌹🌹🌹🌹